Dengan tergesa-gesa, Zefa memakai helm lalu menaiki motornya. Ia tidak ingin terlambat sampai di klinik. Pasalnya hari ini adalah hari pertama kedatangan sang pasien istimewa, yaitu Tuan R.
"Tenang, Zefa, klien pentingmu belum datang," kata Adi, salah satu rekan terapis Zefa.
"Tarik napas panjang tiga kali supaya lebih tenang," seru Adi melihat wajah panik Zefa.
"Di, aku ke dalam dulu. Aku harus mempersiapkan diri."
Zefa bergegas masuk ke ruangan konsultasi. Setelah menutup pintu, ia menyisir rambut lalu membentuknya menjadi ekor kuda. Bagaimanapun ia harus selalu tampil rapi dan profesional di hadapan klien.
Setelah membenahi blazernya yang berwarna putih gading, Zefa menyiapkan pena, buku catatan, dan beberapa peralatan yang diperlukannya untuk melakukan diagnosa awal.
Zefa menarik dan menghembuskan nafas lalu duduk dengan tegak di kursinya. Sambil menunggu kedatangan Tuan R, Zefa mencari file musik relaksasi yang ada di dalam laptopnya.
Tak lama kemudian, pintu ruangan diketuk dari luar. Sontak Zefa beranjak dari kursi dan menuju ke ambang pintu. Entah mengapa muncul pikiran negatif pada dirinya. Ia tidak pernah segugup ini ketika akan menemui calon pasien, namun saat ini jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya.
Zefa membuka pintu dan melihat Adi berdiri bersama dua orang pria. Satu pria berkemeja biru sedangkan pria yang satu lagi memakai jas hitam. Pria berkemeja biru itu memandang Zefa sambil tersenyum tipis. Berbeda dengan pria berjas hitam yang berdiri di sebelahnya. Pria berpostur tinggi itu menggunakan masker dan topi, sehingga wajahnya tidak terlihat sama sekali. Jika dilihat dari gaya berpakaiannya yang elegan, kemungkinan besar pria berjas itu adalah Tuan R.
"Silakan, Tuan," ujar Adi mempersilakan kedua pria itu masuk.
Adi mengerdipkan mata kepada Zefa sebagai pertanda bahwa yang datang itu adalah klien barunya.
"Pandu, kamu tunggu di luar. Aku akan masuk sendiri," kata pria berjas hitam itu kepada si pria berkemeja biru.
"Baik, Tuan."
Pria yang bernama Pandu itu bergegas pergi dengan diantarkan oleh Adi. Mereka meninggalkan Zefa dan sang pria berjas hitam di depan pintu. Zefa bertambah yakin bila pria bertopi dan bermasker ini adalah Reinhart Prajakusuma.
"Selamat pagi, Tuan Reinhart. Perkenalkan saya Zefa, asisten Coach Edo yang akan membantu Anda. Mari masuk, Tuan," kata Zefa mengulurkan tangan.
"Pagi," jawab Reinhart singkat.
Pria itu melangkah ke dalam ruangan tanpa menyambut uluran tangan Zefa. Dari kesan pertama pertemuan mereka, Reinhart sepertinya seorang pria yang angkuh dan tertutup. Barangkali latar belakang keluarganya yang kaya raya membuat pria itu tidak dapat bersikap ramah terhadap orang lain. Atau mungkin juga Reinhart termasuk tipe orang berkepribadian introvert yang kurang nyaman saat bertemu dengan orang baru.
Berdasarkan pengalamannya, Zefa enggan mengambil kesimpulan sebelum melakukan diagnosa secara mendalam. Toh sikap Reinhart bukan merupakan masalah yang perlu dikhawatirkan. Justru jika ia tampak baik-baik saja maka akan lebih sulit baginya mendeteksi gejala yang dialami Reinhart.
Sebagai seorang terapis ia sudah bertemu dengan berbagai tipe manusia yang memiliki beragam karakter. Dan ia bisa memahami dan menerima sifat unik yang dimiliki setiap pasiennya. Tidak ada karakter yang benar dan yang salah, karena semua itu adalah kombinasi berbagai faktor yang membentuk kepribadian manusia. Terkadang trauma masa lalu, pola asuh orang tua atau lingkungan yang kurang bersahabat bisa menjadi faktor pemicu tertekannya mental seseorang.
"Silakan duduk, Tuan," ucap Zefa mengarahkan Reinhart duduk di kursi yang disediakan untuknya.
Zefa duduk berhadapan dengan Reinhart. Jarak mereka hanya terpisah oleh meja kayu berlapis kaca tebal. Dari ekspresi mata dan bahasa tubuhnya, Zefa merasakan pria ini memendam sesuatu yang sulit untuk diungkapkan.
Setelah duduk, Reinhart melepas topinya tapi tidak mau melepaskan masker dari wajahnya. Melihat gerak gerik pria itu sudah jelas ia tidak mau dilihat secara langsung oleh sang terapis.
"Bisa kita mulai sekarang Nona Zefa? Waktu saya tidak banyak," tanya Reinhart tiba-tiba. Meskipun sebagian wajahnya tersembunyi di balik masker, namun nada suaranya menunjukkan ketidaksabaran. Anehnya suara Reinhart terdengar tidak asing di telinga Zefa padahal mereka baru pertama kali bertemu.
Zefa berusaha membuat suasana di dalam ruangan tidak tegang. Ia ingin memposisikan diri sebagai teman, bukan sebagai pewawancara yang menginterogasi narasumbernya. Berharap dengan cara ini, Reinhart merasa lebih nyaman menyampaikan keluhannya.
Zefa mengambil formulir yang berisi daftar checklist pasien beserta pena yang akan dipakainya untuk menulis. Ia akan mencatat semua hasil wawancara dengan Reinhart. Dengan demikian, ia dapat memastikan seberapa parah tingkat kecemasan yang diidap pria itu. Zefa juga ingin mengetahui peristiwa apa yang memicu kecemasan berkepanjangan pada pasiennya.
"Iya, Tuan Reinhart, saya akan mulai. Jika Anda merasa tidak nyaman untuk menjawab pertanyaan saya, katakan saja. Saya akan beralih pada pertanyaan yang lain. "
"Berapa lama sesi tanya jawab ini?" tanya Reinhart memastikan.
"Paling lama satu jam, Tuan. Anda bisa mengubah posisi duduk yang membuat Anda lebih nyaman."
Zefa tersenyum seraya memiringkan sedikit kepalanya ke kanan.
"Sejak kapan Anda merasa mengalami gangguan kecemasan yang berlebihan?"
"Saya sudah merasakannya sejak berusia sebelas tahun. Tapi kondisi saya semakin memburuk dalam tujuh tahun terakhir," jawab Reinhart dengan cepat.
Jawaban pria itu membuat Zefa terkejut. Tujuh tahun? Artinya kecemasan yang dialami pasien barunya ini mirip dengan tragedi yang pernah terjadi dalam hidupnya. Namun Zefa segera menepis pikirannya yang tidak masuk akal. Mustahil periode kecemasan Reinhart berhubungan dengan kematian Moreno.
"Apa Tuan pernah berobat ke psikolog atau ke psikiater sebelumnya?" tanya Zefa lebih lanjut.
"Pernah saat remaja, tapi hanya tiga bulan. "
Jawaban kedua dari Reinhart menimbulkan tanda tanya besar bagi Zefa. Bagaimana pria ini bisa bertahan menghadapi kecemasannya tanpa meminta bantuan dari ahlinya. Atau mungkin dia menyembunyikan penyakitnya karena malu. Lalu apa yang mendorongnya untuk berobat ke hipnoterapis? Yang jelas Zefa akan menanyakan semua itu satu per satu.
"Lalu mengapa Tuan bisa menyimpulkan bahwa Tuan mengidap penyakit kecemasan? Sebenarnya rasa cemas merupakan salah satu bentuk emosi yang wajar dimiliki manusia," jelas Zefa.
"Karena rasa cemas itu menyebabkan saya kesulitan tidur di malam hari. Dan setelah tertidur saya sering bermimpi buruk lalu terbangun di waktu subuh. Dahi saya berkeringat dan nafas saya sesak," jelas Reinhart secara rinci.
"Kalau boleh saya tahu mimpi buruk apa yang sering Tuan alami?"
Reinhart terdiam sejenak. Jari jemarinya mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah. Sedangkan kedua bola matanya bergerak ke arah kiri, pertanda ia sedang mengingat sesuatu.
"Mimpi tentang saudara laki-laki saya yang meninggal dalam kecelakaan," jawab Reinhart.
Hati Zefa berdesir seketika. Entah mengapa cerita dari pria ini lagi-lagi mengingatkannya kepada Moreno. Untuk mengembalikan konsentrasinya, Zefa memilih untuk melanjutkan wawancara dengan Reinhart.
"Apa Tuan melihat langsung kejadian kecelakaan itu?"
"Tidak, saat dia meninggal saya masih kuliah di London. Tapi sewaktu dia mengalami kecelakaan saya bisa merasakan kesakitannya."
Zefa menuliskan semua yang dikatakan Reinhart pada catatannya.
"Apa hubungan Tuan dengan saudara Tuan sangat dekat?"
Reinhart mulai bergerak gelisah. Tampak bulir-bulir keringat membasahi keningnya padahal tempat mereka berbicara dilengkapi dengan pendingin ruangan. Melihat reaksi Reinhart, Zefa segera menghentikan pertanyaannya. Ia tahu Reinhart sedang dilanda gejala kecemasan.
Zefa pun menyodorkan tissue dan menawarkan minuman dingin kepada Reinhart, tapi pria itu menolaknya.
"Saya harus melepas masker ini supaya tidak berkeringat," ucap Reinhart.
"Silakan, Tuan."
Tidak butuh waktu lama, masker itu telah terlepas seluruhnya. Alangkah terkejutnya Zefa saat melihat wajah asli sang pasien yang kini tengah menatapnya. Mungkinkah pria ini benar-benar nyata atau dia sedang melihat hantu?
"Mo...reno??? Kenapa kamu bisa muncul disini?" tanya Zefa dengan tubuh gemetar.