Bab 9 Nikah Paksa

1275 Words
Dari balik netra hitamnya, Reinhart menatap Zefa penuh tanda tanya. Melihat wajah terapisnya yang berubah pucat, ia pun membuka suara. "Siapa yang Anda maksud Nona Zefa?" tanyanya singkat. Pertanyaan yang dilontarkan Reinhart membuat Zefa kembali ke akal sehatnya. Mustahil pria yang ada di depannya ini adalah Moreno. Kini yang tengah berhadapan dengannya adalah Reinhart, pasien yang mengidap penyakit kecemasan. Entah mengapa wajah pria ini memiliki banyak kesamaan dengan Moreno, bahkan bak pinang dibelah dua. Apakah ini kebetulan semata atau suratan takdir yang telah mempermainkan dirinya? Seingatnya Moreno adalah anak tunggal Rosana. Selama mereka berpacaran Moreno tidak pernah menceritakan bahwa dia memiliki kakak maupun adik. Jadi sudah jelas bila Reinhart tidak memiliki hubungan dengan mendiang kekasihnya. "Maaf, saya salah menyebut nama. Anda sangat mirip dengan seseorang yang pernah saya kenal." Reinhart mengerutkan kedua alis tebalnya. "Mirip? Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang benar-benar sama bahkan jika mereka saudara kembar," tutur Reinhart. "Anda benar, Tuan. Setiap manusia memiliki ciri uniknya sendiri." Zefa menghirup udara untuk menambah oksigen di paru-parunya. Ia memantapkan hati untuk melanjutkan tugasnya dengan mengesampingkan permasalahan pribadi. Bagaimanapun yang terpenting saat ini adalah kesembuhan Reinhart. "Sekarang mari kita mulai teknik terapi dasar. Saya akan mengajarkan teknik yang paling sederhana dan bisa Anda lakukan sendiri untuk mengurangi rasa cemas. Namanya EFT atau Emotional Freedom Technique." Dengan sabar, Zefa mulai membimbing Reinhart. Ia berharap di pertemuan selanjutnya Reinhart sudah bisa menguasai teknik sederhana yang diajarkannya. *** Suara pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Zefa dari memori masa lalu. Manik mata Zefa langsung terfokus pada Reinhart yang menyuruh dua perias pengantin untuk masuk ke dalam kamar. Kedua perias itu membawa kotak besar berisi peralatan make up serta setelan kebaya pengantin. Setelah kedua orang itu masuk, barulah Reinhart melangkah pergi. Rasa takut tiba-tiba menyergap hati Zefa. Ia menyesal karena pernah terperdaya oleh sandiwara yang dimainkan Reinhart. Seharusnya waktu itu ia mencari tahu apakah Reinhart memiliki hubungan dengan Moreno. Tidak terpikirkan sama sekali di benaknya jika mereka adalah saudara kembar. Andai dulu ia waspada, maka hari naas ini tidak akan pernah terjadi. Kedua perias itu mulai mendandani Zefa sedemikian rupa, sementara Zefa diam tak bergeming. Tinggal beberapa sentuhan lagi dan ia siap menjadi seorang mempelai wanita. Menatap bayangannya sendiri di cermin, Zefa melihat wajahnya tampak cantik, bahkan sangat cantik. Namun kenyataan ini justru membuat hatinya bertambah pilu. Selesai dengan bagian wajah, kedua perias itu membantu Zefa mengenakan kebaya berwarna putih gading. Tak butuh waktu lama, ia telah menjelma sebagai pengantin wanita. "Sudah selesai, Mbak, kami permisi," ucap salah satu dari perias. Sedangkan perias yang lain tampak sibuk membereskan peralatan make up. Tepat ketika dua perias itu pergi, Reinhart masuk ke dalam kamar dimana Zefa berada. Ia sendiri telah berganti baju dengan setelan jas berwarna abu-abu. Bagi kebanyakan orang, mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Namun hal ini tidak berlaku bagi Zefa. Andai ada kesempatan kedua, ia lebih memilih menjadi istri Moreno ketimbang Reinhart. Melihat Zefa sudah siap, Reinhart langsung menarik tangan wanita itu dengan kasar. Membawanya keluar dari apartemen menuju ke mobil pribadinya. Lagi-lagi Zefa menurut tanpa melakukan perlawanan. Sepanjang perjalanan Zefa hanya melamun tanpa mengetahui kemana tujuan mereka. Sementara Reinhart fokus mengemudikan mobilnya. Tidak ada percakapan yang terjadi di antara mereka. Tanpa sadar waktu berjalan begitu cepat. Reinhart memarkirkan mobilnya di sebuah rumah kecil bercat hijau. "Ayo turun, kita sudah sampai," titah Reinhart dingin sembari turun dari mobil. Ia memaksa Zefa keluar mengikutinya lalu menggiring wanita itu masuk ke dalam rumah. Di dalamnya sudah menunggu penghulu, saksi serta asisten Reinhart yang bernama Pandu. Suasana tidak nyaman ini membuat Zefa bergidik. Sesaat ia menatap Reinhart dari ekor matanya. Zefa merasa jika pernikahan ini akan membuat dirinya menjadi tawanan balas dendam Reinhart. Namun mau tak mau, ia harus menerima takdir menyedihkan ini. Di dalam hati, ia hanya berharap suatu hari hati Reinhart akan mencair dan bersedia untuk melepaskannya. "Pak, bisa kita mulai sekarang? Saya mau semua berjalan cepat," tanya Reinhart kepada sang penghulu. Atas perintah Reinhart, acara pernikahan segera dilangsungkan. Selesai ijab kabul, membaca doa serta menandatangani buku nikah masing-masing, Reinhart membawa Zefa pergi dari rumah itu. Entah kemana tujuan mereka, yang jelas Zefa tidak tertarik untuk mengetahuinya. Kurang lebih tiga puluh menit berkendara, Zefa melihat Reinhart mengarahkan mobilnya memasuki halaman sebuah rumah besar bergaya Maroko. Dengan tidak sabar, Reinhart menarik lengan Zefa menuju ke dalam rumah itu. Ia tidak peduli bila Zefa kesulitan mengimbangi langkah lebarnya karena sedang memakai kebaya. Begitu masuk ke dalam, Zefa melihat seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan mereka. Lebih tepatnya hanya menyambut kedatangan Reinhart, bukan dirinya. "Rein, siapa wanita ini? Kenapa kamu membawanya ke rumah kita? Dan kenapa dia pakai baju pengantin?" tanya wanita itu beruntun. Ekspresinya tampak kaget saat memandang Zefa. "Apa yang sebenarnya kamu lakukan? Kamu ingat kan kalau kamu sudah punya tunangan?" tanya wanita itu sekali lagi. Ia tak lepas menatap Zefa dari atas sampai bawah. Reinhart memutar mata malas. Sebenarnya ia enggan meladeni pertanyaan ibu tirinya yang munafik. Namun bila tak dijawab, ibu tirinya ini akan terus mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Selepas ayahnya meninggal dunia, ia memang harus bertahan untuk tinggal seatap bersama sang ibu tiri. Meskipun ia tidak menganggap wanita ini sebagai ibunya, mana mungkin ia tega melemparkannya ke jalanan. Padahal sifat dan kelakuan wanita ini seringkali membuatnya semakin frustasi. "Tante Intan, perkenalkan ini istriku. Namanya Zefa dan kami baru saja menikah," jawab Reinhart ketus. Dengan sorot tajamnya, ia menatap sinis kepada Intan. "Hah, istri??? Kamu menikah diam-diam tanpa sepengetahuan Tante? Lalu bagaimana nasib tunanganmu, Danella?" tanya Intan menatap Reinhart bingung sekaligus cemas. "Danella sudah mengkhianati aku, Tante. Untuk apa aku memikirkannya? Lagipula aku sudah memutuskan pertunangan kami lima hari yang lalu," jawab Reinhart dingin. Tampak jelas lelaki itu ingin mengakhiri percakapannya dengan Intan. "Pengkhianat tidak pantas menjadi istriku," tambah Reinhart datar. Intan mendadak terdiam. Ia kembali mengamati Zefa yang berdiri mematung bagaikan sebuah arca. "Jadi namamu Zefa? Aku Intan, ibu sambungnya Reinhart. Kamu berasal dari keluarga pengusaha mana?" tanya Intan bersedekap. Sepertinya ia sangat menantikan jawaban dari menantu barunya ini. Zefa memainkan jari, merasa gugup karena mendapat pertanyaan dari ibu mertuanya. "S-Saya anak yatim piatu, orang tua saya sudah meninggal," jawab Zefa jujur. Hati Intan sedikit melunak, namun tak ayal tatapan dingin juga melekat di bola matanya. "Sorry, aku tidak tahu kalau ayah dan ibumu sudah meninggal. Tapi apa pekerjaan orang tuamu dulu?” tanya Intan. Ia berharap kali ini akan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Zefa menghela napas sejenak. Degup jantungnya tiba-tiba tiba berpacu lebih cepat entah karena alasan apa. "Ayah bekerja sebagai karyawan kantor biasa dan ibu saya seorang guru," jawab Zefa tersenyum tipis. Raut muka Intan langsung berubah. Ia melemparkan tatapan remeh kepada Zefa. "Ya ampun, Rein, mengapa kamu menikahi wanita yang tidak sederajat dengan kita? Kamu meninggalkan Danella demi wanita dari keluarga kelas menengah. Kalau papamu masih hidup, dia bisa terkena serangan jantung," ucap Intan menggeleng-gelengkan kepala. "Coba bandingkan. Danella masih jauh lebih baik ketimbang perempuan ini. Baik diukur dari sisi kecantikan, kecerdasan, kehormatan dan kekayaan," lanjut Intan. Ia tidak menghiraukan perasaan Zefa yang tengah mendengar semua hinaannya. "Apa Tante tidak mendengar ucapanku barusan? Danella sudah berselingkuh dengan sahabatku sendiri. Aku minta Tante jangan menyebut namanya lagi di hadapanku!" tandas Reinhart menatap kesal ke arah Intan. "Tapi, Rein...." Mendengar ocehan Intan yang tiada habisnya, Reinhart tidak tahan. Ia menarik paksa Zefa agar segera meninggalkan ruangan itu. "Ayo, ikut aku! Percuma kita membuang waktu disini," ujar Reinhart mengajak Zefa menaiki tangga. Zefa bingung harus bereaksi apa selain mengikuti langkah jenjang Reinhart. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa lega karena bisa menyingkir dari hadapan Intan. Sangat jelas sang ibu mertua tidak menyukai kehadirannya. Jujur saja Zefa merasa terusik jika Intan merendahkan keluarganya. Namun apalah dayanya. Ia sendiri juga tidak berminat menjadi bagian dari keluarga Prajakusuma.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD