Bab 10 Dianggap sebagai Pelayan

1293 Words
Zefa meringis menahan sakit kala Reinhart menarik tangannya kuat. Lelaki itu membawa Zefa ke sebuah kamar yang terkunci di lantai dua. Ketika Reinhart membuka kamar itu, terlihat ekspresi wajahnya menegang. Begitu pintu kamar terbuka, Reinhart menghempaskan tubuh Zefa begitu saja ke atas kasur. Berdesis pelan, Zefa melihat sekitar. Matanya langsung tertuju pada sebuah foto besar yang terpampang di dinding. Ada dua orang anak laki-laki kembar yang sedang berdiri berdampingan. Zefa langsung mengenali kedua anak tersebut sebagai Reinhart dan Moreno. Sudah jelas bahwa itu adalah foto masa kecil mereka. Di dalam foto tersebut, mereka berdua tampak sedang merayakan ulang tahun bersama. Begitu bahagia jika dilihat kembali. Tak hanya foto, di kamar ini juga ada sejumlah mainan robot serta mobil-mobilan. Zefa menebak bila mainan itu adalah milik Reinhart dan Moreno, tapi itu baru dugaannya saja. "Ini adalah kamar Moreno sewaktu kecil sebelum kedua orang tua kami bercerai," ucap Reinhart mengalihkan perhatian Zefa. Belum sempat wanita itu berkata, Reinhart kembali berbicara dengan nada tinggi. "Dan kamu akan tinggal untuk seterusnya di kamar ini," lanjut Reinhart. Jari telunjuknya mengarah pada Zefa. Mulut Zefa terbuka, hendak bertanya kenapa ia harus tinggal di kamar Moreno. Namun seolah dapat membaca pikirannya, Reinhart menjawab tanpa perlu mendengarkan pertanyaan Zefa. "Ingin tahu kenapa aku menyuruhmu menempati kamar ini? Karena aku ingin kamu terus mengingat dosamu yang telah mencampakkan Moreno hingga dia bunuh diri!" seru Reinhart tanpa sadar bernapas cepat. Sadar jika emosinya meledak, Reinhart segera menenangkan diri. Ia menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. Setelah cukup tenang, lelaki itu pergi tanpa berucap kata lagi. Namun kepergian Reinhart segera dicegah oleh Zefa. Tanpa memikirkan harga dirinya, wanita itu berlutut di hadapan Reinhart. "Aku mohon biarkan aku berpamitan pada Oma. Dia pasti cemas karena aku belum pulang ke rumah sejak kemarin," pinta Zefa. Air matanya hampir tumpah keluar jika saja ia tidak menahannya. "Izinkan aku pulang sebentar saja. Aku akan mengatakan kepada Oma kalau aku sudah menikah lalu aku akan mengemasi barang-barangku. Setelah itu aku akan mematuhi perintahmu," pinta Zefa sekali lagi. Ia berharap lelaki yang kini menjadi suaminya itu akan melunak. Reinhart mendengus kasar sembari menatap remeh kepada Zefa. "Rengekan seperti ini yang paling aku benci. Bangun!! Aku akan mengantarmu pulang sekaligus memperkenalkan diriku sebagai suamimu," jawab Reinhart dingin. Zefa tahu jika lelaki ini tidak mungkin memberinya kebaikan secara cuma-cuma. Wajah Zefa mendongak ke atas. Walaupun ragu, ia hendak berterima kasih pada Reinhart. Namun belum sempat mengatakan itu, Reinhart kembali menatapnya tanpa belas kasihan. "Jangan senang dulu. Aku akan melakukan itu dengan satu syarat, kamu harus menjadi pelayan di rumah ini," tegas Reinhart. Bagai mendengar guntur di siang hari, Zefa tidak tahu harus memberikan respon apa. Zefa hanya diam mematung. Ia bahkan tidak sadar jika Reinhart sudah melepas kakinya dari pegangan tangannya. Reinhart tertawa sinis kala melihat Zefa tertegun. Wanita ini pasti sangat terkejut karena mendengar ucapannya. "Dengar, kamu pikir aku menganggapmu sebagai istri? Tidak, itu semua hanya tertulis di atas kertas. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai istri, baik hari ini maupun hari berikutnya." Reinhart menarik Zefa dan memaksanya untuk berdiri. Tatapannya dingin sekaligus penuh ejekan. Nampaknya Reinhart penasaran dengan reaksi Zefa setelah ia merendahkannya seperti itu. "Kamu harus mengerjakan tugas-tugas pelayan di rumah ini. Dan jika kita berdua saja panggil aku "Tuan", tapi di depan keluargaku dan keluargamu kita akan berpura-pura menjadi suami istri," ucap Reinhart lagi menyeringai senang kala manik hitam Zefa menatap dirinya kosong. Zefa kembali tertunduk, mempertimbangkan penawaran yang diberikan Reinhart. Di satu sisi ia tidak terima karena ini menyangkut martabatnya, namun disisi lain ia merasa tidak punya pilihan. Menghembuskan nafas berat, Zefa memutuskan untuk menerima nasibnya sebagai pelayan. Toh, penebusan karma ini tidak akan berlangsung lama. "Baiklah, aku menerima tawaranmu. Aku setuju melakukan tugas pelayan di rumah ini," ucap Zefa sembari bangkit dari posisi duduk. Berulang kali Zefa meyakini diri sendiri bahwa ia akan terlepas dari jeratan Reinhart. Bila perlu, ia akan kabur ke luar kota bersama omanya begitu ada kesempatan. "Pilihan yang bagus. Ayo sekarang turun," titah Reinhart. Nada bicaranya lebih dingin daripada sebelumnya. Zefa hanya dapat menurut. Mereka berdua turun dari kamar dan langsung pergi keluar menuju mobil. Mengabaikan keberadaan Intan yang tengah menatap keduanya penasaran. "Mau ke mana mereka? Kenapa kelihatan terburu-buru sekali?" batin Intan menatap mereka penuh tanda tanya. Setelah melihat Zefa dan Reinhart keluar rumah, Intan segera menghubungi Danella, tunangan Reinhart. Ia ingin memastikan Danella mengetahui pernikahan dadakan ini. Tak berapa lama, suara wanita muda menyahut dari arah seberang telepon. "Halo, Tante Intan, kenapa tiba-tiba menelponku? Ada masalah apa?" Danella memberikan pertanyaan beruntun pada Intan. Membuat wanita paruh baya itu sedikit kebingungan meresponnya. "Emm, begini Danella. Tante ingin bertanya, apa benar Reinhart memutuskan pertunangan kalian?" ucap Intan balas bertanya. Dari seberang, Danella tak menjawab. Helaan napas kasar gadis itu terdengar oleh Intan. "Apa Reinhart yang memberitahu Tante? Dia menuduhku berselingkuh dengan Jeremy lalu memutuskan pertunangan kami secara sepihak. Tapi itu tidak benar sama sekali, Tante. Mana mungkin aku berselingkuh dengan lelaki lain sementara aku hanya mencintai Reinhart." Mendengar perkataan Danella, Intan mulai berpikir untuk memanas-manasi mantan tunangan Reinhart itu. Niatnya adalah ingin membuat Danella terbakar api cemburu. Terus terang ia lebih menyukai Danella yang menjadi istri Reinhart daripada Zefa. Pasalnya Danella adalah anak bungsu keluarga Bramantya. Selain itu, Danella sangat mudah dipengaruhi oleh hasutannya. "Danella, Tante ingin memberitahumu alasan Reinhart yang sebenarnya memutuskan hubungan denganmu. Itu karena Reinhart menikahi gadis kampungan!" ujar Intan sembari tersenyum miring. Ia sangat penasaran reaksi apa yang akan diberikan oleh Danella. Dari seberang telpon, terdengar napas Danella memburu cepat. Dugaan Intan benar jika gadis ini mudah terpancing emosi. "Dia meninggalkan aku cuma karena gadis kampungan???" Intan sedikit memundurkan ponsel dari telinganya karena mendengar teriakan Danella. "Iya, Danella. Nama gadis kampungan itu, Zefa! Lebih parahnya dia itu anak yatim piatu dan miskin. Wajahnya juga tidak cantik, sangat jauh di bawah standar." Intan semakin menggebu-gebu menceritakan keburukan Zefa pada Danella. "Aku tidak bisa membiarkan ini, Tante. Aku tidak terima dicampakkan Reinhart begitu saja. Sebentar lagi aku akan datang dan melabrak wanita itu!" seru Danella. Sekali lagi Intan harus menjauhkan ponselnya dari telinga demi. Teriakan Danella memang membuat telinga siapapun berdengung sakit. "Aku akan memberi pelajaran pada wanita bernama Zefa itu karena sudah berani merebut tunanganku!" lanjut Danella meradang. Ia tidak memberi jeda untuk Intan berbicara. "Jangan datang sekarang, Danella. Mereka berdua sedang pergi ke luar," cegah Intan. "Nanti saja kamu datang tepat saat jam makan malam," lanjut Intan tersenyum licik. "Oke, Tante. Terima kasih Tante sudah memberitahuku." Terdengar nada bicara Danella berangsur normal. "Tante akan menunggu kedatanganmu, Danella. Ingatlah, Tante selalu mendukungmu." Intan mengakhiri panggilannya sambil tersenyum puas. Ia akan mengusahakan Reinhart kembali pada Danella demi keuntungannya sendiri. *** Reinhart menyuruh Zefa masuk lebih dulu sementara ia memarkirkan mobil. Perlahan Zefa mengetuk pintu rumahnya yang tampak lengang. Dari dalam terdengar suara langkah kaki diikuti suara kunci yang diputar. Oma Yasmin muncul di ambang pintu. Ia terkejut tatkala melihat Zefa, cucu kesayangannya datang. Raut cemas tampak jelas di wajahnya. Dengan erat, Oma Yasmin memeluk Zefa. "Ze, kamu pergi kemana? Kenapa semalam tidak pulang? Oma takut terjadi sesuatu yang buruk padamu." Lidah Zefa terasa kelu. Ia hanya bisa menitikkan air mata dalam dekapan Omanya. Sesaat kemudian, wanita tua itu melerai pelukannya sambil mengerutkan dahi. "Ze, kenapa kamu pakai kebaya dan berdandan seperti pengantin?" tanya Oma Yasmin terkesiap. Ia baru menyadari bahwa Zefa memakai riasan serta kebaya pengantin. Belum sempat Zefa memberikan jawaban, Reinhart sudah maju ke depan dan memperkenalkan diri. "Halo, Oma, saya Reinhart. Saya suami dari Zefa, cucu Oma. Kami baru saja menikah tadi pagi," ujar Reinhart maju satu langkah seraya mengulurkan tangannya. "Zefa, apa itu benar?" tanya Oma Yasmin tidak percaya. Zefa menggigit bibirnya sambil menundukkan kepala. "I...iya, Oma. Maafkan Zefa karena tidak memberitahu Oma dulu." Tak ingin berbasa-basi, Reinhart segera menepuk pundak Zefa. "Ayo, Ze, kemasi barang-barangmu sekarang. Kita akan segera berangkat untuk berbulan madu, Sayang," ucap Reinhart lembut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD