8-MEMULAI SEMUANYA

1132 Words
Sejak lima menit yang lalu, Cherie diajak berkeliling rumah oleh Mama Hanzel. Dia tidak hentinya berdecak kagum. Setiap ruangan yang didatangi begitu aesthetic dan selalu ada guci tinggi yang pasti bernilai fantastis. Cherie bahkan kagum dengan karpet merah yang terasa tebal saat berada di ruang tengah. Jika dilihat dari berbagai sisi, maka karpet itu akan menunjukkan warna yang berbeda. Sedangkan jika dilihat sekilas, tampak berwarna merah darah. Entah itu namanya teknik apa. "Sekarang kita ke atas," ajak Mama Mista. "Baik, Tante...." Cherie menoleh ke belakang, tapi tidak mendapati Hanzel. Entah lelaki itu apakah masih berada di ruang tamu atau pergi ke ruangan lain. Setidaknya dia lega, karena Mama Hanzel jauh lebih ramah daripada anaknya. Meski pikiran buruk terus berseliweran. Misalnya, wanita itu sengaja membuatnya nyaman tapi kemudian ikut menyakitinya. Bisa jadi, kan? "Kita naik tangga aja, ya!" Cherie mencoba fokus. Dia melirik ke pintu lift di dekat pintu lantas menatap tangga dengan pembatas berwarna emas. Di tangga itu terdapat karpet merah pada bagian tengahnya berwarna. Saat melangkah, pandangan Cherie tertuju ke jendela besar yang tertutup rapat. Dari jendela itu terlihat langit bertabur bintang dan sorot lampu dari atas rumah. "Tante nggak nyangka, Hanzel pintar cari calon istri." "Kenapa gitu, Tan?" Cherie menatap Mama Mista yang menurutnya tetap cantik di usia senjanya. Kulitnya tampak sehat, meski keriput itu tidak bisa dihindari. Serta tubuh Mama Mista yang masih ramping. Dari belakang, siapa saja yang melihat pasti akan mengira masih muda dengan tubuh ramping dan rambut panjangnya. "Saya pikir Hanzel tidak akan menikah." Mama Mista tersenyum sendu setelah mengatakan itu. Cherie tersenyum kecil. "Sekarang banyak anak muda yang pilih menunda nikah, Tan," jawabnya. "Nggak semuanya nggak mau menikah." "Iya, Hanzel juga seperti itu," jawab Mama Mista sambil menoleh sekilas. "Tapi, saya takut Hanzel salah pilih." Dia menghentikan langkah dan menatap Cherie sepenuhnya. Ditatap seperti itu membuat Cherie gelisah. Ayolah, siapalah dia? Hanya wanita biasa yang bertemu dengan Hanzel yang bak pangeran. Rumah Hanzel sepuluh kali lipat dari rumahnya. Bahkan untuk ukuran ruang tamu saja, luasnya hampir setengah dari rumahnya. Perbedaan mereka terlalu jauh dan membuat Cherie ketakutan. Harusnya Hanzel menjadikannya pembantu, bukan calon istri. Mama Mista menatap wanita dengan mata bulat itu sambil tersenyum. Di matanya, Cherie tampak imut, tapi juga terlihat anggun dalam waktu bersamaan. Penampilan Cherie tertutup, itu adalah poin plus baginya. "Untunglah, kekhawatiran saya tidak terjadi." Mama Mista menepuk lengan Cherie dan mengajaknya melanjutkan langkah. Cherie mengikuti sambil menatap ke tembok yang begitu terawat. Tidak ada debu yang menempel, tidak ada cat yang mengelupas, bahkan tidak ada retakan sedikitpun. Dia juga melihat beberapa lukisan abstrak dengan warna hangat yang mempercantik tembok. Lantas, dia menatap wanita yang berjalan menuju lorong meninggalkannya. Cherie mempercepat langkah hingga tepat di belakang mama Hanzel. "Pernikahan kalian seminggu lagi?" tanya Mama Mista. "Pasti Hanzel yang minta." "Iya, Tante." "Kamu harus siap hadapi dia yang banyak mau." Mama Mista kemudian berdiri di depan pintu. Dia membukanya dan menatap Cherie. "Ini kamar Hanzel." Cherie terpaku melihat kamar dengan dekorasi berwarna putih. Dia merasa kamar itu lebih mirip kamar sepasang suami istri daripada kamar bujang. Semuanya tertata rapi dengan ranjang ukuran king size yang terlihat sangat nyaman. Serta lampu tidur yang menempel di tembok samping ranjang yang dia tebak harganya selangit. "Tapi, Hanzel sudah lama nggak nempatin kamar ini," lanjut Mama Mista sambil melangkah masuk. "Saya harap, nanti kalian di sini setelah menikah." Glek.... Cherie menelan ludah. "Nggak bisa, Ma, Cherie langsung aku ajak ke rumah!" Tiba-tiba ada suara berat yang menginterupsi. Cherie menoleh dan terdiam melihat pundak seseorang yang berdiri terlalu dekat dengannya. Matanya sedikit terpejam mencium aroma musk yang menguar. Perlahan Cherie membuka mata dan mendongak. Dia mendapati Hanzel yang menunduk dan tersenyum tipis. Tak.... Cherie hampir kehilangan keseimbangan karena senyuman manis itu. Beruntung, ada tangan hangat yang melingkar di pinggangnya. "Ayo, kita makan malam," ujar Hanzel diakhiri dengan senyuman. Dia menarik pinggang Cherie hingga menabrak dadanya. Lantas dia mengusap punggung Cherie. "Jangan gugup gitu." Diam-diam Mama Mista memperhatikan anaknya yang begitu romantis ke Cherie. "Mama nggak sabar lihat kalian menikah." "Aku juga nggak sabar nikahin dia, Ma," bisik Hanzel. Tubuh Cherie menegang. Dia memegang lengan Hanzel dan sedikit mendorongnya. Lantas dia berbalik dan tersenyum ke Mama Mista. "Lihat, mukamu merah banget." "Tante, jangan gitu." Cherie seketika menunduk lalu memegang pipinya yang terasa hangat. Hanzel menarik dagu Cherie lalu menunduk. Dia memperhatikan wajah wanita itu yang seperti udang rebus. "Nggak usah malu," ujarnya sambil mengusap dagu Cherie. "Ayo, Ma. Aku udah kelaperan." Setelah mengucapkan itu dia menjauh. Cherie hampir terjatuh lagi karena tindakan Hanzel barusan. Dia mengusap tengkuk kemudian ada yang menarik tangannya. "Tan...." "Hanzel emang kayak gitu," ingat Mama Mista. "Habis perhatian-perhatian, eh main tinggal gitu aja." "Hehe. Iya, Tan." Tentu saja Cherie baru tahu hal itu. "Ayo, kita lanjut ngobrol sambil makan." Mama Mista menggandeng Cherie menuju lift. Cherie menahan senyuman. Dia merasa sesi interogasi akan segera dimulai. Namun entah kenapa, firasatnya Mama Mista akan baik kepadanya. *** Pukul sebelas malam, Cherie baru sampai apartemen. Dia turun dari mobil dan menatap Popi yang duduk di depan. "Besok saya nggak harus ngapa-ngapain, kan?" "Kalau Pak Hanzel membutuhkan, pasti saya hubungi." "Oke, thanks!" Cherie menunduk, menatap dua buah tas yang tergeletak. Dia mengambil tas kecil miliknya dan menyampirkan di pundak kiri. Setelah itu mengambil tas berisi uang dan menyampirkan di pundak kanan. Cherie berjalan sambil setengah menyeret kaki. Sungguh dia lelah. Hari ini dia seperti naik kora-kora yang bisa berputar 360 derajat. Bip.... Cherie masuk apartemen dan melempar tas berisi uang itu ke sofa. Setelah itu dia duduk di sampingnya dan melepas heels yang mulai menyiksa. Cherie menyandarkan kepala sedangkan pandangannya terarah ke langit-langit. Seketika Cherie terbayang saat makan malam. Mama Mista begitu menyambutnya, bahkan tak henti menawarkan makanan. Dia pikir, wanita itu akan menginterogasinya, tapi tidak sama sekali. Justru hal itu membuat Cherie khawatir. Apakah mungkin Mama Mista sepercaya itu? Bagaimana jika diam-diam wanita itu tahu hubungannya dengan Hanzel lalu mendepaknya? "Aaah, pusing gue!" Cherie melepas ikat rambut dan membuangnya asal. Setelah itu dia menatap tas berisi uang di sampingnya. Cherie membukanya dan matanya terbelalak melihat uang ratusan tibu yang ditata rapi dan tercium wangi aroma khas uang yang baru dicetak. Cherie mengambil salah satu uang itu dan menghitungnya. "Satu karet gini isinya sepuluh juta!" gumamnya. "Bentar, gue harus bagi buat bayar utang." Lantas dia mulai memilah uang itu dan kegunaannya. Drttt.... Di tengah kegiatannya, ponsel di dalam tas Cherie bergetar. Dia yang mendengar getaran itu segera mengambil ponsel dan mendapati panggilan dari Asna-kakaknya. "Halo." "Mama pingsan, sekarang di rumah sakit." Tubuh Cherie seketika menegang. "Di mana?" Seketika dia berdiri, menutup tas berisi uang dan membawanya ke kamar. Dia memasukkan ke dalam lemari setelah itu berjalan terburu-buru menuju rak sandal. Drttt.... Cherie mengangkat ponsel, mendapati pesan dari orang lain. Hanzel: Terima kasih, malam ini sudah bisa diajak bekerja sama. Hanzel: Tunggu tugas selanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD