7-PERMAINAN AKAN DIMULAI

1109 Words
Mobil telah melaju, Hanzel dan Cherie sama sekali tidak berbicara. Hanzel yang penasaran, melirik wanita di sampingnya yang terkesan tidak memedulikannya. Kemudian, dia menoleh mendapati kotak kecil yang dianggurkan wanita itu. "Nggak mau lihat?" tanyanya melihat kotak yang tergeletak itu masih berada di tempatnya. "Nggak usah malu-malu. Lihat aja." "Saya sudah merasa puas dengan penampilan saya." Cherie melirik kotak itu dan mampu menebak isinya. Setelah itu dia membuang muka. "Tapi, tidak dengan saya." Cherie kembali menoleh. Hanzel duduk menatap depan dengan rahang mengeras dan tiba-tiba saja suasana di mobil agak berbeda. Cherie menghela napas berat lalu mengangkat kardus berwarna orange dari brand ternama. Dia membukanya dan melihat sebuah tas kecil berwarna putih tulang. Dia tidak bisa berbohong jka matanya berbinar, tahu tas itu dari koleksi terbaru. Yah, sebenarnya dia mem-follow artis-artis yang menjadi brand ambassador mereka. Karena itu dia cukup upadate. "Nggak suka?" tanya Hanzel karena tidak ada tanggapan. "Suka." Cherie buru-buru menimpali. "Ini dipinjami, kan?" "Seorang Hanzel nggak pernah minjam. Itu Buat kamu." Cherie menatap Hanzel penuh selidik. Sepertinya lelaki itu mudah mengeluarkan uang tanpa pikir panjang. Ada kekhawatiran jika Hanzel meminta hal lain dan selalu mengandalkan uang. Dia jadi memikirkan nasib ke depannya jika terus diperlakukan buruk hanya karena uang. Suasana mobil kembali hening. Hanzel menoleh ke Cherie yang tampak melamun. Dia lalu melirik tas koleksi terbaru yang dianggurkan. Apa dia nggak suka? batinnya. Sedetik kemudian, Hanzel menggeleng. Cherie seperti wanita lain yang selalu suka dengan aksesoris seperti itu. Dia hendak membuang muka saat perhatiannya tertuju ke kaki Cherie. "Ganti sepatumu juga!" perintahnya tanpa pikir panjang. Lamunan singkat Cherie seketika terputus. Dia meletakkan tas di atas kardus dengan tangan bergetar dan beralih ke kotak putih yang berada di dekat Hanzel. Dia membuka kardus itu dan mendapati stiletto berwarna putih polos, tapi terlihat begitu elegan. "Wah...." Kali ini dia langsung merespons. Hanzel menoleh mendengar respons itu. "Artinya kamu jauh lebih suka sepatu daripada tas?" tebaknya. "Ck...." "Hmm...." Cherie tanpa sadar mengangguk. Tingginya yang hanya 164 centi sering terlihat pendek di teman-temannya yang memiliki tinggi 165 centi ke atas. Karena itu, dia sering mengenakan heels agar terlihat tinggi. Selain itu, dia merasa bagian kaki juga harus istimewa. "Silakan dicoba!" Cherie membungkuk dan mencoba sepatu itu. Dia tersenyum karena sepatu itu pas. Kakinya yang kecil terlihat cocok dengan alas kaki dengan bagian depan yang runcing itu. "Kok bisa tahu ukuran sepatu saya?" Pertanyaan itu kemudian terlintas. Dia menatap Hanzel yang tersenyum samar. Matanya memicing, curiga lelaki itu telah melakukan penyelidikan sampai sedetail itu. Hanzel hanya mengedipkan mata. "Kamu nggak perlu kaget soal itu." Kemudian dia membuang muka. "Ah, pasti Popi." Cherie mencoba tidak berpikir buruk. Dia bergerak maju mendekat ke Popi yang duduk di bangku penumpang depan. "Katanya nggak bakal nungguin? Ternyata..." "... saya mengantarkan tas dan sepatu itu, Bu," jawab Popi sambil menoleh takut-takut. Setelah itu dia fokus menatap depan. "Ehm...." Cherie kembali ke posisinya mendengar suara dehaman itu. Dia menatap Hanzel yang menatapnya tak suka. Aneh, padahal tidak ada yang perlu dicurigai dari pembicaraan barusan. "Ada apa?" "Bicara seperlunya," pinta Hanzel. "Hmm.... Siap, Bapak." Hanzel mengambil ponsel dari saku celana kemudian mengirimkan sesuatu. "Silakan cek ponselmu." "Ah, ponsel saya?" Cherie merasa sisi tubuhnya lalu beralih meraba sisi kanan kiri kursi. Hingga, dia teringat jika tidak membawa ponselnya. Ah, dia juga lupa tasnya berada di mana. "Ini, Bu...." Popi menyerahkan tas slempang berwarna hitam yang sempat dilupakan Cheire.. Cherie mengernyit karena hanya ada satu tas yang diulurkan. "Terus, tas besar tadi?" Jantungnya berdegup lebih cepat. "Ada di belakang," jawab Popi. Cherie mengembuskan napas lega. Dia pikir, uang dari Hanzel ikut hilang. Lantas dia mengeluarkan ponsel dan melihat pesan dari nomor baru. Dia menatap Hanzel, tapi lelaki itu tetap fokus menatap depan. "Itu nomor pribadi saya, jangan disebar," pinta Hanzel. "Pelajari semuanya." "Huh...." Cherie menghela napas dan membaca poin-poin berjumlah puluhan itu. Dia menatap Hanzel ragu, tapi sepertinya lelaki itu tidak mau tahu. Cherie lantas kembali menatap ponsel, membaca poin-poin tentang Mama Hanzel. "Lima menit lagi kita sampai." "What?" Cherie mulai panik. Dia membaca poin-poin itu lebih cepat dan mencoba mengingatnya. Sungguh, dia tipe orang yang paling tidak bisa diburu-buru. Jika sudah seperti itu, pikirannya pasti akan blank. *** Rumah dengan empat pilar tinggi itu tampak indah dengan lampu kekuningan yang menyoroti bangunan gagah itu. Pintu rumah berwarna cokelat kemerahan dengan ukiran yang menghiasi, terasa lebih hidup. Bahkan ukiran itu seolah ikut menyala dan tidak mau kalah. Pada teras bagian tengah, terdapat pot bunga besar dengan dedeaunan yang tidak Cherie tahu namanya. Sementara sisi kiri, terdapat beberapa tanaman di pot-pot kecil dan tampak terawat. Dia tidak mendapati bagian pot itu rusak atau kotor. Sepertinya setiap hari ada petugas yang senantiasa membersihkan. Perhatian Cherie lalu kembali tertuju ke bangunan utama. Dia terpaku menatap rumah Hanzel yang cukup klasik, tapi terasa modern dengan permainan lampu yang memanjakan mata. Dia mencoba terlihat biasa saja, ingat poin-poin yang dibaca tadi. Jangan terlalu menunjukkan ekspresi yang berlebihan. "Ayo, turun!" Hanzel turun lebih dahulu kemudian memutari mobil. Cherie membuka pintu dan turun agak pelan. Dia menatap stiletto putih yang mempercantik kakinya. Kemudian menatap tas kecil yang berada di tangan kirinya. Sengaja dia melakukan itu agar mood-nya baik. Percaya, kan jika perempuan sangat suka jika memakai aksesoris dan terlihat sangat pas di tubuhnya? "Kamu nggak mau pegang tangan saya?" Hanzel berdiri di samping Cherie yang tampak sibuk sendiri. Dia merasa wanita itu belum siap, padahal lima menit terakhir berkonsentrasi dengan dokumennya. "Eh...." Cherie tersadar dari lamunannya. Dia menatap Hanzel lalu mengamit lengan yang terasa kokoh itu. Mereka berdua lalu berjalan menuju pintu utama. Cherie merasa bak di negeri dongeng. Ketika putri dan pangeran menuju istana. Anggap ini sebagai hiburan di kala beban hidupnya. Kreek.... Pintu besar itu terbuka dari dalam. Cherie tersenyum melihat beberapa orang yang berdiri menyambut. Namun, senyuman itu hilang kala melihat seorang wanita dengan rambut digerai indah berjalan keluar. Wanita itu bertolak pinggang dan menatap ke arahnya. Tanpa sadar, Cherie mencengkeram lengan Hanzel. "Ingat poin-poin yang saya beri." "Lu..pa," cicit Cherie. Padahal, dia sudah menghafalkan, tapi saat melihat Mama Hanzel semua yang dipelajari seketika hilang. Hanzel menghela napas berat. Dia mencoba terlihat biasa saja hingga berdiri tepat di depan mamanya. "Malam, Ma." "Dia calon istrimu?" Cherie menunduk sopan. Dia tersenyum ke wanita berambut panjang dengan rok terusan putih tulang yang tampak sederhana itu. "Malam Tante...." Dia menatap wanita itu yang mulai meneliti penampilannya. Dia berdiri tegak dan mencoba terlihat biasa saja. "Kamu pintar pilih istri, Zel!" Tubuh Cherie kemudian dipeluk dengan erat. Matanya melotot, tentu saja syok dengan tindakan barusan. Dia pikir, wanita itu akan menampar atau semacamnya. Seharusnya seperti itu, bukan malah menerimanya. "Ma, kasihan calon istriku!" Hanzel kemudian menarik Cherie dan memeluknya. Mata Cherie kembali melotot. Apa permainan sudah dimulai?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD