6-PERUBAHAN HIDUP

1015 Words
Seorang wanita yang berbaring di sofa itu tampak tidak memiliki tenaga setelah memilih beberapa baju. Padahal, berbelanja adalah hal paling seru bagi kaum wanita, Namun, bukan itu yang membuatnya lelah. Dia lelah menghadapi calon suaminya yang banyak mau. Iya, banyak mau! Banyak gaun indah yang Cherie pilih, dari model kekinian hingga vintage sekalipun. Namun, wanita yang sejak tadi mengikutinya selalu tidak setuju tanpa memberi tahu alasannya. Hingga dia tahu, wanita itu diam-diam memotretnya dan mengirimkannya ke Hanzel. Lebih dari sepuluh gaun telah Cherie pilih, tapi Hanzel belum juga setuju. Dia mulai frustrasi sekarang. "Bu, mari!" Cherie menghela napas berat mendengar ajakan itu. Perlahan, dia menatap wanita yang selalu mengikutinya sambil berusaha tersenyum. "Nama lo siapa?" "Popi, Bu." "Oke, Popi. Bisa nggak jangan lapor ke bosmu dulu?" pinta Cherie sambil beranjak, walau enggak. "Saya yakin kamu juga capek." Popi tersenyum. "Tapi, saya harus menuruti...." "... saya calon istrinya!" Cherie mengeluarkan jurus terakhir. Entah, akan ada dampaknya atau tidak. "Kayaknya kamu juga bakal jadi asistenku." "Tapi, Bu...." Cherie mengibaskan tangan. Dia berjalan menuju deretan sample dress dan memilih gaun yang tidak memiliki potongan rendah, tidak terlalu glamor dan tidak memiliki ekor. Sebelumnya dia memilih itu dan Hanzel selalu tidak cocok. "Saya pilih yang ini!" putus Cherie sambil menunjuk salah satu gaun yang sejak tadi menarik perhatiannya. "Tapi, saya minta bikin gaun ini lebih spesial, yang nggak pasaran." "Baik, Bu!" Popi mengambil gaun itu dan menyerahkan ke petugas. Cherie menghela napas berat. Hanzel tidak henti membuatnya terkejut. Mulai dari langsung tanda tangan kontrak, langsung dibayar sepuluh miliar, menikah seminggu lagi, lantas nanti malam bertemu dengan calon mertuanya. Beruntung Cherie tidak terkena serangan jantung karena hal itu. "Aaaa!" Cherie berteriak frustrasi. Dia bertolak pinggang, menatap cahaya matahari yang menyelinap masuk ke area butik. Dia mendekat, membiarkan tubuhnya terkena sinar matahari. Dia berharap sinar itu membakarnya kemudian dia pingsan. Bahkan kalau bisa pingsan agak lama agar tidak bertemu dengan mama Hanzel. "Bu, mari kita ke salon." Ketenangan Cherie sepertinya baru berlangsung lima menit, tapi kembali terusik. Dia menoleh, mendapati Popi yang mencoba tersenyum, padahal wajahnya terlihat kelelahan. "Saya harus perawatan juga?" tanyanya. "Wajah saya terlalu dekil?" "Ibu cantik," jawab Popi apa adanya. "Tapi, Pak Hanzel...." ".... ya." Cherie segera memotong. Dia berjalan menjauh dan menatap pegawai butik yang berjajar menatapnya. "Tolong, buat gaun saya seindah mungkin," pesannya kemudian berjalan menuju tangga. Bagi Cherie, saat di pernikahannya nanti tidak ada yang spesial. Itu pernikahan impiannya, tapi Hanzel bukan lelaki pilihan hatinya. Karena itu, dia ingin gaun yang dikenakan sesuai keingingannya. Setidaknya dari acara pernikahan itu ada satu hal yang begitu Cherie sukai. "Bu, sebentar...." Cherie baru menuruni anak tangga terakhir, saat ucapan Popi terdengar. Popi dengan sigap mendekat dan berdiri di sebelahnya. "Setelah dari salon, Pak Hanzel yang nanti menjemput. Jadi saya tidak bisa menemani Ibu selama di salon." "Oke, nggak masalah...." Cherie berjalan cepat menuju pintu dan ternyata sudah ada mobil Alphard yang menunggunya. Dia tersenyum miris. Hidupnya berubah 180 derajat dalam sehari. Memang dia pernah menginginkan kehidupan yang seperti ini, tapi atas kerja kerasnya sendiri. Bukan karena hidupnya dibayar sepuluh miliar. "Ada yang ketinggalan, Bu?" Cherie mengibaskan tangan kemudian memilih masuk mobil yang telah menunggu. Popi segera menutup pintu dan beralih ke bangku depan. Mobil mulai melaju, Cherie menyandarkan kepala di jendela sambil memijit pelipis. "Hidup gue gini banget, ya?" Dua orang yang duduk di depan melirik dari spion tengah. Namun, tidak ada yang merespons. Yah, tentu saja mereka diperintah seperti itu. Mata Cherie terpejam. Andai dia tidak menerima tawaran itu, apakah hidupnya masih bebas? Benar, dia pasti bebas tapi memiliki banyak utang. Terlebih mama dan kakaknya yang pasti akan menderita. *** Saat Cherie masih banyak uang, tentu saja dia pernah melakukan perawatan. Namun, tidak pernah perawatan diamon. Sekarang, dia merasakan perawatan itu. Mulai dari masker, lulur dan sampo yang jelas mahal. Cherie hanya terima jadi. Sekarang, Cherie sedang di-make up. Rambut panjangnya diikat ke belakang dan menyisakan anak rambut yang menjuntai. Lingkar matanya, sekarang mulai tersamarkan. Perlahan, upik abu berubah menjadi seorang putri. "Tapi, kenapa dia milih gue?" gumam Cherie tanpa sadar. "Lo sebenernya cantik. Cuma kurang perawatan aja." Cherie menatap lelaki dengan rambut ungu yang terlihat memakai bulu mata palsu itu. "Gue cantik? Ck! Iya, perawatan di tempat lo terbaik." Pandangan Cherie lalu tertuju ke foto si pemilik saat mendapat penghargaan. Belum lagi piagam yang dipasang di lorong menuju ruang perawatan. Sayangnya, sebelumnya dia tidak tahu ada salon semahal ini. "Sudah selesai?" Suara berat yang muncul tiba-tiba itu membuat tubuh Cherie meremang. Dia hendak menoleh, tapi ada tangan yang mendorong rahangnya. Mata Cherie seketika terpejam karena lelaki berambut ungu itu hendak memasangkan bulu mata. "Tinggal bulu mata doang, kok. Tunggu." Cherie menelan ludah. Dia merasa lelaki itu mendekat lalu duduk di sampingnya. Bulu kuduknya seketika meremang. Sungguh, dia seperti berhadapan dengan setan. Beberapa menit kemudian, bulu mata itu terpasang sempurna di mata Cherie. Dia mengedipkan mata mencoba menyesuaikan. Setelah itu dia memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Cherie si upik abu berubah menjadi cinderella. Dia tersenyum melihat pipinya yang tirus dan tampak indah. Belum lagi bagian mata yang lebih bercahaya seolah memiliki harapan besar. "Siap?" Suara itu membuat Cherie tersentak. Dia menoleh mendapati Hanzel mengenakan setelan serba krem berbeda dengan tadi pagi. Kemudian dia menunduk, menatap gaun berwarna senada dengan Hanzel. Dia menghela napas berat, sepertinya Hanzel sedetail itu sampai memilih warna pakaian yang sama. "Ayo!" Hanzel berdiri lalu berjalan begitu saja. "Digandeng, dong!" Lelaki yang merias Cherie iseng menggoda. Cherie melotot ke lelaki di sampingnya. Dia menggeleng tegas kemudian beranjak. Ternyata, Hanzel menunggunya kemudian sedikit mengangkat tangan. "Nggak perlu," tolaknya sambil berjalan keluar. Seperti sebelumnya, sudah ada mobil yang menunggu di depan. Terlihat Popi berada di samping kiri pintu dan tersenyum sopan. Cherie mendekat dan melihat ada dua kardus yang tergeletak. "Apa, ini?" "Kamu nggak mungkin pakai sandal," jelas Hanzel seraya mendekat. "Masuk dulu." Cherie menghela napas berat. Dia masuk mobil kemudian pintu ditutup. dari luar Dia lalu menoleh ke belakang, melihat Hanzel yang memutari mobil dan masuk ke pintu sebelah. Saat lelaki itu sudah masuk, Cherie pura-pura tidak memedulikan. Jantungnya berdegup lebih cepat, apa yang akan terjadi setelah ini? Apakah hidupnya akan kembali kacau?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD