5-KONTRAK PERNIKAHAN

1149 Words
"Oh, ya? Gimana kalau kita saling ngasih bukti?" Glek.... Cherie menelan ludah gugup. Harusnya dia marah karena dijelek-jelekan oleh lelaki. Namun, entah kenapa respons tubuhnya mendadak panas. Apakah ada yang aktif dari tubuhnya? "Udah, kita bahas yang lain!" Hanzel membuang muka kala Cherie terlihat ketakutan. "Sampai mana tadi?" Kemudian dia kembali menatap dan wanita itu baru saja menurunkan kedua tangannya. "Kedua belah pihak harus patuh dengan semua pasal," jawab Cherie agak gugup. "Ya. Sampai situ." Cherie mengangguk tanpa sebab. "Oke, saya bisa laporin kalau Anda macam-macam." Dia mengambil puplen yang disediakan dengan tangan bergetar. Seketika dia teringat wajah mama dan kakaknya. Dia mendekatkan ujung pulpen itu ke kertas dan rasa berat itu terus menguasai. Namun, dia tidak ada pilihan lain. Dia membubuhkan tanda tangan sebelum berubah pikiran. Setelah itu mendorong kertas itu ke Hanzel. Hanzel menerima pulpen itu dan membubuhkan tanda tangan dengan cepat. Setelah itu dia menyerahkan ke sekretarisnya yang sudah menunggu. "Serahkan uangnya." Sekretaris Hanzel meletakkan sebuah tas hitam ke atas meja. Hanzel menggerakkan dagu ke arah tas itu. Bibir Cherie sontak terbuka, tahu apa yang ada di dalamnya. Perlahan dia membuka resleting tas itu dan melihat tumpukan uang yang terlihat mulus tanpa lipatan. "Beneran?" gumamnya tak percaya. "Sisanya saya transfer, Bu." ujar Sekretaris Hanzel. "Nggak mau kamu hitung?" Cherie segera menutup tas itu dan menariknya ke atas pangkuan. "Saya itung di apartemen," jawabnya susah payah. "Sisanya saya tunggu...." "... sudah!" Sekretaris Hanzel menunjukkan email pemberitahuan transfer yang dilakukan oleh tim keuangan bosnya. "Secepat itu?" Cherie menatap dua lelaki tampan itu bergantian. Hanzel tersenyum samar. "Mulai sekarang kamu harus melaksanakan tugas," tagihnya. "Kita menikah seminggu lagi dan sebentar lagi kamu harus fiting baju." "Seminggu lagi?" jerit Cherie sambil menatap Hanzel yang tampak santai setelah memberi tahu berita penting itu. Napasnya tercekat, oksigen mendadak menipis dan membuatnya kesusahan bernapas. "Kamu sudah setuju." Bahu Cherie seketika turun. Dia lupa menanyakan kapan pernikahan itu berlangsung. Belum apa-apa, dia sudah menyesal. "Kamu sudah tanda tangan." Hanzel tersenyum mengejek melihat wajah Cherie yang berubah pias. "Saya nggak bisa nemenin ke butik. Sampai nanti malam, Calon Istri!" Setelah mengucapkan itu dia berdiri, memperhatikan Cherie yang masih syok. Tanpa membant menenangkan, dia bergegas menjauh. Cherie melihat makanan Hanzel masih utuh, sama seperti makanannya. Sayangnya sekarang, dia tidak nafsu makan. Ayolah, siapa yang tidak syok tiba-tiba seminggu lagi menikah? "Gue harus bilang apa ke mama?" geramnya sambil menarik kacamatanya dan meletakkan di meja dengan asal. "Silakan makan, Bu. Tiga puluh menit lagi ada janji dengan orang butik." Wanita lain mendekati Cherie yang masih diam melamun. Cherie menoleh dan melihat wanita muda yang entah datangnya dari mana. "Cowok barusan dari dimensi lain, kan?" Kemudian dia menatap ke arah pintu dan tidak ada siapapun di sana. "Pasti cowok itu sudah terbang." Wanita di depan Cherie menahan tawa. "Saya tunggu. Silakan makan terlebih dahulu." Kepala Cherie terasa begitu berat hingga terantuk dan menyentuh meja. Dia membingkai kepala dan mengacak rambutnya pelan. "Seminggu lagi gue nikah. Haha, tapi nggak happy." Cherie memukul tas di pangkuan lalu bibirnya mengerucut. "Sepuluh miliar untuk bayaran seluruh hidup gue selama setahun. Apa itu sepadan?" Perasaan Cherie sekarang campur aduk. Tetapi, dia sadar lebih dominan takut. Dia akan menikahi lelaki asing yang memiliki kuasa. Akan seperti apa hidupnya nanti? *** Sebuah ruangan dengan kaca besar yang mengelilingi, ada seorang lelaki duduk di kursi pijat. Matanya terpejam, menikmati kursi yang membuat tubuhnya relaks. Sayang, keningnya tampak mengernyit seolah memikirkan sesuatu. Ternyata dia tidak sereleks itu. "Mau saya ambilkan minum?" Mata Hanzel seketika terbuka. Dia menggerakkan tangan agar sekretarisnya itu mematikan kursi pijatnya. Setelah alat itu berhenti, dia tidak kunjung beranjak. "Dia sudah ke butik, kan?" "Sudah, Pak. Katanya sedang memilih gaun." "Bagus...." Hanzel tersenyum samar. Tiga hari lalu, Hanzel seperti mendapat keberuntungan. Dia mendengar pembicaraan dua orang yang membahas tentang uang. Yah, tower yang didatangi Cherie itu miliknya. Di samping lobi ada ruangan khusus dan membuatnya bisa mendengar pembicaraan di luar. Hanzel sengaja membuat ruangan di sana, untuk mendengar pembicaraan pengkhianat. Ternyata cukup banyak orang yang mengobrol hal penting di lobi. Salah satunya Cherie. Cherie terus mengomel dan tanpa sadar memberi tahu orang yang sedang menguping. Akhirnya, Hanzel tahu jika wanita itu butuh uang untuk membayar utang, membayar apartemen dan tunggakan kartu kredit. Hanzel yang memang butuh seseorang untuk membantunya, seketika menawarkan diri. Baginya, uang tidak jadi masalah. Drttt.... Ponsel di saku celana Hanzel bergetar membuyarkan pikirannya tentang calon istrinya. Dia mengambil benda itu dan melihat nama Mista. Seketika dia duduk tegak. "Halo, Ma. Kenapa?" "Kamu mau nikah? Kenapa nggak ngasih tahu mama?" Hanzel sedikit menjauhkan ponsel. Tidak ada raut kaget yang terpancar di wajahnya. Sudah pasti anak buah mamanya yang tadi mengikutinya. "Itu, kan, yang mama mau?" "Iya, tapi nikah sama siapa, Zel?" selidik Mama Mista. "Bukan cewek nggak bener, kan?" "Ma, aku nggak seburuk itu," jawab Hanzel sambil beranjak. Dia berdiri di depan kaca dan melihat pemandangan gedung di seberang. "Mama juga pengen aku nikah." "Kamu nggak nekat nikah sama wanita itu, kan?" "Tenang aja." "Nanti ke rumah, mama mau bicara." "Emang aku niat pulang kok. Mau ngenalin calon istriku." Setelah mengucapkan itu Hanzel memutuskan sambungan. Dia memasukkan ponsel di saku celana lalu membuka dua kancing kemejanya. "Pak, ada telepon dari orang butik." Hanzel menoleh melihat sekretarisnya mendekat sambil mengulurkan sebuah ponsel. Dia menerima benda itu dan mendengar suara keributan di sana. "Ada apa, Cherie?" tanyanya langsung mengenali suara di balik telepon. "Kamu! Kamu sinting?" "Tidak!" jawab Hanzel lalu terkekeh geli. "Nanti saya harus temui mamamu?" "Wajar, kan, calon istri ketemu calon mertua?" tanya Hanzel terlihat biasa saja. "Asuransimu sudah saya urus. Mau dipakai buat periksa jantung?" "Saya serius!" jerit Cherie. Seketika Hanzel menjauhkan ponsel dan mengubah ke panggilan video. Dia melihat seorang wanita dengan rambut berantakan dan mengenakan dress putih yang dia tebak gaun untuk hari pernikahan. Dia lalu tersenyum melihat wajah Cherie yang memerah dengan mata melotot. "Udah pilih dress buat nanti malem, Calon Istri?" "Aku pilih dress terbuka, biar mamamu nggak setuju." "Yakin?" tanya Hanzel pura-pura kaget. "Saya sudah bilang, mulai hari ini kamu harus ikuti permintaan saya. Udah ikutin aja." "Kamu sekarang di mana?" "Kangen?" Sepertinya Hanzel punya mainan baru untuk meluapkan stresnya. "Tunggu nanti sore saya jemput." "Enggak!" "Saya tahu apartemenmu." Cherie melotot. "Diem-diem nyelidikin?" Hanzel berbalik, melihat map yang terbuka di atas meja. "Anak buah saya barusan ngasih hasil penyelidikannya," jawabnya enteng. "Cherie anak kedua dari dua bersaudara. Ibunya bernama Istin dan kakak perempuan bernama Asna!" "Dasar!" Cherie tidak bisa berkata-kata lagi. Senyum Hanzel terbit. "Boleh pakai-pakaian terbuka, saya lebih suka." Tut... Tut... Tut.... Cherie menutup telepon sepihak. Hanzel menjauhkan ponsel lalu membuka menu pesan. Dia melihat foto Cherie yang terlihat cantik memakai gaun pernikahan dengan bagian bawah mengembang. Bagian atas dress itu tidak terlalu terbuka, tapi tetap memperlihatkan pundaknya yang entah kenapa terlihat bagus. "Seleranya lumayan," gumamnya lalu menyerahkan ponsel itu ke sekretarisnya. "Kamu sudah siapkan tempat tinggal baru saya?" "Sudah dibersihkan dan siap ditinggali." Senyum Hanzel terbit. "Selamat datang di kehidupan baru, Cherie."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD