Restoran Italia dengan bangunan berwarna agak kecokelatan itu baru buka lima menit yang lalu. Namun, sudah ada seorang pengunjung dengan rambut digerai dan kacamata bertengger di atas kepala. Buku menu di depannya belum disentuh. Dia hanya melipat kedua tangan di atas meja dengan kepala tertunduk.
"Silakan mau pesan apa?"
Cherie mengangkat wajah, menatap wanita dengan seragam berwarna hitam dengan scraft yang melingkar. Bahkan di matanya, pelayan itu cantik dan berkelas. Ah, dia jadi membedakan dirinya.
"Mau pesan apa?"
"Ayam parmigiana dan air mineral." Tiba-tiba ada yang menginterupsi.
Tubuh Cherie menegang mendengar suara itu. Dia menoleh, melihat lelaki yang mengenakan kemeja putih tanpa jas. Seketika dia menunduk dan menarik kacamata dari kepala. Setelah itu dia melirik Hanzel yang duduk di depannya.
"Saya nggak nyangka, secepat itu kamu setuju." Hanzel memperhatikan Cherie yang mengenakan kaus panjang dengan rambut digerai indah. "Sudah setuju?"
"Sebentar...." Cherie buru-buru menggerakkan tangan. Dua hari terasa begitu cepat bagi Cherie. Sekarang, dia bertemu lagi dengan lelaki yang entah akan menjadi penolongnya, atau menjadi perusak hidupnya. "Maksudnya nikah beneran?"
Hanzel memperhatikan ekspresi Cheire yang tampak serius lalu mengangguk. "Ya, menikah. Ada pesta pernikahan, kita tinggal bersama dan harus tampil seperti suami istri."
"Maksudnya kita harus...."
"... tidur bareng?"
"Aaah!" Cherie menutup telinga. "Bisa jangan diperjelas?"
Sudut bibir Hanzel tertarik ke atas. "Kamu nggak perlu khawatir soal itu," ujarnya. "Kita nggak perlu lakuin itu, kecuali kamu izinkan."
"Hei!" geram Cherie. "Saya nggak mau lakuin kalau nggak cinta."
"Prinsipmu bagus...."
Cherie menghela napas berat. "Lalu setelah menikah, saya harus apa?"
"Cukup di samping saya dan temani."
"Nggak mungkin!" Cherie menunjuk Hanzel waspada. "Anda bayar saya sepuluh miliar buat nemenin saja? Pasti ada maksud tersembunyi." Sebelum bertemu, dia sudah menulis daftar pertanyaan. Dia benar-benar tidak ingin ditipu dan kecolongan. Taruhannya adalah nyawa.
"Kamu cukup pintar." Hanzel tersenyum samar. "Kamu nggak perlu tahu soal itu, yang penting saya nggak akan celakai kamu."
"Gimana saya bisa percaya?"
Hanzel terkekeh. "Asuransi kesehatan yang paling lengkap." Dia memperhatikan Cherie yang sempat membuka mulut pelan, takjub. Padahal, tidak ada yang spesial dari ucapannya.
Cherie menggaruk leher. "Kalau cekala ujungnya saya rugi."
"Kamu nggak perlu khawatir. Saya orang penting, nggak mungkin hancurin karier saya sendiri dengan bunuh orang."
"Bisa jadi pakai orang suruhan."
"Kamu setakut itu?"
Cherie mengangguk pelan. Sejak dua hari yang lalu, dia memikirkan kemungkinan yang terjadi. Bahkan, dia menonton film yang berhubungan dengan menikah kontrak. Rata-rata banyak romansa yang terjadi selama pernikahan itu. Namun, dia ragu itu terjadi di dunia nyata. Terlebih, lelaki di depannya tampak misterius. Bisa jadi ending-nya akan berbeda.
"Saya cuma butuh kamu nikah dengan saya dan temani saya. Enak, kan? Apalagi, saya kasih bayaran yang mahal." Lama-lama Hanzel mulai sebal karena Cherie banyak tanya.
"Berapa lama?" tanya Cherie berusaha menahan rasa gugupnya.
"Setahun."
Menurut Cherie, satu tahun itu bisa berjalan cepat asal dia bisa menikmatinya. "Setelah itu saya bisa bebas, kan?"
"Tentu saja. Kita bercerai di hari terakhir kontrak."
"Tapi, saya jadi janda."
"Janda yang masih pera...."
".... stop!" Cherie menggerakkan tangan, tahu Hanzel akan mengatakan apa. "Oke, jadi syaratnya cuma itu? Kalau saya setuju, kapan kamu bakal bayar?"
Hanzel merasa Cherie sudah sepenuhnya setuju. "Saya bisa telepon sekretaris saya sekarang juga."
"Duitnya?"
"Sebagian saya kasih cash, sebagian transfer."
Bahu Cherie turun. Sebenarnya dia masih enggan menikah kontrak dengan lelaki di depannya. Namun, orang-orang yang menagih utang terus meneror di rumahnya. Ditambah, dia harus meninggalkan apartemen seminggu lagi jika tidak mampu melunasi. Mama dan kakaknya akan syok jika mengetahui kondisi perekonomiannya. "Emm, iya!"
"Kamu ngomong apa?"
"Bukan!" Cherie menggeleng. Sungguh berat untuk menentukan. Di satu sisi dia merasa hidupnya terlalu berharga daripada uang sepuluh miliar. Tetapi, sedetik itu juga dia terbayang mama dan kakaknya.
"Semua kebutuhanmu selama menjadi istri saya, akan saya tanggung sepenuhnya," ujar Hanzel penuh penekanan. "Sepuluh miliar dari saya bisa utuh." Dia memperhatikan Cherie yang tampak bimbang. Namun, ada sorot mata sedih dari wanita cantik itu.
Cherie mengusap sudut mata. Apa ini keputusan yang tepat? Sungguh, dia tidak pernah membuat keputusan segegabah ini.
Melihat Cherie yang tidak kunjung merespons, Hanzel seketika beranjak. "Kamu buang waktu saya!"
"Tunggu!" cegah Cherie dengan kedua tangan terangkat. Dia memperhatikan mata kecokelatan yang menyorot tajam itu, membuat jantungnya berdegup cepat karena ketakutan. "Saya cuma perlu nemenin kamu, kan? Bukan yang lain?"
Hanzel kembali duduk.
"Saya harus tahu jelas, biar nggak nyesel."
Hanzel duduk agak maju. "Saya punya pembantu, jadi kamu nggak perlu masak. Saya punya sopir yang bisa antar jemput kamu jam berapapun. Saya punya toko pakaian langgannan yang bisa kamu datangi kapapun, meski mereka sedang tutup. Saya bakal biayai seluruh hidupmu, penampilanmu dari ujung rambut hingga ujung kuku. Apa yang kurang?"
Kalimat panjang Hanzel terdengar begitu menjanjikan. Cherie menggaruk kepala karena rasa takut itu kian besar. Namun, kenapa lelaki tampan itu butuh istri kontrak? Dia yakin banyak yang mengantre. Hingga terlintas dalam pikirannya. "Emm, Anda kaum...."
"... nggak perlu tahu!" potong Hanzel tahu apa yang akan dikatakan Cherie. Wanita di depannya seperti buku terbuka karena tidak bisa mengendalikan ekspresinya.
Cherie seketika menutup mulut. Andai Hanzel menyimpang, lebih mudah untuknya. Lelaki itu pasti tidak akan tertarik dan tidak mungkin berbuat macam-macam. "Oke. Asal kamu nggak bunuh saya, saya mau!" Setelah itu dia menarik napas panjang.
Hanzel menoleh ke arah pintu, di sana ada satu orang yang memperhatikan. Lantas dia menggerakkan tangan. "Kita tanda tangani sekarang."
Sontak Cherie menoleh, mendapati lelaki bertubuh kekar yang mendekat.
"Silakan dibaca!" Sekretaris Hanzel menyerahkan sebuah map ke Cherie.
Cherie hendak membuka, tapi ada tangan yang mendorong map itu. Dia menatap Hanzel, tapi mata lelaki itu melirik ke samping. Cherie sontak menoleh dan melihat pelayan meletakkan pesanan. "Oke." Sekarang dia tahu maksudnya.
"Silakan...." Pelayan itu meletakkan dua piring berisi ayam parmigiana dan dua air mineral. Setelah itu menjauh.
"Boleh dilihat lagi," ujar Hanzel setelah pelayan itu menjauh.
Perlahan Cherie membuka map itu dan langsung membaca ke poin-poin yang tertera. Isinya sama dengan apa yang diucapkan Hanzel barusan. Hanya saja, ada pasal yang cukup menguntungkan.
Kedua belah pihak harus menghargai privasi masing-masing.
"Kalau kamu nggak patuhi kontrak, bisa aku penjarain, kan?" tanya Cherie dengan tajam. Setidaknya dia memiliki satu senjata untuk melawan lelaki berkuasa seperti Hanzel.
"Kamu nggak baca bagian bawah?" Hanzel menatap Cherie heran. "Kedua belah pihak harus patuh dengan semua pasal." Lantas dia tersenyum miring. Berbeda dengan Cherie yang menghela napas panjang.
"Hmm...."
Hanzel diam-diam memperhatikan Cherie. "Lagian, kelihatannya nggak ada yang menarik."
Cherie mengerjab. Dia melihat mata Hanzel yang tertuju ke tubuhnya. Refleks dia menyilangkan tangan ke depan tubuh. "Bisa alihin pandanganmu?" pintanya tajam. "Ck! Kamu juga nggak menarik."
"Oh, ya? Gimana kalau kita saling ngasih bukti?"
Glek.... Cherie menelan ludah gugup. Harusnya dia marah karena dijelek-jelekan oleh lelaki. Namun, entah kenapa respons tubuhnya mendadak panas. Apakah ada yang aktif dari tubuhnya?