Calandra terkesiap karena tiba-tiba ada yang memeluknya. Ia pun langsung mencoba membalik badan. “Ini aku,” bisik sebuah suara di belakangnya. “Menangislah kalau itu bisa bikin kamu jadi lebih lega.” Suara itu, entah mengapa saat ini terasa sangat menenangkan. Seolah memberi Calandra tempat untuk menumpahkan seluruh keluh-kesahnya. Tubuh Calandra yang semula menegang, perlahan kembali rileks saat menyadari siapa yang memeluknya. Yang memeluknya bukanlah orang tak dikenal seperti yang ia khawatirkan, melainkan orang yang sudah ia kenal. Tangis Calandra pun kembali deras, seolah ingin meluapkan seluruh kegelisahan hati yang telah ia simpan bertahun-tahun lalu. Perlahan, pria yang memeluknya itu mengangkat tubuh Calandra dan membawa gadis itu untuk menangis ke dalam pelukannya. Ia kemud

