Bab 4 - Luka Masa Lalu

1418 Words
“Makasih karena nggak membahas soal perceraian itu sama Papa,” ujar Darrel saat mereka sedang dalam perjalanan menuju makam orangtua Calandra setelah perdebatan panjang memusingkan karena istrinya itu berkeras ingin pergi sendiri tanpa ditemani. Namun untungnya perdebatan itu berhasil dimenangkan oleh Darrel.                 Calandra menoleh pada pria yang tengah mengemudi di sebelahnya itu dengan dahi berkerut. Darrel bilang apa barusan? Makasih? Pria ini ternyata bisa juga mengucapkan terima kasih, pikirnya sinis.                 “Nggak perlu berterima kasih,” sahut Calandra dengan mata kembali menatap ke jalanan di depan mereka. “Aku hanya menunggu waktu yang tepat saja untuk mengatakannya.”                 “Well... Setidaknya kamu tetap lebih mengutamakan kesehatan Papa. Aku benar-benar menghargai itu,” ujar Darrel.                 Calandra benar-benar terkejut dengan reaksi pria yang masih menjadi suaminya ini. Ke mana Darrel yang egois dulu? Yang sama sekali tidak peduli dengan perasaan orang lain dan hanya mencintai dirinya sendiri.                 “Tapi...” Darrel kembali berujar. “Sebelum waktu yang tepat itu datang, maukah kamu ngasih aku kesempatan untuk mencoba menjadi suami yang baik untuk kamu? Aku akan buktikan dengan menebus semua waktu kita yang terbuang dahulu.”                 Calandra kembali menatap Darrel. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis. “Kesempatan? Apa kamu sadar barusan kamu bilang apa? Lima tahun bukan waktu yang singkat, tapi kamu sama sekali tidak memanfaatkannya. Lalu sekarang, kenapa tiba-tiba meminta kesempatan lagi?”                 Sebenarnya Calandra tahu apa yang menjadi alasan Darrel yang kini meminta kesempatan padanya. Darrel adalah player yang tak mungkin melewatkan santapan besar di hadapannya. Calandra sadar dirinya yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Tidak ada lagi Calandra yang lugu dan culun. Ia kini sudah jauh lebih dewasa, pandai berdandan dan merawat diri hingga kini jadi tampak jauh lebih menarik. Tentu saja hal tersebut ia lakukan untuk membalas Darrel. Dan sekarang, sesuai dugaannya, pria itu dengan mudah bertekuk lutut di hadapannya. Darrel melakukan ini hanya agar bisa membuat Calandra jatuh ke dalam pelukannya.                 Akan tetapi, sayangnya perasaan Calandra pada Darrel telah berubah. Tidak ada lagi rasa sayang dan kagum seperti yang ia rasakan dahulu. Kini yang tersisa hanyalah rasa sakit dan benci yang tak mampu ia bendung.                 Calandra tidak ingin hidup dengan seseorang yang selalu mengutamakan fisik saja. Setiap manusia akan menua, tidak akan cantik selamanya. Jika Darrel hanya memandang fisiknya saja, pada akhirnya nanti pria itu akan kembali meninggalkannya ketika penampilan Calandra tidak sebaik sekarang.                 “Seperti yang kamu bilang, aku sadar kalau aku memang b******k,” jawab Darrel. “Dulu aku terlalu terkejut karena dipaksa menikah dengan kamu.”                 “Memangnya aku nggak?” tanya Calandra balik. “Aku yang seharusnya melanjutkan studi sebagai mahasiswa dan menjalani masa remaja akhirku sewajarnya, malah harus menikah dengan kamu. Kamu pikir aku nggak terpaksa melakukan itu?”                 “Waktu itu kamu tampak baik-baik saja,” ujar Darrel.                 “Karena aku nggak punya pilihan lain. Orangtuaku meninggal di waktu bersamaan, aku nggak punya keluarga lain. Hanya kamu dan papamu yang aku punya saat itu. Apakah ada yang akan memelukku saat aku mengeluh dan menangis? Nggak ada. Karena itulah aku belajar untuk tampak kuat dan baik-baik saja.”                 Darrel terdiam. Ini benar-benar hal baru baginya. Dulu, ia pikir Calandra memang bersedia dengan senang hati menikah dengannya.                 “Kupikir kamu dengan Papa cukup dekat. Papa kan sangat menyayangi kamu,” ujar Darrel kemudian.                 “Meskipun Papa sangat menyayangiku, aku nggak mungkin membebani beliau dengan kesedihanku sendiri,” sahut Calandra. “Sudahlah. Kamu tetap nggak akan mengerti.”                 “Aku akan mencoba untuk mengerti,” ujar Darrel penuk tekad.                 “Nggak perlu, toh kita juga akan bercerai.” Calandra mengibaskan tangan sambil tersenyum masam.                       “Aku nggak akan menceraikanmu,” Darrel menggeleng.                 “Aku akan tetap mengajukan gugatan,” kata Calandra.                 “Nggak akan bisa. Apa yang mau kamu gugat dari aku?” tanya Darrel.                 “Lihat saja nanti, pengadilan akan tetap mengabulkan gugatanku,” ujar Calandra percaya diri.                 Darrel menarik napas dalam-dalam. “Kamu kenapa sih ingin kita bercerai? Kenapa kamu nggak mencoba menjalani lagi rumah tangga kita yang sempat kosong selama lima tahun belakangan ini?”                 Darrel benar-benar heran dengan jalan pikiran Calandra. Selama ini banyak sekali perempuan yang berlomba-lomba ingin menjadi istrinya. Bahkan saat mereka tahu bahwa Darrel telah menikah pun masih saja banyak yang berusaha mendekatinya. Menjadi istri kedua lah, simpanan lah, apa pun itu, mereka semua mengejar-ngejarnya.                 Tapi Calandra malah ingin bercerai dengannya. Apa sih yang ada di pikiran wanita ini? Ia adalah istri sah Darrel. Posisi yang diidam-idamkan banyak wanita lain di luar sana.                 “Kita nggak cocok. Jadi lebih baik jalani saja hidup kita masing-masing,” jawab Calandra.                 “Tahu dari mana kamu kalau kita tidak cocok? Kita bahkan belum sempat mencobanya karena kamu langsung pergi ke luar negeri untuk kuliah saat kita baru saja menikah.”                 Mendengar ucapan Darrel barusan, Calandra kembali menatap suaminya itu dengan sinis. Bisa-bisanya Darrel malah menyalahkan Calandra. Ucapannya barusan seakan Calandra lah yang pergi meninggalkannya. Apa dia benar-benar tidak menyadari kesalahannya?                 Calandra mengepalkan tangan sambil menahan amarah. Darrel sepertinya benar-benar lupa dengan apa yang sudah dilakukannya dahulu. *** “Kamu mau ke mana?” tanya Darrel saat melihat Calandra hendak keluar dari kamarnya di jam seperti ini.                 Tadi, ia pikir setelah Calandra tidak lagi menyeret koper keluar dari kamarnya, mereka bisa bicara dari hati ke hati sebagai suami istri. Namun sayangnya, di jam tidur seperti ini Calandra malah hendak keluar dari kamar.                 “Tidur di kamar tamu,” balas Calandra cuek.                 Kemarin saat ia pergi bersama Darrel ke rumah sakit, koper Calandra kembali dibawa ke kamar Darrel. Lalu, setelah ayah mertuanya pulang, Calandra mencoba menahan diri untuk tidak membuat masalah. Jadi ia sengaja diam dan membiarkan barang-barangnya ada di kamar Darrel.                 Akan tetapi, di jam tidur seperti ini, ia tidak ingin bersabar atau mengalah. Ia tidak sudi tidur seranjang dengan pria itu.                 “Eh, wait... wait... Kamu bilang apa barusan?” Darrel secepat kilat melompat turun dari tempat tidur dan meraih lengan Calandra, sebelum gadis itu berhasil keluar dari pintu. “Kenapa harus tidur di kamar tamu?”                 “Kenapa harus tidur di sini?” tanya Calandra balik.                 “Karena kita kan suami-istri,” jawab Darrel dengan wajah tanpa dosa.                 Calandra tersenyum sinis. Sejak kamu mengkhianatiku, kita tidak pernah lagi jadi suami-istri, ujar Calandra di dalam hati.                 “Yang akan segera bercerai,” koreksi Calandra.                 “Belum dan aku yakin hal itu nggak akan terjadi,” balas Darrel yang kini menghalangi pintu dengan tubuhnya agar Calandra tidak bisa keluar.                 “Minggir.”                 “Nggak,” Darrel menggeleng.                 “Kamu mau ngajak ribut?” ancam Calandra.                 “Coba saja,” tantang Darrel. Sejak mereka pergi ke makan tadi, melihat Calandra yang memelototinya dengan marah membuat Darrel merasa bahagia sekaligus tertantang. “Aku yakin kamu nggak akan bikin keributan karena takut bikin Papa terbangun dan melihat pertengkaran kita.”                 Calandra seketika terdiam. “Okay, kalau kamu memaksa dan ingin aku tetap tinggal.”                 Darrel seketika tersenyum mendengar ucapan Calandra yang terdengar seperti menyerah.                 “Silakan kamu tidur di lantai, karena aku nggak mau seranjang sama kamu,” sambung Calandra.                 “Hah? Apa?” tanya Darrel tak percaya. “Kamu tahu kan lantai ini sangat dingin. Aku bisa masuk angin.”                 “itu urusan kamu,” kata Calandra mengangkat bahu, lalu berbalik dan melangkah kembali ke tempat tidur.                 “Honey, kamu kok tega banget sih?”                 “Don’t call me honey. I'm not that thick liquid!” seru Calandra marah.                 Darrel di belakangnya seketika terkekeh. “Yes, you are. Dan aku adalah beruang madunya.”                 “What?” Calandra berbalik untuk menatap Darrel.                 Dengan cepat, Darrel memanfaatkan situasi. Ditangkapnya pinggang Calandra, dan dipandanginya wajah cantik istrinya itu lekat-lekat.                 Matanya yang indah, bibirnya yang berwarna merah muda, hidungnya yang mancung, rambut lurusnya yang tergerai hingga punggung, kulitnya yang putih dan bersemu merah... Istrinya benar-benar cantik.                 Calandra sendiri mendongakkan kepala untuk menatap Darrel yang lebih tinggi darinya. Wajahnya kini tampak jauh lebih dewasa dari lima tahun lalu. Alisnya yang tebal, sorot matanya yang teduh namun menggoda, hidungnya yang mancung, dan bibirnya...                 Perlahan, Darrel mendekatkan wajahnya ke wajah Calandra. Ia ingin sekali mencium istrinya ini. Karena tidak ada perlawanan dari Calandra, Darrel pun semakin berani mendekat. Bibir mereka hanya berjarak kurang dari satu centimeter, namun tiba-tiba saja...                 Plak!                 “Ouch!” Darrel seketika mengaduh. “K-kamu kok...”                 “Apa yang baru saja kamu rencanakan?” Calandra memelototinya. “Dasar pria m***m tak tahu malu.”                 Calandra langsung melepaskan diri dari pelukan Darrel. Didorongnya tubuh pria itu sekuat tenaga, lalu segera berlari ke arah pintu.                 Darrel masih mengusap pipinya yang nyeri saat Calandra memutar kunci dan keluar dari kamarnya. *** Bersambung...  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD