Bab 5 - Pisah Ranjang

1373 Words
Calandra masuk ke kamar tamu, dan langsung mengunci pintunya. Ia melangkah dengan gontai menuju tempat tidur, dan langsung merebahkan diri di sana.                 Darrel brengs*k. Dulu, saat Calandra hanyalah gadis culun yang celek, pria itu sangat enggan menatapnya. Bahkan sejak malam pengkhianatan Darrel dulu, pria itu bahkan bisa bersikap seolah tak berdosa keesokan harinya.                 Darrel tidak pernah peduli padanya. Bahkan ketika Calandra masih mengharapkan kehadiran pria itu dalam beberapa tahun belakangan, Darrel tidak pernah muncul. Hanya Agustian Danubrata yang datang mengunjunginya, dan selalu bertanya kapan Calandra tidak sibuk dan bersedia untuk pulang saat liburan.                 Calandra selalu sedih jika terpaksa berbohong hanya agar ayah mertuanya tidak curiga mengapa ia tidak pernah pulang ke Indonesia saat liburan. Hatinya bagai diremas tiap kali menemukan sorot kecewa di mata pria tua itu ketika ia mengatakan ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan selama libur perkuliahan sehingga tidak bisa ikut pulang. Calandra tidak suka berbohong. Namun ia terpaksa harus melakukannya agar tidak perlu pulang dan bertemu dengan Darrel. Susah payah ia mengobati hatinya. Ia tidak ingin Darrel kembali menghancurkannya.                 Tanpa sadar, air mata yang sejak tadi ia tahan pun kembali menetes. Dengan cepat Calandra menghapusnya.                 “Jangan nangis, Calandra. Kamu sudah jauh lebih kuat sekarang. Darrel sama sekali tidak berhak memperoleh air mata ini. Dia tidak pantas mendapatkannya,” bujuk Calandra pada diri sendiri.                 Meski harus menjadi janda di usia muda, dan masih perawan pula, Calandra yakin itu adalah keputusan terbaik yang pernah ia buat. Meski kini hal tersebut nampaknya harus sedikit tertunda karena kondisi kesehatan ayah metuanya, namun Calandra bertekad tidak akan mengubah keputusannya sedikit pun. *** “Semalam kamu tidur di kamar tamu ya?” tanya Agustian Danubrata saat mereka sarapan di pagi harinya.                 Calandra hampir saja tersedak mendengar pertanyaan tersebut. Ia memandang ayah mertuanya dengan mulut yang membuka-menutup, namun tak sedikit pun suara keluar dari bibirnya.                 “Aku yang salah, Pa,” sambar Darrel tiba-tiba. “Semalam aku bikin Calandra marah. Jadi dia ngambek dan keluar dari kamar kami.”                 Calandra terkejut karena Darrel tiba-tiba mengambil alih situasi dan menyelamatkannya dari keharusan menjawab pertanyaan ayah mertuanya. Jadi pria itu mengaku salah sekarang. Baguslah.                 “Kamu ini,” Agustian menatap putranya dengan tatapan tajam.                 “Aku akan menyelesaikan masalah kami hari ini, Pa,” kata Darrel tenang. “Maaf ya, Sayang.” Darrel beralih menatap Calandra yang duduk di sebelahnya, lalu tiba-tiba meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya.                 Calandra memaki Darrel di dalam hati. Ia menyesal karena tadi sempat terkejut dan lega karena diselamatkan Darrel dari keharusan menjawab pertanyaan ayah mertuanya. Ternyata si b*jingan ini melakukan itu untuk memanfaatkan situasi.                 Sekarang, karena sedang terjebak dalam situasi seperti ini, Calandra tidak bisa serta-merta menarik tangannya begitu saja. Darrel tersenyum, lalu membawa tangan Calandra ke bibirnya.                 Ya Tuhan... Calandra ingin sekali menamparnya. Namun, melihat senyum bahagia di wajah ayah mertuanya, Calandra jadi tidak tega. Baiklah, kali ini ia akan membiarkan Darrel berbuat sesuka hati. Tapi akan ia pastikan pria ini akan menerima balasannya nanti.                 “Oh ya, pagi ini kamu sudah siap ke kantor?” tanya Agustian pada Calandra.                 “Eh, iya, Pa,” Calandra mengangguk.                 Semalam, Agustian meminta Calandra untuk bekerja di perusahaannya. Dua tahun yang lalu, perusahaan mereka melebarkan sayap dan terjun ke bidang daur ulang sampah dengan tujuan untuk lebih peduli pada lingkungan. Dalam waktu dekat mereka ingin mengadakan sebuah event mengenai kompetisi pembuatan produk dari daur ulang sampah, yang bertujuan agar masyarakat lebih peduli pada lingkungan dan mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarang, terlebih pada sampah-sampah yang sulit terurai.                 Agustian ingin Calandra turut memberikan andil dalam event tersebut. Calandra tentu saja senang jika dirinya bisa membantu, namun sayangnya yang menjadi CEO perusahaan tersebut saat ini adalah Darrel. Meski nantinya Calandra akan ditempatkan dalam divisi pengembangan, bukan berarti ia bisa lepas dari gangguan Darrel.                 Darrel bilang Calandra tidak perlu bekerja. Ia bisa bebas melakukan apa pun dan menghabiskan uangnya. Namun, ucapan Darrel justru membuat Calandra tersindir. Ia tidak terima dianggap hanya sebagai perempuan yang hanya bisa menghamburkan uang. Karena itulah ia bertekad akan menunjukkan bahwa ia juga punya kemampuan dan bisa diandalkan. Akan ia tunjukkan pada mereka bahwa uang yang Agustian habiskan untuk menyekolahkannya tidak sia-sia. Bahkan akan Calandra kembalikan berkali-kali lipat.                 Padahal, maksud Darrel mengatakan hal tersebut adalah bahwa ia tidak ingin istrinya lelah bekerja. Ia ingin memanjakan Calandra. Darrel hanya ingin menunjukkan bahwa kini ia adalah pria bertanggungjawab, tidak seperti dulu.                 Akan tetapi, tentu saja hal itu tidak dipahami Calandra. Komunikasi mereka tidak berjalan dengan baik. Bukannya saling memahami, yang ada saat ini malah jiwa kompetitif mendadak hadir dalam diri Calandra. Ia ingin mengalahkan Darrel dan membuat pria itu menyesal karena sudah meremehkannya.                 “Nanti setelah makan aku akan siap-siap ke kantor, Pa,” ujar Calandra lagi.                 “Semoga betah ya,” ujar Agustian. “Kalau seandainya hal itu sangat memberatkan untuk kamu, Papa nggaka akan maksa kamu untuk bertahan.”                 Calandra menggeleng. “Nggak kok, Pa. Aku senang sekali akhirnya bisa membantu Papa.” *** Selesai sarapan, Calandra terpaksa kembali ke kamar Darrel untuk berganti pakaian. Dan pria menyebalkan itu ternyata juga membuntutinya.                 “Ngapain kamu ke sini?” tanya Calandra sinis saat Darrel menutup pintu kamar mereka.                 “Jangan galak-galak, Sayang. Ini kan juga kamar aku,” jawab Darrel santai.                 “Sana pergi, aku mau ganti baju,” usir Calandra.                 “Ganti aja. Aku tungguin,” jawab Darrel sambil tersenyum manis. Ia tetap setia di tempatnya berdiri, dan memandangi Calandra dari kepala sampai kaki.                 “Jangan tatap aku seperti itu, dasar mes*m,” desis Calandra. “Kamu harusnya pergi kerja, bukan berdiri di sana seperti patung selamat datang.”                 Darrel serta-merta terkekeh. “Aku kan nungguin kamu. Biar kita bisa pergi kerja bareng.”                 “Hah? Siapa yang bilang kalau aku mau pergi kerja bareng kamu?”                 “Nggak ada yang bilang, memang. Tapi ini keinginanku,” jawab Darrel sambil mengangkat bahu.                 “Dan itu bukan keinginanku,” balas Calandra. “Baik, silakan saja tunggu di sana, aku tetap akan pergi sendiri nantinya.”                 “Jangan bersikap terlalu dingin seperti Ratu Es dong, Sayang,” ucap Darrel dengan nada merayu.                 Calandra mendadak merasa ingin muntah mendengarnya. Sadar bahwa perdebatan tersebut tak akan pernah berakhir, Calandra langsung meninggalkan Darrel di sana dan masuk ke walk in closet. Setelah berganti pakaian nanti, perdebatan mereka akan ia lanjutkan lagi. Bahkan kalau mereka harus berakhir dengan baku hantam, Calandra tidak akan mengalah lagi. *** Sikap Calandra yang terus-terusan menolak, membuat Darrel semakin tertantang. Apa lagi dengan status resmi yang mereka miliki saat ini, ia merasa berhak memiliki Calandra. Perempuan cantik itu adalah istrinya. Ia bebas melakukan apa pun padanya, kan?                 Darrel sangat menikmati ucapan-ucapan sinis Calandra padanya. Lontaran kalimat pedas Calandra terdengar bagai ucapan cinta untuknya. Darrel sadar ia sedang dimabuk cinta. Jadi mau berapa kali pun Calandra menolaknya, ia tetap tidak akan menyerah.                 Tadi ia berhasil membuat Calandra berangkat kerja bersamanya. Meski harus melalui banyak drama, senang rasanya melihat istrinya itu marah dengan wajah memerah.                 Hidup Darrel sekarang terasa jadi jauh lebih berwarna sejak kepulangan Calandra. Tidak ada lagi hari-hari monoton yang membosankan. Karena kini, ia bisa membuat sejuta rencana untuk menaklukkan istrinya.                 Darrel bersandar dengan santai di kursi kerjanya. Makan siang masih beberapa jam lagi, dan tumpukan dokumen di hadapannya pun masih harus ia periksa satu per satu. Akan tetapi, kepala Darrel terus-terusan memikirkan rencana makan siang bersama istrinya.                 Tidak tahan dengan rencana-rencana yang sejak tadi terus menari di kepalanya, Darrel pun menekan interkom yang ada di mejanya.                 “Nugi, ke ruangan gue dong sekarang,” panggilnya pada sang asisten.                 Tak lama kemudian seorang pria berkacamata muncul di ruangan Darrel.                               “Ya, Bos?” tanya pria itu. Nugi adalah teman Darrel saat SMA. Pria berkulit sawo matang itu merupakan asisten yang sangat bisa diandalkan.                 “Tolong reservasi restoran buat makan siang gue dong,” kata Darrel. “Oh ya, jangan lupa pesankan satu buket bunga juga ya.”                 Sudut bibir Nugi terangkat membentuk senyuman. “Mau ngedate sama istri ya, Bos? Oke,” ujar pria itu sambil mengacungkan jempolnya.                 “Thanks ya,” kata Darrel sambil nyengir.                 Nugi mengangguk, lalu kembali keluar dari ruangannya.                 Darrel tersenyum puas. Rasanya ia sudah tidak sabar menunggu jam makan siang tiba.                 Akan tetapi, senyum Darrel seketika lenyap ketika pintu ruang kerjanya kembali terbuka. Kali ini yang muncul bukan Nugi, melainkan seorang perempuan yang sama sekali tidak ingin ditemuinya. *** Bersambung....                 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD