Bab 6 - Istri Sang CEO

1607 Words
“Hai, Darrel.” Darrel seketika menghela napas panjang mendengar panggilan bernada manja tersebut. “Sibuk ya?” tanya wanita itu sambil melangkah mendekat. “Nggak usah basa-basi,” jawab Darrel ketus. “Mana ada orang yang nggak sibuk tapi duduk di kursi kerjanya.” “Jangan marah dong, kamu kok jadi sensitif begini sih?” Wanita itu menghampiri Darrel, dan bersandar di sisi mejanya. “Kamu merusak suasana hatiku,” jawab Darrel tanpa menatap wanita itu sedikit pun. Ia kembali meraih berkas di mejanya, lalu memusatkan perhatian di sana. “Kalau begitu, biarkan aku bertanggung jawab.” Wanita itu langsung menyentuh pundak Darrel, dan mengusapnya sensual. “Hentikan, Jenny!” bentak Darrel seketika. “Apa kamu gila? Kamu sadar dengan apa yang sudah kamu perbuat?” Jenny yang semula tampak terkejut dengan bentakan Darrel, seketika menampilkan kembali wajah tenangnya. “Kenapa?” tanyanya santai dengan ekspresi tanpa dosa. “Kamu masih tanya kenapa?” tanya Darrel geram. “Kamu sadar kamu siapa?” Jenny hanya tersenyum. “Keluar,” usir Darrel. “Kamu sekarang makin kasar ya,” ujar Jenny. “Tapi kamu semakin seksi kalau begini.” “Jenny kamu benar-benar gila,” kata Darrel sambil mengepalkan tangan. “Aku akan panggil sekuriti untuk menyeret kamu keluar dari sini.” “Aku akan pergi,” kata Jenny. “Tapi dengan satu syarat.” “Aku nggak butuh syarat apa pun karena aku bisa segera menyeret kamu keluar dari sini,” kata Darrel. “Makan malam denganku,” ujar wanita itu, seolah tidak mendengarkan ucapan Darrel sebelumnya. “Tidak akan pernah,” ujar Darrel sinis. “Kalau tidak, video saat kamu ada di s*x party tiga tahun lalu akan aku sebarkan ke publik,” ancam Jenny. “Papa kamu pasti akan sangat terkejut dan akan mendapat serangan jantung lagi nantinya.” Alih-alih merasa terancam, sudut bibir Darrel seketika terangkat. “Kamu ngancam aku? Lupa aku siapa?” tanya tenang. “Percaya diri sekali,” ujar Jenny. “Tentu saja,” jawab Darrel penuh percaya diri. “Kamu bahkan nggak pernah menjenguk papaku saat di rumah sakit. Jadi jangan berlagak seolah tahu segalanya. Kamu mau sebar video itu? Silakan. Papaku sudah tahu. Aku bukan pelaku di sana. Aku tidak pernah ikut terlibat dalam pesta mengerikan tersebut. Seseorang telah menjebakku dan merekam kehadiranku di sana untuk mengancamku. Dalam video itu terlihat jelas aku masih berpakaian lengkap dan tengah kebingungan mencari jalan keluar. Apa yang mau kamu lakukan dengan hal itu? Lagi pula, wajah beberapa pejabat yang terekam di video tersebut terlihat sangat jelas. Apa kamu pikir mereka akan tinggal diam?” “K-kamu... Kamu punya videonya?” tanya Jenny tergagap. “Tentu saja. Aku butuh menunjukkan hal itu ke Papa agar beliau tidak mendengarnya dari orang lain,” jawab Darrel santai. “Aku punya salinan videonya, juga siapa pelaku di belakangnya.” Wajah Jenny memucat. “Jadi... Berhenti mengangguku, oke. Aku tidak suka berbuat kasar padamu karena aku masih menghormati Om dan Tante. Aku diam dengan semua kegilaan kamu karena aku masih menganggap kamu sebagai sepupuku.” “Tapi kita tidak punya hubungan darah apa pun,” balas Jenny. “Aku hanya anak adopsi.” “Ya, dan sedang patah hati. Jadi cepatlah sadar. Aku muak dengan semua kegilaan kamu. Aku bukan mantan pacarmu yang sudah mati itu. Sadarlah.” Sejak tiga tahun lalu Jenny mulai berani menunjukkan obsesinya pada Darrel, dan itu benar-benar menyebalkan. Alasannya simpel. Karena Darrel mirip mantan pacar Jenny yang sudah meninggal. Dan belakangan wanita ini semakin agresif saja mendekatinya. Darrel benar-benar muak. Jenny tampak seperti ingin menangis mendengar ucapan Darrel barusan. Mendadak, Darrel jadi kasihan padanya. Bagaimana pun Jenny adalah putri kesayangan om dan tantenya, meski wanita ini hanyalah anak angkat. “Aku akan lupakan kejadian hari ini dan semua kegilaan kamu,” kata Darrel. “Tapi tolong kendalikan diri kamu sendiri, oke. Ingat, aku bukan mantan pacar kamu, meskipun kamu bilang wajah kami mirip.” “Tapi kamu harus makan malam sama aku,” rengek Jenny. “Tidak bisa. Aku punya jadwal kencan yang cukup padat dengan Calandra hari ini,” tolak Darrel. “Apa? Calandra? Gadis yang menikah dengan kamu dulu?” tanya Jenny terkejut. “Ya, istriku sudah pulang. Sekarang aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengannya,” jawab Darrel. Jenny benar-benar terkejut mendengar informasi tersebut. Kenapa Calandra pulang? Kenapa gadis itu tidak pergi saja dan tidak pernah kembali lagi? *** “Aku senang bertemu kamu lagi, Calandra,” ujar Andre. “Kamu sekarang tampak jauh lebih bersemangat daripada sebelumnya.” “Aku juga senang bertemu dengan Mas Andre lagi,” balas Calandra. “Seperti pesan Mas Andre dulu, hidup kita cuma sekali. Jadi sayang sekali kalau tidak dinikmati, bukan?” Tadi saat diantar ke divisi tempatnya bekerja, Calandra terkejut saat menemukan Andre, seniornya saat kuliah dulu, kini menjadi atasannya. Ia jadi lega karena merasa ada seseorang yang dikenalnya di sini. Namun, rekan kerja Calandra yang lain juga bersikap baik padanya. Saat ini mereka baru saja selesai rapat mengenai persiapan event yang akan diselenggarakan kurang dari dua minggu lagi. Andre mengangguk dan terkekeh mendengar ucapan Calandra. “Mau makan siang bareng dengan yang lainnya?” tanya Andre. Rapat mereka tadi memang diakhiri saat jam makan siang. “Iya, Calandra. Ayo bareng kita. Bos Andre yang traktir kan?” ujar seorang perempuan yang tadi memperkenalkan diri benama Josephine. “Pastinya Bos yang traktir lah, soalnya kan baru saja dapat asisten baru,” goda seorang pria bernama Kamal. “Iya, Bos kan dapat asisten baru yang cantik ini. Pasti mau traktir kita-kita lah ya,” sambar seorang gadis bernama Fina. “Kalian ini, minta traktir terus setiap minggu,” kata Andre. Calandra tersenyum mendengar ucapan koleganya. “Maklum ya, Calandra. Mereka ini demi minta traktir, bisa menjadikan apa pun sebagai alasan,” bisik Andre. “Nggak apa-apa, Mas. Eh, Pak,” ucap Calandra mengoreksi. Ia hampir lupa kalau saat ini mereka sedang di kantor. “Saya juga suka kok kalau ditraktir.” “Nah, cucok. Denger sendiri kan tuh, Bos,” ujar Kamal. Andre lagi-lagi terkekeh. “Ya sudah, kalian mau makan di mana?” “Calandra...” Sebelum salah satu dari mereka menjawab, sebuah suara menginterupsi gerombolan yang sedang berkerumun di depan ruang rapat tersebut. “Eh, itu Bos besar ngapain ke sini?” bisik Fina. “Nyariin Calandra, lo denger sendiri tadi kan,” jawab Kamal sambil berbisik pula. “Cakep banget ya. Jarang banget lho bisa lihat beliau di sini,” bisik Josephine. “Siang, Pak Darrel,” sapa Andre. Sementara yang lain tampak bersemangat melihat kehadiran Darrel di sana, Calandra justru ingin menghilang saat itu juga. “Siang juga. Sudah selesai rapatnya kan?” tanya Darrel. “Saya pinjam istri saya dulu ya.” “What?!” seru Kamal tanpa sadar. “Ssshhh....” Josephine langsung membekap mulut Kamal. “Maaf, Pak. Dia emang nggak tahu malu,” kata Fina sambil memelototi Kamal. “Silakan, Pak,” ujar Andre yang masih tenang, tidak terkejut seperti yang lainnya. Calandra menatap Andre memohon pertolongan. Disuruh ke mana atau mengerjakan apa pun ia rela, asal tidak ikut bersama Darrel. Akan tetapi, Andre yang tahu mengenai statusnya sejak lama, hanya bisa memberikan senyum karena sadar dirinya tidak akan bisa melawan bos besar mereka. Karena Calandra masih diam di tempatnya, Darrel pun melangkah maju dan meraih tangannya. “Ayo, Sayang,” ujar Darrel lalu menarik Calandra. “Mau ke mana?” tanya Calandra sambil menahan tangannya. “Makan siang,” jawab Darrel. “Memangnya ke mana lagi?” tanyanya tersenyum. “Hmm... Aku janji mau makan siang bareng mereka,“ kata Calandra. “Aku udah reservasi restoran lho,” ujar Darrel. “Ah, nggak kok. Nggak apa-apa, Calandra makan sama Pak Darrel aja. Kita mah bisa makan siang bareng kapan-kapan,” sambar Kamal. “Eh, apa sekarang saya panggilnya Bu Calandra aja?” “Calandra aja, nggak usah pakai ‘Bu’,” kata Calandra. Sekilas ia bisa melihat Josephine mencubit pinggang Kamal karena terlalu banyak bicara. “Nggak apa kan, guys?” tanya Kamal lagi. Tidak jera meski telah diberikan cubitan peringatan dari Josephine. Yang lain seketika mengangguk. “Yuk,” kata Darrel, kembali menarik tangan Calandra. Pasrah, Calandra akhirnya hanya bisa tersenyum kaku menatap rekan-rekannya yang lain, lalu mengikuti Darrel beranjak dari sana. “Buset wangi banget si Bos,” gumam Kamal sambil menghirup napas dalam-dalam. “Harga parfumnya pasti lebih mahal dari harga diri gue,” sambar Fina yang juga ikut-ikutan menghirup wangi yang ditinggalkan Darrel. “Pak Andre kok nggak bilang sih kalau Calandra istrinya Pak Darrel,” protes Josephine. “Kalian nggak nanya,” jawab Andre santai. *** “Lepas!” kata Calandra ketus. Mereka kini sudah berada di dalam lift. “Aku nggak mau,” kata Darrel sambil tersenyum. Ibu jarinya kini malah mengusap tangan Calandra dengan lembut. “Darrel, lepas,” ulang Calandra. “Sayang, aku kangen sama kamu. Kita udah terpisah selama hampir empat jam.” “Jangan berlebihan,” Calanda berusaha menarik tangannya. “Nggak ada yang berlebihan dari seorang suami yang menyatakan kerinduan pada istrinya,” sahut Darrel tenang. “Segera akan menjadi mantan suami,” kata Calandra. “Nggak akan,” ujar Darrel yakin. “Jangan terlalu percaya diri.” “Percaya diri nama tengahku.” “Kamu!” Calandra hendak memukul Darrel dengan tangannya yang bebas, namun Darrel dengan cepat menahannya. “Aku nggak mau kamu pukul lagi, kecuali saat kita di tempat tidur,” bisik Darrel. “Dasar mes*m!” “Mes*m nama tengahku juga,” jawab Darrel. “Kamu gila!” “Ya, aku memang tergila-gila sama kamu.” “Aku jijik sama kamu!” “Dan aku ingin mencium kamu,” kata Darrel, kemudian mendekatkan wajah mereka. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD