Bab 7 - Sekamar Lagi?

1295 Words
“Ouch!” Darrel mengaduh ketika Calandra menendang tulang keringnya. Ujung heels yang dikenakan istrinya itu benar-benar tepat mengenai bagian yang menimbulkan rasa sakit luar biasa. “Jangan macam-macam,” kata Calandra sambil menipiskan bibir. Lalu, tak lama kemudian pintu lift membuka. Mereka tiba di parkiran basement. Calandra melangkah keluar lebih dulu, sementara Darrel menyusulnya sambil melangkah agak pincang. “Ini sakit, Yang,” keluh Darrel. “Memangnya aku peduli?” kata Calandra sambil mengangkat bahu tanpa menoleh pada Darrel sedikit pun. “Nggak apa-apa, yang penting kamu mau makan siang bareng aku,” kata Darrel mengalah. “Siapa bilang aku bersedia?” tanya Calandra balik. “Aku berencana kembali ke atas kok.” Setelah mengatakan itu, Calandra langsung berbalik dan melangkah kembali menuju lift. Akan tetapi, nasib baik tampaknya malah berpihak ke Darrel. Pintu lift kembali menutup dan Calandra tidak bisa langsung kabur begitu saja. Lalu, ketika ia hendak mencari jalan lain, Darrel sudah tiba di sisinya. “Aku nggak akan biarkan kamu kabur,” ujar Darrel yang kini sudah bisa berdiri tegak. Pemulihan dirinya berlangsung cepat, meski rasa nyeri di kakinya masih terasa. Meski sadar bahwa ia tidak bisa kabur, Calandra menatap Darrel dengan berani. “Coba saja,” tantangnya. “Oke,” kata Darrel sambil tersenyum. “Kamu mau aku gendong ke mobil kayak tadi pagi?” Membayangkan drama tadi pagi ketika Darrel menggedongnya hingga ke mobil membuat Calandra tiba-tiba bergidik. “Aku yakin kamu nggak mau menimbulkan drama lagi seperti tadi pagi, apa lagi ini kantor,” ujar Darrel tenang. “Jadi, tetap mau aku gendong, atau jalan sendiri ke mobil?” Calandra diam karena tidak tahu harus menjawab apa. “Ayo, Sayang, kita pergi. Aku udah lapar banget nih.” Darrel meraih tangan Calandra dan mengajaknya berjalan menjauhi lift. Calandra langsung menepis tangan Darrel, lalu melangkah sendiri menuju tempat mobil Darrel terpakir. Hatinya benar-benar kesal dan dipenuhi amarah pada pria ini. Setibanya di mobil, Darrel kembali bersikap sok manis dengan membukakan pintu untuk Calandra. Sambil cemberut, Calandra langsung masuk mobil dan duduk di kursi penumpang samping kemudi. Darrel berlari kecil memutari mobil, lalu membuka pintu di kursi belakang. Entah apa yang dilakukannya di sana, Calandra tidak ingin menoleh sedikit pun. Tak lama kemudian Darrel kembali membuka pintu mobil dan duduk di belakang kemudi. “Untuk kamu, Sayang,” ujarnya sambil menyerahkan buket bunga sambil tersenyum. Calandra menoleh. Ekspresi kesal di wajahnya belum surut. “Aku nggak suka bunga,” tepis Calandra. “Oh, perempuan biasanya kan suka bunga,” kata Darrel terkejut. “Aku nggak,” balas Calandra datar. Ia pun kembali mengalihkan tatapan ke depan. Darrel menarik kembali buket bunganya, lalu melemparkan bunga itu kembali ke kursi belakang. “Jadi apa yang kamu suka? Mau cincin berlian? Kalung?” “Aku nggak suka perhiasan,” jawab Calandra cepat. “Apartemen? Rumah? Mobil?” tanya Darrel lagi. “Aku bukan perempuan matre, Darrel!” bentak Calandra marah. “Bisa nggak kamu jalankan aja mobilnya dan kita langsung pergi makan?” “Aku kan hanya ingin memberi kamu hadiah,” kata Darrel. “Jangan samakan aku dengan perempuan-perempuan yang biasa kamu kencani. Aku berbeda,” ujar Calandra sambil membuang muka ke arah jendela. “Ya, kamu memang berbeda,” kata Darrel. “Kamu istriku.” Calandra diam dan tidak menanggapi lagi ucapan Darrel. Entah karena lapar atau karena terlalu banyak marah pada Darrel, Calandra merasa energinya sudah terkuras habis. Ia benar-benar lelah sekarang. *** Sepanjang makan siang tadi, Calandra mencoba bersabar menghadapi Darrel. Pria itu masih bersikap norak dan berlagak sok romantis padanya. Darrel menarikkan kursi untuknya, memandangi Calandra dengan tatapan mata andalannya, dan memuji Calandra cantik entah berapa ratus kali. Semua itu membuat Calandra muak. Karena itulah, saat jam pulang kantor tadi, Calandra berusaha kabur dari Darrel. Ia pulang lebih dulu dengan menggunakan taksi, membuat Darrel yang tidak berhasil menemukannya merasa kesal karena gagal membawa Calandra pulang bersamanya. Calandra juga sangat senang ketika ia memblokir nomor Darrel, jadi pria itu tidak bisa lagi menghubunginya. Terkadang, Darrel bisa sangat gila dengan rutin mengiriminya pesan cinta. Itu benar-benar membuat Calandra mual. Bebas dari Darrel membuat Calandra merasa sangat senang. Meski ayah mertuanya tadi sempat bertanya mengapa Calandra pulang lebih dulu, untungnya alasan Calandra yang mengatakan bahwa Darrel sedang ada urusan bisa dipercaya oleh ayah mertuanya. Ia mengobrol bersama ayah mertuanya dengan tenang, tanpa ada gangguan Darrel di sana. Mereka membahas perencanaan event, juga beberapa hal lainnya. Darrel pulang saat jam makan malam. Meski ia kesal karena Calandra berhasil kabur darinya, Darrel bersikap seolah tidak terjadi hal apa pun. Hingga akhirnya tiba saatnya jam tidur, Darrel mulai kembali meminta Calandra untuk tidur di kamarnya. “Jangan tidur di kamar tamu lagi,” kata Darrel tiba-tiba. Calandra yang sedang mengoleskan krim malam ke wajahnya sontak saja terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Darrel di kamar mandi. Calandra menyesal karena tadi lupa mengunci pintu. Padahal ia sadar betul bahwa semua pakaian dan peralatan make up miliknya masih ada di kamar Darrel. “Kamu boleh tidur di kasur, dan aku akan tidur di lantai,” sambung Darrel lagi. Calandra benar-benar terkejut mendengar hal itu. “Aku nggak akan ganggu kamu di jam tidur seperti ini, jadi kamu bisa istirahat dengan tenang.” Setelah mengatakan itu, Darrel menyingkir dari pintu kamar mandi, dan kembali menutupnya. Calandra menepuk pelan kedua sisi wajahnya sambil menatap cermin. Apa yang barusan itu Darrel? Penasaran, setelah selesai mengaplikasikan krim ke seluruh wajahnya, Calandra segera keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamar. Di sana, ia menemukan Darrel tengah memompa sebuah kasur angin di lantai. Oh, dia tidak benar-benar tidur di lantai kalau begitu, ucap Calandra dalam hati. “Kamu benar-benar nggak akan macam-macam ke aku?” tanya Calandra untuk memastikan. Darrel menoleh padanya, lalu mengangguk. “Aku janji. Aku adalah orang yang fair. Aku nggak mungkin macam-macam saat kamu tidur.” “Kalau kamu bohong?” tanya Calandra. “Kamu boleh pukul aku. Atau tendang juni*r si aset berhargaku ini,” kata Darrel sambil menunjuk bagian bawah pinggangnya. Calandra memalingkan wajah. Darrel ini benar-benar tidak tahu malu. “Meskipun kalau si juni*r ini cidera kamu sendiri yang bakalan rugi,” sambung Darrel sambil terkekeh. Calandra memutar bola matanya. Mengabaikan Darrel, ia pun langsung naik ke tempat tidur dan masuk ke bawah selimut. Ia akan coba mempercayai Darrel kali ini. “Selamat malam, Sayang,” ujar Darrel. Calandra diam saja dan langsung membalik badan membelakangi Darrel. “Selamat malam juga, Darrel sayang,” ujar pria itu lagi karena Calandra sama sekali tidak membalasnya. Calandra hanya mendengus, lalu semakin merapatkan selimut ke tubuhnya. *** Hangat. Masih dengan mata terpejam, Calandra semakin merapatkan tubuhnya ke sesuatu yang terasa hangat di sebelahnya. Perutnya terasa nyeri. Ini pasti karena efek datang bulannya yang muncul sore kemarin. Disminore tersebut muncul hari ini. Calandra jadi merasa malas untuk bangun. Sekarang jam berapa ya? Ia kembali bertanya-tanya dalam hati, namun masih enggan membuka mata. Kasurnya juga terasa sangat nyaman. Belum pernah Calandra merasa senyaman ini. Apa lagi dengan kehangatan yang muncul di bawah selimutnya saat ini. Calandra bersandar pada kehangatan itu dan menghidu aroma asing namun cukup familier di penciumannya. Ini bukan wangi tubuhnya. Tapi Calandra sering mencium wangi ini. Perlaha matanya pun membuka untuk melihat benda hangat apa yang ada di dekatnya saat ini. Dan hal pertama yang Calandra lihat adalah barisan kancing piyama biru dongker berbahan sutera. Perlahan, mata Calandra beranjak menuju ke atas. Wajah yang sangat dikenalnya tampak sangat dekat saat ini. Matanya terpejam, napasnya teratur. “Kyaaaaa! Ngapain kamu ke sini!” Calandra langsung menjerit dan mendorong tubuh Darrel sekuat tenaga. Karena terkejut, dengan mata setengah terbuka, Darrel berusaha memahami situasi. “Ngapain kamu naik ke tempat tidurku!” ulang Calandra sambil mendorong tubuh Darrel. “S-sayang, aku bisa jelas—“ Dug! Ucapan Darrel tidak selesai karena dirinya saat ini seketika sudah jatuh ke lantai. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD