Bab 10 - Gangguan Dari Luar

1365 Words
“Kamu sudah pulang?” tanya Jenny seraya melangkah mendekat. Calandra mengangguk. “Ya, aku sudah pulang. Kak Jenny apa kabar?” Melihat interaksi istrinya dan Jenny, Darrel seketika berdiri dari kursinya. “Baik,” ujar Jenny. Ia meletakkan makanan yang dibawanya ke atas meja, kemudian duduk di sebelah Calandra. “Senang melihatmu kembali.” Calandra tersenyum dan mengangguk sambil menatap Jenny. Lalu, tiba-tiba saja Jenny langsung memeluk Calandra, membuat mata Darrel seketika melotot. “Kak Jenny belum makan? Ayo makan bareng aku dan Darrel di sini,” ajak Calandra. Oh tidak... Tidak! Darrel menggeleng sambil memasang ekspresi horror. Istrinya yang polos ini malah mengundang iblis wanita itu makan bersama mereka. Ya Tuhan... Calandra ternyata memang masih gadis polos yang sama seperti dulu. Darrel membatin sambil menatap ke arah istrinya dengan gemas. “Ah, iya, ini aku juga bawa makan siang. Ayo kita makan sama-sama,” ajak Jenny seraya meraih kantong makanan yang tadi dibawanya. “Nggak, siapa yang ngizinin kamu makan di sini,” potong Darrel tiba-tiba. Tangan Jenny yang hendak menghidangkan makanan ke meja, seketika terhenti. “Aku yang ngizinin,” bela Calandra tiba-tiba. “Sayang... Ini kan makan siang kita berdua,” kata Darrel. Mata Jenny seketika melebar mendengar Darrel menyebut Calandra dengan panggilan “Sayang”. Sejak kapan? Sejak kapan Darrel dan Calandra... Batin Jenny mulai bertanya-tanya. “Aku lebih suka jadi bertiga,” jawab Calandra. “Apa? Jadi kamu suka three s*me?” tanya Darrel terkejut. “Makang siangnya, Darrel,” ujar Calandra menipiskan bibir menahan geram. “Tapi aku cuma mau berdua sama kamu.” Darrel berusaha membujuk. “Aku nggak,” jawab Calandra tegas tak berperasaan. “Atau kamu bisa makan sendiri, dan aku makan sama Kak Jenny aja.” “Nggak,” Darrel langsung menggeleng dengan cepat. “Sayang kok tega banget sih—hatchii!” Calandra langsung refleks menutup hidungnya. “Sana, duduk di meja kamu sendiri. Jangan bawa virusnya ke sini,” usir Calandra. Lagi-lagi diusir, sambil cemberut, Darrel pun kembali berbalik menuju meja kerjanya. Diam-diam, Jenny mengamati interaksi Calandra dan Darrel. Hal itu sangat membuatnya terkejut. Darrel benar-benar persis bud*k cinta, patuh pada apa pun yang dikatakan Calandra. Dan gadis di sebelahnya ini, sejak kapan pula berubah dari itik buruk rupa menjadi angsa yang menawan? Calandra kembali mengobrol dengan Jenny. Hanya obrolan basa-basi mengenai kegiatan Calandra selama di US. Hingga beberapa menit kemudian, makan siang yang dipesan Darrel pun datang diantar oleh salah satu petugas yang berjaga di bagian front office. Calandra membagi makanan tersebut dengan Darrel, membuat wajah cemberut pria itu kembali semringah. Namun sayangnya, setelah membagi makanan mereka, Calandra malah kembali duduk di sofa dan mengobrol dengan Jenny. Membuat Darrel merasa seperti kambing congek karena diabaikan. Darrel menikmati makan siangnya sambil mengamati interaksi istrinya dan Jenny. Sepupunya yang tak tahu diri ini sudah berhasil mengacaukan makan siangnya bersama Calandra. Dasar nenek sihir, maki Darrel dalam hati. Dan tidak hanya itu saja yang membuat Darrel kesal. Sejak kapan Jenny dan Calandra berteman? Itu adalah pertanyaan terbesar yang sejak tadi terus menganggu Darrel. Ia tidak pernah tahu kalau Jenny bisa berteman dengan Calandra, gadis lugu yang dulu disebut Jenny sebagai si kutu buku norak. Kutu buku norak yang sekarang pastilah akan jadi kutu buku terncantik di dunia. Setidaknya di dunia Darrel, jika ada yang tidak sependapat, pikirnya dalam hati. Selama mengobrol dengan Calandra, Jenny benar-benar tidak berani menggoda Darrel. Hal itu membuat Darrel merasa cukup lega karena sepupunya yang gila ini tidak mencoba mencari gara-gara. “Eh, waktu istirahatnya sudah hampir selesai nih, aku harus balik ke bawah. Kita lanjut ngobrolnya di lain waktu ya, Kak,” ujar Calandra setelah melirik jam di pergelangan tangannya . Mendengar ucapan Calandra, Darrel pun juga melirik jam di tangannya sendiri. Masih ada waktu lima menit lagi, namun ia lega Calandra mengakhiri obrolannya dengan Jenny lebih awal. “Oh, kamu kerja di sini?” tanya Jenny terkejut. “Iya, baru aja masuk, Kak,” jawab Calandra. “Wah, good luck ya,” ujar Jenny tersenyum. “Oh ya, berhubung kamu sudah pulang, kita harus sering-sering hang out bareng nih kayaknnya.” Calandra tersenyum kecil. “Boleh.” “Weekend nanti gimana?” tanya Jenny antusias. Oh, no! Darrel lagi-lagi menggeleng dari balik mejanya. “Nggak bisa, Kak. Dalam beberapa minggu ke depan sepertinya aku masih bakalan sibuk untuk persiapan event dan pelaksanaannya yang akan berlangsung selama satu minggu. Jadi kayaknya kalau dalam waktu dekat aku masih belum bisa santai. Maaf ya.” Darrel seketika mengembuskan napas lega. Untungnya Calandra sendiri langsung menolak, jadi ia tidak perlu turun tangan langsung untuk melarangnya. Jenny tampak kecewa. “Ah, ya sudah, nggak apa-apa. Masih banyak waktu lain kok. Oh ya, kamu mau turun kan? Yuk bareng aku.” Calandra mengangguk. “Ayo, sekalian buang ini dulu di tempat sampah,” ujar Calandra sambil membersihkan meja. Ia pun dengan sigap membereskan sisa makan siangnya dan membungkusnya kembali dengan plastik pembungkus untuk mempermudah OB membuangnya nanti. Darrel hampir tertawa melihat Jenny terpaksa mengikuti Calandra membereskan sisa makanan mereka. Si manja Jenny sama sekali tidak pernah melakukan hal seperti itu seumur hidupnya. Namun karena gengsi, ia pun terpaksa mengikuti apa yang dilakukan Calandra. “Tunggu,” sela Darrel saat Calandra dan Jenny sudah berdiri dari sofa. “Jenny, kamu silakan saja turun lebih dulu. Aku perlu bicara berdua saja dengan istriku.” Calandra memandang Darrel dengan tatapan bertanya-tanya, sementara Jenny memandangnya tidak suka. Darrel melangkah mendekati mereka, dan langsung membukakan pintu untuk Jenny. “Ini obrolan suami dan istri, jadi tolong dimengerti, sepupu,” ujar Darrel sambil mempersilakan Jenny keluar. “Ada apa?” tanya Calandra tidak sabar. “Tamu kita belum keluar, Sayang,” ujar Darrel. “Nanyanya nanti aja.” Merasa disindir terang-terangan, Jenny pun segera melangkah keluar dengan muka memerah. “Kak Je—“ “Sshhh...” Darrel meletakkan telunjuk di depan bibirnya, lalu langsung menutup pintu dan menguncinya. “Apa-apaan sih? Kenapa dikunci segala?” protes Calandra. “Ssshhh...” Darrel masih memberi isyarat pada Calandra untuk diam. Ia lalu mengajak Calandra untuk menyingkir dari pintu. “Kenapa sih?” tanya Calandra jengkel. Sikap Darrel benar-benar menyebalkan. Lagaknya sudah mirip seseorang yang hendak membocorkan rahasia besar negara saja. “Pulang nanti bareng sama aku ya,” kata Darrel. “Jangan pulang sendiri lagi seperti kemarin.” Calandra menatap Darrel dengan ekspresi kesal. “Jadi kamu cuma mau bilang itu ke aku? Buang-buang waktu aja.” Darrel menggeleng. “Janji kamu nggak akan kabur lagi kayak kemarin?” Calandra memutar bola matanya. “Kenapa sih? Suka-suka aku dong mau pulang duluan atau nggak.” “Kalau kamu nggak mau janji, aku akan bilang ke sekuriti untuk menahan kamu biar nggak bisa keluar dari gedung kantor di jam pulang nanti.” “Kamu kok ngancam aku sih?” tanya Calandra tak terima. “Janji nggak?” “Kamu nyebelin banget, tahu nggak!” tukas Calandra marah. “Janji?” ulang Darrel, tak peduli pada protes Calandra. “Iya! Aku akan pulang sama kamu, puas?” Darrel pun tersenyum. “Makasih ya, Sayang.” Calandra mendengus, lalu langsung berbalik hendak kembali melangkah menuju pintu. “Eh, tunggu,” Darrel langsung meraih lengan Calandra. “Aku belum selesai.” “Apa lagi sih?” tanya Calandra sambil menepis tangannya. “Jangan terlalu akrab dengan Jenny. Kalau bisa, jangan sampai berteman dengan dia. Kamu nggak tahu seberbahaya apa dia itu,” ujar Darrel serius. Calandra terkejut melihat ekspresi serius Darrel. Sesaat ia merasa hampir saja percaya pada ucapan pria itu, sebelum ingatan di masa lalu itu kembali membuatnya sadar. Tentu saja Darrel tidak suka Calandra berteman dengan Jenny, karena Jenny tahu semua kebiasaan buruk Darrel. Pria ini takut rahasianya terbongkar. Calandra tersenyum sinis. “Kamu nggak berhak mengatur hidupku. Dengan siapa aku berteman, itu sama sekali bukan urusan kamu.” “Tentu saja itu urusanku. Aku suami kamu,” kata Darrel. “Yang sebentar lagi akan jadi mantan,” balas Calandra. “Nggak akan pernah,” ujar Darrel tegas. “Mimpi aja terus,” ujar Calandra sinis. “Omong-omong, pakai masker gih. Ingus kamu meler tuh.” Darrel buru-buru menyapu bawah hidungnya, sementara Calandra langsung berbalik dan melangkah menuju pintu. Meninggalkan Darrel di belakangnya dengan muka memerah menahan malu. Dasar ingus sialan! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD