Bab 9 - Flu

1976 Words
Calandra terkejut mendengar pertanyaan Andre. Ia pikir pria itu sudah lupa dengan apa yang pernah Calandra katakan dahulu. Andre memang sempat menjadi tempat curhat Calandra saat ia dalam keadaan rapuh dan patah hati bertahun-tahun lalu. Pria itu banyak membantu Calandra untuk bangkit, sebelum akhirnya Andre yang berusia tiga tahun lebih tua dari Calandra lulus dan pulang lebih dulu ke Indonesia. Sejak Andre pulang, komunikasi mereka pun terhenti. Andre yang sibuk, dan Calandra yang tidak ingin mengganggunya pun juga mulai menyibukkan diri. Mereka sempat beberapa kali berkomunikasi via email karena Andre mengganti nomor ponselnya saat pulang ke Indonesia, dan pria itu bukan pengguna aktif media sosial. Namun dua tahun belakangan, keduanya memang sudah tidak pernah lagi bertukar kabar lagi. Mertuanya, Agustian Danubrata, memang tahu bahwa Andre dekat dengan Calandra. Karena itu, wajar saja Andre yang diminta untuk membimbing Calandra mengenai hal ini. “Sebenarnya...” Calandra ragu ingin jujur. “Mas Andre janji kalau ini rahasia ya. Aku nggak mau Papa dan yang lain tahu.” Andre mengangguk. “Ada apa?” “Aku sebenarnya ingin minta cerai sama Darrel. Tapi karena kondisi Papa sedang nggak baik, jadi aku tunda. Aku juga sudah bilang ke Darrel sih, tapi dia nggak mau kami bercerai. Dia minta kesempatan kedua agar kami mencoba lagi membangun rumah tangga yang dulu belum sempat dimulai.” “Tentu saja dia nggak mau melepas kamu,” kata Andre tersenyum. “Kamu sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Sekarang kamu sudah jadi wanita cantik, pemberani, dan penuh percaya diri. Bukan lagi gadis lugu yang sering dilanda cemas dan rasa minder.” “Aku nggak suka dia mulai perhatian ke aku hanya karena tampilan fisikku,” keluh Calandra. “Laki-laki itu mahkluk visual, Calandra. Jadi wajar,” kata Andre maklum. “Hanya saja, aku juga bisa mengerti perasaan kamu.” “Jadi aku harus gimana, Mas? Aku tetap nggak mau balik ke Darrel.” “Keputusan itu tetap ada sama kamu,” ujar Andre. “Aku cuma bisa kasih saran, berhubung sekarang kamu belum benar-benar bisa menuntut cerai secara terang-terangan, lebih baik kamu amati saja keseriusan dia. Sakit hati yang kamu alami kan sudah bertahun-tahun lalu, siapa tahu sekarang suami kamu memang sudah berubah.” Calandra diam. Ia tidak suka dengan usul Andre barusan. Ia tidak pernah ingin memberi kesempatan pada Darrel. Hatinya masih sangat terluka dengan apa yang pria itu lakukan dahulu. *** Darrel melirik jam di pergelangan tangannya. Makan siang masih dua jam lagi. Masih cukup lama, namun ia bertekad bahwa makan siang kali ini harus lebih baik dari kemarin. Ia harus bisa melunakkan Calandra. Tiba-tiba, sebuah ide gila muncul di benak Darrel. Ia pun langsung meraih ponselnya, dan mengirimkan pesan obrolan pada seseorang. Darrel: Leon, lo pernah sakit nggak? Leon: Pertanyaan lo berbobot sekali, Anak Muda. Darrel: Gue serius, Pak Tua. Leon: Bangs*t nih anak. Bener kata Devon, lo memang gila. Darrel: Ah, Devon mah punya sentimen pribadi sama gue. Darrel: Dia masih belum bisa menerima kenyataan kalau dulu Davina pernah nembak gue. Leon: Menurut gue nggak. Setelah punya tiga anak, dia nggak akan peduli lagi dengan itu. Darrel: Enough! Kenapa jadi bahas Devon sih? Darrel: Gue pengen sakit, dalam waktu dua jam lagi. Gimana caranya. Leon: Ah gila lo. Di mana-mana orang kepengin sehat, bukannya malah sakit. Darrel: Gue harus sakit saat makan siang nanti. Leon: Gila lo. Pergi sana, jangan chat gue. Darrel: Dasar berhati dingin. Darrel mengembuskan napas dan melempar kembali ponselnya ke meja. Leon tidak bisa dijadikan tempat bertanya. Apa yang harus ia lakukan? Darrel melirik interkom di atas mejanya, lalu menekan benda itu. “Nugi, ke ruangan gue sebentar,” panggil Darrel. Tak lama kemudian, asistennya itu pun muncul di ruangan. “Ya, Bos?” tanya Nugi. “Lo tahu caranya supaya gue bisa terserang flu?” tanya Darrel. “Hah?” tanya Nugi bingung. “Gue mau terserang flu. Gimana caranya?” ulang Darrel lagi. “Gue juga nggak tahu, Bos,” jawab Nugi. “Ck... Gawat, makan siang nanti gue udah harus sudah terserang flu. Gimana pun caranya,” gumam Darrel gelisah. Nugi memandangi bosnya itu dengan dahi berkerut. “Kenapa lo pengin sakit, Bos?” “Biar disayang bini gue,” ujar Darrel santai. “Wah gila lo,” kata Nugi sambil geleng-geleng kepala. “Iya, gue beneran gila nih. Tergila-gila sama bini gue.” Nugi hanya geleng-geleng kepala. “Lo mungkin harus minum es dan berjemur di atap gedung, Bos. Juga mengendus segala hal yang berdebu biar bersin-bersin.” “Nah, itu baru solusi.” Darrel mengacungkan telunjuknya pada Nugi dengan mata berbinar. “Lo memang selalu bisa gue andalkan, Gi.” “Tapi gue juga nggak yakin sih ini bisa berhasil atau nggak. Soalnya kan lo jarang banget sakit,” sambung Nugi lagi. “Nggak apa-apa, ayo kita coba. Waktu kita nggak banyak,” ujar Darrel yang langsung berdiri dari kursinya. “Ayo, siapin semuanya. Berkas ini nanti bisa gue bawa ke atap. Hari ini gue kerja di atap aja.” “Baik, Bos,” ujar Nugi. Pasrah dengan kelakuan ajaib bosnya. “Tapi, kenapa sih harus sakit dulu? Orang-orang berlomba ingin sehat, tapi kenapa lo malah ingin sakit?” “Haduh, nggak usah ceramahin gue soal itu. Leon barusan juga ngomong yang sama. Gue tahu kok, makanya gue cuma ingin kena flu doang.” Nugi menghela napas panjang mendengar jawaban bosnya. Kelakuan Darrel sejak dulu memang aneh-aneh, apa lagi ketika dia memang sangat menginginkan sesuatu. “Namanya juga usaha, Gi. Biar dapat perhatian kan harus coba berbagai cara,” jelas Darrel pada akhirnya. “Siapa tahu pas gue sakit, Calandra jadi mau manjain gue.” “Kalau nggak mau gimana, Bos?” tanya Nugi, mencoba lebih rasional. “Lo bisa bantu patahin tangan gue, biar pas makan bisa disuapin,” jawab Darrel santai, seolah hal tersebut hanya perkara sepele. “Hah? Nggak ah, gila itu namanya,” tolak Nugi seketika. “Bos, usia lo itu sudah kepala tiga. Proses penyembuhan patah tulang bakalan berlangsung lama. Jangan konyol dong, kayak nggak ada cara lain aja.” “Ya habisnya gue memang belum menemukan cara lain buat menangin hatinya,” ujar Darrel jujur. “Dia sejak balik dari amrik, agak barbar. Nggak kalem kayak pas awal-awal nikah dulu.” Nugi yang sudah bekerja pada Darrel selama tiga tahun belakangan, mencoba mencari sumber masalah yang dialami sang bos dan istrinya. “Mungkin dia ngambek sama lo, soalnya selama gue kerja sama lo, Bos, lo kan nggak pernah ngunjungin dia ke sana,” kata Nugi. “Itu sih yang paling masuk akal buat gue.” “Ngambeknya tapi lama banget lho. Udah lebih dari satu minggu, tapi dia masih aja nggak ada manis-manisnya.” “Rayu dong, Bos,” kata Nugi. “Masa lo ngerayu istri sendiri nggak bisa.” Darrel menatap asistennya itu dengan ekspresi nelangsa. “Istri gue ratu es, Gi. Buket bunga kemarin aja nggak mau dia. Hatinya benar-benar dingin.” “Ya angetin lah. Masa gitu aja udah nyerah,” kata Nugi lagi. “Eh, siapa bilang gue nyerah? Nih buktinya, gue sampe rela sakit biar diperhatikan sama dia,” ujar Darrel membela diri. Nugi mengangguk-angguk mendengar pembelaan Darrel. “Ah, udah ah. Dari tadi bahas ini mulu, kapan ke atapnya kita,” kata Darrel mengibaskan tangan. “Ayo, buruan kita ke atap.” “Oke, Bos,” kata Nugi dengan patuh. *** “Haatchiii...” Calandra mengernyit. “Haatchii...” Darrel kembali bersin. “Sori, Yang, aku kayaknya kena flu,” ujar Darrel sambil meraih tisu dan membersit hidungnya. “Ya sudah, kita batal aja makan siang di luar,” kata Calandra, bersiap melepaskan sabuk pengamannya. “Jangaaannn... Pliss... Cuma pas jam makan siang gini aku bisa ketemu kamu,” cegah Darrel. “Jangan lebay. Di rumah juga kita ketemu kok,” kata Calandra. “Tapi aku nggak bisa puas-puasin buat mandang muka kamu.” “Lebay. Udah, kita makan di kantor aja,” kata Calandra, lalu langsung melepas sabuk pengamannya. “Sayang, wait...” Calandra mengabaikan Darrel dan langsung keluar dari mobil. Buru-buru Darrel melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil untuk menyusul Calandra. “Sayang... Kita udah mau jalan lho tadi, masa nggak jadi,” kata Darrel menyusul Calandra. Calandra terus mengabaikan Darrel dan melangkah menuju lift. “Makan di ruanganaku aja ya,” ujar Darrel yang pada akhirnya menyerah. “Kita pesan makan siang tapi kamu makannya sama aku.” Calandra menoleh pada Darrel yang berdiri di sebelahnya. Wajah pria itu tampak memerah, mungkin dia benar-benar sakit. Calandra kemudian melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah lima belas menit berlalu. Rekan kerjanya pasti sudah makan siang lebih dulu. Sepertinya ia tidak punya pilihan selain setuju dengan usulan Darrel. “Oke,” jawab Caladra singkat, bersamaan dengan denting lift yang membuka. Darrel langsung tersenyum semringah. Ekspresi senangnya benar-benar tampak konyol saat mengekori Calandra memasuki lift. Ketika mereka akhirnya tiba di ruangan Darrel, tidak ada siapa pun di sana. Asisten Darrel juga tidak ada di mejanya di luar sana, pria itu pasti juga sedang makan siang. “Kamu mau makan apa?” tanya Darrel. Calandra melangkah menuju sofa, dan duduk di sana. “Aku nggak pernah pilih-pilih makanan,” jawab Calandra malas. Ia akan makan apa saja asal bisa segera pergi dari hadapan Darrel. “Kalau makan aku mau?” goda Darrel dengan ekspresi mes*m. Calandra memasang ekspresi terganggu. “Kalau kamu masih ingin bercanda, sebaiknya aku cari makan sendiri saja.” “Wait... Wait... Hatchiii!” cegah Darrel cepat saat Calandra hendak kembali berdiri. “Sayang, aku cuma bercan—hatchii!” “Jangan lupa pesan obat flu juga untuk kamu,” ujar Calandra risih. “Tapi kamu tetap makan di sini sama aku kan?” tanya Darrel seraya mendekat. “Iya, tapi kamu bisa kan nggak dekat-dekat? Aku nggak mau tertular,” usir Calandra sambil mengibas tangannya. Darrel berhenti melangkah. “Jadi, aku duduk di mana?” tanyanya tampak bingung. Calandra memandang sesuatu yang ada di belakang Darrel, dan menunjuk dengan dagu. “Tuh, meja kerja kamu.” “Kita jauhan dong,” keluh Darrel tak terima. “Kamu mau kita berdekatan? Mau menularkan virus ke aku?” Darrel seketika menggeleng. “Nggak, Sayang. Aku nggak mau kamu sakit.” “Sana,” usir Calandra, kembali mengibaskan tangan. Dengan cemberut, Darrel pun berbalik dan melangkah menuju meja kerjanya. Ia kecewa karena rencananya gagal. Ia pikir Calandra akan lebih perhatian saat melihatnya sakit. Namun, istrinya itu malah seperti ratu es yang tak berperasaan dengan mengusir Darrel untuk tidak mendekat padanya. “Nugi, aku baru aja kirim daftar makanan ke kamu. Tolong pesankan itu untukku dan istriku. Kami batal makan di luar dan sekarang sedang berada di ruanganku. Oh, satu lagi, belikan juga aku obat flu.” Calandra memandangi Darrel yang baru saja mengakhiri panggilannya. Pria itu baru saja melakukan panggilan singkat tanpa jeda. Benar-benar bos tak berperasaan. Apa Darrel tidak bisa basa-basi lebih dulu? Bagaimana jika asistennya itu sedang makan siang? Apa nasib asisten memang seperti ini? Mendahulukan bos di atas hak pribadinya? Calandra menghela napas. Bos memang benar-benar bisa berbuat semaunya ya. Darrel kembali menatap ke arah Calandra. Bibirnya membuka hendak mengatakan sesuatu, namun tiba-tiba pintu ruangannya seketika membuka. “Darrel... Kebetulan sekali. Aku bawain kamu makan siang nih.” Calandra melihat seorang perempuan tiba-tiba masuk ke ruangan. “Kamu kok nggak makan siang? Nungguin aku ya?” cerocos perempuan itu, tak menyadari keberadaan Calandra di sana. “Siapa yang ngasih izin kamu naik ke lantai ini?” tanya Darrel dingin. Ekpresinya berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya saat bicara dengan Calandra. “Bukannya aku sudah pernah bilang jangan ganggu aku lagi?” “Aku kan cuma bawain kamu makan si—“ Perempuan itu tiba-tiba menahan ucapannya, dan berbalik mengikuti arah tatapan Darrel. Saat menemukan Calandra yang duduk di sofa, perempuan itu diam selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali bersuara. “Ca-calandra?” tanyanya terbata. “Hai, Kak Jenny,” sapa Calandra sambil tersenyum tipis. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD