Bab 12 - Perdebatan Sebelum Tidur

1124 Words
“Gimana caranya?” tanya Calandra. “Mau jadi selimut aku malam ini?”              Mata Darrel melebar karena terkejut melihat respons Calandra. Apa ini undangan? Ia tidak salah dengar kan? Darrel mulai mempertanyakan pendengarannya sendiri.              “Kalau lebih dari sekedar selimut bagaimana?” tanya Darrel untuk memastikan bahwa ia tadi memang tidak salah dengar.              “Lebih dari sekedar selimut?” tanya Calandra. Alis cantiknya berkerut bingung.              “Ya, lebih dari sekedar menjadi selimutnya kamu.” Tangan Darrel yang ada di pinggang Calandra, kini sudah mulai berani bergerak untuk menggodanya. Tangan itu mengusap pinggang Calandra seperti merayu.              “Aku masih belum mengerti,” ujar Calandra sambil memiringkan kepalanya ke kanan. Tangannya menyentuh d*da Darrel.              “Kalau aku jelaskan sambil kita praktekkan secara langsung gimana?” tanya Darrel sambil mendekatkan wajah mereka.              Calandra diam, tidak memberi jawaban. Matanya memandangi wajah Darrel dengan rasa ingin tahu.              Melihat diamnya Calandra, Darrel pun memberanikan diri untuk semakin mendekat. Fokusnya kini hanya ada pada satu titik. Bibir merah Calandra yang merekah seperti kelopak mawar. Kalau begini, ia akan memulainya lebih dulu dengan mencicipi bibir menggoda tersebut.              Namun, saat bibir mereka benar-benar hampir bersentuhan, tiba-tiba saja sengatan rasa sakit luar biasa menghantam bagian tubuhnya yang paling sensitif.              “Aaaa...Duhh...” Darrel tersentak mundur sambil mengaduh. Tangannya langsung terlepas dari pinggang Calandra dan beranjak untuk melingkupi Darrel Juni*r di bawah sana.              “Apa yang barusan kamu lakukan? Mau menciumku?” tanya Calandra sinis.              “Sakit, Yang...” Darrel masih membungkuk menahan sakit karena Calandra baru saja menendang kesayangannya di bawa sana dengan lutut gadis itu.              “Lain kali, berpikirlah masak-masak sebelum melakukan sesuatu. Kamu pikir aku semudah itu dirayu?” ujar Calandra kesal.  “Lagi pula sejak siang tadi sudah aku katakan untuk menjauh dariku kan? Tapi kenapa kamu masih nggak tahu diri. Kamu pikir setelah minum obat flu, kamu bisa bebas dekat-dekat denganku?”              Darrel tidak menjawab. Fokusnya kini terbagi antara omelan Calandra dan rasa nyeri luar biasa yang tengah diderita bagian penting tubuhnya.              Calandra mendengkus, lalu beranjak menuju walk in closet. Tak lama kemudian ia kembali ke kamar dengan mengenakan sweater berwarna pink dan kaus kaki.              “Minggir,” usir Calandra.              Darrel tidak berani mendebat. Ia pun segera menyingkir sesuai perintah Calandra.              “Udah, sana tidur di tempat tidur. Aku akan tidur di sini,” kata Calandra seraya duduk di atas kasur angin yang tadi dipompa Darrel.              Sambil tersaruk-saruk, Darrel pun melangkah menuju tempat tidur dan duduk di sana menghadap ke arah Calandra. “Nanti kamu kedinginan, Yang,” kata Darrel, masih khawatir.              “Aku nggak selemah kamu,” jawab Calandra ketus, lalu langsung merebahkan diri.              “Aku belum sempat bawa selimut tambahan. Aku nggak bisa tenang melihat kamu tidur tanpa selimut seperti itu,” kata Darrel lagi.              “Ya sudah, kalau begitu nggak usah dilihat. Sana, balik badan dan punggungi aku,” jawab Calandra santai. “Lagian suhu pendingin ruangannya kan sudah kamu naikkan tadi, jadi nggak akan dingin banget kayak sebelumnya.”              Darrel menarik napas dalam-dalam. Tidak tahu lagi harus bagaimana mendebat istrinya itu.              Mendengar Darrel yang tidak lagi mampu mendebatnya, Calandra pun langsung membalik badannya untuk berbaring dengan posisi memunggungi suaminya.              Melihat Calandra yang mulai mencoba untuk tidur, Darrel pun juga ikut merebahkan tubuhnya ke kasur. Ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya bisa menang berdebat dengan Calandra kali ini. Bagian bawah tubuhnya masih terasa nyeri. Darrel benar-benar merasa tak berdaya.              Hingga akhirnya satu jam kemudian ketika rasa nyeri tersebut sudah menghilang dan matanya yang masih tak juga kunjung terpejam, Darrel pun bangkit dari tidurnya dan kembali duduk di tempat tidur. Matanya kembali menatap punggung Calandra yang berbaring dengan posisi membelakanginya.              Darrel pun berdiri dan melangkah mendekat. Ketika tiba di samping Calandra, perlahan ia pun membungkuk untuk memeriksa apakah istrinya itu sudah tidur atau belum. Tindakan Darrel barusan tergolong cukup nekat. Jika Calandra masih bangun dan belum tidur, bisa dipastikan ia akan mengalami cidera untuk kedua kalinya karena sudah berani mendekatinya tanpa permisi.              Namun, tampaknya keberuntungan sedang berpihak pada Darrel saat ini. Ternyata Calandra sudah tertidur dengan pulas. Sesuai rencana yang sejak tadi berkecamuk di kepalanya, Darrel pun mulai melakukan hal nekat lainnya. Yaitu, menggendong Calandra untuk membawanya ke tempat tidur.              Tindakannya kali ini benar-benar luar biasa nekat. Kemungkinan Calandra terbangun dalam gendongannya cukup besar. Dan jika sampai Calandra bangun dalam gendongannya, entah cidera macam apa lagi yang akan diterima Darrel.              Beruntungnya, lagi-lagi dewi fortuna masih berpihak pada Darrel. Dengan mudah ia menggendog Calandra dan membaringkannya di tempat tidur tanpa membuat istrinya itu terbangun. Malam ini ia benar-benar b*jingan yang beruntung.              Darrel tersenyum puas setelah berhasil menyelimuti Calandra yang sudah ia baringkan kembali di tempat tidur. Setelahnya, Darrel memasang masker kesehatan, dan ikut masuk ke balik selimut sambil berbaring di sebelah istrinya itu.              Aku pakai masker lho, Sayang. Jadi meski kita tidur berdekatan, aku nggak nularin virusnya ke kamu, ujar Darrel dalam hati.              Rasanya menyenangkan sekali bisa berada sedekat ini dengan Calandra. Mata Darrel terus memandangi wajah Calandra yang terlelap dengan nyaman.               Wajah tanpa make up Calandra masih tampak cantik. Seperti biasa, dia memang selalu tampak cantik. Akan tetapi, wajah di hadapannya ini masihlah wajah yang sama dengan wajah gadis SMA yang dijodohkan dengannya dahulu. Yang dulu membuat Darrel ketakutan karena menyadari bahwa dirinya harus menikah dengan seorang bocah. Darrel heran mengapa ia baru menyadarinya sekarang.              Tidak ada yang berbeda dengan wajah itu karena Calandra memang tidak melakukan operasi apa pun pada wajahnya. Yang membuat Calandra tampak berbeda saat ini adalah karena ia kini sudah tumbuh dewasa. Raut bocah yang dulu membuat Darrel resah tiap melihat wajahnya, kini sudah berganti dengan gurat kedewasaan. Kulitnya juga sudah jauh lebih terawat dengan perawatan rutin yang dilakukannya. Tidak ada lagi jerawat membandel dan bibir pecah-pecah seperti dahulu.              Darrel jadi berpikir, andai saja dulu ia memberikan kesempatan pada mereka berdua untuk saling mengenal tanpa adanya pikiran-pikiran buruk pada Calandra, mungkin hal yang terjadi sekarang tidak harus terjadi pada mereka. Harusnya dulu Darrel mencoba mengenal Calandra dengan lebih baik, dan bersabar mengikuti perkembangannya hingga dewasa seperti saat ini, bukannya malah selalu merasa ketakutan dengan gadis lugu yang menjadi tunangannya ini.              Darrel benar-benar menyesal karena sudah bersikap tidak adil pada Calandra. Wajar saja Calandra marah padanya. Ia memang sudah bersikap brengs*k sebagai seorang suami.              Maafkan aku.              Darrel hanya bisa mengucapkannya di dalam hati. Takut jika ia ucapkan hal tersebut dengan lantang, suaranya bisa membuat Calandra terbangun.              Aku janji kali ini akan bersikap jauh lebih baik. Aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu. Maaf karena sudah bersikap buruk selama ini. Aku memang pantas menerima amarah kamu.              Tangan Darrel kemudian terangkat untuk menyentuh wajah Calandra, tapi seketika terhenti di udara. Ia berusaha menahan diri. Ditariknya kembali tangannya ke sisi tubuh. Mulai sekarang ia harus lebih bisa menahan diri dan membuat Calandra merasa nyaman berada di dekatnya.              Ia tidak boleh bersikap egois lagi. *** Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD