Bab 13 - Apa Yang Terjadi?

2078 Words
Pagi harinya Calandra terkejut karena menemukan dirinya berada di atas tempat tidur. Seingatnya semalam, dirinya tidur di lantai dengan kasur angin milik Darrel. Tapi kenapa pagi ini ia malah terbangun di sini? Calandra perlahan duduk dan memadang sekitar. Di lantai pada sisi kanan kamar, tampak suaminya masih terlelap di atas kasur angin yang semalam menjadi tempat tidur Calandra. Jadi semalam Darrel menukar posisi mereka ya? Dasar bajing*n yang sulit diatur, batin Calandra. Meski sudah dilarang berkali-kali pun, tetap saja dia menukar posisi tidur mereka seperti ini. Calandra menggeleng sambil memandang suaminya itu. Sebenarnya apa sih yang dilakukan Darrel? Apa dia benar-benar ingin jatuh sakit dengan tidur di sana dan membiarkan Calandra yang sehat bergelung nyaman di bawah selimut hangat ini? Calandra benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Darrel. Ia pun kemudian melirik jam di meja samping tempat tidur. Sudah pukul lima pagi. Calandra pun memutuskan untuk bangun dan bersiap untuk menemani ayah mertuanya olahraga pagi di halaman samping. *** Ketika Calandra menghilang ke kamar mandi, Darrel pun membuka matanya dan mengembuskan napas lega. Untung saja ia bangun beberapa menit lebih awal tadi. Jika sampai Calandra yang bangun lebih dulu, bisa ditebak ia akan berakhir ditendang ke lantai lagi seperti kemarin. Sambil menunggu Calandra di kamar mandi, Darrel pun kembali memejamkan matanya. Mulai hari ini ia bertekad akan berusaha lebih keras lagi untuk merebut hati Calandra. Ia harus memperbaiki kesalahan yang sudah dibuatnya dahulu dan membuktikan pada Calandra bahwa dirinya memang serius ingin mereka terus bersama. Karena menunggu sambil memejamkan mata, Darrel pun kembali tertidur dan akhirnya bangun kesiangan. Ia bergabung dengan Calandra dan ayahnya di meja makan saat keduanya sudah mulai menikmati sarapan. Padahal rencana awalnya adalah ia ingin bergabung dengan mereka di halaman sambil berolahraga kecil seperti yang dijanjikan Calandra pada ayahnya semalam. “Gimana flu kamu?” tanya Agustian saat Darrel mengambil tempat duduk di sebelah Calandra. “Sudah sembuh, Pa,” jawab Darrel. Calandra seketika menoleh padanya untuk memastikan. Darrel tersenyum pada istrinya itu dengan senyum meyakinkan. Ia memang tidak berbohong, flunya memang sudah sembuh. Obat yang diminumnya semalam cukup ampuh untuk membuat kondisi Darrel jadi jauh lebih baik pagi ini. “Syukurlah kalau begitu,” ujar Agustian tampak lega. “Jangan bekerja terlalu keras, perhatikan juga kesehatan kamu.” “Iya, Pa,” jawab Darrel. “Tapi di sini Papa yang harus lebih memperhatikan kesehatan. Meski masih memantau pekerjaan dari rumah, banyak-banyaklah istirahat.” “Darrel benar, Pa. Harusnya Papa di rumah nggak perlu terlalu banyak mikirin kerjaan,” sambung Calandra. Agustian tersenyum memandangi putra dan menantunya yang memberinya perhatian dengan begitu kompak. “Aku udah siapin daftar film komedi yang bisa Papa tonton untuk menemani waktu istirahat Papa hari ini. Jadi Papa nggak punya alasan lagi beralih ke kerjaan karena merasa bengong nggak punya hal lain untuk dilakukan,” kata Calandra lagi. Agustian seketika terkekeh. “Iya, nanti Papa akan santai-santai sambil nonton. Makasih ya.” Calandra tersenyum mendengar jawaban ayah mertuanya. Selesai sarapan, seperti biasa, Calandra dan Darrel pun pamit untuk berangkat ke kantor. Karena sudah tahu bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan Darrel mengenai berangkat ke kantor bersama-sama atau sendiri-sendiri, Calandra pun tidak lagi mempermasalahkan ketika harus pergi bersama suaminya itu. Selagi Darrel tetap bersikap sopan dan tidak mulai coba-coba bersikap kurang ajar, Calandra tidak akan membuang energi untuk berdebat dengannya. “Makasih ya sudah perhatian sama Papa lebih dari yang pernah aku berikan ke beliau,” ujar Darrel saat mereka sedang dalam perjalanan menuju kantor. Keheningan yang melingkupi mereka sejak dari rumah tadi akhirnya dipecahkan suara pria itu. “Selama ini selalu Papa yang perhatian ke aku. Sebagai anak, aku merasa sangat tidak tahu diri. Papa mengkhawatirkan aku lebih dari aku mengkhawatirkan dirinya.” Calandra mengalihkan tatapannya dari jalanan untuk menatap Darrel sekilas. “Bukan apa-apa kok. Papa kan juga orangtuaku. Meski hanya mertua, tapi aku sudah anggap sebagai orangtuaku sendiri.” “Ya, aku tahu,” ujar Darrel. “Tapi tetap saja aku sangat berterima kasih karena kamu bisa menyayangi Papa sedemikian rupa, seperti orangtuamu sendiri.” Calandra tersenyum tipis. “Saat ini hanya Papa satu-satunya orangtua yang aku miliki. Jadi aku nggak akan melewatkan kesempatan untuk menyayangi dan merawatnya sebaik mungkin.” Darrel menangkap senyum kecil di bibir Calandra saat ia melirik sekilas pada istrinya itu. Dad* Darrel berdesir karenanya. Baru kali ini Calandra tersenyum saat bicara dengannya. Biasanya, istrinya ini selalu cemberut dengan muka menahan kesal. Darrel kembali melirik Calandra yang kini sudah kembali menatap jalanan di hadapan mereka dengan muka tanpa ekspresi. Hilang sudah senyum manisnya tadi. Untung saja Darrel sempat melihatnya sekilas. “Oh ya, kemarin kamu bilang ingin makan siang bareng rekan kerjamu kan?” tanya Darrel tiba-tiba. “Kenapa memangnya?” tanya Calandra kembali menoleh. “Hmmm... Kalau gitu hari ini aku nggak akan minta kamu makan siang bareng aku. Kamu boleh makan bareng mereka,” jawab Darrel. “Kamu serius?” tanya Calandra terkejut. Darrel menatap Calandra sekilas dan mengangguk. “Iya, aku serius. Maaf ya kalau belakangan aku sering maksa kamu untuk makan siang bareng aku.” Calandra memandang Darrel tak percaya. Apa yang barusan Darrel katakan? Pria ini tidak sedang bermimpi kan? Kenapa dia jadi pengertian sekali? “Nggak perlu mengucapkan terima kasih,” ujar Darrel lagi. “Aku tahu kok kalau kamu senang.” Calandra mendengkus saat Darrel akhirnya terkekeh. Hampir saja ia merasa Darrel sudah berubah hari ini. Ternyata dia masih sama saja dengan Darrel yang sebelumnya. *** Akan tetapi, Darrel memang berubah. Bahkan saat mereka di rumah pun pria itu tidak lagi menggodanya dengan berlebihan seperti sebelumnya. Di kamar pun Darrel hanya akan mengucapkan selamat malam pada Calandra, lalu langsung tidur di kasur miliknya sendiri di lantai. Tidak ada lagi perdebatan yang membuat darah mereka naik atau adu mulut yang menyulut emosi. Darrel berubah jauh lebih “jinak” dan “friendly” hingga hari-hari berikutnya bisa Calandra jalani dengan tenang dan damai. Hingga akhirnya tibalah mereka di hari terakhir untuk persiapan event yang diadakan perusahaan. Malam ini Calandra dan rekan-rekannya masih berada di ballroom sebuah hotel yang akan menjadi lokasi acara. Meski sudah ditangani oleh event organizer, Andre yang perfeksionis tetap ingin timnya memeriksa keseluruhan acara yang dirancang oleh EO tersebut dan melakukan geladi bersih sebelum pembukaan yang akan diselenggarakan besok malam. Sebenarnya Calandra diizinkan pulang sejak sore tadi, tapi ia bersikeras untuk ikut terlibat hingga semalam ini. “Calandra, kamu dijemput Pak Darrel kan?” tanya Andre yang melangkah mendekatinya. Tak jauh dari tempat mereka duduk, Fina dan Josephine tampak sedang asyik mengobrol dengan Valentino yang malam ini bersedia hadir untuk mengikuti geladi bersih. Padahal, untuk selebritis seperti dia harusnya tidak perlu ikut dalam hal ini mengingat jadwalnya yang cukup padat. Namun, Valentino memang sangat profesional. Pantas saja banyak gadis-gadis yang menggemarinya. Tampan, ramah, dan baik hati merupakan kombinasi mematikan untuk ukuran idola masa kini. “Eh, iya, Pak,” jawab Calandra ragu-ragu. Sore tadi Darrel bilang memang akan menjemputnya malam ini saat Calandra menolak pulang bersamanya karena harus ke tempat ini lebih dulu. Akan tetapi, Calandra bingung untuk memastikan hal tersebut lagi. Pasalnya, ia masih memblokir nomor ponsel Darrel hingga saat ini, jadi komunikasi di antara mereka jelas tidak berjalan dengan baik. “Jam berapa dijemputnya? Sebentar lagi kita bubar lho. Kalau belum dijemput, bareng aku aja,” tawar Andre. “Eh nggak usah, Pak. Rumah kita kan berlawanan arah,” tolak Calandra. “Calandra belum dijemput ya?” tanya Fina yang kini melangkah mendekati mereka bersama Josephine dan juga Valentino. “Belum. Sebentar lagi kayaknya,” jawab Calandra tak yakin. Melihat Valentino yang ada di dekat mereka, Calandra pun tersenyum pada pria itu. “Penampilan kamu tadi keren banget,” puji Calandra. Ia tadi memang belum sempat memuji pria itu saat turun dari panggung tadi. “Terima kasih,” ujar Valentino dengan senyum menawannya. Pria ini memang sangat menarik. Dengan tubuh setinggi 180 cm dan postur ideal, potongan rambut pendek ala-ala idola Korea, dan wajah yang selalu tampak ramah membuatnya bisa disukai siapa pun dengan mudah. “Valen kalau mau pulang duluan nggak apa-apa lho, tuh si Mas manajer udah nungguin dari tadi,” ujar Fina sambil menunjuk dengan tatapan matanya pada manager Valentino yang menunggu tak jauh dari mereka. “Iya, penampilan kamu udah oke banget lho tadi. Udah nggak ada yang perlu dikomentarin lagi. Ya kan, Pak?” tanya Josephine pada Andre. “Iya. Sekarang kita bisa bubar kok. Udah beres semua ini. Tinggal siap-siap buat besok aja,” jawab Andre. “Besok gue mau bangun agak siang ah. Mumpung hari sabtu. Jadi malamnya bisa bugar lagi buat liat Valen manggung,” jawab Fina dengan gaya penggemar beratnya. “Iya nih, badan gue rasanya pegal. Padahal baru jam delapan malam kan ya ini,” ujar Josephine sambil melirik jamnya. “Jadi iri sama Kamal yang bisa cabut duluan karena sakit perut tadi.” “Kalian kalau mau bubar duluan nggak apa-apa kok, bubar aja sekarang,” ujar Andre. “Biar saya yang menemani Calandra di sini menunggu jemputannya.” “Kalian udah selesai?” ujar sebuah suara tiba-tiba muncul di dekat mereka. Calandra menoleh dan menemukan Darrel sedang melangkah mendekatinya. Pria itu tersenyum dan berhenti di samping kursi Calandra. “Aku telat ya?” tanyanya pada Calandra. “Nggak kok,” jawab Calandra menggeleng. “Udah selesai kan?” tanya Darrel sambil memandangi mereka satu per satu. “Iya, kami baru aja mau bubar, Pak,” jawab Andre. Darrel mengangguk, lalu memandangi sekitar. Dekorasi yang dibuat di sini tidak terlalu berlebihan seperti dalam acara pernikahan. Tapi semua tetap ditata dengan baik dan tetap terkesan formal. “Gimana, Pak? Oke nggak?” tanya Fina dengan berani. “Oke kok,” ujar Darrel tersenyum tipis sambil mengangguk. “Hmm... Kalau gitu kami duluan ya,” ujar Calandra yang tiba-tiba berdiri dan langsung berpamitan. Ia tidak ingin Darrel berlama-lama di sana karena khawatir kalau pria itu akan mengatakan sesuatu atau melakukan hal yang tidak dia inginkan. “Oke, hati-hati di jalan,” ujar Fina dan Josephine. Calandra mengangguk pada semua yang ada di sana untuk pamit sekali lagi, lalu memberi kode pada Darrel dengan tatapannya untuk menyingkir dari sana. “Udah nggak sabar mau pulang ya?” goda Darrel sambil berjalan beriringan dengan Calandra. “Capek,” jawab Calandra singkat. Darrel tidak menggodanya lagi hingga mereka masuk ke mobil. Sebenarnya ada beberapa hal yang ingin ia katakan, tapi pikirannya sudah cukup terusik dengan seorang pemuda yang berada di dekat mereka tadi. Pemuda itu terus-terusan menatap Calandra, dan itu membuat Darrel merasa tidak nyaman. Ia tahu betul arti dari tatapan itu. Pemuda itu jelas menyukai istrinya. Darrel menjalankan mobil tanpa bicara apa pun lagi. Ia mendadak kehilangan ide untuk mengajak Calandra bicara. Perjalanan pulang pun akhirnya mereka lalui dalam keheningan, hingga perlahan hujan pun mulai turun. Dari yang semula hanya rintik-rintik kecil, yang kemudian dalam sekejap berubah menjadi hujan deras yang disertai angin kencang. “Kenapa hujannya nggak pas sampai rumah aja sih?” gumam Calandra. “Hujan ini kan pemberian dari Tuhan, nggak boleh protes dong, Yang,” jawab Darrel. Calandra mengatupkan kembali mulutnya dengan ekspresi cemberut. Matanya kembali fokus pada jalanan malam hari yang sudah tidak terlalu ramai. Fokusnya ada pada sorot lampu depan mobil yang menyapu aspal di depan mereka. Kilat mulai menyambar di langit, dan tak lama kemudian disertai dengan gemuruh yang cukup kuat. “Wah gawat. Kok jadi—“ “Papa... Mama...” bisik Calandra lirih. Darrel seketika menoleh ke samping. Istrinya itu tampak duduk sambil mengangkat kaki ke atas jok sambil memeluk lutut. “Sayang, kamu kena—“ Cahaya kilat yang disusul petir yang menyambar kembali terdengar. Calandra tampak gemetar sambil menutup telinganya. Darrel yang melihat Calandra bersikap aneh pun akhirnya mencari tempat untuk menghentikan mobil. Namun sayangnya tak ada tempat untuk berhenti. Darrel kembali melajukan mobil dengan cemas, hingga akhirnya mobil mereka berhenti di lampu merah. “Sayang, kamu kenapa?” tanya Darrel bingung. Tangannya terulur sambil berusaha meraih Calandra yang tampak gemetar ketakutan. Kilat dan gemuruh kembali menyambar. Kali ini suaranya lebih keras lagi. Calandra seketika memekik tertahan. Darrel pun meraih tangan Calandra yang terasa dingin. Tubuh istrinya itu gemetar hebat. Calandra benar-benar tampak ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi? “Sayang, ada ap—“ Petir kembali menyambar di luar sana, dan kali ini bukan hanya suara petir yang Darrel dengar. Suara petir kali ini diiringi dengan teriakan keras dari Calandra yang untuk pertama kalinya Darrel lihat tampak benar-benar sangat rapuh dan butuh perlindungan. Istrinya benar-benar ketakutan. Apa yang sudah ia alami hingga ketakutan seperti ini? Sebenarnya, apa yang tidak Darrel ketahui? *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD