Ariel terus berteriak memanggil Ririn, tapi Ririn tidak mau peduli. Merasa cemas, Ariel bermaksud mengejarnya. Akan tetapi lengannya ditarik oleh perempuan tadi.
"Ariel, kamu mau kemana, ngapain juga peduli sama pelakor itu?"
Ariel menoleh memandinginya dengan kesal, seraya menghentakkan lengannya. "Eh cewe ga jelas, kamu salah orang!" Ariel kembali melangkah.
Lagi-lagi perempuan itu menahan lengannya. "Tunggu, apa maskudmu salah orang, jelas-jelas kamu Ariel kan?"
"Iya aku Ariel, tapi aku tidak kenal sama kamu, jadi jangan sok mengaku jadi pacarku!"
"Apa maksudmu, apa kamu lupa dengan malam minggu kemarin?"
"Malam minggu?" Ariel mengerut heran.
"Ya, apa kamu sudah lupa, malam itu kamu bahkan mencumb*i aku mesra banget." Wajah perempuan itu bersemu merah.
"Ha … ? Hahahahaha jangankan ingat waktunya, nama kamu saja aku tidak tahu."
"Tega banget ya kamu!"
"Apa maksudmu tega?"
"Kamu melupakan aku setelah semuanya!" perempuan itu mulai teriak.
"Hei! dengar ya, cewek yang aku kencani bukan cuma kamu, lagian aku tidak pernah meminta, kalian yang memberi, iya kan? makanya jadi cewe jangan terlalu murahan, aku benar-benar tidak suka, maaf ya."
"Apa maksudmu tidak suka, jelas-jelas kita menikmatinya!" Air matanya menetes.
"Dengar ya manis, apa malam itu aku bilang aku cinta sama kamu, terus apa aku meminta agar kamu mau dicumbui? atau apa aku memaksamu, hemmmm?"
Perempuan itu hanya bisa menggeleng lemah, air matanya mengalir deras.
"Lain kali, jangan pernah berani menyentuh wanita itu, karena dia itu ... asistenku, bukan pacarku, satu lagi, aku sama sekali tidak punya pacar meskipun aku b******u dengan cewe setiap malam minggunya, paham!"
Sambil membelai wajah gadis itu, Ariel tersenyum menyeringai penuh kelicikan. Setelah gadis itu diam tak bergeming, Ariel masuk ke mobilnya lalu meluncur menuju pangkalan ojek.
Di pangkalan ojek, Ariel sudah tidak menemukan batang hidung Ririn sama sekali. Dengan kesal, dia melajukan mobil pulang ke kantornya.
Sesampainya di kantor, hari telah senja. Hampir semua pegawai telah pulang. Tinggal Lisa dan 2 orang lainnya yang masih di tempatnya saat Ariel masuk ruangan. "Lisa, apa Melo tadi datang?"
Lisa mengerutkan kening, "Me ... lo ...?"
Ariel tersadar "eh maksudku Ririn, apa dia tadi datang kemari?"
"Lho bukannya dia tadi pergi sama Bapak?" Lisa menatap heran pada Ariel.
"Iya, tapi waktu pulang kita tidak bareng, berarti dia tidak pulang kesini ya?"
Tanpa menunggu jawaban Lisa, Ariel masuk ke ruangannya.
Lisa cuma memadangi Ariel dengan tatapan kecewa. Baru saja Lisa mau keluar, Bagas datang dengan wajah sumbringah. "Hai Lisa, dah mau pulang?" Sambil menaikkan sebelah alisnya dengan senyuman menawan.
Lisa tersipu malu, "Iya Pak!" Sambil membetulkan tali tasnya yang tidak bermasalah.
Bagas menahan lengannya, " nanti aja pulangnya, kita ngafe dulu yuk, kamu tunggu kita di bawah, oke." Sambil mengedipkan sebelah matanya.
Lisa cuma tersipu malu, lalu mengangguk pelan. Dengan cepat dia keluar dengan hati berbunga-bunga. Bagas pun masuk ke dalam ruangan Ariel.
Di dalam ruangan, Ariel terus memikirkan Ririn. Dia merasa sangat bersalah terhadapnya.
Segera dia merogoh saku nya hendak menelpon, tapi kemudian dibatalkannya. Dia tidak sadar jika Bagas telah berdiri di belakangnya.
"Woiii melamun aja kerjanya?" Sambil menepuk pundak Ariel yang berdiri memandang keluar jendela.
Ariel menoleh, "eh lo, ngapain ke sini?" Ariel segera berpindah ke sofa.
Bagas pun mengikuti atasan sekaligus temannya. "Ya ngapain coba, haaa!" Sambil tersenyum nakal.
"Apaan, aku ga ngerti." Ariel bersandar di sofa.
Bagas ikutan duduk. "Yaaahh, katanya ada gadis ceroboh, mana?" Bagas mengangguk sambil menaikkan alis mewakili pertanyannya.
"Haaah tadi ada sedikit masalah, jadi dia kabur duluan."
"Hahhaha jangan bilang lo nyosor duluan?"
Ariel menendang betis Bagas dengan keras. "Aaaakkkh, kok ditendang sih?" Bagas meringis kesakitan.
"Lo pikir aku cowo apaan, pake nyosor?"
"Yaah siapa tahu aja, biasanya kan suka ambil kesempatan" Bagas kembali tersenyum.
"Hmm, yang ada, gue yang selalu disosor cewek duluan, hahaha!"
"Ya deh iya …! Eh ngafe yuk, gue udah ngajakin Lisa, buat Denis, hahaha."
"Semua bawa pasangan lagi?" Sambil berdiri mengambil tasnya.
"Yo'i dong, mana bisa tanpa pasangan, hehe."
"Tapi aku kosong, aku ga ikutan, ga ada pasangan, aku bakal nonton doang, ga mau ah jadi obat nyamuk."
Mereka berjalan keluar dari ruangan. "Tenang aja, nanti kita cariin deh, mungkin ada teman Lisa atau teman pacarnya Samuel, yang bisa diajak juga."
Tak ada komentar dari Ariel, mulutnya terasa kelu manakala menginat kejadian tadi di lokasi.
Saat ini, dia sudah tidak lagi berniat buat main-main. Kejadian di lokasi tadi cukup membuatnya kaget. Dia tidak mengerti ada apa dengannya, namun sampai saat ini, pikirannya masih dipenuhi oleh nama Ririn.
Akhirnya dia hanya bisa terus melangkah dan masuk ke dalam lift, hingga sampai di tempat parkir. Lisa tersenyum melihat kedatangan mereka. "Sore Pak, katanya aku diajakin ke kafe ya Pak?"
"Iya, masuk mobilku, Bagas mau jemput cewenya dulu!" Sambil masuk ke mobil dengan wajah datar tanpa membukakan pintu buat Lisa. Lisa terpaksa membuka pintu untuk dirinya sendiri.
Meskipun wajah Ariel datar dan tak meliriknya sama sekali, tapi senyum simpul nan malu-malu terus terpancar di bibir Lisa. Entah apa yang dihayalkannya.
Mobil terus melaju tanpa ada basa-basi. Suasana hening menemani. Sesekali Lisa melirik Ariel dengan malu-malu. terkadang menggigit bibirnya sambil memejamkan matanya.
"Kamu kenapa?" Pertanyaan Ariel membuyarkan lamunannya. "Aaah eh ga pa-pa kok Pak." Lisa jadi malu setengah mati. Wajah putihnya berubah merah.
"Jangan berani berpikiran macam-macam, aku tidak pernah suka sama cewek kayak kamu!"
Perkataan dingin Ariel bagai petir yang menyambar hati dan perasaannya. Reflex dia menoleh dengan wajah kaget lalu kembali menghadap ke depan. Senyum simpulnya kini berubah kecewa.
Matanya terasa perih sampai air matanya ikut berlinang. Namun sekuat tenaga Lisa menahannya agar tidak tumpah bersimbah di pipinya.
Tak lama kemudian, mobil Ariel pun memasuki kawasan kafe yang mewah. Begitu mobil diparkir, dia pun turun tanpa memperdulikan Lisa sama sekali.
Air mata yang sejak tadi ditahannya kini telah meloloskan diri, lalu dengan leluasa air mata itu pun terjun bebas di pipinya, begitu melihat perlakuan Ariel padanya.
Lisa yang begitu mengidolakan Bosnya, kini harus menanggung kecewa yang teramat sangat, karena cinta dan perasaan tulusnya sungguh tidak dianggap.
Rasa berat menggelayut di kakinya, saat dia hendak turun dari mobil. Hati dan perasaannya yang sudah terlanjur sakit dan tercabik dengan ucapan Ariel, membuat moodnya masuk kafe sudah hilang. Terbang melayang entah terdampar kemana. Namun dengan terpaksa juga dia mengekor di belakang Bosnya.
Hati Lisa yang tadinya sakit dan telah terhempas, kini malah lenyap tergantikan dengan perasaan kagum, begitu pandangannya terbentur pada pemandangan yang begitu eksentrik saat memasuki ruangan kafe yang begitu mewah.
Rasa kagumnya bertambah begitu memasuki sebuah ruangan elit, hingga tak sadar dia berdiri seraya mengedar pandang ke seluruh ruangan.
"Hai sudah datang Bro?" Seru Denis sambil mengacungkan tangannya hendak highfive.
Ariel menyambutnya. "Hai Denis," Kemudian duduk disalah satu sofa. Lisa masih saja berdiri memandang ke sekeliling.
Sementara di pojok sofa, Samuel tengah berc*mbu ria dengan ceweknya. Ci*man sampai raba-raba dilakukannya tanpa malu-malu.
Secara tidak sengaja Lisa yang sedang mengedar pandang melihat aksinya langsung terperanjat, dengan segera Lisa membuang pandang dengan wajah memerah.
"Lisa …! Ngapain berdiri di situ, duduk sana!" Perintah Ariel saat melihat Lisa cuma berdiri.
Lisa yang tengah merona dan membuang muka, terperanjat mendengar bentakan Ariel, dengan ragu-ragu, Lisa duduk di sofa yang masih kosong. Gerak –gerik Lisa tidak luput dari tatapan Denis yang seakan tak berkedip.
Ariel yang melihatnya hanya bisa menahan tawa sambil menggeleng pelan. Perlahan Ariel mengambil kulit kacang panggang di meja lalu melemparnya.
"Wooi!"
"Eh aduuh, lo...!" Denis kaget sambil melotot ke Ariel.
"Haahahha, mata tuh, mata!"
Denis ikutan tertawa, kemudian menoleh ke Lisa. "Hai kenalan dong, aku Denis?" Sambil menyodorkan tangannya.
Lisa menyambutnya dengan senyum malu, "Lisa."
"Ooh yang ini Lisa?" Sambil menoleh ke Aril.
Ivan yang sedari tadi cuma asik dengan ponselnya ikutan bicara.
"Hahaha kambuh deh, kambuh!" Ivan meliriknya dengan geli.
Sementara Samuel pun sudah selesai dengan aksinya. Lisa benar-benar merasa tidak enak hati, melihat keadaan disitu. Dia menjadi kikuk setengah mati.
Bagas datang menggandeng seorang cewek super seksi, da*anya yang montok serta pinggul yang bohai, begitu sedap dimata pria.
Tiba-tiba rasa minder terbit di hati Lisa. Betapa tidak, cewek yang dibawa bagas begitu aduhai, sedangkan cewek Sam begitu cantik nan langsing. Sangat jauh dengan penampilan dan bodynya.
Tak berapa lama, datang pula seorang cewek yang tak kalah cantiknya. "Hai sayang, lama menunggu ya?" Senyumnya begitu menawan.
Ivan berdiri menyambut si gadis, "Sayang kamu sudah datang ya, mmmwwccchhhh." Kul*man bibir langsung tercipta.
"Waaah benar-benar yah, aku sekarang jadi obat nyamuk, haah ngapain ngundang aku kalau aku cuma bakal menonton haaa!"
"Hahhahaha, jangan merajuk gitulah, kamu kan biasa pake cewek cadangan kamu itu." Goda Samuel.
Lisa kebingungan karena tidak mengerti dengan apa yang dihadapinya. "Maaf aku permisi pulang dulu, sepertinya aku tidak ada kepentingan di sini."
"Eeiit siapa bilang, nih Denis temanku, dia mau kenal sama kamu, kalau bisa sekalian langsung jadian, hahaha!"
Denis tersenyum sambil mengedipkan matanya ke Lisa. Lisa tersipu malu dibuatnya. "Gimana?" Lisa melongo mendengar pertanyaan Denis.
"Gimana apanya?" Lisa bingung.
Semua orang diruangan itu menahan senyum melihat kepolosan Lisa.
"Ya gimana, mau ga jadian sama aku?"
Lisa tertunduk malu, "maaf biar aku pikir-pikir dulu ya."
Bagas langsung berseru, "alah Lisa, ga perlu kelamaan mikir deh, terima langsung aja."
Lisa cuma tersenyum malu tanpa mampu berkata-kata, tapi di dalam hatinya amat teramat kesal.
"Waah kalau begini, mending aku pamer kemesraan sama cewe cadangan aku deh, hahha." Sambil mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Tak lama kemudian tangannya mulai menari di atas sana.
Sementara itu seorang pelayan datang membawa minuman beralkohol ke hadapan meraka. Melihat hal itu, hati Lisa semakin gelisah.
Terdengar bunyi telepon tersambung, tapi kemudian terputus karena tidak terjawab. Bagas menertawainya.
"Hahaha mau pamer malah malu kan?"
"Cewe gentayangan kamu itu tahu kali kalau dia cuma cadangan, hahaha!" Ivan ikutan.
"Tenang dulu Bro, paling dia mandi atau makan." Ariel mencoba membela diri.
Melihat Lisa tampak canggung, Denis mengajaknya keluar.
"Lisa, kita cari ruagan lain yuk!"
Belum sempat Lisa menjawab, Denis sudah menariknya keluar. Lisa hanya bisa pasrah ditarik keluar.
Bagas langsung meledeknya. "Masih malu-malu dia Den, pelan-pelan ya! hahaha."
Kembali ponsel Ariel menghubungi pacar cadangannya. Karena diloudspeaker, suara sambungannya terdengar jelas.
"Haloo, apa kabar Sayang!"
Terdengar suara di seberang. Suara jernih, bening dan manja.
Ivan mendelik nakal, sambil melirik Samuel. "Mulai pamer dia."
"Hahahaha, gimana ya jadinya kalau tuh cewek tahu dia itu cuma sebatas cadangan Ariel?" Bagas berbisik ditelinga Ivan.
Ariel tidak perduli dengan gosipan temannya, dia hanya bersemangat membalas ucapan kekasihnya yang merupakan cadangan bila dia sedang kosong, tidak mendapatkan perempuan buat pendamping sementara.
"Halo Sayang, aku baik, eh sebenarnya tidak."
"Lho kok bisa, kamu kenapa sayang?”
"Napasku sesak banget Sayang."
“Ya harus ke Rumah sakit dong kalau gitu, jangan ditunda-tunda!”
“Tapi aku tidak butuh dokter kok, cuma butuh kamu”
“Tapi kan, kita …”
“Itu karena separuh napasku ada padamu!”
“Eeaaaan huuuu aaseeeekk hahaha”
Sontak seisi ruangan langsung riuh mendengar gombalan maut Ariel.
Sontak Ariel melotot menatap teman-temannya, dia takut kalau sampai pacar gentayangannya itu tahu, dirinya lagi dibuat pameran.
"Eeeeehhhhhh apaan siiih malu tauu." Terdengar suara manja nan lembut dari seberang, membuat Ariel bernapas lega.