Aril hanya melotot padanya lalu beranjak pergi tanpa sepatah kata lagi.
Dengan terpaksa Ririn meraih tasnya lalu segera mengikutinya di belakang.
Begitu masuk dalam lift, Ririn kaget saat melihat Ariel tengah memandanginya tak berkedip. "Malah bengong, masuk!" Bentak Ariel saat melihat Ririn diam di depan pintu.
Ririn menganguk pelan, sambil menunduk dia melangkah masuk. Sementara Ariel terus saja menatapnya. "Nih cewek manis banget, melihat wajahnya yang ketakutan bikin hatiku geregetan, rasanya pengen menelannya saja, ah sial ada apa dengan diriku?"
Karena lift tak kunjung bergerak turun, Ririn mencoba mendongak memandangi pria tinggi di sampingnya.
Begitu melihat Bosnya tak bergeming, dia memberanikan dirinya memencet tombol lift. Saat lift bergerak, Ariel langsung tersentak. Tanpa sadar dia meraih pinggang Ririn dan memeluknya.
Ririn kaget bukan kepalang, dengan spontan dia mendorong tubuh Ariel, "Aah apaansih Bapak ini!" Wajahnya merah padam menahan marah.
Ariel terhenyak sebentar, tapi demi menjaga imagenya, dia pura-pura marah. "Beraninya kamu mendorongku, apa kamu tidak ingat siapa aku?" Matanya melotot tajam.
Darah Ririn mendidih mendengar ucapan Bosnya. Tapi sebisa mungkin dia menahannya. "Maaf Pak, tadi refleks karena aku tidak suka dipegang-pegang." Ririn mencoba menunduk sopan. Tapi giginya mengerat.
'De...."Baru saja Ariel hendak berucap pintu lift terbuka. Dengan cepat Ririn melangkah keluar tanpa menunggu ucapan Bosnya. Hal itu membuat Ariel menjadi makin kesal.
"Hei tunggu!!"
Ririn menghela napas kesal sambil menghentikan langkahnya. Ariel pun menyusul dan melewatinya. Ririn hanya melongo memandangi Bosnya yang tak menghiraukannya, padahal dia jelas-jelas memintanya untuk menunggu.
Ariel menoleh saat dia sadar Ririn tidak mengikutinya. "Wooi kamu memang suka melongo ya, lama-lama kupanggil kau melo!"
Ririn pun melangkah gontai tanpa mencoba untuk berdebat. Dia merasa kalau melawan hanya buang-buang energi saja.
Ririn melangkah mendekati Ariel. Begitu mereka sejajar, Ariel pun melanjutkan langkahnya keluar dari gedung menuju ke parkiran. Ririn segera membuka pintu mobil bagian belakang.
Melihat itu, Ariel kembali gusar. "Apa kamu pikir aku ini sopir kamu? Duduk di depan!"
Ririn menghela napas lalu menutup pintu belakang. Dengan segera dia membuka pintu depan lalu masuk tanpa basa-basi. Wajahnya menyiratkan kesal.
Melihat Ririn tidak memasang sabuk pengaman, Ariel bermaksud untuk memakaikannya.
Tapi pergerakannya bisa ditangkap oleh ekor mata Ririn. Dengan cepat dia memakai sabuk pengamannya sendiri. Ariel hanya menahan senyumnya dengan kuat. "Tanggap juga nih cewek." Batin Ariel.
Mobil Ariel melaju membelah jalan raya yang agak lengang. Karena saat ini masih jam kerja, sehingga jalanan agak lancar.
Rasa ngantuk yang teramat sangat menyerang Ririn. Kebiasaannya langsung kambuh, yakni jika Ririn menumpangi mobil, maka otomatis dia akan mengantuk dan tertidur.
Suasana yang hening, ditambah dengan hasil begadang semalaman, membuat kebiasaan Ririn tak dapat lagi ditahannya. Matanya pun perlahan-lahan menutup dengan tenang. Lelap menemaninya terlena dalam tidur.
Ariel merasa curiga melihat kepala Ririn terkulai ke samping. Perlahan dilambaikan tangannya di depan muka Ririn. Tak ada respon sama sekali.
Senyum nakal terbit di bibirnya seketika. "Heheh aku kerjai si Melo ini, pasti seru, hahhay." Dengan kecepatan tinggi Ariel membawa mobilnya.
Begitu di depannya ada sebuah mobil, dengan cepat dia membanting setir mobilnya hendak menyalip. Kepala Ririn pun terlempar ke samping. Namun Ririn masih tidak bergeming.
Ariel makin gemas, kembali setirnya dibanting ke kiri membuat kepala Ririn terbentur di jendela dengan keras.
"Aakkkh … iihhh sshhh!" Ririn tersentak kaget sambil mengelus-elus keningnya sambil meringis.
Ariel terkekeh melihatnya. Bahunya terguncang-guncang menahan agar suara tawanya tidak terdengar.
Dasar mata sudah berat dikantuk, Ririn kembali terkulai lemas. Kini posisinya dia rubah, bersandar di jendela mobil sambil menghadap ke Ariel dengan kepala yang bertengger nyaman pada tali sabuk pengamannya dan semua itu Ririn lakukan tanpa sadar.
Ariel meliriknya, dan alangkah gelinya dia saat melihat posisi tidurnya yang lucu. Ririn mendongak dengan kepala yang bersandar di jendela sementara mulutnya menganga lebar, dan matanya terpejam.
Pelan-pelan Ariel menepikan mobilnya. Dengan tawa ditahan, dia mengambil ponselnya lalu memotret gaya tidur Ririn. "Hahahahaha, sepertinya aku harus berterima kasih pada Amil nanti." Bisik Ariel.
Mobil kembali dilajukan menuju ke lokasi. Karena jarak yang agak jauh dari kantor, membuat tidur Ririn begitu nyenyak.
Dasar Ariel tukang jahil, tak dapat melihat Ririn senang sedikit, setelah sekitar setengah jam lebih berkendara, Ariel berniat untuk mengerjainya lagi.
Begitu melihat suasana jalanan yang agak sepi, dengan cepat dia menginjak rem begitu kuat sehingga mobil berhenti mendadak. Tanpa ampun, tubuh Ririn terdorong ke depan lalu tersentak ke belakang dengan cepat.
Karena posisi tidur yang miring membuat kakinya terangkat salah satunya dan hampir saja mengenai wajah Ariel seandainya tidak terbentur di dashbord mobil.
"Aaaahhhh aauuu, sssshhh." Ririn mengelus tulang keringnya yang sakit.
Ariel menoleh pura-pura tidak tahu. "Eh kamu kenapa sih, melamun ya?" Dengan cepat Ariel memalingkan wajahnya ke depan, karena tidak mau ketahuan ketawa.
"Aah ga papa Pak." Ririn kembali bersandar hendak terpejam. Tapi lagi-lagi Ariel berhenti mendadak.
Ririn kembali terdorong ke depan lalu tertarik lagi ke belakang.
"Aaaaaa, aaakkh," Dengan cepat Ririn menoleh ke Bosnya. "Bapak sengaja ya!!"
Tawa Ariel pecah tak tertahankan "Bwahahahahah, hahaahha, salah sendiri tertidur."
"Eh siapa yang tidur?"
"Ooh tidak tidur ya?" Ariel memperlihatkan photo Ririn yang diciduknya tadi. "Terus ini apa?"
"Eh Pak itu … Pak hapus dong! ih jelek amat, Pak hapus…!" Ririn mencoba merebutnya tapi Ariel sudah menyimpannya kembali dalam saku jasnya.
"Tidak akan kuhapus, itu akan aku pakai kalau kamu sampai melawan perintahku nanti."
"Mau Bapak apakan fotoku?"
"Akan kupajang di kantor, hehe."
"Whaaat, Pak jangan dong!" Ririn memelas.
"Kita lihat nanti ya." Sambil mengedipkan sebelah matanya ke Ririn. Membuat Ririn makin kesal. Dia bersungut-sungut.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba dilokasi bakal proyek. Ririn terus mengamati daerah sekitarnya tanpa berniat meninggalkan mobil. Sedangkan Ariel sudah turun dari mobil.
Begitu menyadari Ririn belum turun, dia segera membuka pintu. "Apa kamu pikir kamu itu nyonya besar yang harus aku bukain pintu haaa!"
Ririn tersentak kaget, menyadari kesalahannya dia segera minta maaf. "Maaf Pak, aku tidak sengaja Pak."
"Maaf maaf ... minta maaf aja terus ... Turun ...! cepetan!"
Ririn menurut lalu beranjak turun. Ariel segera menampar wajah Ririn dengan map berisi berkas data lokasi itu. "Nih kerjaan kamu, sana kerjakan!"
Dengan wajah dongkol, Ririn menerima berkas itu, lalu melangkah ke lokasi yang dimaksud.
Lokasi itu berupa rumah bekas kos-kosan yang sedang tidak berpenghuni. Dengan luas yang tidak seberapa, lokasi itu akan disulap menjadi gedung perkantoran bisnis. Dengan cermat, Ririn meneliti sekitar lokasi.
Tangannya dengan cepat membuat goresan-goresan di bagian belakang mapnya. Sesekali dia menggigit pulpennya. Lalu menulis lagi, entah apa yang dibuatnya. Hal itu terus menjadi perhatian Ariel dari tempatnya.
Begitu selesai, Ririn segera kembali. Dia pun menyerahkan hasil penelitiannya. "Ini Pak, untuk saat ini!"
"Ini apa?" Ariel mengerut.
"Sketsa gambar."
Ariel menatapnya tajam, "aku tidak meminta sketsa tapi hasil analisis!"
"Lho itu kan hasil analisis sementaraku Pak, seputar lokasi dan daerah sekitar, semua sudah aku arsir di situ, dengan begitu, kita bisa menentukan langkah dan design yang nantinya akan sesuai dengan lokasi ini dan tidak mengusik penghuni lain di sekitarnya."
Ariel terus menatap Ririn tak berkedip "pintar juga nih anak, ga salah juga Papa memilihnya, dibanding Lisa yang lalod itu." Ariel membatin. “Ah tapi tetap saja dia kan wanita papa.”
"Bagaimana Pak?"
Ariel yang tengah memikirkannya sedikit kaget dan hanya bisa mengangguk pelan. "Yaa baiklah ayo kita pulang, hari ini hukuman kamu aku hapus, jadi kamu ga usah lembur."
Ririn tersenyum senang, sangat senang. Kebiasaan lebaynya langsung keluar. "Yang benar Pak, eeeeeh makasih ya Paak!" kedua tangannya menopang wajahnya sambil memutar badannya kiri-kanan layaknya bocah dapat permen.
Melihat tingkahnya, Ariel benar-benar gemas setengah mati, tak sadar diraihnya pinggang ramping Ririn lalu dikecupnya bibir mungil Ririn.
"Eemmm" Ririn tersentak dan langsung mundur. "Bapak apaansih, ini sudah yang kedua Bapak mencuri bibirku!"
"Alaah kalau suda sering dicium cowok juga, jangan sok suci deh!"
Ririn geram bukan kepalang. "Apa Bapak bilang, dengar ya Pak, aku belum pernah disentuh cowok sama sekali, baru Anda!"
Belum lagi amarah Ririn mereda, seorang perempuan malah datang menyerbu dan menarik lengan Ririn dengan kasar. Begitu Ririn menoleh sebuah tamparan mendarat di wajahnya. "Aakkhh!"
"Dasar pelakor!" Kembali tamparan keras didaratkan di pipi Ririn.
Ririn memegangi pipinya yang terasa panas. "Aahhhh, maaf ya Mba, anda salah orang!"
"Salah orang? jelas-jelas kamu mencium pacarku!" Teriak perempuan itu sambil menunjuk Ariel.
Yang ditunjuk malah kaget. "Eeh kok aku?" Ariel semakin bingung karena tak mengerti apa-apa.
Ririn pun menoleh memandangi Ariel, lalu menoleh lagi ke perempuan tadi. "Ah maaf M..." belum lagi sempat bicara, perempuan itu kembali menamparnya.
Darah Ririn mendidih sudah, kesabarannya menghilang. Sikap lemah lembutnya pun raib. Kini wajah garangnya muncul di permukaan.
Tanpa ampun lagi, Ririn melayangkan sebuah tamparan yang begitu keras, membuat kepala perempuan itu terlempar ke samping, Tubuhnya pun terhuyung-huyung.
Dengan cepat Ririn menarik tangannya, hingga perempuan itu tidak jadi jatuh.
Tapi belum sempat dia bersuara, Ririn kembali menampar pipinya yang satu lagi hingga jatuh terduduk. Perempuan itu mengerang kesakitan.
"Aaaakkh, dasar pelakorr!!" Teriak perempuan itu.
Dengan kasar, Ririn menarik rambut perempuan itu dengan keras, membuanya terdongak.
"Dengar ya, aku bukan pelakor dan aku sama sekali tidak pernah bawa lari laki orang, lain kali kalau mau nuduh orang lihat-lihat dulu ya!" Sambil menghentakkan rambut perempuan itu.
Dengan kesal Ririn menoleh ke Ariel dengan tatapan penuh rasa benci. "Lain kali kalau mau jalan, sekalian bawa pacar Anda biar mereka tidak salah paham!" Dia pun pergi dengan bersungut menuju pangkalan ojek yang tak jauh di sana.
Ariel yang sama sekali tidak tahu menahu soal perempuan itu, menjadi bingung dan karena kejadian itu berlangsung cepat membuatnya tidak bisa mengambil sikap.
"Wooi … Meloo … haiii!" teriakan Ariel tidak diperdulikan oleh Ririn.