Syarat dari Papa

1148 Words
Dengan cepat Ririn bangkit dari punggung pria itu. Demikian pula pria itu. Dengan kedua tangan menumpu di lantai, dia mengangkat tubuhnya yang terasa amat sakit, terutama bagian d**a. Ririn sudah memasang wajah cemas plus takut terhadap pria di depannya. Dan saat pria itu menoleh, mata Ririn langsung terbelalak. "Aaaa, Pak Bbb...Ariel...?" Betapa kesalnya Ariel saat tahu siapa orang yang telah menabraknya. "KAAAUU!!" "Ah Pak maaf, maaf banget aku tidak sengaja, aku benar-benar minta maaf Pak, maaf!" Ririn memelas sambil mengatupkan kedua tangan di depan d**a. Ariel mendengus kesal. "Kamu dasar ceroboh, bagaimana kalau aku sampe mati haaa!!" Belum sempat Ririn membalas ucapan Bosnya, beberapa orang datang, "Bagaman keadaan kalian?" "Apa ada yang terluka?" Dengan cepat Ariel menarik Ririn masuk lift. "Kami baik-baik saja, terima kasih." Dia pun memencet tombol lift, dan lift pun menutup kembali. Sementara orang-orang tadi kembali ke tempat mereka. Di dalam lift, Ririn tertunduk lesu, bagai kucing yang kebasahan. Dia hanya bisa meremas jemarinya sendiri, sambil terus menggigit bibirnya. Dia memasrahkan nasibnya kali ini. Ariel menatapnya kesal sambil terus memegangi dadanya. "Kamu harus tanggung jawab, dadaku sakit sampe sekarang, aku tidak mau kalau sampe jantungku kenapa-kenapa!" Ririn langsung mendongak saat mendengar ucapan Ariel. Dia merasa sedang dibodohi. "Eeh maaf Pak, mana ada d**a terbentur, tapi jantung kenapa-napa, tuh jatung aman kok dibalik tulang rusuk!" Ririn melotot tajam. Merasa ditantang, Ariel mendekat, dan terus mendekat. Ririn terpaksa mundur ke belakang, tapi sial punggungnya sudah merapat di dinding. Ariel terus saja memepetnya. Ririn mencoba untuk mengelak ke samping, tapi lengan Ariel justru menahannya dengan menopang di dinding. Ririn benar-benar terkunci. Dengan terpaksa ia mendongak memandangi wajah Bosnya dengan melotot. Ariel menyeringai melihat tatapan Ririn. "Ada apa, mau lari dari tanggung jawab, haa!" Sambil menaikkan satu alisnya. "Aku kan sudah minta maaf Pak, lagian jantung anda baik-baik aja tuh!" Ririn menunjuk dadanya dengan muka. "Bagaimana kamu bisa tahu kalau aku baik-baik? apa kamu bisa melihatnya tanpa memeriksanya? tulang rusukku benar-benar sakit, apalagi jantungku, coba dengar!" Sambil menarik tengkuk Ririn dan dirapatkan di dadanya. "Eemmmm!" Ririn meronta hendak melepas kepanya, tapi tangan besar Ariel begitu kuat menekan tengkuknya. "Jangan bergerak, sebaiknya kamu dengar baik-baik degup jantungku, agar kamu bisa percaya kalau jantungku memang sakit!" Kepala Ririn terus ditekannya. Ririn memilih patuh, dari pada berontak tapi tetap saja gagal. Akan tetapi, biar pun dia diam, namun hatinya sendiri jadi kacau, sehingga dia tidak fokus mendengar jantung Ariel. "Sudah dengar?" Arel melepas tengkuknya. "Iya sudah, maaf aku salah, bagaimana kalau aku antar ke rumah sakit?" Ariel tersenyum kesal mendengarnya. "Kamu pikir aku jantungan?" Ariel melotot, membuat Ririn makin tertunduk. "Terus aku harus apa? katanya jantung sama rusuknya sakit?" Lirih pertanyaan Ririn. Ariel menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Ririn. "Lihat mukaku!" Bukannya mendongak, Ririn malah menunduk makin dalam, diam tak bergerak. Entah mengapa hati Ariel menjadi semakin geregetan dan gemas melihat wajah kuning langsat di depannya menjadi kemerahan. Tanpa sadar, Ariel menarik dagunya kuat-kuat hingga Ririn terdongak. Saat itu, mata mereka beradu. Ariel tak kuat menahan dirinya melihat bibir ranum di depannya. Dengan cepat Ariel menci*m bibir ranum merah muda milik Ririn, lalu tersenyum puas. Ririn yang selama ini tak pernah di sentuh pria langsung mendidih. Mukanya berubah garang. Dengan cepat, tangannya melayang hendak menampar wajah tampan di depannya. "Dasar m***m!!" Tangan Ririn yang terayun tak sempat mengenai sasaran, melainkan tercekal kuat. "Aaauuuu!!" Ririn mengaduh karena tangannya dicengkeram kuat-kuat. "Mau menamparku? Kau bilang aku m***m? Ariel menatap Ririn tajam. "Itu tidak seberapa dibanding rasa sakit di seluruh tubuhku, anggap saja itu kompensasi dari kamu!" tangan Ririn pun dihempaskan dengan keras. Ririn mendengus kesal, tangannya terkepal menahan marah. Giginya gemeretak hingga rahangnya nampak mengeras. Sementara Ariel berbalik dan menekan tombol lantai 3 tempat divisinya berada. Tak ada lagi basa-basi hingga pintu lift terbuka. Dengan cepat Ririn keluar dan segera menuju kursinya. Ariel sendiri berlalu masuk di rungannya tanpa menoleh ke Ririn yang memandanginya penuh emosi. Di dalam ruangannya, Ariel tengah memeriksa beberapa berkas rancangan yang kemungkinan bisa dijadikan sebagai referensi untuk rancangan proyeknya kali ini. Tapi alih-alih memeriksa berkas, dia malah senyum-senyum sendiri mengenang kejadian di lift tadi. Sambil mengelus bibirnya dengan ibu jari, sebuah pikiran buruk bersarang dibenaknya. “Baiklah Pa, kamu sepertinya ingin mengirim gadismu untuk menjamin hidupnya, tapi kalau aku menikmatinya sedikit, boleh kan Pa?” “Dia lumayan cantik, imut lagi, mirip banget sama boneka Barbie!” Senyum jahil yang terukir di wajahnya langsung berubah begitu menyebut nama Barbie. Sedang larut dalam angannya, dia tidak sadar kalau Kakaknya sudah masuk ke kantornya dan melihat tingkahnya. Sambil geleng-geleng kepala, Kakaknya menghampiri. Dengan keras, Amil Normansyah menggebrak meja di depannya. Ariel tersentak kaget, membuat berkas ditangannya terlempar ke udara. "Hahahaha, kaget ya?" "Haaah, kalau jantungku copot gimana, mau donorin jantungmu?" Ariel beranjak lalu berpindah duduk di sofa. "Ada apa kemari? biasanya juga aku dipanggil." Ariel sedikit sewot. Kakaknya ikutan duduk di sofa. "Sudah cek lokasi? dua minggu lagi lelang design, ingat ini proyek tantangan Papa buat kamu." Ariel menganga, "Aaahh, aku baru saja bicara dengan karyawanku, bukannya gadis kiriman Papa itu berbakat?" Dengan santai, dia bersandar di sofa. "Dengar, sudah ada beberapa proyek kamu yang gagal, dan ini kesempatan terakhir yang diberikan Papa sama kamu. Jadi sebaiknya kamu bekerja keras, jangan Cuma santai begitu! Bagaimana karyawan kamu bisa mendapatkan hasil yang bagus, kalau bosnya ga ada peran sama sekali?" "Ya nama juga Bos, emang nyuruh-nyuruh kan?" Senyum sombong tergores di bibirnya. Kakaknya cuma bisa geleng-geleng kepala. "Papa sudah memberikan kamu kesempatan, jadi terserah kamu aja, pilih bekerja dengan baik disini, dan mendapat izin menikahi pacar gentayangan kamu, atau ogah-ogahan dan terus saja keluyuran dengan cewe ga jelas, tapi menikahnya dengan Putri Renata." Ariel langsung tegak dari sandarannya. " Amil …, tega kamu sama adek sendiri, setidaknya kan aku sudah mau bekerja, kenapa harus ada syarat tambahan lagi sih?" Amil Normansyah, Kakak Ariel hanya mengangkat dahi. "Bukannya emang itu syarat yang diajukan Papa? Sebaiknya seriuslah sedikit, kamu sudah dewasa, bukan anak remaja lagi yang harus menghabiskan harimu dengan nongkrong di cafe melulu." "Akkh ini kan sudah kerja?" "Buktikan kinerjamu, Papa sudah mengirim gadis itu untuk membantu kamu, sebaiknya kamu gerak cepat, ajak Ririn ke lokasi itu, dan segera buat designnya!" Tanpa menunggu jawaban, Amil Norman meninggalkan Ariel yang menganga tak sempat berkilah. Ariel meremas kepalanya dengan gusar. Dia tidak bisa membayangkan kalau sampai dia benar-benar harus menikah dengan Putri Renata, anak kesayangan teman Papanya yang merupakan Anggota dewan. Dirinya paling tidak suka dengan gadis manja dan banyak maunya serta egois seperti gadis itu. Ariel sampai bergidik membayangkan kalau sampai proyek itu benar-benar gagal, dan harus menyerah menikah dengannya. Ariel menghembuskan napas beratnya. "Hhhhuuuuuhhh, mengajak gadis itu? Tapi itu jauh lebih baik dari pada harus menikahi Renata kan?" Ariel merenung sebentar lalu tersenyum licik. "Hehehe why not, Bro, hahaha!" Ariel melangkah kembali menuju ke kursi kebesarannya. Dengan cepat, dia mengambil berkas tentang lokasi bakal proyek. Ariel keluar dari ruangannya kemudian mendatangi meja Ririn, "Kamu ... ikut aku keluar!" Ririn mendongak heran, "Haaa."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD