Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang, menandakan waktu istirahat sudah tiba. Rasa lapar sudah menyerang perut Ririn sejak tadi, seakan cacing yang bersemayam disana telah berkoar-koar meminta jatah makannya. Bahkan lambungnya pun sudah tidak sabar lagi minta diisi. Semua itu membuat perasaan Ririn jadi gelisah.
Perlahan dia menengok teman-teman pegawainya, mana tahu sudah ada yang beranjak untuk mencari makan, namun tidak ada juga tanda-tanda pergerakan dari mereka.
Sekali lagi Ririn memastikan waktu dengan melirik jam di ponselnya. Setelah merasa benar-benar yakin dengan penglihatannya, tanpa pikir panjang lagi Ririn pun beranjak dari kursinya. Dia segera keluar mencari makan. Tak peduli dan tak mau tahu urusan orang, dia melenggang pergi tanpa mengajak-ajak temannya, setidaknya mengajak Lisa.
Lisa menatap kepergian Ririn dengan pandangan kesal, dengan dengusan keras, dia bangkit pula dari kursinya hendak mencari makan.
Ariel yang keluar dari ruangan, jadi tertegun melihat meja Ririn sudah kosong, padahal niatnya hendak meminta Ririn untuk menemaninya makan siang.
Senyum sinis tergores di bibirnya. Sebuah rencana licik tengah dipikirkannya. Dengan cepat dia meraih ponselnya dan segera menghubungi Ririn.
"Halo, ada apa Pak?" Terdengar suara Ririn di seberang.
Ariel tersenyum jahil. "Kamu bolos kerja ya, jam segini sudah kabur!!"
"Hhaaaah, bolos?? Lho, bukannya sekarang jam istirahat Pak?"
"Ya sekarang, tapi kamu sudah kabur sebelum jam istirahat, dan itu bolos namanya!!"
"Aaahh maaf Pak, tapi aku benar-benar keluar pas jam istirahat."
"Oh jadi kamu mau melawan?"
"Ah maaf Pak, aku janji besok tidak kuulangi lagi, sekali lagi maaf!!"
"Dasar ceroboh, sebagai hukuman kamu harus lembur sampai jam 8 malam!!"
"Heehh? ... tapi Pak ...!"
Telpon terputus.
Ariel tersenyum puas memikirkan reaksi Ririn dengan perlakuannya. Dengan perasaan bangga telah mengerjai gadis ceroboh itu, dia melangkah pergi.
Di lain tempat, di sebuah cafe yang tenang, yang hanya ditemani oleh alunan musik lembut dan tidak berisik, Ririn malah dilanda perasaan gusar dan gerah.
Dengan rasa kesal luar biasa, dia meremas dan mencengkeram ponselnya dan diacung-acungkan ke udara, seakan ingin melemparnya namun ditahan, karena ponsel itu kesayangannya.
"Aaarrgggghh, Bos sialan! enak saja main tuduh sembarangan, siapa juga yang bolos, jelas-jelas udah jam istirahat kok, eeeeeeeerrggg!"
Pelayan yang datang bawa minuman pesanannya jadi kaget," eh ada apa Mba? marah sama saya?"
Ririn mendongak, "Eh hehehe maaf Mba, bukan kok, bukan, hehe maaf!"
Pelayan itu meletakkan minuman di atas meja sambil tersenyum, lalu kembali ke dalam.
Dengan cepat Ririn menyambar minuman dinginnya untuk mendinginkan hatinya yang kesal. "Haaah dari pada suntuk, mending aku chat Putra Setia ah." Senyum manis langsung terukir di bibirnya.
Sambil menyeruput minuman, jemarinya mulai menari di layar ponsel.
Saat membuka facelooknya, bukannya mengirim pesan pada Putra Setia, dia malah tertarik membuat status. Minuman dinginnya digenggam kemudian diphoto.
Setelah berhasil mengambil photo gelas dalam genggaman, sebuah status telah bertengger di beranda facelook.
“Semoga bisa adem, seadem jus lemon”
Selesai mengapload statusnya, Ririn kembali meneguk jusnya. Tak lama, bunyi nada nontifikasi di HPnya masuk secara beruntun. Seakan berlomba dan saling mendahului.
Senyum mengembang di wajah Ririn. "Dari Putra Setia ada ga yah?" Segera dibukanya notif komentar temannya.
Beberapa komentar dari temannya terpampang di sana. dengan malas, dia membalas satu persatu. Tapi matanya langsung membulat saat sang pujaan hati yang berkomentar.
Putra Setia
“Sudah istirahat ya?
“kok semoga dingin?”
“lagi gerah ya Sayang?”
Alvina Rosa
“Ehem, ayang bebeb nongol nih”
Barbie maniest
“@Putra Setia,Yaah sedikit gerah sih”
Barbie Maniest
“@ Alvina Rosa, hehe iya nih, gerah langsung hilang deh”
Putra Setia
“@ Barbie Maniest, lanjut inbox Yang”
Alvina Rosi
“Yaaah maen inbox deh, mau mesra-mesraan yah”
Barbie
“@Putra Setia, oke deh Yang”
Alvina Rosi
“Waah kita dicuekin, dasar cinta, dunia maya seakan milik berdua, wkwkwk”
Ririn hanya tersenyum melihat komentar sahabat DUMAYnya. Dengan cepat dia masuk ke Messengingnya.
Karena pesan dari Putra Setia sudah masuk diberitakan oleh notifikasinya
Putra Setia
“Istirahat sayang?”
Barbie maniest
“Iya, cape bener nih, kamu sendiri?”
Putra Setia
“Iya sama, istirahat juga”
Barbie Maniest
“Makan atau minum?”
Putra Setia
“Makan dan minum”
Ririn langsung tertawa begitu membaca isi pesan itu. “Hahaha, iya juga sih, mana mungkin makan ga minum, hahaha.”
Suara tawanya membahana memecah keheningan kafe. Hingga salah seorang pelanggan di samping mejanya, yang lagi berduaan dengan pacarnya merasa terganggu. “Ekheeem!”
Ririn menoleh dengan acuh ke asal suara. Namun dia langsung kaget saat melihat dirinya tengah ditatap dengan raut wajah tidak senang.
“Bisa dikecilin dikit suaranya? Mengganggu soalnya!”
Ririn langsung mengangguk dengan senyum kekinya. “Oh sorry ya, tidak sengaja!”
Orang itu tidak menanggapi permintaan maaf Ririn dan kembali melanjutkan obrolannya dengan sang kekasih.
Ririn juga telah kembali menatap layar ponselnya untuk membalas pesan terakhir Putra Setia.
Barbie Maniest
“Selamat menikmati makanannya kalau gitu, aku juga baru mau makan nih!”
Ririn segera meletakkan ponselnya tatkala pelayan kembali datang membawa pesanan makan siangnya.
Pesan demi pesan terkirim seakan tak ada bosannya. Hingga makanan dan minuman habis tak terasa. Bahkan amarah dan kesal di hatinya pun telah menghilang, ikut terbawa arus bersama balasan pesannya.
Sementara di tempat yang lain, Ariel tengah bersantai bersama teman ganknya. Meskipun temannya pada riuh bercengkerama, dia sendiri tengah sibuk dengan ponselnya sambil kadang senyum sendiri.
Temannya begitu gerah melihat Ariel yang tenggelam di layar ponsel.
"Wooii serius amat sama ponsel!"
Ariel cuma tersenyum sembari melirik temannya sekilas. Matanya kembali menatap Ponsel.
"Kita juga facelookan, tapi ga segitunya juga kali Bro!"
"Ga ngantor Bro? dah lewat jam istirahat lho!"
Ariel menghentikan aksinya. "Ngantor lah, lagi pula aku akan memberi pelajaran manis sama gadis ceroboh di kantorku." Sambil mengedipkan sebelah mata pada temannya sambil menyeruput minumannya sampe habis.
Keempat temannya langsung berbinar, kelompok playboy cap kambing ini, tidak akan tahan jika mendengar kata gadis.
"Gadis ceroboh?"
"Cantik ga, cantik ga?"
"Kenalin dong, jangan menikmati barang bagus sendirian Bro!"
Celoteh temannya cuma dibalas senyum nakal dengan alis terangkat satu.
"Alaahh paling cuma si Lisa doang."
Bagas yang juga bekerja di perusahaan Ariel, namun beda divisi, mengira jika gadis yang dimaksud Ariel adalah Lisa.
"Emang kenapa sama Lisa?"
"Ga banget, gemuk, pendek, ck, pokoknya yaaah gitu deh."
Ariel Menoleh, "Gas, jangan jelekin Lisa dong, siapa tahu Denis suka, ya ga Den?"
Deni menaikkan alisnya sambil tersenyum, "Yo'i Bro, setidaknya kenalin dulu dong, baru bisa dinilai, haha."
"Yaah kalau Denis sih, kulit hitam juga ludes diembat, hahaha."
Mendengar ejekan temannya, Denis menggerutu. "Sialan lo Sam, mentang-mentang cewe kalian pada licin, heeeh!"
Temannya yang bernama Samuel, yang nota bene anak tajir, hanya tertawa mendengar gerutuan Denis.
"Susah dong, muka ganteng dilawan, hahaha."
"Hahaha bener Van, bener banget, hahaha." Samuel menepuk bahu Ivan sambil terbahak-bahak.
Denis memasang wajah kesal, "terserah deh, yang penting cewek juga antri buat gue." Lalu bersandar sambil memainkan gawainya.
Ariel hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah temannya. "Ini bukan Lisa, tapi seribu kali lebih bagus dari Lisa!" Sambil berlalu keluar dari cafe tempatnya nongkrong.
Mendengar penuturan Ariel, sontak temannya langsung bangkit dan menegakkan badan, yang semula bersandar santai di sofa.
"Beneran?"
"Masa sih?"
"Kenalin dong!"
"Ariel, woiii!"
Ariel tak menghiraukan teriakan temannya, dia hanya mengangkat tangannya sambil melambai tanpa menoleh lagi. Dia terus melangkah.
Bagas yang juga harus bekerja, ikutan bangkit hendak pergi. "Aku duluan Bro!" Sambil menepuk pundak Denis.
Samuel dan Ivan hanya mengangkat tangan sambil high five dengannya.
****
Ririn melajukan motornya dengan cepat. Hobby balapnya kembali kambuh. Meski Ririn bukan pembalap, tapi karena terburu waktu, terpaksa ambil resiko. sifatnya yang memang ceroboh dan suka terburu-buru, membuatnya selalu saja menimbulkan masalah.
Ririn terus melaju, menyalip kiri-kanan tak peduli dengan kendaraan yang begitu padat. Akibat berbalas pesan dengan Putra Setia, dia lupa waktu.
Waktu kini telah berlalu setengah jam saat dia sampai di halaman kantor. Tanpa pikir panjang, Ririn segera berlari masuk ke dalam. Tidak susah baginya berlari, karena sepatu yang digunakannya bukanlah high hills.
Tak perduli dengan pandangan orang-orang, dia terus berlari. Rambutnya yang tergerai panjang pun beterbangan.
Karena larinya yang kencang ditambah lantai yang licin, Ririn jadi kewalahan mengerem kakinya. Tanpa ampun, Ririn pun menabrak punggung lelaki yang sedang berdiri menghadap ke pintu lift.
"Aahh Paaak!!" Mau tak mau, d**a Ririn menempel erat di punggung pria itu. Sementara pria itu sendiri terdorong hingga menempel di pintu lift.
Disaat bersamaan, pintu lift terbuka. Tubuh mereka pun langsung terjerembab ke dalam lift. "Eeh ee eeeh aaaaa!!"
Jerit Ririn yang tak kuat menahan tubuhnya.
Pria itu pun ikut mengerang kesakitan. "Aaaaakkkh." ....