Malam berlalu berganti dangan fajar diufuk timur. Bulan purnama yang bersinar pun mulai redup dan pucat pasi. Mentari yang datang seakan malu-malu menampakkan wajah, untuk menggantikan pernama yang anggun.
Suara alarm di ponsel Ririn terus menggema membahana di dalam kamarnya. Setelah bernyanyi untuk yang kesekian kalinya, barulah Ririn menggeliat. Ada rasa enggan menyelubungi dirinya.
Hari ini Ririn merasa sangat malas untuk pergi bekerja. Bekas tamparan di pipinya masih berbekas merah. Selain sakit di pipi, sakit di hati pun lebih terasa. Dia benar-benar benci dan sakit hati mengingat kejadian yang kemarin. Ririn tak pernah menyangka jika Bosnya ternyata buaya darat.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Ririn berangkat juga ke kantor. Tapi tatkala dia mengintip kaca spion motornya, pipi merahnya ternyata tergambar jelas.
Selama hidupnya Ririn sama sekali tidak pernah berdandan. Kulit kuning langsat yang dimilikinya begitu mulus dan alami, sehingga tidak perlu dipoles kosmetik.
Akan tetapi bekas merah di pipinya yang membekas, akan terlihat aneh bila tidak ditambah make up.
Terpaksa Ririn berhenti untuk membeli alat make up di toko yang tak jauh dari kantor. Begitu selesai membelinya, dia sendiri bingung karena dia sama sekali tidak mengerti cara memakainya.
"Mba, bisa minta tolong ga?" Ririn malu-malu.
Pelayan menatapnya "iya boleh, mau ditolongin apa?"
"Mmm, aku...ga tahu cara pake make up, Mba, bisa tolong bantu makein?" Seraya menyodorkan alat kosmetiknya.
"Oh ayo mari Mba!" Seraya menarik kursi di sampingnya.
"Aduuh, jangan keras tekannya Mba, sakit!" Ririn meringis.
"Ini kenapa Mba?" Pelayan itu heran.
"Kemarin ada perempuan salah sasaran, aku pake ditampar, udah ditampar baru sadar kalau dia salah orang!"
"Oh haha, Mba kasihan dong!"
"Heem!" Ririn memejamkan matanya agar tidak menganggu periasan di wajahnya.
Beberapa saat kemudian, acara rias merias pun selesai. Ririn segera meninggalkan toko itu dan tak lupa berterima kasih.
Ririn kembali melaju agak lambat ke kantornya, yang memang sudah tak jauh lagi. Begitu memasuki area kantornya, tak sengaja dia melihat seseorang yang seperti ia kenal.
"Eh itu bukannya dia Om-om yang waktu itu ya?" Ririn bergumam sendiri.
Ririn masih ingat saat dia bertemu dengan orang itu. Saat itu Ririn masih bekerja di kantor cabang.
Ketika dia tengah menuju ke areal konstruksi, dia tengah melihat Om itu sedang mengamati pekerjaan dari jauh. Karena merasa aneh, Ririn mendekati dan menegurnya.
"Maaf Om, ada yang perlu saya bantu?"
Ucap Ririn ramah.
Orang itu menoleh dan tersenyum. "Kamu pekerja di sini?"
Ririn ikut tersenyum. "Iya Om, tapi sebenarnya tugas saya bukan di sini, cuma kebetulan aja, disuruh untuk datang menggantikan Bapak ketua cabang aja, memeriksa kadaan proyek, soalnya hari ini beliau ada masalah pribadi!"
Pria itu tersenyum sambil mengangguk.
"Sudah bekerja berapa lama di kantor cabang?"
"Mm sekitar 2 tahun lah Om!"
Orang itu manggut-manggut, “Ooh begitu ya, emm bekerja di kantor cabang itu pasti susah ya, kenapa tidak mendaftar di kantor pusat saja?”
Ririn menoleh menatap orang itu dengan senyum ramah. “Ya ga susah kok Om, gampang banget malah kerjaan aku, cuma buat laporan dan penggandaan laporan doang”
Orang itu mengernyit, “oo cuma lulusan SMA?”
“Bukan lah Om, aku S1 jurusan Arsitektur!”
Sontak orang itu menatap Ririn. “Kamu Arsitek?”
Ririn tidak menjawab, melainkan hanya terenyum sambil mengangguk.
“Berarti kamu bisa membuat sketsa design bangunan dong?”
“Yaaaa begitulah, hehe … emm dan menurutku nih ya Om, akan lebih bagus kalau bangunan yang di sana itu, lahan parkirnya di bagian belakang aja, biar pandangan mata tidak terhalang saat hendak melihat taman, memang sih dari lantai 2 taman jelas terlihat, tapi kalau dari lantai bawah, pemandangan akan terhalang!”
Orang itu hanya bisa mengangguk seraya terus menatap ke arah yang ditunjuk oleh Ririn.
Melihat orang itu hanya diam dan menyimak, Ririn pun melanjutkan, “lokasi di belakang gedung kan masih agak lebar dan panjang, cocok banget buat tempat parkir, tapi saat aku tanyakan pada pengawas proyek, katanya, ‘lahan di belakang nanti akan dibuat kebun mini’ lah kan yang dibagian depan itu juga buat taman, kalaupun harus ada kebun mini, kan mending di bagian samping aja, mengapit jalur masuk dan keluar mobil, benar ga Om?”
Orang itu hanya mengangguk pelan sambil memperhatikan dan mencerna seluruh ucapan Ririn tanpa komentar sama sekali.
Ririn pun terus bercerita tentang dirinya dan pekerjaannya tanpa curiga sama sekali. Dia bahkan mengungkapkan kritikan dan pendapatnya kepada orang itu dengan gamblang tanpa ada perasaan takut sama sekali.
Pria itu terus menatap Ririn tak berkedip, dengan senyum terukir di bibirnya. Seakan-akan ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.
Setelah merasa akrab, Ririn menawarkan cemilan yang dibawanya. Mereka pun makan sambil terus berbincang-bincang. "Kamu cantik, mau ga jadi menantuku?"
"Ukhuk!" Ririn tersedak mendengar tawaran Pria tua itu.
"Hahaha, kaget ya, maaf Om cuma bercanda!"
Wajah Ririn merona malu. "Ah ga pa-pa Om, aku udah biasa dipercandain!" Sambil tersenyum simpul.
Ririn menghela napas berusaha menepis ingatannya, sambil terus mengamati orang itu. Perlahan dia turun dari motor dan mendekatinya.
Sementara orang itu tersenyum pula menatap kedatangan Ririn yang tengah menuju kearahnya.
Begitu Ririn mendekat, dia langsung menunjuk pria tua itu sambil menatap penuh tanya. "Om yang waktu itu kan?"
Om itu tersenyum sambil mengangguk. "Iya, kamu Ririn kan?"
Ririn tersenyum "iya Om, eh kenapa Om ada di sini?" Ririn menyelidik.
"Om mau ketemu sama anak Om!"
"Ooh, anak Om juga kerja di sini, dibagian mana Om?"
Orang itu tampak berpikir, "emmm, dibagian yang mengurusi dan yang bertanggung jawab terhadap semua karyawan dan juga kantor!"
"Ooh bagian personalia!" Seru Ririn tersenyum lebar. "Mau saya antar masuk Om?"
"Oh ga usah, ga usah, aku sudah janji ketemu di sini, kalau kamu ga keberatan menunggu, nanti sekalian aku kenalin sama anakku, dia ganteng lho!" Seraya menaikkan salah satu alisnya dengan senyum genit.
Sementara di dalam mobilnya, Ariel yag baru datang tampak tidak senang melihat Ririn begitu akrab dengan Papanya. "Heem sudah aku duga, kalau dia pasti merayu Papa supaya bisa masuk disini." Dia mengeratkan giginya.
Ririn langsung tertawa mendengar tawaran dari Om itu. "Om bisa aja, kalau dia ganteng mana mungkin suka sama cewe burik macam saya!" Seraya menepuk lengan Om itu pelan.
Ariel yang melihatnya dari jauh, semakin mencengkeram stirnya kuat-kuat. Dia sangat marah melihat adegan mesra itu.
Papanya yang sudah menikah lagi dengan gadis belia atas desakan Mamanya karena setengah lumpuh, membuat Ariel beranggapan macam-macam. Dia berpikir jika Papanya sudah menjadi pria buaya darat.
Setelah melihat Ririn masuk ke dalam, dengan cepat Ariel keluar dari mobil dan segera menghampiri Papanya. "Pa!"
Mendengar teriakan Ariel, Papanya menoleh. "Oh Ariel kamu sudah datang!"
"Jangan basa-basi deh Pa, cewek tadi selingkuhan Papa kan?" Wajah Ariel sudah merah padam.
"Hahaha, kenapa, kamu cemburu?"
"Pa, aku tidak bercanda, aku serius, aku juga tidak cemburu, jadi ternyata Papa masukin dia karena kalian selingkuh?"
"Ariel, apa kamu pernah lihat Papa maen perempuan? anak itu, dia gadis baik-baik, dia bahkan tidak tahu kalau Papa yang punya perusahaan ini!" Muka Papanya tampak serius.
"Terus yang tadi mesra-mesra itu, apa namanya?"
Papanya menutup mulut menahan tawa. "Pffftt, aku mencoba menjodohkan kamu sama dia, tapi dia menolak sambil malu-malu kucing, hahaha!"
Karena sudah tersulut amarah, Ariel sudah tidak bisa percaya dengan omongan Papanya.
“Alaaahhh alesan Papa aja kan biar ga ketahuan belangnya?”
“Ariel … hati-hati kalau bicara, jangan asal menebak, nanti kamu sendiri akan menyesal!”
Ariel tidak bisa lagi diajak kompromi, dengan bersungut dia melangkah masuk tanpa peduli dengan teguran Papanya.
“Riel … Ariel … Arieel!”
Amil Normansyah pun telah datang pula dan segera menegur Papanya yang tampak tengah memangil-manggil adiknya.
“Papa … ada apa? Kok pagi-pagi begini malah teriak-teriak!”
Pak Haris Ardiansyah adalah pemilik dari PT. Dua Putra Kosntruktion sekaligus Ayah dari Amil Normansyah Putra dan Ariel Darmansyah Putra, hanya bisa menghela napas panjang begitu Anak sulungnya datang mendekat.
“Haaahh sepertinya Adikmu itu salah paham, dia mengira kalau Papa selingkuh sama Ririn, asistennya!”
“Hahahah, paling dia cemburu Pa, ayo Pa, ga usah dipikirkan, anak bandel seperti itu bagusnya dibiarkan saja, nanti juga akan ketahuan kan Papa selingkuh atau tidak!”
" Haah iya, ya sudahlah ayo kita masuk!"
Meraka pun berjalan bersama memasuki gedung kantornya.
*****
Ririn yang baru masuk ke ruangannya, langsung menjadi pusat perhatian. Terutama Lisa. "Eh Mba Ririn, kamu cantik banget deh!" Puji Lisa.
"Ih sembarangan, biasa aja kok!" Ririn tersenyum malu. Tanpa sengaja, Ririn melihat sekilas bekas tanda merah di leher Lisa.
Ririn mengerutkan keningnya. "Eh Mba Lisa, bentar, bentar!" Seru Ririn seraya menarik lengan Lisa.
Matanya menyipit mengamati leher Lisa. Hal itu membuat si pemilik leher jadi malu.
"Ee...e...apaan sih ah!" Seraya menepis tangan Ririn keras.
Lisa segera menarik Syal kecil yang sengaja dilingkarkan di legernya itu agak keatas, hingga bekas merah itu tertutup semua.
Ririn masih berdiri tertegun heran. Dia tidak nengerti dengan tingkah Lisa. Mengapa dia menutupi bekas merah itu. Ririn yang masih penasaran, mendekati Lisa, tak peduli dengan orang di sekitarnya, dia bertanya lagi.
"Mba Lisa, itu kok leher kamu bisa merah, habis digigit serangga ya?"
Lisa tidak menjawab, dengan wajah merona malu, dia hanya mengangguk cepat seraya pura-pura sibuk di mejanya.
"Habis digigit buaya darat!" Seru Ariel yang baru saja datang. Serentak semua orang tertawa terbahak-bahak. Sementara Ririn cuma terdiam dengan wajah kebingungan.
"Emang digigit buaya bekasnya sekecil itu, bukannya langsung mati?" Gumam Ririn tapi masih terdengar jelas di telinga karyawan di sampingnya.
"Hahahaha, kalau digigit buaya rawa, iya mati, tapi kalau buaya darat yang gigit, bukannya mati malah ketagihan, hahaha!" Semua orang ikut tertawa.
Ariel tidak perduli dengan kelakar yang ia timbulkan sendiri. Dia terus berlalu tanpa menoleh ke mereka.
"Eh Mba Ririn belum pernah digigit buaya darat ya hahaha?" Seru salah seorang karyawan lelaki.
Ririn mengerutkan kening tampak berpikir. Dia mengerti kata buaya darat adalah lelaki hidung belang, hingga ia menarik kesimpulan sendiri bahwa mungkin Lisa habis main diluar.
Mendengar pertanyaan dari lelaki tadi, Ririn cuma menggeleng pelan.
Sontak seluruh karyawan pada heboh.
"Hahahaha, pantas ga bisa bedain, bekas gigitan serangga dengan bekas gigitan buaya darat!"
Lisa sudah tidak mampu lagi menahan malunya, dengan air mata berlinang, dia berlari menuju kamar kecil.
Ariel yang mendengar kehebohan itu, langsung menghentikan langkahnya. Sekilas dia menoleh menatap Ririn yang tampak bengong. Saat itulah mata Ariel seakan terkena sihir oleh kecantikan Ririn yang terpoles make up tipis.
"Maaf ya aku masih ga ngerti kalian ngomong apaan!" Ririn berlalu menuju mejanya.
Ariel sendiri segera masuk ke dalam ruangannya. Dia tidak mau ketahuan terkesima.