Ruangan buaya

1237 Words
Begitu di dalam ruangannya, Ariel berdiri mematung melihat suasana kantornya yang masih belum dibereskan. Terlebih lagi belum ada kopi dan sarapan. Rasa marahnya yang telah terbawa daari luar tadi, kini memuncak sudah. Dengan napas menderu, dia segera menghubungi Ririn lewat telepon di atas mejanya. "Ke ruanganku sekarang!" Nada sarkasnya begitu penuh tekanan. Pintu ruangannya terbuka, Ririn masuk dengan muka menahan kesal. Dendam dan rasa marahnya kemarin masih tersimpan jelas di benaknya. Akan tetapi dia berusaha menahan emosi. "Ya Pak, apa yang bisa saya bantu?" Ririn membungkuk sedikit. Aril dengan santainya menaikkan kakinya di atas meja sofa sembari menyilangkannya. Sedangkan kedua tangannya direntangkan di sandaran sofa. "Apa kamu lupa tugas kamu setiap pagi?" Ririn mengeratkan gigi jadinya. Dengan kuat dia berusaha netral, lalu menarik napas panjang. "Maaf Pak, tapi bukannya di sini ada OB, aku kan harus membuat design proyek kemarin?" Ariel terdiam. Untuk sejenak dia terpukau dengan wajah cantik di depannya. Namun menginat Ririn adalah gadis Papanya, rasa kagumnya berubah jadi benci. Mata Ariel sudah memerah mendengar bantahan Ririn. “Aku tahu, tapi kamu juga jangan lupa, kalau untuk urusan ruanganku, kamu yang bertanggung jawab, beresin sekarang, habis itu siapin sarapan!" Ririn makin nengeratkan gigi. Matanya melotot tajam namun tidak mampu membantah pula. Dengan malas dia memutar tubuhnya keluar untuk mengambil alat kebersihan. Ariel tersenyum kesal melihatnya, entah mengapa tiba-tiba ada sesuatu yang seakan mengiris kalbunya. Ada rasa sakit di dalam sana yang tidak dimengertinya. Hal seperti itu sebelumnya tidak pernah dirasakannya. Ariel menjadi semakin geram karenanya. Tak Lama kemudian, Ririn kembali masuk dengan lap, sapu dan botol spray di tangannya. Sambil bersungut-sungut dia mulai mengelap semua meja dan kursi serta sofa di sana. Dia bahkan tidak peduli dengan Ariel yang masih asyik memandanginya di sofa. Saat Ririn mendekat hendak mengelap sofa, Ariel masih tetap diam dan menatap Ririn. Entah apa yang ada dipikirannya. Begitu Ririn semakin dekat, dengan spontan, Ariel menarik tangannya dengan kuat hingga tubuhnya jatuh memeluk rapat tubuh Ariel. Dengan gemas, Ariel balik memeluknya dan mencium lehernya. Ririn kaget dan meronta, "Akkhhh, dasar gila, lepasiiin!" Dengan kuat Ririn menumpukan tangannya di sandaran sofa. Akan tetapi karena posisi tangannya tidak tepat, usahanya pun sia-sia. Ariel tidak peduli. Dia seakan sedang hanyut dalam dunia halunya. Ariel terus membenamkan ciumannya di leher jenjang nan mulus itu. "LEPAAASIIIN, ah...akhh...aaahh, LEPASSSS!" Ririn mengerang saat gigitan kecil ditimbulkan oleh Ariel di lehernya. Merasa tidak diperdulikan, Ririn segera menggigit bahu Ariel dengan kuat. Barulah Ariel sadar dari dunia halunya. "Aakkkh!" Sontak Ariel mendorong tubuh Ririn. "Kau, kenapa menggigitku, ha!" Mata Ariel membulat kesal. Wajahnya meringis sambil mengelus bahunya yang terasa nyeri. Begitu terlepas dari pelukan Ariel, Ririn segera bangkit berdiri. "Aku yang harus tanya, kenapa Bapak memelukku terus mencium leherku, Bapak juga menggigitku!" Ririn tak kalah keras membentak. Sekali lagi mata Ariel terbelalak. Dia baru sadar akan perbuatannya. Ada rasa bersalah di hatinya saat melihat Ririn mengelus lehernya. Ada bekas merah di sana. Bukan Ariel namanya jika harus mengakui kesalahannya. "Kamu belum pernah digigit buaya daratkan? nah itu aku cuma ngasih tahu rasanya!" Ririn makin kesal. Matanya yang bulat makin bulat, giginya gemeretuk. "Kalau begitu, maaf aku tidak mau membersihkan ruangan buaya, silahkan suruh OB!" Ririn melemparkan kain lapnya di sofa. Kemudian berbalik dan pergi. Melihat Aksi mogoknya, Ariel segera mencegahnya. "Hei, mau kemana kamu, kembali, kalau tidak..." Ririn langsung menoleh, Ariel pun tersenyum pongah. "Kalau tidak apa, mau pecat aku? silahkan dipecat, aku memang lebih baik menganggur dari pada harus bekerja di kandang buaya darat!" Senyum Ariel langsung lenyap dari wajah angkuhnya. Tapi Ririn tidak perduli, dia tetap saja berlalu dan keluar dari ruangan bosnya. Dengan kesal, Ririn membanting pant*tnya di kursi. "Eerrrgggg!" Tangannya mengepal keras. "Dia pikir dia siapa, mentang-mentang dia Bos gitu, jadi seenaknya berbuat sesuka hati?" Batin Ririn mengumpat-umpat. Tapi wajahnya tetap saja menggabarkan isi hatinya. Telpon di dekatnya berdering. Tanpa sadar dia langsung mengangkatnya. "Kamu …, masuk kembali ke ruanganku!" Ririn menutup telponnya dengan kasar. Tanpa ada keinginan untuk masuk ke ruangan Ariel kembali. Tak berapa lama, telpon itu pun berdering lagi. Ririn sudah tidak mau mengangkatnya. Lisa yang sudah kembali dari kamar kecil merasa penasaran dan langsung mendekat, “Eh … kenapa tidak diangkat Mba?” “Malas bicara sama buaya darat!” Wajah dan suara Ririn sungguh menyiratkan rasa geram. Telepon berdering lagi dan Ririn masih tak bergeming. Terpaksa Lisa yang mengangkat telponnya. "Ya Pak, ini Lisa!" “Suruh Ririn menyiapkan sarapan untukku!” "Baik Pak!" Lisa langsung menatap Ririn. "Mba Ririn, Pak Ariel meminta kamu siapin sarapan!" "Haahh." Ririn menatap Lisa dengan sendu. Lalu dengan lemas dia beranjak dari kursinya hendak keluar. Begitu Ririn berlalu, barulah Lisa menutup teleponnya. Tanpa sengaja mata Lisa menangkap bekas merah di leher jenjang Ririn, matanya langsung menyipit, tapi Ririn sudah berlalu pergi. Di dalam ruangannya, Ariel tersenyum puas dan gemas. Hatinya berbunga-bunga. "Akh kenapa denganku?" Ariel mengusap wajahnya tapi senyumnya masih mengembang. Tapi kemudian wajahnya kembali berubah masam, “Tidak … dia itu gadis Papa, aku tidak boleh menyimpan rasa sama dia, aku harus membencinya, ya … aku tidak pernah suka sama perempuan murahan!” Selama ini sudah banyak gadis yang diciumi dan dicumbuinya. Akan tetapi tak satupun dari mereka yang membuatnya terkesan, apalagi sampai membuatnya tersipu dan terus tersenyum jika mengingatnya. Bahkan dia memang tidak mengingatnya sama sekali. Tiba-tiba dia teringat dengan Mamanya. Kondisinya yang setengah lumpuh, hingga tak mampu berjalan dengan baik, membuat dirinya begitu lambat berjalan. Sudah sekian kali Mamanya meminta dia menikah tapi Ariel terus menolak karena memikirkan tentang nasib Mamanya. Dia tidak ingin gegabah mencari istri. Itu karena dia takut nantinya akan mendapat istri kasar dan arogan seperti Kakak iparnya, istrinya Amil. Dia tidak pernah bersikap lembut dan sopan pada Mamanya. Apalagi bila bersangkutan dengan bocah kembarnya. Ariel mendesah panjang dan mengusap wajahnya. "Kasihan Mama!" Gumamnya. Ariel menutup matanya. Dia membayangkan betapa Mamanya sangat kesepian. Dia hanya ditemani oleh seorang perawat pribadi dan tidak diizinkan untuk bermain dengan cucunya. Itu karena kondisinya yang agak lumpuh sementara kedua cucunya sangan lincah dan nakal. Ariel sadar jika sikap iparnya itu juga untuk kebaikan Mamanya, tapi cara bicaranya yang membuat Ariel tidak senang. Sementara Papanya yang telah menikah lagi dengan gadis muda dan kini tengah hamil tua, membuatnya sudah jarang menemani Mamanya. Ariel menarik napas mengingatnya. Rasa kesal dan sedih semakin mengerogoti jiwanya. "Haah apakah ada wanita yang bisa menerima kondisi Mama?" Ariel membatin. Hingga tak sadar OB yang dipanggilnya sudah masuk dan membersihkan ruangannya. Saat OB selesai dengan pekerjaannya, Ririn pun sudah datang pula dengan kopi dan sarapan di nampan. Mereka berpapasan di depan pintu. "Eh Bang, bentar deh!" OB itu menoleh, "ya ada apa Mba?" "Eh hehe boleh ga, Abang bawain ini ke ruangan Pak Bos?" Seraya menyodorkan nampannya. OB itu mengangguk, "iya Mba, boleh!" sambil menaruh alat kebersihan di lantai dan meneriman nampan dari tangan Ririn. "Makasih ya Bang, biar alat-alat ini aku yang bawakan ke bawah ya!" "Eh ga usah Mba, taroh di sana aja!" Sambil menunjuk dengan mukanya. OB itu pun kembali masuk ke ruangan Ariel. Ririn juga mengambil alat kebersihan itu dan menaruhnya di dekat pintu. Ariel langsung mengepalkan tangannya, saat yang mengantar sarapan bukan Ririn melainkan OB. "Ririn mana, kenapa bukan dia yang antar?" OB meletakkan nampan di depan Ariel, "Maaf Pak, tadi dia minta tolong sama aku untuk membawanya masuk!" "Ya sudah kamu boleh pergi!" OB itu pun melangkah keluar dengan tenang. Akan tetapi hati Ariel yang tidak tenang. "Sial, berani sekali tuh anak mengancam aku pake ngambek! Awas ya, lain kali tidak akan aku lepaskan!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD