Suara peluit panjang menggema di lapangan basket. Pertandingan antar kelas baru saja berakhir, dan kelas XI IPS kembali meraih kemenangan. Semua orang tahu penyebabnya ya dia Raka, kapten tim basket yang jadi idola sekolah.
Sayangnya, kemenangan itu harus dibayar mahal. Saat melakukan lay up terakhir, pergelangan kaki Raka mendarat tidak pas.
“Aduh…” Raka meringis sambil memegang kakinya.
“Ka, lo kenapa?” tanya Dimas, sahabat sekaligus wakil kapten tim basket, langsung menghampiri.
“Biasa, keseleo dikit.” Raka mencoba berdiri dengan sok gagah, tapi wajahnya jelas menunjukkan rasa sakit.
“Dikit apaan, coba jalan deh!” Dimas mencoba mengangkat tubuh Raka. Raka melangkah sekali, langsung oleng.
“Udahlah, lo ke UKS aja. Ntar makin parah.”
Dengan bantuan dua temannya, Raka akhirnya dipapah keluar lapangan. Walau masih sempat tersenyum pada supporter yang memanggil namanya, langkahnya tertatih.
---
Di ruang UKS, suasana seperti biasa: tenang, bau obat antiseptik samar-samar tercium. Nayla sedang merapikan kotak P3K di rak, ditemani Alya yang sejak tadi sibuk bercerita panjang lebar tentang gosip kelas lain.
“Eh, Nay, lo denger nggak? Katanya si Sinta nembak kakak kelas di depan kantin. Ditolak, tapi tetep kasih cokelat. Ih, drama banget nggak sih?” Alya cengengesan.
Nayla hanya mengangguk pelan, lebih fokus menyusun kapas dan plester. “Kasihan, tapi yaudah lah. Namanya juga cinta remaja kan.”
Tiba-tiba pintu UKS terbuka. Dimas masuk duluan dengan suara keras. “Permisi, ada pasien VIP nih!”
Di belakangnya, Raka dipapah oleh teman lain. Wajahnya keringat bercampur debu, tapi senyumnya masih ada.
“Pasien VIP apaan sih, Dim?” tanya Nayla sambil berdiri.
“Kapten basket idola sekolah, siapa lagi? Kakinya keseleo. Untung ada dokter masa depan di sini,” jawab Dimas dengan nada menggoda.
Alya langsung ikut nimbrung. “Wih, Nay, ini kesempatan lo banget. Merawat cowok populer. Kayak di drama-drama gitu.”
“Apaan sih kalian.” Nayla pura-pura cuek, tapi telinganya merah.
Raka duduk di ranjang UKS dengan wajah meringis. “Sorry, ganggu shift lo, Dokter.”
“Bukan shift. Gue cuma bantu Bu Rini,” jawab Nayla singkat. Ia jongkok, melepas sepatu basket Raka dengan hati-hati.
Begitu kaus kaki ditarik, terlihat pergelangan kakinya bengkak kemerahan. Nayla langsung serius. “Ini udah lumayan parah. Harus dikompres dingin, terus jangan dipaksain buat main.”
“Besok semifinal, Nay. Masa gue nggak main?” suara Raka cemas.
Nayla mendongak, menatap matanya. “Lo mau jadi kapten jagoan sehari atau kapten pincang selamanya? Pilih.”
Raka terdiam. Tatapan Nayla serius tapi ada ketulusan di sana. Hening sejenak, hanya suara kipas ruangan di UKS ini yang terdengar.
Dimas berbisik pada Alya, cukup keras untuk memecah suasana. “Al, lihat tuh. Tatapan intens. Gue rasa udah kayak adegan film.”
Alya mengangguk sambil menutup mulut, menahan tawa. “Tinggal ada background musik mellow, fix romantis dah xixixi”
Nayla mendelik ke arah mereka. “Kalian berdua keluar! Ganggu banget.”
Dimas dan Alya saling pandang lalu tertawa. “Baik, baik. Kita kasih privasi buat pasien sama dokternya.” Mereka pun keluar sambil cekikikan.
---
Begitu ruangan hanya tinggal mereka berdua, Raka menatap Nayla dengan lebih santai. “Mereka emang gitu ya suka rese, ya?”
“Biasa, mulut Alya nggak ada remnya,” jawab Nayla sambil mengambil handuk kecil dan botol air dingin dari kulkas kecil UKS.
Ia menaruh kompres dingin di pergelangan kaki Raka dengan hati-hati. Raka sedikit meringis, lalu menghela napas lega.
“Nay, lo sering banget di UKS ya?” tanya Raka.
“Iya. Gue suka bantu-bantu Bu Rini disini. Lumayan, bisa belajar banyak,” Nayla tersenyum tipis. “Lagian, gue kan pengen jadi dokter.”
“Cocok sih. Lo punya vibe dokter banget. Tenang, detail, dan… bikin orang merasa aman.”
Nayla refleks berhenti sebentar, jantungnya berdegup kencang. “Apaan sih. Jangan gombal.”
“Gue serius.” Raka menatapnya lurus, nada suaranya lebih rendah dari biasanya.
Nayla buru-buru menunduk, melilitkan perban elastis di kaki Raka. “Udah, jangan banyak ngomong. Gue pasang perban dulu biar lebih stabil.”
“Siap, Dok.” Raka nyengir, tapi matanya masih menatap Nayla.
---
Setelah selesai, Nayla berdiri. “Oke, udah beres. Jangan dipaksain latihan dulu. Kalau maksa, bisa makin parah.”
Raka mengangguk. “Thanks, ya Nay.”
Hening sejenak. Raka tiba-tiba menambahkan dengan suara lebih pelan, hampir seperti bisikan. “Lo tau nggak… gue seneng banget kalau cedera terus ketemu lo di sini.”
Nayla tertegun, wajahnya memanas. “Eh, jangan aneh-aneh. Mending lo istirahat.”
Raka hanya tersenyum, tidak membantah.
Dan sejak hari itu, entah kenapa, Raka jadi punya alasan baru untuk mampir ke UKS. Kadang cederanya serius, kadang hanya lecet kecil, tapi ujung-ujungnya selalu Nayla yang merawat.
Sementara di luar UKS, Alya dan Dimas sudah saling bertaruh: siapa duluan ya yang berani mengaku perasaan, Raka atau Nayla nih.