Bab 1: Pertemuan Pertama
Hujan deras baru saja reda sore itu. Jalanan depan SMA Harapan Bangsa masih basah, aroma tanah bercampur air hujan tercium jelas. Anak-anak berseragam putih abu-abu berlarian keluar gerbang, beberapa menenteng jas hujan, beberapa lagi sibuk melindungi buku dari cipratan air.
Nayla, siswi kelas XI jurusan IPA, berdiri di bawah pohon flamboyan dekat lapangan basket. Rambutnya yang panjang dikepang sederhana, kacamata bulat bertengger di hidungnya. Ia memeluk buku biologi tebal di d**a, menunggu hujan benar-benar reda sebelum pulang.
“Eh, lo sendirian aja?” suara berat seorang cowok terdengar dari samping.
Nayla menoleh. Seorang siswa dengan tubuh tinggi, kulit kecokelatan, dan rambut sedikit berantakan sedang menenteng tas selempang. Seragamnya rapi tapi ada sedikit lumpur di ujung celana, sepertinya habis lari-larian di lapangan.
“Oh, ka Raka ya? Iya, lagi nunggu hujan berhenti dulu.” Nayla tersenyum kaku.
Raka. Kapten tim basket sekaligus anak OSIS yang lumayan populer di sekolah. Semua orang tahu cita-citanya: ingin masuk akademi militer setelah lulus.
“Lo nggak bawa payung?” Raka mengernyit.
Nayla menggeleng. “Ketinggalan di rumah.”
Tanpa banyak bicara, Raka membuka payung hitam dari tasnya, lalu mengulurkannya ke arah Nayla. “Nih, pakai aja. Gue udah biasa kehujanan.”
Nayla tertegun. “Loh, tapi—”
“Udah, ambil aja. Nanti lo sakit, sayang banget masa depan dokter harus berhenti gara-gara flu.” Raka terkekeh.
Nayla memandangnya bingung. “Kok lo tahu gue mau jadi dokter?”
Raka menepuk jidat pura-pura lupa. “Ya jelas tahu lah. Semua anak sekolah ini kayaknya udah hafal. Nayla si juara kelas yang tiap hari nongkrong di UKS, bantuin Bu Rini ngurusin anak-anak pingsan.”
Pipi Nayla merona. “Ih, lebay banget deh…”
Raka nyengir lebar. “Yaudah, lo pulang duluan aja. Besok kalau sempat, balikin payung nya ke kelas gue ya.”
Nayla menerima payung itu dengan hati yang entah kenapa jadi hangat. Saat ia berjalan menjauh, diam-diam ia menoleh ke belakang. Raka masih berdiri di bawah pohon, menatap langit sore yang mulai cerah dengan ekspresi tenang.
Sejak hari itu, nama Raka jadi lebih sering berputar di kepala Nayla.