part 2. pertolongan

1778 Words
“Pria itu pakai pengaman, ‘kan?” tanya Mami Rosa mendongak menatapku yang saat ini duduk di hadapannya. Sudah beberapa hari berlalu setelah aku melayani Snow di malam itu, dan sejak itu aku selalu mencari alasan agar tidak melayani tamu dulu, bahkan aku berbohong sakit, aku terus muntah dan badanku sakit semua. Padahal Snow tidak sehebat itu membuatku kelelahan. Aku berbohong demi menghindari pelanggan yang akan menggunakan jasaku. “Jawab, Melodi!” “Pakai, Mi,” jawabku. Aku juga lupa, Snow pakai pengaman atau tidak. “Mulai seterusnya jangan pernah menerima pria itu lagi.” Aku mendongak dan menatap Mami Rosa. Seolah aku tidak terima, jika aku dilarang melayani Snow. Entah, aku tidak tahu apa alasannya. “Kenapa, Mi?” “Kamu sakit kan setelah bersamanya? Artinya dia sudah membuatmu sakit.” “Aku—” “Diam, Melodi. Kamu jangan pernah melawanku. Aku sudah katakan, kamu milikku. Malam ini ada seorang pria yang memintamu untuk ke hotel Bezela. Kamu ke sana malam ini, Rex akan mengantarmu ke sana.” Aku mendesah napas halus. Di dalam hati, akusudah ingin menangisi nasibku. Banyak hal yang terjadi dalam hidupku, tiba-tiba sudah di Zurich dan tiba-tiba sudah menjadi seorang wanita penghibur. Aku tak bisa lagi berasalan. “Kamu harusnya bersyukur. Banyak yang menginginkanmu di sini. Kamu malah mengalahkan anak-anak Mami yang lain,” sambung mami Rosa membuatku diam saja. Aku menunduk, sesaat menoleh melihat dua wanita lainnya yang kini duduk menunggu giliran. “Ya sudah, pergilah, minum obatmu. Cepatlah sembuh, jangan buat aku pusing, kamu belum mengembalikan modal yang aku keluarkan untuk membawamu kemari.” Aku mengangguk. Tapi tak benar-benar pergi dari sana. “Win, Na, sini,” panggil Mami Rosa pada wanita lain yang duduk di sofa tadi. “Iya, Mi.” “Kamu ini kenapa sih, Win? Kata Om Leks katanya punyamu bau, kamu mandi, ‘kan?” “Maaf, Mi, kemarin sampai keringatan melayani Om Leks, dia kuat banget, jadinya aku berkeringat dan bau badan,” ujar anak Mami itu. “Dan, kamu, Na, kamu ini kenapa diam aja kayak patung? Banyak loh yang complain ini,” geleng Mami Rosa. “Sebenarnya aku lagi patah hati, Mi, gara-gara diputusin pacar.” “Lah iya di putusin pacar, tapi di sini kan kalian kerja.” Aku pergi dari sana dan meninggalkan tempat, pembahasannya cukup menjengkelkan, aku berharap suatu saat nanti ada yang menolongku keluar dari sini, atau ada yang menolongku sebelum waktunya bertemu dengan pria yang akan menggunakanku. *** Udara malam itu terasa seperti pisau yang mengiris kulitku. Melodi—nama yang kini terasa seperti beban di pundakku, aku melangkah keluar dari bar dengan mantel tipis yang tak mampu menahan gigitan musim dingin Swiss. Di sampingku, Rex berjalan dengan langkah besar dan kaku. Rex adalah asisten kepercayaan Mami Rosa. Pria keturunan Balkan dengan kepala plontos dan bekas luka di pelipisnya. Rex tidak banyak bicara, namun tangannya yang besar siap menarikku kembali jika aku berani melangkah satu senti pun keluar dari jalur. "Cepat sedikit," geram Rex, uap putih keluar dari mulutnya setiap kali ia bicara. Aku memilih diam saja. "Tuan itu tidak suka menunggu. Kalau kau mengacau lagi seperti malam pertama, Mami tidak akan segan-segan memasukkanmu ke gudang bawah tanah." Aku tidak menjawab. Aku menunduk, menatap sepatu botku yang sudah mulai basah oleh salju yang mencair. Di dalam hatiku, aku berharap pria di Hotel Bezela ini setidaknya memiliki sedikit kemanusiaan atau setidaknya tidak sekasar tamu-tamu di bar. Aku melihat pemandangan sepanjang jalan, gedung-gedung tinggi seolah bergulir melaluiku, perasaanku benar-benar seperti belati yang siap menusuk jantungku. Aku akan mengalah. Aku akan berusaha tenang, aku tidak bisa terus menerus menolak, aku juga di sini butuh biaya besar, makan, pakaian dan juga tempat tinggal, juga mengirim uang pengobatan Ayah. Tak butuh waktu lama Sesampainya di Hotel Bezela, suasana berubah menjadi sunyi yang mencekam. Karpet merah tebal meredam suara langkah kaki mereka. Rex membawaku menuju lift, lalu berhenti di depan kamar nomor 302. "Ingat, Melodi, kau adalah Melodi. Manis, penurut, dan tidak banyak bicara. Lakukan tugasmu dan kau akan aman." Rex mencengkeram lenganku dengan kuat sebelum mengetuk pintu. Aku menganggukkan kepala, aku seperti ingin menangis, namun aku tahan karena tak mau terlihat menyedihkan. Rex mengetuk pintu tiga kali. Suara berat dari dalam menyahut, dan pintu pun terbuka. Rex mendorongku masuk, lalu menutup pintu dari luar dengan suara klik yang final. Ruangan itu sangat hangat, sama dengan udara di luar. Bau cerutu mahal dan aroma cologne menyengat memenuhi indera penciumanku. Di kursi dekat jendela yang menghadap ke arah Danau Zurich, seorang pria tua bertubuh tambun duduk sambil menyesap wiski. "Ah, Melodi, Rosa tidak berbohong. Kau memang cantik sekali di bawah lampu yang terang." Pria tua itu berdiri, matanya yang kecil dan licik memindai tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan lapar. Aku merasa mual. Aku merapatkan mantelku, namun pria tua itu mendekat dan menarik mantel itu dengan kasar hingga jatuh ke lantai. Aku kini berdiri gemetar dalam balutan gaun hitam pendek yang sangat tipis. "Jangan takut, Sayang. Aku sudah membayar mahal untuk malam ini. Jangan rusak suasana dengan wajah sedihmu itu." Pria itu mengelus pipiku dengan jarinya yang gemuk dan basah. Saat pria tua itu mulai menarikku menuju ranjang besar di tengah ruangan, pikiranku tiba-tiba melayang kembali ke kamar nomor 7 di bar Mami Rosa. Aku teringat pada Snow yang impoten. Aku teringat betapa berbedanya sentuhan Snow meski dominan dan keras, sentuhan Snow memiliki jiwa yang membuatku merasa diinginkan sebagai manusia, bukan hanya sebagai barang. Pria tua ini membuatku merasa kotor, sementara Snow membuatku merasa terbakar. "Tunggu, Tuan." Aku mencoba menahan tangan pria itu saat ia mulai mencoba membuka kancing gaunku. "Diamlah! Aku membayar bukan untuk mendengar penolakan!" Pria tua itu membentak, wajahnya memerah karena amarah. Ia mendorongku ke atas ranjang dengan kasar. Tepat saat aku memejamkan mata, bersiap untuk kehancuran lainnya, sebuah suara ketukan pintu yang sangat keras dan berwibawa menginterupsi. Bukan ketukan pelan seperti Rex, melainkan ketukan yang menuntut untuk dibuka. Pria tua itu mengumpat. "Siapa itu?! Rex, bukankah aku bilang jangan diganggu!" Tidak ada jawaban dari luar, namun gagang pintu tampak bergerak-gerak. Aku merasakan jantungku berdegup kencang, namun senang karena ada yang mencegah. Pria tua itu lalu melangkahkan kakinya membuka pintu kamar karena kemungkinan itu layanan kamar yang sudah ia pesan. Pintu itu terbuka dengan dentuman keras, seolah dihantam oleh badai dari luar. Aku terbelalak saat seorang wanita paruh baya dengan pakaian bulu yang sangat mewah dan wajah yang memerah karena murka merangsek masuk. Di belakangnya, Rex tampak pucat pasi, tak berdaya menahan amukan wanita itu. "DASAR p*****r KOTOR!" Suara pekikan itu memecah keheningan Hotel Bezela. Sebelum aku bisa mencerna apa yang terjadi, wanita itu istri dari pria tua di depannya sudah berada di hadapannya. Tangan wanita itu yang dihiasi berlian besar melayang, memberikan tamparan yang begitu keras hingga telingaku berdengung. Pria tua itu mencoba bangkit, wajahnya pucat pasi. "Helena! Ini tidak seperti yang kau lihat!" "Diam kau, babi tua!" Helena tidak peduli pada suaminya. Matanya yang dipenuhi api kebencian tertuju sepenuhnya padaku. Ia menjambak rambut panjangku dengan sangat kuat, menariknya hingga kepalaku terdongak paksa. "Kau pikir kau bisa merayu suamiku dengan wajah memelasmu ini, hah?!" Helena menyeretku keluar dari kamar. Aku yang hanya mengenakan gaun tipis terjerembap, lututku menghantam lantai marmer yang dingin, namun Helena tidak berhenti. Ia terus menjambak rambutku, menyeretku ke koridor hotel, lalu menuju lobi utama di mana banyak tamu kelas atas sedang berkumpul. "LIHAT SEMUA! LIHAT WANITA INI!" Helena berteriak di tengah lobi Hotel Bezela yang megah. Air mataku sudah tumpah begitu saja, aku diperlakukan seperti sampah di sini. "Sampah dari Asia ini mencoba mencuri suamiku! Dasar p*****r tidak tahu diri! Kamu benar-benar salah berurusan denganku!” Aku menangis sejadi-jadinya. Aku mencoba menutupi tubuhku yang nyaris telanjang dengan tangan yang gemetar. Semua orang di lobi, para sosialita Zurich, pengusaha berjas mahal, pelayan hotel, semuanya menatap dengan pandangan menghina. Mereka tidak melihatku sebagai korban, mereka melihatku sebagai noda di hotel mewah itu. "Ampun, Nyonya, saya tidak tahu," isakku, dengan suaraku yang parau. "Tidak tahu?! Kau tahu persis apa yang kau jual!" Helena meludahi wajahku, lalu menjambakku lagi, memaksaku berlutut di tengah lingkaran orang-orang yang menonton. “Wah. Dia benar-benar sudah mempermalukan harga dirinya.” “Dia memang tidak pantas.” “Kita viralkan saja dia.” “Boleh. Ayo ambil gambar dan videonya.” Wanita tua itu langsung menjambak rambutku lagi, menamparku berkali-kali hingga hidungku mengeluarkan darah, hingga pipiku memerah padam. Di tengah penghinaan yang seolah tak berakhir itu, pintu putar Hotel Bezela bergerak. Sesosok pria melangkah masuk. Ia mengenakan jaket parka gelap yang masih basah oleh salju, tampak sangat kontras dan miskin di lobi yang berkilauan emas itu. Pria itu adalah Snow. Dia pasti menyelamatkanku kan? Snow tidak datang untukku. Ia sedang berjalan dengan terburu-buru menuju meja resepsionis, tampak memegang sebuah map tua dengan rahang yang mengeras, seperti ada urusan hidup dan mati yang harus ia selesaikan. Aku mencoba berteriak namun mulutku dibekap dua pengawal Helena. Namun, aku terkejut lagi ketika langkah Snow terhenti saat matanya menangkap pemandangan di tengah lobi. Snow melihatku. Ia melihat gadis yang malam lalu gemetar di bawah sentuhannya, kini sedang diinjak-injak harga dirinya oleh wanita dengan pakaian berbulu itu. Snow melihat air mataku yang jatuh di atas marmer dingin, sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang gelap dan posesif itu meledak, mungkin ya. Snow tidak berlari. Ia berjalan dengan tenang namun setiap langkahnya memancarkan aura kematian yang membuat orang-orang di sekitarnya tanpa sadar memberi jalan. "Lepaskan dia," ucap Snow. Suaranya tidak keras, tapi begitu dingin hingga membuat bulu kuduk semua orang berdiri. Helena menoleh, mencibir melihat pria yang tampak seperti gembel itu. "Siapa kau?! Jangan ikut campur, gelandangan!" Snow tidak membalas makian itu. Ia hanya mendekat, meraih pergelangan tangan Helena yang menjambak rambutku dan meremasnya dengan tenaga yang sanggup mematahkan tulang. Helena memekik kesakitan dan terpaksa melepaskan jambakannya. "Aku tidak akan mengatakannya dua kali," bisik Snow tepat di depan wajah Helena. Matanya kini bukan lagi mata pria miskin, melainkan mata seorang predator puncak. "Pergi dari sini sebelum aku membuat suamimu kehilangan segalanya dalam satu detik." Helena gemetar. Ia melihat sesuatu di mata Snow yang membuatnya ketakutan setengah mati, sebuah otoritas yang tak ia pahami. Ia mundur dan menarik suaminya yang ketakutan, dan pergi dengan terburu-buru. Lobi hotel menjadi sunyi. Aku masih meringkuk di lantai, menangis tanpa suara, tubuhnya bergetar hebat karena malu dan kedinginan. Snow melepas jaket parka-nya yang basah, lalu menyelimutkannya ke tubuhku yang terbuka. Ia berlutut di depanku. Ia tidak memeluk dengan hangat, ia hanya memegang tengkukku, memaksaku menatap matanya. "Sudah kubilang, jangan menangis!" ucap Snow, suaranya datar namun tajam. Snow kemudian berdiri, mengangkat tubuhku dalam gendongannya di depan semua mata yang masih memandang. Ia mengabaikan urusan mendesaknya. Snow membawaku keluar menembus badai salju, meninggalkan kemewahan palsu Hotel Bezela menuju kegelapan malam Zurich yang hanya kami mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD