part 3. jijik

1700 Words
Snow tidak menggendongku dengan kasih sayang. Ia menyentakkan tubuhku, memaksaku berdiri meski lututku lemas dan gemetar. Jaket parka besarnya yang berbau tembakau dan salju dilemparkan ke bahuku bukan untuk menghangatkan, melainkan untuk menutupi aib yang menurutnya mengotori pandangannya. "Jalan," perintah Snow pendek. Suaranya tidak mengandung simpati. Itu adalah suara seorang majikan kepada budaknya. Aku yang masih terisak dengan rambut berantakan dan pipi yang bengkak bekas tamparan istri pengusaha tua tadi, hanya bisa mengekor. Rex asisten Mami Rosa, mencoba mendekat untuk mengambil kembali aset bosnya, namun satu lirikan dari Snow, lirikan yang penuh dengan janji kematian membuat pria berotot itu terpaku di tempat. Snow membawaku menembus badai salju Zurich yang kian mengganas, menjauh dari gemerlap Hotel Bezela menuju sisi kota yang tidak pernah masuk dalam kartu pos. Tak lama kami tiba di sebuah bangunan tua yang tampak hampir runtuh di gang sempit daerah Langstrasse. Ini adalah sisi kumuh Zurich, tempat para pecandu dan imigran gelap bersembunyi. Itu yang aku lihat disekitarnya. Snow menaiki tangga kayu yang berderit parah, lalu menendang pintu sebuah kamar di lantai paling atas. Kamar itu kecil, pengap, dan hanya diterangi oleh satu bohlam kuning yang berkedip. Tidak ada pemanas ruangan yang layak. Hanya ada satu ranjang sempit dengan sprei abu-abu yang kusam, sebuah meja kayu dengan kaki yang pincang, dan sebuah kompor listrik satu tungku yang berkarat. Ini adalah kemiskinan yang hakiki, sebuah ruang sempit yang hanya cukup untuk dua orang bernapas itu pun jika mereka bersedia berbagi udara yang apek. Snow membanting pintu hingga debu jatuh dari langit-langit. Ia berbalik, menatapku yang berdiri mematung di tengah ruangan. "Lepaskan jaketku," desis Snow. Aku gemetar, tanganku yang dingin mencoba membuka ritsleting jaket itu. Begitu jaket itu jatuh ke lantai, aku berdiri hanya dengan gaun hitam tipis yang sudah robek di bagian bahu akibat jambakan tadi. Aku berharap Snow akan memelukku atau setidaknya memberiku air minum. Namun, Snow justru melangkah mundur. Matanya memindai tubuhku dengan tatapan yang membuatku merasa lebih telanjang daripada saat aku berada di depan pria tua tadi. Mata itu penuh dengan perasaan jijik. "Kau terlihat sangat menjijikkan," ucap Snow dingin. Ia mendekat, bukan untuk menyentuh dengan lembut, melainkan untuk mencengkeram rahangku dengan kasar, memaksaku menatap ke arah cermin kecil yang retak di dinding. Ini bukan Snow yang aku kenal di kamar nomor 7 itu. Snow yang di kamar itu, adalah Snow yang lembut. Tapi, kenapa berubah? “Hm?” "Lihat dirimu. Lihat bekas merah di lehermu, lihat sisa keringat pria tua itu yang masih menempel di kulitmu. Kau kotor. Kau sampah yang sudah disentuh oleh terlalu banyak tangan." "Aku tidak punya pilihan," isakku, air mataku jatuh mengenai tangan Snow. Snow segera menarik tangannya seolah-olah air mataku adalah racun yang membakar kulitnya. Ia mengambil sebotol air mineral murah dari meja dan menyiramkannya ke wajahku, seakan ingin membilas sisa-sisa dosa yang melekat di sana. "Jangan gunakan alasan pilihan di depanku. Kau menjual dirimu, dan kau menikmatinya, bukan?" Snow mencibir, tawanya terdengar hambar dan kejam. “Aku—” "Aku membencimu. Aku membenci setiap inci kulitmu yang sudah dijamah orang lain. Aku jijik melihatmu merangkak di lantai hotel tadi hanya untuk beberapa Franc." Aku kembali terisak, bahuku berguncang. "Kalau kau membenciku, kenapa kau membawaku ke sini? Biarkan aku kembali ke Mami Rosa! Biarkan aku hancur sekalian!" Snow melangkah maju, memojokkanku ke dinding kayu yang dingin. Ia menekan lengannya ke tenggorokanku, tidak cukup kuat untuk mencekik, tapi cukup untuk membuatku kesulitan bernapas. "Karena aku belum selesai denganmu," bisik Snow tepat di depan bibirku. Napasnya dingin, sedingin hatinya. "Aku membencimu, tapi aku tidak akan melepaskanmu. Kau adalah milikku sekarang. Bukan karena aku menyukaimu, tapi karena aku ingin memastikan tidak ada pria lain yang bisa menyentuh barang rongsokan ini selain aku." Snow melepaskan tekanannya dan berjalan menuju pojok ruangan, mengambil sepotong roti kering yang sudah keras. Ia melemparkannya ke atas meja. "Makan itu dan jangan harap kau bisa tidur di ranjang itu denganku. Kau tidur di lantai. Tempat yang pantas untuk wanita sepertimu." Snow menunjuk lantai kayu yang kotor dan berdebu Malam itu, di dalam gubuk kecil yang pengap, kebencian Snow terasa lebih nyata daripada rasa dingin salju di luar. Snow berbaring di ranjang sempit, memunggungiku. Sementara aku meringkuk di lantai, hanya beralaskan jaket parka Snow yang basah. Aku menatap punggung Snow. Aku bingung. Pria ini menyelamatkannya dari penghinaan di hotel, namun ia memberikan penghinaan yang lebih dalam di sini. Dan, Snow berubah, bukan pria dari kamar 07. Snow seolah ingin menyiksaku dengan kehadirannya, menunjukkan bahwa aku sangat tidak berharga, namun secara bersamaan mengurungku dalam kepemilikan. "Snow." "Diam! Suaramu membuatku mual. Tidurlah, sebelum aku berubah pikiran dan melemparmu kembali ke jalanan agar kau bisa melayani anjing-anjing liar." Snow berkata seperti itu tanpa berbalik melihatku. Aku memejamkan mata, memeluk tubuhku sendiri. Di ruangan sesempit itu, jarak di antara mereka terasa seperti ribuan kilometer. Snow membenciku. Snow jijik padaku. Namun, di dalam gubuk miskin itu, aku sadar bahwa aku baru saja berpindah dari satu neraka ke neraka lain yang jauh lebih dingin dan tak terduga. *** Pagi itu di daerah Langstrasse tidak diawali dengan kicauan burung, melainkan suara mesin truk sampah dan teriakan para pemabuk yang belum pulang ke rumah. Di dalam gubuk kecil itu, cahaya matahari yang pucat masuk melalui celah-celah kayu, menerangi debu yang menari-nari di udara pengap. Aku terbangun dengan sekujur tubuh yang kaku. Lantai kayu yang keras dan dingin telah menyiksa tulang-tulangku sepanjang malam. Aku melirik ke arah ranjang, namun Snow sudah tidak ada di sana. Pria itu berdiri di dekat jendela kecil, menghisap gulungan tembakau murah dengan tatapan kosong ke arah gang sempit di bawah. "Bangun, Sampah," desis Snow tanpa menoleh. Aku mendesah napas halus dan mendongak menatap Snow. "Bau tubuhmu memenuhi ruangan ini. Bersihkan lantai itu sebelum aku muntah." Aku merangkak bangun, mencoba mengabaikan rasa perih di hatiku. Namun, belum sempat aku menyentuh ember kayu di sudut ruangan, suara langkah kaki berat yang sangat aku kenali terdengar mendaki tangga. Kayu tua itu berderit protes, seolah akan patah. Brak! Pintu kayu yang rapuh itu ditendang hingga hampir terlepas dari engselnya. Rex berdiri di sana. Tubuh raksasanya memenuhi bingkai pintu, tangannya memegang tongkat pemukul besi, dan wajahnya merah padam karena amarah. Di belakangnya, dua pria pesuruh Mami Rosa berdiri dengan tatapan lapar. "Kau pikir kau bisa membawa aset Mami Rosa dan bersembunyi di lubang tikus ini, hah?!" teriak Rex. Suaranya menggelegar di ruangan yang sempit itu. Aku memekik, mundur hingga punggungnya menempel di dinding yang lembap. “Rex!" Rex tidak memedulikanku. Matanya terkunci pada Snow yang masih berdiri tenang, seolah kehadiran tiga pria bersenjata di kamarnya hanyalah gangguan kecil seperti lalat. "Serahkan Melodi, gelandangan, atau aku akan memastikan kepalamu berakhir di dasar Danau Zurich malam ini,”geram Rex sambil melangkah masuk, membuat lantai kayu itu bergetar. " Snow membuang puntung tembakaunya, mematikan apinya dengan ujung sepatu botnya yang sudah jebol. Ia berbalik perlahan. Tidak ada rasa takut di matanya, hanya ada kebosanan dan kebencian yang tajam. "Kau berisik sekali. Kau mengotori udaraku dengan bau keringatmu yang murah." Snow tak perduli. "b******k!" Rex mengayunkan tongkat besinya dengan kekuatan penuh ke arah kepala Snow. Aku memejamkan mata, berteriak ketakutan. Aku yakin Snow akan mati jika terus melawan Rex. Namun, suara yang terdengar bukanlah benturan besi pada tulang, melainkan suara yang mengerikan. Saat aku membuka mata, aku ternganga. Snow telah menangkap tongkat besi itu dengan satu tangan, tangan yang terlihat kurus namun sekeras baja. Dengan gerakan kilat yang hampir tidak bisa diikuti mata, Snow menarik tongkat itu, membuat Rex kehilangan keseimbangan, lalu menghantamkan sikunya tepat ke hidung Rex. Darah segar menyembur ke lantai kayu yang kotor. Rex terjerembap, meraung kesakitan. Dua anak buahnya mencoba merangsek maju, namun Snow bergerak seperti bayangan. Ia mengambil sebilah pisau lipat tua dari atas meja dan dalam satu gerakan yang sangat efisien, ia menyayat lengan salah satu pria itu hingga senjatanya terjatuh. Ruangan kecil itu menjadi medan pertempuran yang brutal. Snow tidak berkelahi seperti pahlawan, ia berkelahi seperti iblis yang efisien. Ia menjambak rambut Rex, menyeret kepala pria besar itu dan menghantamkannya ke pinggiran meja kayu hingga meja itu patah. "Dengar," bisik Snow tepat di telinga Rex yang sudah bersimbah darah. Snow menekan pisau lipatnya ke leher Rex, cukup dalam hingga setetes darah mengalir di kulit pria itu. "Katakan pada Rosa. Wanita ini bukan lagi urusannya. Jika ada satu lagi anjingnya yang berani mengendus pintu ini, aku akan membakar bar itu dengan kalian semua terkunci di dalamnya." Rex gemetar. Ia melihat mata Snow, mata yang bukan milik seorang gelandangan miskin. Itu adalah mata seseorang yang sudah terbiasa menghancurkan hidup orang lain tanpa berkedip. "Si ... siapa kau sebenarnya?" bisik Rex terbata-bata. "Bukan urusanmu. Sekarang pergi. Sebelum aku memutuskan untuk menguliti kalian semua di sini." Snow menyentakkan kepala Rex ke lantai. Rex dan dua anak buahnya merangkak keluar dengan sisa tenaga mereka, melarikan diri dari gubuk itu seolah baru saja melihat hantu. Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan deru napasku yang tidak beraturan. Snow berdiri di tengah ruangan yang kini berantakan, tangannya berlumuran darah Rex. Ia berbalik menatapku. Aku mencoba mendekat, tanganku gemetar ingin menyentuh lengan Snow. “Snow, kau terluka," lirihku. Snow menepis tanganku dengan kasar. Ia menatapku dengan tatapan yang lebih menyakitkan daripada pukulan Rex tadi. "Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu. Kau lihat? Gara-gara sampah seperti kau, kamarku yang sudah buruk ini menjadi makin menjijikkan karena darah anjing-anjing itu," desis Snow. Ia mengambil kain kumal dan menyeka darah di tangannya dengan ekspresi jijik. "Aku minta maaf, Snow, aku tidak bermaksud—" "Diam! Kau pikir aku menyelamatkanmu karena aku peduli? Jangan bermimpi. Aku hanya tidak suka barang yang sudah aku beli diganggu oleh orang lain sebelum aku puas menghancurkannya sendiri!" bentak Snow. Snow melangkah mendekatiku, menyudutkanku hingga tak bisa bergerak. Snow mencengkeram daguku, memaksaku menatap lantai yang kini penuh noda darah. "Bersihkan ini semua. Sekarang! Jika kau berani berpikir untuk lari, ingat apa yang kulakukan pada Rex tadi. Aku bisa melakukan hal yang lebih buruk padamu, Melodi." Snow kembali ke jendela, mengabaikan aku yang mulai memunguti potongan meja yang patah sambil menangis dalam diam. Di tengah kemiskinan dan kekacauan itu, aku sadar bahwa Snow adalah pelindung sekaligus monster yang paling menakutkan bagi hidupku saat ini. Aku sebenarnya bisa saja kembali ke bar tempat Mami Rosa, tapi aku lebih baik hidup menderita dengan kesengsaraan sikap Snow, daripada harus memberikan tubuhku dari satu pria ke pria yang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD