Suasana di gubuk sempit itu belum benar-benar tenang setelah kepergian Rex, namun ketegangan baru sudah merayap masuk melalui celah pintu yang rusak.
Salju di luar turun semakin lebat, seolah ingin mengubur tempat kumuh itu dalam keheningan yang mematikan.
Tiba-tiba, suara deru mobil mewah yang sangat tidak selaras dengan lingkungan Langstrasse terdengar berhenti tepat di bawah.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki yang anggun namun tegas menaiki tangga kayu. Kali ini bukan tendangan kasar, melainkan ketukan pelan yang sangat berirama.
Snow tidak bergerak dari posisinya di dekat jendela. Ia hanya melirik sekilas, sementara aku sudah mematung, wajahku pucat pasi. Aku tahu siapa yang datang. Hanya ada satu orang yang memiliki aura sedominan itu.
Pintu akhirnya terbuka dan memperlihatkan Mami Rosa masuk dengan mantel bulu cerpelai berwarna putih gading yang tampak sangat kontras dengan dinding kayu yang berjamur.
Di belakangnya, dua orang polisi lokal Zurich berdiri tegak, tangan mereka berada di dekat sarung pistol.
"Mami?" bisik Jelita, suaranya nyaris hilang.
Mami Rosa mengibaskan tangannya yang berhias berlian, menghalau debu di udara dengan ekspresi mual.
"Oh, Melodi sayang ... lihat tempat apa ini? Kau meninggalkan bar Mami yang hangat hanya untuk tidur di lantai berdebu bersama gelandangan ini?"
Mami Rosa kemudian menatap Snow dengan tatapan merendahkan.
"Petugas, ini pria yang saya maksud. Dia menculik aset berharga saya dan menyerang asisten saya, Rex, hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Tolong bawa gadis itu dan tangkap pria gembel ini."
Salah satu polisi melangkah maju, tangannya mengeluarkan borgol. Namun, Snow tetap tenang. Ia bahkan tidak melepaskan gulungan tembakaunya.
"Penculikan?" Snow akhirnya bersuara.
Suaranya rendah, namun memiliki getaran yang membuat polisi itu ragu sejenak.
"Gadis ini bersamaku atas kemauannya sendiri. Dan mengenai Rex ... itu hanya pertahanan diri terhadap anjing galak yang masuk tanpa izin."
"Jangan membual!" bentak Mami Rosa.
“Membual?”
"Kau tidak punya apa-apa untuk menghidupinya! Melodi punya hutang besar padaku dan kau hanya seorang parasit yang akan membuatnya mati kelaparan."
Snow mendengus pelan, sebuah tawa hambar yang penuh penghinaan. Ia merogoh saku celananya yang dekil, mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil yang tampak lusuh.
Dengan gerakan santai, ia melemparkan amplop itu ke atas meja yang sudah patah.
"Aku ayar hutangnya. Ambil itu, dan jangan pernah sebut namanya lagi di hadapanku."
Mami Rosa mengerutkan kening. Dengan jijik, ia membuka amplop itu menggunakan dua jari. Di dalamnya terdapat beberapa lembar uang Franc Swiss. Ia menghitungnya dengan cepat, lalu tiba-tiba tawa melengkingnya pecah, mengguncang ruangan sempit itu.
"Hah! Kau bercanda?!" Mami Rosa melemparkan uang itu kembali ke wajah Snow. Lembaran uang itu jatuh berserakan di atas noda darah Rex yang masih basah.
Aku bingung bagaimana menanggapi semua ini.
"Hanya segini? Kau memberikan beberapa ribu Franc dan berharap aku melepaskan angsa petelur emasku?"
Mami Rosa melangkah mendekati Snow, wajahnya penuh dengan seringai kemenangan.
"Dengar, Gelandangan. Melodi ini cantik. Dia masih segar. Jika aku membiarkannya dilayani oleh pria-pria kaya di Hotel Bezela atau klub elit lainnya, dalam satu malam saja aku bisa mendapatkan sepuluh kali lipat dari jumlah uang sampah yang kau berikan ini!"
Mami Rosa menoleh ke arahku yang menunduk karena takut, lalu kembali menatap Snow dengan jijik.
"Uangmu ini bahkan tidak cukup untuk membayar sewa kamarnya selama seminggu. Kau pikir harga diri seorang Melodi semurah itu? Di tanganku, dia adalah berlian. Di tanganmu, dia hanya beban yang akan mati kedinginan. Polisi, tunggu apa lagi? Bawa dia!"
Aku mulai menangis, aku menatap Snow dengan tatapan memohon. Aku tahu uang itu adalah segalanya bagi Snow yang miskin, tapi bagi Mami Rosa, itu hanyalah recehan.
Namun, Snow tidak tampak terkejut atau marah karena ditertawakan. Ia justru menatap Mami Rosa dengan tatapan yang sangat cerdik, seolah ia baru saja menjebak wanita itu ke dalam lubang yang ia gali sendiri.
"Sepuluh kali lipat, katamu?" Snow bertanya dengan nada tenang yang mematikan.
"Ya! Minimal!" tantang Mami Rosa.
Snow mengangguk pelan. Ia menoleh ke arah polisi. "Petugas, Anda mendengar itu? Nyonya ini baru saja mengakui secara terbuka bahwa dia melakukan praktik perdagangan manusia dengan menetapkan target pendapatan dari menjual gadis ini kepada pria-pria lain."
Wajah Mami Rosa mendadak berubah pucat. Polisi di belakangnya saling berpandangan. Di Swiss, meskipun prostitusi diatur, namun perdagangan manusia dan eksploitasi dengan pemaksaan hutang adalah kejahatan berat yang bisa membuat izin usaha dicabut seketika.
"Apa ... apa yang kau katakan?!" gagap Mami Rosa.
"Aku punya rekaman pembicaraan ini di ponselku yang ada di saku," Snow berbohong dengan wajah datar yang sangat meyakinkan, sebuah gertakan cerdik.
“Apa?” Mami Rosa membulatkan mata.
"Sepuluh kali lipat hasil dari pria lain? Itu adalah bukti eksploitasi. Jadi, pilihannya ada dua. Ambil uang itu sekarang, anggap hutangnya lunas, dan pergi dari sini tanpa keributan. Atau, kita biarkan petugas ini membawa kita semua ke kantor polisi dan aku akan memastikan izin barmu dicabut malam ini juga karena kasus perdagangan manusia."
Mami Rosa gemetar hebat. Ia tidak menyangka pria gembel ini bisa bermain logika hukum secerdik itu.
Para polisi itu mulai tampak tidak nyaman, mereka tidak ingin terlibat dalam kasus human trafficking yang rumit jika ada bukti rekaman.
"Kau b******n licik!" geram Mami Rosa. Dengan tangan gemetar karena amarah yang memuncak, ia membungkuk, memunguti uang yang berserakan di lantai kayu yang kotor, uang yang tadi ia tertawakan.
Mami Rosa menatapku dengan tatapan penuh kebencian. "Ambil dia! Ambil sampah ini! Kita lihat berapa lama kau bisa bertahan hidup dengan pria miskin ini sebelum kau merangkak kembali ke kakiku memohon makanan!"
Mami Rosa berbalik dan keluar dari ruangan itu dengan langkah kasar, diikuti oleh polisi yang tampak bingung.
Suasana kembali sunyi. Aku merasa lega sekaligus ketakutan, aku menatap Snow yang masih berdiri tenang di dekat jendela.
"Snow, terima kasih," ucapku, lirih.
Snow menoleh. Alih-alih senyum kemenangan, ia menatapku dengan tatapan yang lebih dingin dari sebelumnya. Ia melangkah mendekatiku, menyudutkan aku ke dinding.
"Jangan berterima kasih padaku," desis Snow. Ia mencengkeram rahang Jelita hingga gadis itu meringis.
Aku diam dan menunggu jika ada lanjutan.
"Uang itu adalah seluruh tabunganku untuk bertahan hidup musim dingin ini. Dan sekarang, aku harus menghabiskannya hanya untuk membeli 'barang rongsokan' sepertimu agar tidak berisik."
Snow menatap tubuhku dengan ekspresi jijik yang sangat nyata. "Kau tahu apa artinya ini? Artinya, kau harus membayarnya padaku dengan cara lain. Dan percayalah, Melodi, hidupmu bersamaku di gubuk ini akan jauh lebih menderita daripada saat kau berada di bar Rosa. Karena aku membencimu, dan sekarang, aku memiliki setiap helai rambut di kepalamu."
Snow melepaskan cengkeramannya dan melemparkan ember pembersih ke kakiku.
"Sekarang, berlutut dan bersihkan noda bekas sepatu Rosa di lantainya. Jangan berhenti sampai lantai ini cukup bersih untuk aku injak tanpa merasa mual."
Aku berlutut, memegang kain pel dengan tangan bergetar. Di balik rasa syukur karena lepas dari Mami Rosa, aku sadar bahwa aku baru saja dibeli oleh pria yang sangat membenciku dan harganya adalah sisa martabat yang aku miliki.
Aku tidak tahu apa alasan Snow membenciku, malam itu ketika ia pertama menjadi pelanggan pertamaku yang menjama tubuhku, dia sangat baik, ia menyeka airmataku dan menyuruhku berhenti menangis.
Ketika melihat Snow sejak kemarin, aku seperti tak mengenalnya, jika bersama Mami Rosa, aku masih mengenalnya karena mami Rosa tahu rumahku di Jakarta, tapi pada Snow, semuanya tampak asing.
Aku tidak pernah menghina Snow yang impoten, aku melayaninya dengan baik karena dia pelanggan pertamaku, tapi mengapa ia sangat membenciku? Apa benar hanya karena aku adalah orang kotor?
Tak lama kemudian, seorang pria dan menghampiri Snow, lalu berbicara didekat telinga Snow, terlihat berbisik, Snow membulatkan mata, seolah kabar yang pria itu bawa begitu penting.
“Kamu tetap di rumah dan jangan kemana-mana,” kata Snow menoleh menatapku.
Aku menganggukkan kepala, aku mau kemana juga, aku tak mengenal siapa pun di sini. Aku hanya mengenal Mami Rosa dan sekarang Snow.