part 5. rahasia apa

1251 Words
Aku memeras kain kumal ke dalam ember, melihat air yang tadinya jernih kini berubah menjadi keruh, sewarna dengan hidupku sekarang. Aku bisa merasakan tatapan Snow di punggungku. Tatapan itu tidak hangat. Itu bukan tatapan seorang penyelamat. Itu adalah tatapan seorang pemilik yang sedang mengawasi barang cacat yang baru saja dibelinya dengan harga mahal. Seluruh tabungannya. Kata-kata itu terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Pria ini, yang bahkan mengenakan jaket dengan siku yang robek, telah memberikan setiap sen yang ia miliki untuk membebaskanku dari Mami Rosa. Harusnya aku merasa tersentuh, bukan? Harusnya aku merasa dicintai. Tapi setiap kali aku menoleh dan melihat matanya, yang kutemukan hanyalah kebencian yang murni. "Lebih bersih lagi," suara berat Snow menggelegar di ruangan sempit itu, memutus lamunanku. Ya, seperti inilah aku diperlakukan oleh Snow, entah sebesar apa kebenciannya kepadaku. Aku selalu bertanya apakah ia punya hati nurani? "Jangan biarkan sisa bau parfum wanita ular itu tertinggal di sini. Lantai ini jauh lebih berharga daripada dirimu, Melodi." Aku menggigit bibir bawahku, menahan isak tangis yang sudah mencekik kerongkongan. Aku benci nama itu, Melodi. Nama yang diberikan Mami Rosa karena aku menangis saat pertama kali dijual. Tapi di sini, di bawah kekuasaan Snow, nama Jelita terasa terlalu suci untuk diucapkan. Aku memang sudah menjadi Melodi, rongsokan yang tidak punya tempat kembali. Aku teringat ibu tiriku di Jakarta. Apakah dia sedang makan enak sekarang dengan uang hasil menjualku? Apakah dia tahu bahwa anaknya sekarang sedang merangkak di lantai sebuah gubuk di Swiss, melayani pria miskin yang memandangnya dengan rasa jijik? "Kenapa kau membawaku ke sini, Snow?" tanyaku lirih tanpa berani menoleh. Tanganku terus menggosok lantai dengan gerakan gemetar. Snow memalingkan wajahnya. "Jika kau begitu membenciku, jika kau merasa mual hanya dengan melihatku, kenapa kau menghabiskan uangmu untukku?" Aku mendengar langkah kaki botnya yang berat mendekat. Jantungku berdegup kencang, antara takut dan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Snow berhenti tepat di depanku. Ia berjongkok, tangan kasarnya mencengkeram daguku, memaksaku mendongak hingga mataku bertemu dengan mata bajanya yang tajam. "Kau ingin tahu kenapa?" bisiknya. Napasnya yang dingin menerpa wajahku. "Karena aku suka melihat sesuatu yang sudah hancur menjadi semakin hancur. Aku ingin melihatmu menyadari setiap hari bahwa kau tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain pria yang membencimu." Ia melepaskan daguku dengan sentakan yang kasar, seolah-olah kulitku adalah kotoran yang menempel di tangannya. Ia kemudian berdiri dan mengambil sepotong roti kering dari atas meja, melemparkannya ke lantai di depanku. "Makan itu. Seperti anjing yang tahu diri," ucapnya dingin. Aku menatap roti yang tergeletak di lantai kayu yang baru saja kusikat. Air mataku jatuh, membasahi serat kayu yang lembap. Aku ingin melawan. Aku ingin berteriak bahwa aku juga manusia. Tapi kenyataannya, pasporku hilang, keluargaku mengkhianatiku dan dunia menganggapku p*****r. Aku memungut roti itu dengan tangan gemetar. Di depan Snow, aku tidak punya harga diri lagi. Aku hanya punya pilihan untuk bertahan hidup atau mati membeku di jalanan Zurich. "Terima kasih, Snow," bisikku pelan, suara yang nyaris tak terdengar. Snow mendengus, kembali ke jendela kecilnya untuk menatap badai salju. "Jangan berterima kasih. Simpan suaramu untuk memohon ampun nanti malam, karena kau belum membayar bunga dari uang yang kukeluarkan." Aku memejamkan mata, mengunyah roti kering yang terasa seperti pasir di mulutku. Di dalam gubuk yang luasnya tak lebih dari beberapa meter ini, aku sadar, Snow telah menyelamatkanku dari neraka Mami Rosa hanya untuk membawaku ke neraka pribadinya yang jauh lebih dingin. Seorang pria datang dan berbisik pada Snow. Snow membulatkan mata dan terlihat serius. Aku melihatnya dan itu seperti kabar penting. Snow dan pria itu akhirnya pergi. Pria itu tidak terlihat seperti Rex atau anjing-anjing Mami Rosa. Dia berpakaian rapi, meski mantelnya tertutup salju, dan dia berbicara dengan bahasa yang tidak kupahami, bahasa Jerman yang sangat cepat dan terdengar kaku. Snow hanya mengangguk, mengambil jaket parkanya yang kusam, lalu menoleh padaku dengan tatapan yang selalu berhasil membuatku merasa kecil. "Jangan berani menyentuh apa pun. Jika aku kembali dan ada satu barang yang bergeser, kau akan tahu akibatnya," ancamnya sebelum menghilang di balik badai. Kini, hanya ada aku dan kesunyian yang mencekam. Aku duduk meringkuk di sudut ruangan, memeluk lututku erat-erat. Suara angin musim dingin di luar sana melolong seperti serigala lapar, menghantam dinding gubuk yang tipis ini hingga terasa bergetar. Dingin mulai merayap masuk, menembus pori-pori kulitku, membuat gigiku bergemeletuk tanpa henti. Aku menatap ranjang sempit tempat Snow tidur. Spreinya yang abu-abu tampak berantakan. Aku ingin sekali naik ke sana, membungkus tubuhku dengan selimutnya yang kasar hanya untuk mencari sedikit kehangatan, tapi bayangan tatapan jijiknya membuatku terpaku di lantai. Snow membenciku. Dia menganggapku kotor. Jika aku menyentuh tempat tidurnya, dia pasti akan merasa makin mual melihatku. "Kenapa, Jelita ... kenapa harus sampai di sini?" bisikku pada diriku sendiri. Aku memandang tanganku yang kini kasar dan memerah karena air es yang kugunakan untuk mengepel tadi. Tangan yang dulu Ibu tiriku katakan harus dijaga baik-baik agar bisa melayani tamu dengan lembut. Aku tertawa getir. Ternyata, baik di tangan Mami Rosa maupun di tangan Snow, aku tetaplah sebuah barang. Bedanya, Mami Rosa menjualku kepada orang lain, sementara Snow membeliku untuk disiksa perlahan. Rasa lapar mulai melilit perutku. Roti kering pemberiannya tadi sudah habis, tidak meninggalkan apa pun selain rasa serak di tenggorokan. Mataku mulai menyapu ruangan kecil ini. Ada sebuah lemari kayu tua di pojok, tempat Snow menyimpan beberapa pakaiannya. Snow bilang jangan menyentuh apa pun. Tapi dingin ini rasanya akan membunuhku sebelum dia kembali. Dengan gerakan gemetar, aku merangkak mendekati lemari itu. Hatiku berdegup kencang, takut tiba-tiba pintu terbuka dan Snow menangkap basah aku sedang melanggar perintahnya. Aku membuka pintu lemari yang berderit nyaring. Di dalamnya hanya ada beberapa potong kemeja flanel yang sudah pudar dan sebuah kotak kayu kecil yang disembunyikan di bawah tumpukan kain. Tanganku terhenti tepat di atas kotak itu. Jangan sentuh apa pun, itu lah yang selalu dikatakan Snow. Suara dinginnya bergema di kepalaku. Tapi rasa ingin tahu ini jauh lebih kuat. Siapa sebenarnya pria ini? Seorang gelandangan tidak mungkin bisa mematahkan tangan Rex dengan begitu mudah. Seorang pria miskin tidak mungkin punya nyali untuk menggertak polisi Swiss dengan logika hukum yang tajam. Aku menarik kotak itu keluar. Jariku menyentuh permukaannya yang halus, terlalu halus untuk barang di dalam gubuk kumuh ini. Namun, sebelum aku sempat membukanya, aku mendengar langkah kaki berat di tangga kayu di luar. Itu dia. Snow sudah kembali. Jantungku rasanya mau melompat keluar. Dengan panik, aku memasukkan kembali kotak itu dan menutup lemari tepat saat gagang pintu bergerak. Aku kembali bersimpuh di lantai, menundukkan kepala sedalam mungkin, mencoba mengatur napas agar tidak terlihat seperti pencuri yang tertangkap basah. Pintu terbuka, membawa masuk hawa dingin yang luar biasa. Aku bisa merasakan kehadirannya yang dominan memenuhi ruangan. Bau salju dan tembakau menyengat indera penciumanku. "Kenapa kau berkeringat di tengah badai salju, Melodi?" Suara itu ... begitu tenang namun penuh selidik. Aku tidak berani mendongak. Aku hanya bisa menatap bot kulitnya yang kotor karena lumpur tepat di depan mataku. "Aku hanya kedinginan, Snow," jawabku dengan suara bergetar. Aku bisa merasakan dia berdiri sangat dekat. Begitu dekat hingga aku bisa merasakan panas tubuhnya. Lalu, tangannya yang kasar mencengkeram rambutku, memaksaku untuk menatap wajahnya yang dipenuhi sisa-sisa butiran salju yang mencair. "Kau berbohong," desisnya. Matanya yang sedingin es menyapu wajahku, mencari celah. "Ingat apa yang kukatakan? Jangan mencoba bermain-main denganku. Kau tidak akan suka melihat bagaimana cara aku menghukum seorang pembohong." Aku memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh di tangannya yang mencengkeramku. Di dalam hatiku, aku bertanya-tanya, apa yang ada di dalam kotak itu? Dan mengapa pria ini memiliki rahasia yang ia jaga dengan begitu beringas? “Kau menyakitiku,” lirihku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD