part 6. dimanfaatkan

1557 Words
“Dingin!” lirihku. Napasku keluar dalam bentuk uap putih yang tipis, dan setiap kali aku mencoba menarik napas, paru-paruku terasa seperti ditusuk ribuan jarum es. Aku meringkuk di lantai kayu yang keras, mencoba menyembunyikan tanganku di bawah ketiak. Tubuhku bergetar begitu hebat hingga sendi-sendiku terasa mau lepas. Suara gigiku yang beradu mengisi kesunyian ruangan yang hanya diterangi cahaya remang dari lampu jalanan di luar. Snow duduk di tepi ranjangnya, perlahan melepas bot kulitnya yang basah. Ia diam, membelakangiku. Namun, aku tahu dia mendengarku. Dia selalu mendengarku. Dia hanya pura-pura untuk tak mendengarkan. "Berhenti mengeluarkan suara itu, Melodi," desisnya. Suaranya rendah, tidak mengandung sedikit pun simpati. “Hm.” "Kau terdengar seperti tikus yang sedang meregang nyawa. Menjijikkan." "Ma-maaf, Snow, di-dingin se-sekali," bisikku di antara gemeretak gigiku. Aku tidak bisa mengendalikannya. Tubuhku sudah di ambang batas. Aku merasa jika aku memejamkan mata di lantai ini, aku tidak akan pernah bangun lagi. Snow berbalik. Matanya yang tajam memindai sosokku yang menyedihkan di lantai. Ia menatapku seolah aku adalah noda yang mengotori estetika kemiskinannya. Ia berdiri, melangkah mendekat, dan aku secara naluriah menyusut. Tiba-tiba, tangan kasarnya menyambar lenganku. Ia menarikku berdiri dengan sentakan yang begitu kuat hingga aku terpekik kecil. "Naik ke sana!" perintahnya, dagunya menunjuk ke arah ranjang sempit yang ditutupi selimut abu-abu kusam. Aku mengerjap, air mata yang membeku di sudut mataku hampir jatuh. "A-apa?" "Jangan buat aku mengulanginya. Kau ingin mati membeku di sini dan membiarkan mayatmu membusuk di rumahku? Aku tidak punya waktu untuk mengurus bangkai seorang p*****r," katanya dengan nada penuh penghinaan. Ia menyeret tubuhku yang lemas dan melemparkanku ke atas kasur yang tipis itu. Ranjang itu hanya cukup untuk satu orang, namun Snow ikut merangkak naik, memenuhi ruang yang tersisa. Ia menarik selimutnya yang kasar, menutupi tubuh kami. Begitu kulitku yang sedingin es menyentuh panas tubuhnya yang seperti bara, aku tersentak. Refleks, aku mencoba menjauh ke tepi ranjang. "Diam di situ!" bentaknya. Tangan besarnya melingkari pinggangku, menyentakku agar merapat ke dadanya yang bidang. "Jangan bergerak. Aku melakukannya hanya karena aku tidak ingin kehilangan investasiku. Kau masih punya hutang yang harus dibayar, dan kau tidak bisa membayar jika kau sudah jadi mayat." Aku membeku dalam pelukannya yang keras. Dadaku menempel pada dadanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang stabil, hampir sama dengan jantungku yang berpacu liar karena takut dan malu. "Kau sangat dingin," gumamnya, namun bukan dengan nada peduli. Ia mengusap lenganku dengan kasar, seolah sedang membersihkan sesuatu yang kotor. Aku hanya mengangguk mendengar apa yang ia katakana barusan. "Benar-benar seperti mayat. Apa pria-pria di hotel itu tidak memberimu makan? Pantas saja istrimu, maksudku, istri pengusaha itu menendangmu keluar. Kau hanya tulang yang dibalut kulit murah." Setiap kata-katanya adalah belati. Aku memejamkan mata, membiarkan panas tubuhnya perlahan-lahan mencairkan kebekuan di otot-ototku. Aku ingin membencinya. Aku ingin meludahi wajahnya dan kembali ke lantai yang dingin. Tapi tubuhku berkhianat. Aku justru semakin meringkuk ke dalam dekapan pria yang terus menghinaku ini. "Maafkan aku, Snow, karena merepotkanmu," bisikku lirih. Snow mendengus, napas hangatnya menerpa keningku, membuatku merinding. "Kau memang merepotkan. Sejak awal kau adalah beban. Harusnya aku membiarkan Rosa menjualmu ke tempat yang lebih rendah lagi agar kau sadar bahwa di sini, kau setidaknya masih punya atap." Ia mengeratkan pelukannya, tapi bukan pelukan yang melindungi. Itu adalah pelukan yang mengunci. Tangannya mencengkeram bahuku, memaksaku untuk tidak bisa bergerak seinci pun. "Tidurlah. Dan jangan berani-berani berpikir bahwa posisi ini memberimu hak untuk merasa dicintai. Kau hanya sedang dipanaskan, Melodi. Seperti sepotong daging sisa yang harus tetap layak jual untuk besok pagi." Aku menangis tanpa suara di dadanya. Bau tubuhnya yang maskulin memenuhi indra penciumanku, memberikan rasa aman yang palsu di tengah badai kata-katanya yang kejam. Di gubuk kecil yang hanya bisa ditempati dua orang ini, aku sadar bahwa aku terjebak. Aku bergantung pada pria yang membenciku. "Tutup matamu atau aku akan melemparmu kembali ke lantai," ancamnya terakhir kali sebelum ia mematikan lampu meja. Dalam kegelapan, di bawah selimut yang sama, aku merasakan Snow tetap terjaga. Ia tidak tidur. Ia terus memelukku dengan kekerasan yang sama, seolah-olah jika ia lengah sedikit saja, aku akan hancur atau ia akan kehilangan kendalinya atas barang yang paling ia benci sekaligus paling ia inginkan ini. *** Pagi menyapa dengan kejam. Cahaya matahari yang memantul di atas salju Zurich menembus celah-celah kayu gubuk ini, menusuk mataku yang bengkak karena terlalu banyak menangis semalam. Aku terbangun dalam posisi yang sama, meringkuk di pelukan Snow. Namun, begitu kesadaranku pulih sepenuhnya, aku menyadari bahwa tubuh di sampingku sudah tidak ada. Aku tetap memejamkan mata, berpura-pura masih terlelap. Karena Snow melihatku. Aku terlalu takut untuk melihat tatapan jijiknya di pagi hari. Namun, saat itulah aku mendengar suara bisikan dari balik pintu kayu yang rapuh. Suara itu bukan suara Snow. Itu suara pria yang kemarin datang, pria berpakaian rapi yang auranya sangat tidak cocok dengan bau apek ruangan ini. "Semuanya sudah siap, Tuan," bisik pria itu. Suaranya rendah, namun penuh dengan rasa hormat yang mutlak, jenis penghormatan yang tidak mungkin diberikan kepada seorang gelandangan. Aku menahan napas. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah detaknya bisa terdengar sampai ke telinga mereka. "Berapa nilai aset yang berhasil dipindahkan semalam?" Itu suara Snow. Suaranya tidak lagi kasar atau penuh makian seperti saat ia bicara padaku. Suaranya terdengar berwibawa, dingin, dan sangat berkuasa. "Sekitar empat ratus juta Franc, Tuan. Itu belum termasuk saham di perbankan Luksemburg dan kepemilikan tanah di Pegunungan Alpen. Keluarga Anda sudah mulai curiga, tapi mereka tidak akan pernah menyangka Anda bersembunyi di distrik kumuh seperti ini," jawab pria itu. Empat ratus juta Franc? Aku merasa kepalaku berputar. Angka itu terlalu besar untuk dibayangkan oleh otakku yang terbiasa menghitung recehan rupiah di Jakarta. Bahkan walaupun aku melayani semua pria setiap hari dan setahun penuh, aku tidak akan mendapatkan uang sebanyak itu, "Biarkan mereka curiga," sahut Snow dingin. Aku bisa mendengar suara kain yang bergesek, mungkin dia sedang memakai sepatunya. "Makan malam keluarga itu … kapan jadwalnya?" "Lusa malam, Tuan. Di kediaman utama. Mereka mengharapkan Anda hadir untuk membahas pembagian warisan mendiang kakek Anda. Jika Anda tidak datang, mereka akan menganggap Anda melepaskan hak Anda atas seluruh harta takhta keluarga." Terjadi keheningan sejenak. Aku bisa membayangkan Snow sedang menyunggingkan senyum miringnya yang mematikan. "Aku akan datang. Aku ingin melihat wajah-wajah serakah itu saat mereka menyadari bahwa gelandangan yang mereka buang ini memegang kunci brankas utama mereka. Tapi ada satu hal … aku butuh aksesoris. Sesuatu yang akan membuat mereka semakin meremehkanku sekaligus merasa terhina." "Maksud Anda, Tuan?" "Wanita itu," ucap Snow. Aku tahu dia sedang menunjuk ke arahku. “Melodi?” "Aku akan membawanya. p*****r kecil dari bar Mami Rosa. Aku ingin melihat reaksi bibi dan sepupuku yang sombong itu saat aku memperkenalkan seorang pemuas nafsu dari jalanan sebagai tamu spesialku di meja makan malam keluarga yang agung." “Tapi Tuan, apakah itu tidak terlalu berisiko? Dia terlihat berantakan. Dan dia tidak tahu apa-apa tentang protokol kita." "Justru itu intinya," "Dia adalah simbol penghinaan dariku untuk mereka. Siapkan gaun yang paling mahal, bukan gaun elegan, tapi gaun yang menonjolkan statusnya sebagai barang simpanan. Dan pastikan dia tidak melarikan diri," sela Snow dengan nada tajam. Suara langkah kaki menjauh, diikuti bunyi pintu yang ditutup pelan. Aku tetap terpaku di bawah selimut, tubuhku bergetar hebat. Kali ini bukan karena dingin, tapi karena rasa sakit yang luar biasa di dadaku. Jadi, semua ini hanya sandiwara? Kemiskinan ini, gubuk ini, roti kering ini, semuanya hanya topeng untuk misinya? Dan aku? Aku bukan hanya barang rongsokan yang dibencinya, tapi juga alat untuk mempermalukan keluarganya. Dia ingin membawaku ke meja makan malam mewah hanya untuk menjadikanku bahan tertawaan, untuk menunjukkan kepada dunia betapa rendahnya selera pria yang memiliki jutaan Franc itu. "Bangun, Melodi. Aku tahu kau sudah bangun." Suara Snow memecah keheningan. Dingin dan tajam, kembali ke kepribadian yang kukenal. Aku membuka mata perlahan. Snow berdiri di dekat jendela, menyalakan rokoknya. Sinar matahari pagi menyorot wajahnya, membuatnya tampak seperti dewa yang kejam. Ia menatapku dengan tatapan yang sama, penuh kejijikan. "Kau dengar semuanya, bukan?" tanyanya sambil mengembuskan asap rokok. Aku duduk perlahan, memeluk lututku di atas ranjang. "Kau ... kau kaya, Snow? Kenapa kau membawaku ke tempat kumuh ini?" Snow berjalan mendekat, lalu mencengkeram rahangku dengan satu tangan, memaksaku menatap matanya yang tidak memiliki kehangatan sedikit pun. "Jangan pernah berani menyebut kata kaya di depan orang lain," desisnya. “Sakit,” lirihku. "Di mata dunia, aku tetap gembel yang membelimu. Dan kau? Kau tetap p*****r yang beruntung aku pungut. Lusa malam, kau akan ikut denganku. Kau akan memakai gaun mahal yang akan terasa seperti duri di kulit kotormu, dan kau akan duduk di sampingku sambil menundukkan kepala." "Kenapa kau setega ini padaku, Snow? Kenapa kau tidak lepaskan aku saja kalau kau punya segalanya?" Snow mendekatkan wajahnya ke telingaku, membisikkan kata-kata yang membuat jiwaku hancur seketika. "Karena melihatmu menderita di tengah kemewahan itu jauh lebih menyenangkan daripada melihatmu menderita di sini. Aku ingin mereka menghinamu, Melodi. Aku ingin mereka meludahi wajahmu, agar kau sadar bahwa di manapun kau berada di gubuk ini atau di istana keluargaku, kau tetaplah sampah yang tidak punya harga diri." Ia melepaskan cengkeramannya dan melemparkan selembar kertas ke arahku. "Itu alamat tempat kerja barumu untuk hari ini. Jangan terlambat. Kau masih harus mencuci toilet untuk membayar roti yang kau makan semalam. Harta jutaan Franc-ku bukan untuk memberimu makan secara gratis." Aku hanya bisa menatap punggungnya saat ia keluar dari gubuk itu. Aku adalah Melodi, gadis yang terjepit di antara jutaan harta dan kebencian yang tak berujung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD