Cahaya matahari pagi di Zurich menyusup malu-malu melalui celah-celah kayu gubuk yang mulai melapuk. Salju di luar sana mungkin masih setinggi lutut, namun di dalam ruangan sempit ini, suhu udara terasa sedikit lebih manusiawi. Bukan karena perapian yang menyala lebih terang, melainkan karena sisa-sisa kehangatan tubuh yang semalam saling berpaut dalam keputusasaan yang sunyi. Aku terbangun dengan perasaan yang sangat asing. Dadaku tidak lagi sesak oleh ketakutan yang mencekik, melainkan oleh rasa syukur yang perih. Ayahku selamat. Operasi itu berhasil. Dan pria yang selama ini kuharap akan hancur, justru menjadi malaikat maut yang memberikan kehidupan kedua bagi keluargaku. Aku bergeser pelan, mencoba tidak menimbulkan suara di atas ranjang yang berderit. Snow sudah tidak ada di sam

