Malam ini, kastil keluarga Snow tampak lebih angkuh dari sebelumnya. Salju turun menyelimuti pilar-pilar marmer yang megah, tapi di dalam dadaku, hanya ada api keputusasaan yang membakar. Uang seratus Franc yang dilemparkan Snow kemarin masih tersimpan di balik bra-ku, terasa seperti bara panas yang mengingatkanku bahwa Ayah sedang sekarat di Jakarta. Aku berjalan di samping Snow, mengenakan gaun sutra berwarna hitam malam yang dipadukan dengan kalung berlian yang ia berikan. Snow tidak bicara sepatah kata pun sejak di mobil. Wajahnya sedingin patung es, namun cengkeramannya di lenganku begitu kuat hingga aku yakin besok akan ada bekas memar di sana. Dia masih terluka karena kejadian semalam, dan setiap tatapannya padaku adalah pengingat akan kegagalannya. "Ingat, hanya duduk dan di

