Pagi itu, sinar matahari yang memantul di atas salju terasa sangat menyilaukan. Snow sama sekali tidak menoleh ke arahku sejak dia bangun. Dia duduk di pinggir ranjang, punggungnya yang lebar tampak tegang, sementara jemarinya dengan gusar merapikan kancing kemejanya yang berantakan. Kejadian semalam masih menggantung di udara seperti bau amis yang tak mau hilang. Upayanya yang penuh amarah untuk menunjukkan dominasinya sebagai pria berakhir dengan kegagalan bagi egonya. Dia yang begitu berkuasa, yang sanggup meruntuhkan gedung dengan sekali perintah, ternyata tidak berdaya dalam keintiman. Semalam hanya berlangsung beberapa menit, singkat, dingin, dan meninggalkan rasa malu yang pekat di wajahnya. "Jangan hanya diam di sana seperti patung," desisnya tiba-tiba. Suaranya serak, penuh

