part 9. impoten

1384 Words
Malam itu, badai di luar tidak sedahsyat badai yang kurasakan di dalam gubuk ini. Pintu terbanting terbuka, membawa serta aroma alkohol yang sangat menyengat, jauh lebih kuat dari biasanya. Snow masuk dengan langkah yang tidak stabil. Ia tidak melepaskan jaketnya, hanya melemparkan botol wiski kosong ke sudut ruangan hingga hancur berkeping-keping. Aku mencoba meringkuk di sudut ranjang, menyembunyikan tanganku yang masih diperban karena luka bakar tadi pagi. Jantungku berdegup kencang. Aura Snow malam ini berbeda, ia tampak seperti binatang buas yang terluka dan sedang mencari pelampiasan. "Kemari, Melodi," perintahnya. Suaranya serak, berat, dan berbahaya. "Snow, kau mabuk. Sebaiknya kau tidur—" "Aku bilang kemari!" bentaknya sambil menyambar pergelangan kakiku dan menarikku ke tengah ranjang. Ia merangkak naik ke atas tubuhku, mengunci kedua tanganku di atas kepala dengan satu tangan besarnya. Napasnya yang berbau alkohol menerpa wajahku. Matanya merah, menatapku dengan amarah yang bercampur dengan rasa haus yang mengerikan. "Kau pikir kau siapa, hah?!" bisiknya tepat di depan bibirku. "Kau pikir karena aku menolongmu tadi pagi, kau bisa mengasihani aku? Kau pikir kau punya kuasa atas perasaanku?" "Tidak, Snow, aku tidak pernah berpikir begitu.” "Bohong!" Ia mencium leherku dengan kasar, hampir seperti gigitan. "Kau kotor, Melodi. Kau sudah disentuh oleh banyak pria dan kau pasti berpikir aku hanyalah pria bodoh lainnya yang akan bertekuk lutut di bawah kakimu." Tangannya mulai meraba tubuhku dengan paksa, menyobek sebagian kemeja tipis yang kupakai. Aku memejamkan mata, membiarkan air mata jatuh. Aku sudah pasrah. Jika ini adalah cara dia menagih hutangnya, aku tidak punya kekuatan untuk melawan. Aku menunggu saat di mana dia akan benar-benar menghancurkanku seperti yang selalu ia katakan. Namun, suasana tiba-tiba berubah. Gerakan Snow yang kasar mendadak terhenti. Aku bisa merasakan tubuhnya yang tegap di atasku menjadi kaku. Keheningan yang sangat canggung dan menyakitkan menyelimuti kami selama beberapa menit. Ia terengah-engah, mencoba melakukan sesuatu, mencoba menunjukkan dominasinya sebagai pria, namun ... tidak ada yang terjadi. Snow terdiam. Kepalanya tertunduk di ceruk leherku. Aku bisa merasakan napasnya yang semakin memburu, bukan karena gairah, melainkan karena rasa malu yang luar biasa. Tubuhnya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena kemarahan yang meluap pada dirinya sendiri. Ia melepaskan cengkeraman tangannya. Ia mencoba lagi dengan frustrasi, namun kenyataan pahit itu tetap sama. Pria yang begitu perkasa, yang bisa menghancurkan tulang Rex dan mengancam jutaan orang, ternyata tidak berdaya di atas ranjang. "Snow," bisikku lirih, mencoba menyentuh bahunya dengan niat tulus untuk menenangkan. "Jangan sentuh aku!" teriaknya sambil menyentakkan tanganku. Ia bangkit dari tubuhku, duduk di tepi ranjang dengan punggung melengkung, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Di bawah cahaya lampu yang redup, aku bisa melihat bahunya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya, aku tidak melihat seorang tuan yang kejam. Aku melihat seorang pria yang hancur, yang egonya telah remuk berkeping-keping. "Ini alasan kau membenciku?" tanyaku dengan suara yang sangat pelan, hampir tak terdengar. "Karena kau merasa ... tidak utuh?" Snow tertawa getir, suara tawa yang paling menyedihkan yang pernah kudengar. "Puas kau sekarang, Melodi? Kau sudah melihat rahasia terbesarku? Kau pasti sedang tertawa di dalam hati. Si hebat Snow, pewaris jutaan Franc, ternyata tidak lebih dari seorang pria cacat yang bahkan tidak bisa memiliki p*****r yang dibelinya sendiri." Ia menoleh padaku, matanya penuh dengan air mata kemarahan dan kebencian diri. "Keluargaku ... mereka membuangku karena aku tidak bisa memberikan ahli waris. Mereka menganggapku barang rusak. Dan sekarang, kau juga melihatnya," desisnya. Ia mencengkeram sprei dengan kuat hingga jemarinya memutih. "Jangan pernah berani menatapku dengan tatapan kasihan itu! Aku lebih baik kau ludahi daripada kau kasihani!" Aku terduduk, mencoba merapikan pakaianku yang robek. Aku tidak merasa ingin tertawa. Aku justru merasa sesak yang luar biasa. Di balik segala kekejaman dan kata-kata kasarnya, Snow adalah pria yang menderita karena ketidakberdayaannya sendiri. Kekerasan yang ia lakukan padaku selama ini adalah cara dia menutupi lubang besar di harga dirinya. "Aku tidak mengasihanimu, Snow. Aku hanya ... aku hanya ingin kau tahu bahwa kau tidak perlu menjadi 'monster' untuk membuktikan kau berkuasa." "Diam!" Snow berdiri, menyambar botol wiski lain dan langsung meneguknya hingga habis. “Snow,” lirihku. "Mulai besok, kau akan tetap bekerja dua kali lebih keras. Dan jangan harap rahasia ini akan membuatku melunak padamu. Jika sampai ada satu orang pun yang tahu tentang malam ini, aku akan memastikan kau tidak akan pernah bicara lagi selamanya." Ia keluar dari gubuk itu tanpa mengenakan jaketnya, menghilang ditelan badai salju. Aku hanya bisa menatap pintu yang terbuka lebar, membiarkan salju masuk membasahi lantai. Malam ini, aku menyadari bahwa luka di hati Snow jauh lebih dalam dan lebih bernanah daripada luka di tanganku, dan itu membuatnya menjadi pria yang paling berbahaya sekaligus paling menyedihkan yang pernah kutemui. *** Pagi harinya, suasana di gubuk itu berubah menjadi sunyi yang mencekam, jenis kesunyian yang lebih menyakitkan daripada makian paling kasar sekalipun. Snow pulang saat fajar baru saja menyingsing, pakaiannya basah oleh salju yang mencair dan aroma wiski masih menguar kuat dari tubuhnya. Namun, dia tidak menatapku. Sama sekali tidak. Ia melangkah masuk, melepaskan sepatu botnya dalam diam, dan langsung duduk di kursi kayu biasanya. Matanya terpaku pada dinding kayu yang kosong. Saat aku mencoba berdiri untuk menyiapkan air hangat, tindakan yang biasanya akan memicu bentakan darinya, dia hanya mengangkat tangan sedikit, sebuah isyarat pelan agar aku menjauh. "Duduklah," ucapnya rendah. Tidak ada nada racun, hanya kehampaan yang dingin. Aku terpaku. Selama berjam-jam, kami terjebak dalam kecanggungan yang mematikan. Snow benar-benar menghindari kontak mata denganku. Setiap kali aku bergerak di dalam ruangan sempit itu, dia akan memutar tubuhnya atau menunduk, seolah melihat bayanganku saja sudah cukup untuk mengingatkannya pada kehancuran egonya semalam. Menjelang siang, pria berpakaian rapi yang merupakan orang kepercayaan Snow datang lagi. Mereka berbisik di luar pintu. Aku hanya bisa melihat dari celah jendela betapa kaku dan tegangnya bahu Snow saat bicara. Setelah pria itu pergi, Snow masuk kembali sambil membawa beberapa tas belanja mewah yang sangat tidak selaras dengan kondisi gubuk kami. Ia meletakkannya di atas ranjang dengan kasar, tapi matanya tetap tidak beralih padaku. "Pakai itu," katanya singkat. "Apa ini, Snow?" tanyaku ragu sambil mendekat. Aku membuka tas-tas itu. Isinya bukan gaun merah yang menghina atau seragam pelayan yang robek. Di dalamnya ada sweter wol tebal yang sangat lembut, kaus kaki termal, sepatu bot musim dingin yang kuat dan hangat, bahkan ada beberapa botol salep mahal untuk luka bakar di tanganku. Tidak ada label harga, tapi aku tahu semua ini harganya lebih mahal dari seluruh pakaian yang pernah kupunya seumur hidup. "Jangan berpikir ini karena aku peduli," potongnya sebelum aku sempat mengucap terima kasih. Suaranya terdengar seperti dia sedang menelan duri. "Tangamu yang melepuh itu membuatku terganggu. Dan aku tidak ingin kau jatuh sakit lalu mati di sini hanya karena kau tidak punya baju yang layak. Itu akan merepotkan urusanku." Ia kemudian melemparkan sebuah kantong kecil berisi makanan hangat, roti isi daging yang masih beruap dan sup kental. Lagi-lagi, ia melakukannya tanpa menatapku. "Makanlah. Dan berhenti menatapku dengan mata seperti itu, Melodi," desisnya, suaranya sedikit bergetar. "Rahasia semalam ... jika kau berpikir itu membuatmu punya kuasa atasku, kau salah besar. Aku tetap tuanmu. Dan kau tetap milikku." Meskipun kata-katanya masih berusaha tajam, aku bisa merasakan kerapuhan di baliknya. Snow sedang mencoba membangun kembali dindingnya yang runtuh dengan cara membelikan barang-barang ini, sebuah bentuk kompensasi atas rasa malunya, atau mungkin ... cara buntu bagi seorang pria yang tidak tahu bagaimana caranya menjadi lembut. Aku memakai sweter wol itu. Rasanya sangat hangat, namun hatiku tetap terasa dingin melihat punggungnya yang tegap itu kini tampak begitu kesepian. Di dalam gubuk yang mulai hangat karena pakaian baru ini, aku menyadari satu hal, Snow bukan lagi monster yang menakutkan bagiku. Dia hanyalah seorang pria yang sedang bersembunyi di balik kekejaman karena dia takut dunia tahu betapa rapuhnya dia. Aku mendekat sedikit, meletakkan sup hangat itu di dekat tangannya. "Terima kasih, Snow. Bukan untuk barangnya, tapi karena kau pulang." Snow terdiam. Aku melihat jemarinya yang sedang memegang korek api sedikit gemetar. Ia tidak menjawab, tidak juga memaki. Ia hanya memejamkan mata erat-aerat, membiarkan keheningan di antara kami bicara tentang segala hal yang tidak sanggup ia ucapkan. “Aku memang tidak beruntung dalam menyenangkan wanita,” katanya membuatku tertegun. “Kau hanya belum menemukan wanita yang tepat.” “No. Aku sudah berkali-kali mencoba melakukannya, namun sayangnya aku … aku tetap lemah.” “Snow, percaya kepadaku. Kamu hanya belum menemukan wanita yang tepat yang dapat membuat hasratmu—” “Diam!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD