part 8. matanya khawatir

1411 Words
Gubuk ini terasa lebih sempit setelah malam di kastil mewah itu. Keheningan yang menggantung di antara kami bukan lagi keheningan yang kosong, melainkan sesuatu yang berat dan menyesakkan. Snow kembali ke rutinitasnya, duduk di dekat jendela dengan rokok di tangan, tapi ada yang berubah. Suasana di ruangan ini terasa berbeda. Aku sedang berlutut di lantai, mencoba menyeka sisa noda lumpur dari sepatu bot Snow dengan kain lembap. Ini adalah hukuman baruku karena aku dianggap terlalu menikmati perhatian pria-pria di meja makan malam itu. Namun, setiap kali aku bergerak, aku bisa merasakan sepasang mata mengawasi setiap jengkal tubuhku. Aku mencoba mengabaikannya, tapi tatapan itu terasa panas di kulitku. Saat aku membungkuk untuk meraih ember, aku melirik sedikit melalui sudut mataku. Snow tidak sedang menatap keluar jendela. Dia sedang menatapku. Dia tidak sadar aku memperhatikannya. Matanya yang tajam itu tidak lagi dipenuhi kilatan amarah yang meledak-ledak. Sebaliknya, ada sesuatu yang redup di sana, sebuah pengamatan yang sangat dalam. Dia memperhatikan bagaimana jemariku yang pecah-pecah memegang kain, bagaimana bahuku yang kurus berguncang karena napas lelahku dan bagaimana rambutku yang kusam menutupi sebagian wajahku. Begitu mata kami bertemu selama sepersekian detik, Snow langsung membuang muka dengan kasar. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menegang. "Kenapa kau lambat sekali?" bentaknya, tapi suaranya tidak setajam biasanya. Ada nada serak yang ia sembunyikan. “Tapi—” "Jangan membuang-buang air es itu. Kau tahu betapa susahnya mengambilnya dari sumur." "Maaf, Snow," bisikku. Aku kembali menunduk, tapi jantungku berdebar tak karuan. Aku merasa dia mulai ... mengamatiku sebagai manusia, bukan lagi sekadar barang simpanan. Malam harinya, saat badai kembali menderu di luar, aku terbangun dari tidurku yang tidak nyenyak di lantai. Ruangan itu sangat gelap, hanya ada cahaya perak bulan yang masuk melalui celah atap. Aku menggigil hebat, memeluk tubuhku sendiri di atas jaket parkanya yang basah. Tiba-tiba, aku mendengar suara langkah kaki pelan di atas kayu yang berderit. Aku memejamkan mata, berpura-pura tidur. Aku merasakan seseorang berjongkok di sampingku. Aroma tembakau dan wiski yang mahal, aroma Snow memenuhi udara di sekitarku. Aku menahan napas saat merasakan ujung jarinya yang kasar menyentuh keningku. Sangat pelan, seolah dia takut aku akan pecah jika disentuh sedikit lebih keras. Jarinya menyisir rambut yang menempel di pipiku karena keringat dingin. Lalu, aku mendengar dia menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar seperti rasa frustrasi yang amat sangat. "Kenapa kau harus muncul di hidupku, Melodi?" gumamnya sangat rendah, hampir seperti bisikan angin. "Kenapa kau harus memiliki mata yang sama dengan mimpi burukku?" Aku ingin membuka mata dan bertanya apa maksudnya, tapi aku terlalu takut. Aku bisa merasakan tatapannya tertuju pada bibirku, lalu turun ke leherku yang masih memiliki bekas merah samar akibat jambakan istri pengusaha tua di Hotel Bezela tempo hari. Tangannya mengepal di samping tubuhku. Aku merasakan kemarahan kembali bangkit dalam dirinya, bukan padaku, tapi pada dirinya sendiri. "Kau kotor," bisiknya lagi, kali ini dengan nada yang getir. "Kau sampah. Dan aku ... aku lebih sampah karena tidak bisa berhenti melihatmu." Snow bangkit dengan tiba-tiba, seolah merasa jijik pada kelemahannya sendiri. Ia kembali ke ranjangnya dan memunggungi aku, namun aku tahu dia tidak tidur. Aku bisa mendengar deru napasnya yang tidak beraturan di kegelapan. Aku tetap diam di lantai yang dingin, tapi hatiku terasa terbakar. Pria kejam ini, yang menghabiskan jutaan Franc-nya untuk mempermalukanku, ternyata sedang diam-diam membusuk karena obsesinya padaku. Dia membenciku karena dia tidak bisa mengabaikanku. Dia menghinaku karena itu adalah satu-satunya cara baginya untuk tetap memegang kendali atas hatinya yang mulai goyah. *** Pagi itu, gubuk terasa lebih mencekam daripada biasanya. Snow sama sekali tidak bicara sejak ia bangun. Ia hanya duduk di kursi kayu yang reyot, membersihkan sebuah belati kecil dengan kain hitam, sementara matanya sesekali melirik ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara amarah yang tertahan dan rasa lapar yang ia sembunyikan di balik topeng kejijikan. "Siapkan air panas. Aku ingin mencukur," perintahnya dingin tanpa menoleh. Aku segera bangkit dari sudut ruangan. Tubuhku masih terasa kaku karena tidur di lantai, tapi aku tidak berani mengeluh. Aku mengambil panci tua berisi air dingin dan meletakkannya di atas kompor listrik satu tungku yang kabelnya sudah mulai terkelupas. Tanganku bergetar, entah karena suhu udara yang ekstrem atau karena aku tahu Snow sedang mengawasiku dari belakang. "Cepat, Melodi! Kau bergerak seperti siput!" bentaknya saat melihatku hanya diam menunggu air mendidih. "Ma-maaf, Snow.” Aku mencoba mempercepat gerakanku. Karena terlalu panik dan terburu-buru, aku mencoba mengangkat panci itu sebelum airnya benar-benar stabil. Namun, gagang besi panci itu ternyata jauh lebih panas dari yang kukira. Besi panas itu seolah menggigit telapak tanganku yang pecah-pecah. "Aakh!" Aku memekik. Panci itu terlepas dari genggamanku, jatuh menghantam lantai kayu dengan suara dentuman keras. Air mendidih menyembur keluar, mengenai punggung telapak tanganku dan sebagian kakiku yang tak beralas sepatu. Rasa panas yang membakar seketika menjalar, membuat saraf-sarafku seolah berteriak. Aku jatuh terduduk di lantai, memegangi tanganku yang mulai memerah hebat. Air mata seketika tumpah, bukan hanya karena rasa sakit fisik, tapi karena aku takut ... aku takut Snow akan marah besar karena aku telah mengotori lantainya lagi. "Bodoh! Kau benar-benar tidak berguna!" Snow mengumpat keras sambil berdiri dari kursinya. Aku memejamkan mata, menunggu tamparan atau makian yang lebih pedas. Aku sudah bersiap untuk diseret keluar karena kecerobohanku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Aku merasakan sepasang tangan yang kuat dan besar mencengkeram bahuku, bukan untuk menyakiti, melainkan menarikku menjauh dari genangan air panas itu. Snow berlutut di depanku. Wajahnya yang kaku tampak tegang. "Tunjukkan tanganmu," perintahnya dengan suara serak. "Ma-maafkan aku, Snow ... lantainya basah, aku akan segera bersihkan—" "Tunjukkan tanganmu, Melodi!" bentaknya, namun kali ini ada nada panik yang terselip di balik amarahnya. Ia menyambar tanganku dengan gerakan kasar tapi anehnya terasa sangat hati-hati. Saat ia melihat kulitku yang melepuh kemerahan, rahangnya mengeras hingga otot-otot di pelipisnya menonjol. Ia tidak memaki lagi. Ia bangkit, menyambar botol air dingin di meja, lalu menyiramkannya perlahan ke tanganku yang terbakar. "Ssshh... sa-sakit, Snow …," isakku. "Diamlah! Jika kau tidak ceroboh, ini tidak akan terjadi," geramnya, tapi matanya menatap lukaku dengan intensitas yang mengerikan. Ia kemudian mengambil sehelai kain bersih, satu-satunya kain yang tampak layak di gubuk ini dan mulai mengeringkan tanganku dengan gerakan yang sangat lembut, sangat kontras dengan kata-kata kasarnya. Tanpa sadar, wajahnya berada sangat dekat dengan wajahku. Aku bisa mencium aroma maskulinnya yang kuat, bercampur dengan bau besi dari belati yang ia bersihkan tadi. Tiba-tiba, ia berhenti bergerak. Posisi kami sangat intim, aku terduduk di lantai dengan punggung menyandar pada kaki meja, dan dia berlutut di antara kedua kakiku, memegangi tanganku seolah-olah itu adalah barang berharga yang rapuh. Snow mendongak. Matanya yang sedingin es bertemu dengan mataku yang basah oleh air mata. Keheningan yang menyiksa menyelimuti kami. Aku bisa merasakan napasnya yang memburu menerpa bibirku. Debaran jantungnya yang kencang seolah bergema di ruangan yang sempit itu. Tangannya yang tadi memegang kain, kini perlahan naik. Ujung jarinya yang kasar membelai pipiku, menghapus sisa air mataku. Tatapannya berubah. Kejijikan yang biasanya terpancar di sana kini luluh, digantikan oleh gairah gelap yang sangat murni. "Kau selalu membuatku gila," bisiknya, suaranya kini terdengar seperti geraman rendah di tenggorokan. Aku bingung, tapi aku memilih diam. "Aku membencimu karena kau kotor, tapi aku lebih membenci diriku sendiri karena aku ingin menghancurkanmu dengan cara yang lain." Sentuhannya yang tadi lembut berubah menjadi posesif. Ia mencengkeram tengkukku, menarik wajahku hingga hidung kami bersentuhan. Aku bisa merasakan debaran jantungnya yang menggila, sama liarnya dengan jantungku. Untuk sesaat, dia tidak tampak seperti tuan yang kejam, melainkan seperti pria kesepian yang sedang sekarat karena haus akan sentuhan. Namun, tepat sebelum bibirnya menyentuh bibirku, Snow seolah tersadar. Ia tersentak, matanya kembali menajam dan ia mendorongku menjauh hingga kepalaku nyaris membentur meja. Ia berdiri dengan terengah-engah, menatap tangannya yang baru saja menyentuhku seolah tangannya baru saja dicelupkan ke dalam racun. "Jangan pernah berani terluka lagi di depanku," desisnya, suaranya kembali dipenuhi racun dan kebencian. Aku menunduk lemah, tidak ada yang mau terluka. Ini ketidaksengajaan. Bukan sengaja mencari perhatian. "Luka itu membuatmu tampak semakin menjijikkan. Urus dirimu sendiri. Aku akan keluar!” Ia menyambar jaket parkanya dan keluar dari gubuk, membanting pintu begitu keras hingga debu-debu berjatuhan dari langit-langit. Aku tertinggal sendirian di lantai yang basah, memegangi tanganku yang masih terasa perih. Tapi rasa perih di tanganku tidak sebanding dengan rasa sesak di dadaku. Snow hampir menciumku. Dia menolongku dengan tangan yang gemetar. Pria itu sedang berperang dengan iblis di dalam dirinya, dan aku tahu, cepat atau lambat, benteng kebencian yang ia bangun akan runtuh dan menelan kami berdua dalam api yang tak bisa dipadamkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD