Sore itu, Snow pulang lebih awal. Ia menemukan Jelita sedang duduk di balkon, menatap pegunungan Alpen yang memutih di kejauhan. Tatapannya kosong, jemarinya memutar-mutar cincin kawinnya, gestur yang selalu ia lakukan saat merasa tidak aman. Snow mendekat, menyampirkan mantel kasmir ke bahu Jelita. "Kemasi barang-barangmu, Sayang. Kita berangkat malam ini." Jelita menoleh, matanya masih tampak sedikit sembab. "Berangkat? Ke mana? Masih banyak urusan yayasan yang harus kuselesaikan, Snow." Snow berlutut di depan istrinya, menggenggam kedua tangannya. "Yayasan bisa berjalan tanpa direkturnya selama dua minggu. Zurich sedang tidak sehat untukmu, dan aku butuh udara yang tidak tercemar oleh suara-suara bodoh itu. Kita akan ke Maladewa. Hanya ada laut, matahari, dan kita berdua. Tanpa

