"Aku butuh kamu, Geulis." Satu kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Rizkan membuat Geulis mematung seketika. Ia menelan ludahnya susah payah dengan bibir yang mendadak kelu. Jantungnya sudah memompa kuat di dalam sana, mengalirkan perasaan aneh yang membuat sekujur tubuhnya mendadak kaku. Perkataan Rizkan yang tak disangka-sangkanya membuat dirinya tak bisa menampik rasa terkejut yang datang menghampirinya, tetapi juga tak bisa menyangkal rasa bahagia yang perlahan membanjiri jiwanya. Deheman pelan yang berasal dari Rizkan membuat Geulis menarik diri dari segala pemikirannya. Ia lalu mengalihkan pandang ke arah lain, menutupi kegugupan yang tengah melandanya. "Ayo, tidur," suruh Rizkan sembari menuntun kepala Geulis untuk kembali bersandar di bahunya yang langsung dituruti oleh

