11 :: Gadis Patah Hati

1203 Words
"Ya ampun, kenyang banget. Kurang ajar ya kamu," ujar Geulis seraya melirik Rizkan yang berjalan di sebelahnya dengan sinis. Rizkan mengacak rambut Geulis dengan tawa renyah yang keluar dari bibirnya. "Udah aku bilang, kamu nggak bisa makan dikit. Buktinya, kamu abisin juga ayamnya, kan? Malah abis dua porsi. Buncit nggak perut kamu?" Geulis melirik perutnya yang memang tampak sedikit menyembul setelah ia menghabiskan dua porsi ayam yang dipesan oleh Rizkan tadi. Ia lantas mengangguk sembari menoleh ke arah Rizkan dengan bibirnya yang melengkung ke bawah yang lagi-lagi membuat Rizkan tertawa. Sungguh, tadinya ia ingin sok jaim di depan pria itu dengan tidak makan terlalu banyak, tetapi godaan d**a ayam yang begitu menggiurkan berhasil meruntuhkan niatnya. Beruntung Rizkan bersikap tak acuh dengan porsi makannya yang luar biasa banyak. Ia sudah seperti kuli saja. "Aku kebelet, Riz," ucap Geulis saat mereka sudah berada di dalam mobil. Rizkan yang tadinya sudah ingin menyalakan mesin mobilnya langsung membatalkan niatnya lantas menengok Geulis dengan alis yang bertaut bingung. "Kebelet apa?" "Kebelet buang air besar. Sumpah, aku kenyang banget," jawab Geulis sambil memegang perutnya dengan wajah nelangsanya. Rizkan mendengus geli. "Di dalem restoran itu ada kamar mandi. Kamu numpang di sana aja." "Nggak berani. Temenin." Rizkan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum geli yang bertengger di bibirnya. "Ayo, aku temenin." Geulis segera turun dari mobil, mengikuti Rizkan yang sudah menunggunya di luar. Kedua tangannya tak lepas dari perutnya sejak ia melangkah bersama Rizkan menuju toilet. Sungguh, ia bukannya tak malu menahan rasa ingin buang air besar seperti ini di hadapan Rizkan. Namun, mau bagaimana lagi, dari pada nanti ia buang angin di dalam mobil atau yang paling parahnya lagi ia tidak bisa menahan gejolak untuk buang air besar yang pada akhirnya membuat kotoran di dalam perutnya keluar tidak pada tempatnya, lebih baik ia mengatakannya langsung. Kalau sampai hal itu terjadi, yang ada Rizkan akan langsung menendangnya keluar. "Tunggu di sini, ya? Jangan ke mana-mana," pinta Geulis kepada Rizkan sebelum masuk ke dalam toilet wanita dengan terburu-buru. Tawa pun tak bisa Rizkan tahan saat melihat tingkah laku Geulis yang benar-benar terlihat berbeda dengan perempuan lainnya. Ia kemudian bersandar pada dinding yang ada di samping toilet, menunggu Geulis sampai selesai. Beberapa menit berlalu, Geulis tak kunjung keluar. Baru saja Rizkan bersiap untuk mengetuk pintu dan menanyakan apakah gadis itu baik-baik saja atau tidak, sesosok wanita yang ingin masuk ke dalam toilet membuat tubuh Rizkan membatu seketika. Laura. Rizkan melihat Laura. Dan wanita itu sepertinya juga menyadari bahwa Rizkan berada di tempat yang sama dengannya. Sejenak, keduanya saling pandang dengan raut kaget yang terbentuk di wajah mereka masing-masing. Namun, keduanya juga tak bisa menepis ketika mata mereka memancarkan kerinduan yang amat dalam terhadap satu sama lainnya. Suara pintu yang terbuka akhirnya mampu membuat Rizkan dan Laura sadar dari keterkejutan mereka masing-masing lantas memalingkan wajah mereka ke arah lain. Dan setelahnya, Geulis keluar dengan mimik wajah yang menunjukkan kebingungan. Pasalnya, ia sempat melihat Rizkan dan wanita yang tak dikenalnya itu saling pandang. Hal itu menunjukkan kepadanya bahwa mereka berdua memang saling mengenal walaupun ia merasakan ketegangan di sana. Rizkan berdehem pelan sembari menormalkan raut wajahnya sebelum menoleh ke arah Geulis dengan senyum tipis yang tersungging di bibirnya. "Udah selesai?" Geulis hanya menganggukkan kepalanya. Dan detik itupula Laura memilih untuk segera masuk ke dalam toilet, meninggalkan Rizkan karena memang tak seharusnya mereka bertemu kembali. "Ayo, pulang," ajak Rizkan setelah menatap pintu toilet yang baru saja ditutup oleh Laura selama beberapa detik. Geulis mengikuti langkah kaki Rizkan yang berjalan di depannya. Awalnya, ia berniat untuk mengeluarkan segala keluhannya karena perutnya yang terasa sakit sekaligus untuk mengalihkan perhatian Rizkan agar pria itu tak mengolok-olok dirinya yang bersikap begitu memalukan. Namun, kejadian tadi membuatnya mengurungkan niatnya. Aura yang dipancarkan Rizkan saat ini membuatnya sungkan. Kalau boleh ia menebak, sepertinya pria itu pernah memiliki hubungan dengan wanita tadi. Mantan kekasihnya mungkin. Dan entah kenapa, sudut hatinya merasa tercubit ketika pemikiran tersebut menaungi kepalanya, membuat dadanya terasa sesak entah untuk alasan apa. Sakit yang tadinya terasa di perutnya, kini sudah berpindah tempat. Rasanya ada yang aneh dengan kondisi hatinya. Seperti ada hal baru yang masuk tanpa seizinnya, memberikan ruang tersendiri yang tak ia mengerti. Keheningan menyelimuti Rizkan dan Geulis saat mereka menuju jalan pulang. Rizkan bahkan tak bertanya akan ke mana mereka setelah ini walaupun Geulis akan menjawab pulang karena jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam. Tidak ada basa-basi sama sekali. Rizkan yang cerewet dan sering mengejeknya sudah hilang entah ke mana saat ini. Tanpa sadar, helaan napas berat keluar dari bibir Geulis sebelum pandangannya berputar ke luar jendela, menatap jalanan yang lengang dan lampu-lampu kota yang berdiri di sepanjang jalan. Perjalanan yang awalnya dimulai dengan keceriaan, kini berakhir dengan kesunyian. Geulis pikir, malam ini ia akan menjalani malam yang indah seperti yang sebelum-sebelumnya ia lakukan dengan Rizkan. Namun, sampai ia tiba di rumah pun, Rizkan tak kunjung memperbaiki suasana sepi seperti ini atau setidaknya mengajaknya berbicara. Padahal, baru saja ia melupakan kekecewaan akibat candaan Rizkan beberapa waktu yang lalu. Sekarang, ia harus kembali menelan kekecewaan yang baru karena perubahan sikap Rizkan. Pria itu hanya diam. Dan Geulis yang awalnya ingin bertanya siapa wanita tadi langsung membatalkan niatnya. Memang tak seharusnya ia tahu mengenai siapa wanita itu dan apa hubungannya dengan Rizkan karena ia bukanlah siapa-siapa. Hanya orang asing yang tanpa sengaja bisa menjadi teman Rizkan. "Aku masuk dulu. Terima kasih untuk malam ini," ucap Geulis seraya membuka sabuk pengamannya. Rizkan mengangguk tersenyum, senyum yang tak sampai ke matanya. Dan hal itu lagi-lagi membuat helaan napas berat keluar dari bibir Geulis, berusaha menghapus sesak yang mengikat kuat dadanya. Geulis berjalan masuk ke dalam rumahnya, tak berniat untuk menengok ke belakang. Lagi-lagi kekecewaan tak bisa ia tepis kehadirannya. Hanya dengan melihat saja, ia tahu bahwa Rizkan dan wanita tadi masih menyimpan rasa yang sama. Hanya saja, ia tak tahu apa yang menyebabkan keduanya berpisah. Menggelengkan kepalanya, Geulis memilih untuk segera masuk ke dalam kamarnya setelah mengunci pintu rumah. Perasaannya terasa campur aduk saat ini. Sejak awal, ia memang tak seharusnya menjalin hubungan sampai sejauh ini dengan Rizkan. Seharusnya ia tetap menjaga prinsipnya. Kalau sudah seperti ini, ia bisa apa? Hatinya bahkan sudah terikat dengan pria itu, meneriakkan bahwa ia membutuhkan Rizkan. Sialan. Ia benar-benar tak suka terjebak dalam dinamika cinta yang seperti ini. Geulis mengambil duduk di pinggir ranjang, mengeluarkan ponsel yang sedari tadi ia simpan di dalam tas. Tangannya dengan lincah membongkar benda persegi panjang tersebut untuk mengambil kartu yang tersemat di sana lantas mengambil gunting. Tanpa pikir panjang, ia segera menggunting kartu tersebut menjadi empat bagian. Matanya menatap nanar kartu tersebut. Ia seperti gadis yang tengah patah hati saat ini. Ya, ia memang sedang patah hati. Dan sekarang, ia tak ingin patah hati ini membuat dirinya stres atau apa pun itu. Selagi perasaannya terhadap Rizkan belum terlalu dalam, ia akan mencoba untuk melupakannya. Saat ini, ia bukan hanya takut akan menjadi seperti mamanya, tetapi ia juga takut menjadi seperti papanya—dikhianati oleh orang yang dicintainya. Untuk sekarang, biarlah ia kembali menjalani hidup yang seperti dulu. Tak ada cinta selain cinta yang akan ia berikan kepada papanya. Tersenyum, Geulis menyemangati dirinya sendiri untuk melupakan perasaan yang sempat bersarang di hatinya dan berhenti mengharapkan sesuatu yang masih abu-abu. Ia hanya tak ingin terjebak pada rasa yang masih belum jelas bagaimana akhirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD