Masalah

1018 Words
Pagi hari di SMA Adiwangsa “Eh Rin gue sedih banget harus LDR an sama pacar gue” Adu Tina pada Arin yang baru saja duduk disampingnya. “Pacar? kamu punya pacar Tin?” tanya Arin yang sedikit terkejut, yang Arin tau Tina belum punya pacar ia baru saja putus dari Rino tiga bulan yang lalu. “Iya” “Siapa? Kok nggak cerita ke aku si” wajah Arin berubah kecewa, Tina mengambil Hp nya didalam saku bajunya lalu menunjuk an wallpaper Hpnya ke depan Arin, “Ini pacar gue Rin” ucapnya tersenyum merekah “Hee TINA!” geram Arin sedikit kesal, bisa bisanya temannya itu menunjuk kan foto Boyband Korea ke depannya mana semuanya cakep cakep banget lagi. “Lah aku kan jujur Ar” “Iya deh iya, terserah lo deh Tin” Arin menyerah, ia memilih membaca novelnya daripada mendengar ocehan Tina yang suka menghalu tidak tau tempat. Saat Arin sedang asik membaca Novelnya, tiba-tiba Galih datang dari arah pintu menuju kearahnya dengan wajah dingin tak bersahabat, “Ikut gue!” ucap Galih saat sudah ada didepan Arin, Arin yang pura pura nggak dengar, membuat pria itu tambah murka dan melempar novel yang ada di tangan Arin ke lantai. Sontak saja mereka menjadi pusat perhatian, semua mata yang di kelas menuju pada mereka. Bukan Galih jika ia peduli. Arin berdiri dari duduknya, ia menatap tak suka pada Galih “Itu Novel aku kenapa kamu buang?” “Kalau orang ngomong tu dengar! Jangan pura pura budeg! Budeg beneran mampus lo!” “Apa urusan dikamu si?" "Mau gue beri tau semua orang ha!" ancam Galih, Arin pun segera menggeleng "Kamu mau apa manggil aku?" ucapnya gugup “Ikut gue!” Galih menarik tangan Arin namun ditahan gadis itu. “Mau kemana?” “Jangan banyak tanya! Ayok!” Galih kembali menarik paksa tangan Arin, Tina yang ingin mencegah namun kalah cepat. Galih menarik tangan Arin ke sebuah Gudang kosong, saat sampai ia melepaskan tangan Arin kasar, membuat gadis itu merintih sakit. “Aww.. kenapa kasar sih? Salah aku apa?” Tanya Arin, jujur cengkraman tangan Galih saat menariknya tadi benar benar kuat sampai sampai tangan Arin memerah. “Jangan sok polos deh lo!” bentak Galih dengan suara keras, yang sontak membuat Arin terkejut bukan main. Arin menormalkan detak jantungnya baru ia kembali bersuara “Maksud kamu apa sih Gal? tiba tiba ngomong gitu” “Lo ngadu apa sama bokap lo sampai sampai bokap gue marah marah ha!” tuduh Bima menunjuk wajah Arin. Arin yang merasa tidak melakukan apa apa segera menggeleng mantap. “Aku nggak ada ngadu apa-apa Gal” “Alah bohong banget lo!” “Serius Galih, emang papa kamu marah kenapa? Kok bisa kamu tuduh aku?” ujar Arin dengan nada lembutnya, sedangkan pria itu masih menatap tajam mengunus ke kedua mata Arin. “Lo kemarin habis dari mana ha! Nggak pulang seharian!” Arin sejenak diam berpikir, “Oh itu.. aku nemenin Tina beli kado untuk papanya, apa karena itu papa kamu marah?” jelas Arin jujur “Dasar nyusahin! kalau pergi itu bilang bilang bodoh!” “Maaf aku nggak tau bakal jadi gini” “Alah lo emang cari cari muka aja ya kan! lo senang kan gue dimarahin bokap!” Arin menggeleng, tak terima dengan yang baru saja dituduhkan oleh Galih “Enggak, serius deh aku nggak cari muka, untuk apa juga aku ngelakuin hal buruk gitu” "Nanti pulang sama gue!" ucap Galih setelah itu ia segera beranjak meninggalkan Arin sendiri, Arin yang ditinggal pun ikut melangkah pergi namun saat di persimpangan kelasnya dan kantin, Galih malah berbelok ke arah kantin bukan ke kelas. Arin yang melihat itu hanya mengebus napas pelan, ia tak ingin ikut campur soal pria itu lagi bisa bisa nanti dia kena ngamuk lagi, Arin masuk ke dalam kelasnya, disana sudah ada buk Rita yang sedang mengajar. Arin yang tak ingin ketinggalan pelajaran segera mengetuk pintu pelan, Buk Rita segera menoleh "Darimana saja kamu! nggak dengar lonceng!" sentak buk Rita. "Maaf buk tadi saya kebelet jadi ke kamar mandi dulu" ucap Arin bohong, dan seisi kelas tau itu. Bagaimana tidak tadi waktu kejadian tarik menarik itu semua kelas lihat pasti dan pasti sebentar lagi akan beredar rumor tentangnya dan juga Galih. "Sudah masuk" ucao buk Rita "Terimakasih buk" balas Arin sopan, setelahnya ia duduk di bangku samping Tina, Tina yang gatal akan bertanya segera membuka suara sesaat Arin duduk. "Kamu nggak di apa apain Galih kan Rin?" Tanya Tina penuh perhatian. Arin menggeleng, "Nggak kok Tin" "Haa syukur deh, aku tadi takut banget, tu orang seram sumpah! baru kali ini aku lihat mahkluk kek tu" ujar Tina mengeluarkan unek uneknya, tidak taukah mereka jika buk Rita memperhatikan mereka sejak tadi. "HE! KAMU DISURUH MASUK MALAH NGERUMPI! MAU SAYA USIR KELUAR" Berang buk Rita, Buk Rita emang terkenal guru killer disekolah, banyak siswa siswi yang takut padanya. Ia tak pernah main fisik namun yang di lukainya adalah mental siswa siswi. Sekali marah, maka yang keluar dari mulutnya tak akan pernah benar disaring terlebih dahulu. Bahkan dulu buk Rita hampir masuk penjara karena ucapannya yang kasar. namun polisi tidak bisa mempidananya karena tidak cukup kuatnya bukti dan akhirnya Buk Rita kembali mengajar di sekolah, setiap kekurangan tentu juga memiliki kelebihan bukan dan kelebihan Buk Rita ada pada sistemnya mengajar, banyak siswa siswi yang berhasil setelah belajar dengannya, trik mengajar yang digunakan buk Rita sangat mudah dimengerti oleh siswanya karena itu ia juga termasuk kedalam jajaran guru favorit disekolah. "Maaf buk" ucap Arin penuh sesal sambil menunduk, Tina yang tak enak ikut bungkam sambil memainkan pena dan juga bukunya. Dua jam berlalu pembelajaran dengan buk Rita berakhir. "Eh gue serius Rin lo benar nggak papa kan?" Tanya Tina kembali memastikan. "Iya Tina aku nggak papa" "Lo ada masalah apa sih dengan anak baru itu? kok dia kasar banget sama lo" Tanya Tina yang sedari tadi ia pendam karena takut dengan buk Rita. Arin tampak gusar terlihat ia sibuk memainkan rambutnya, "Hmm.. gimana ya aku bilangnya aku juga bingung Tin" "Jadi lo benar ada masalah dengan dia Rin?" ** To Be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD