Galih Oscar Mahardika

1038 Words
Matahari sudah berada di tempatnya bahkan teriknya mampu membuat orang berteriak dan segera berlari ke tempat teduh, namun hal itu tak membuat pria tampan yang masih tertidur di atas ranjangnya untuk terbangun. Terganggu saja tidak. Rima yang merupakan ibu Tiri Galih merasa khawatir pada anaknya segera bergegas menuju kamar Galih, sebelum masuk tak lupa Rima mengetuk pintu terlebih dahulu, lama ia menunggu anak tiri yang sudah ia anggap anak kandung itu tak kunjung membukakan pintu untuknya, Rima yang lelah menunggu lantas menerobos masuk dan untung saja kamar Galih tak terkunci . Saat ia masuk betapa terkejutnya ia melihat Galih yang sedang terlungkup diatas lantai kamarnya, Rima segera duduk disamping Galih dan memanggil nama anaknya pelan, "Galih.. Galih.. bangun nak" Galih meregangkan tubuhnya merespon panggilan dari Rima, "Masih pagi ini Tan, keluar sana!" ucap Galih lalu ia berjalan sempoyongan ke kasurnya dan kembali tertidur, Rima mendengus pelan ia sangat paham jika memaksa Galih sama saja membuka perang dunia ke 3 karena remaja yang sebentar lagi beranjak dewasa itu akan berontak dan jalan keluar satu satunya adalah dengan memakai jurus andalannya. "Kalau kamu nggak bangun, Tante telpon papa kamu ya" ancam Rima sambil berkacak pinggang menunggu respon dari Galih dan benar saja Galih langsung duduk tanpa dipaksa. "Keluar deh ganggu aja!! kenapa lo ikut ke sini sih kenapa nggak sama papa aja sana, berduaan! lo kan suka nempel nempel ke papa!" ucap Galih yang emang sedari dulu belum bisa bersikap sopan dengan ibu tirinya padahal mereka sudah bersama bertahun tahun. "Jaga omongan kamu Galih!" Sentak Rima Galih berdecak kesal "Ck, kalau mau marah marah aja jangan sok sok an jadi malaikat di depan papa terus berubah iblis kalau dia nggak ada!" cercah Galih tak kalah sengit. Plak.. Rima yang tak bisa menahan emosinya menampar anak tirinya itu dengan cukup keras. Bukannya marah Galih malah tertawa yang terdengar menakutkan dan seperti dipaksakan, "Haha akhirnya sifat asli lo keluar juga" pungkas Galih setelah itu Galih beringsut pergi ke dalam kamar mandi meninggalkan Rima seorang diri, wanita paruh baya itu menatap lekat tangannya yang habis menampar Galih. Menyesal, ia sungguh menyesal sudah berbuat kasar pada anak tirinya itu, sejak sepuluh tahun mereka bersama tak pernah sekalipun ia menampar Galih tapi ntah kenapa emosinya kini tak bisa tertahan. Dengan rasa berkecamuk Rima pergi dari kamar Galih. ** "Eh Rin lo tau nggak katanya sih anak baru itu masuk ke geng Iblis lo" cercah Tina teman sebangku Arin, saat Arin baru saja datang. Arin mendengar ucapan Tina, ia menarik kursinya lalu duduk di samping temannya. "Blizz Tina, bukan Iblis kamu enak banget ganti nama geng orang" protes Arin, Tina menyengir kuda lalu kembali berbicara "Iya itu maksud aku, lagian juga isinya para iblis iblis untungnya ganteng kan jadi nggak ketara banget" "Ya nggak juga kali Tin" sanggah Arin, "Eh kamu tau dia masuk situ dari siapa?" sambung Arin yang juga penasaran darimana temannya tau. Arin yang diberi pertayaan yang tiba tiba itu langsung menggaruk tengkuk yang sebenarnya tak gatal, jujur dia sedang gugup. "Kenapa ? kamu kok jadi gugup gitu?" "Eh nggak.. siapa juga yang gugup sih Rin" protes Tina tak terima "Terus barusan apa Tin" "Gue tau itu dari si Rino" "Oh Rino" Arin berohria sampai akhirnya ia ingat, "Eh lo sama Rino balikan Tin?" tanya Arin yang baru sadar dengan ucapan temannya itu, pantes saja tadi ditanya malah gugup ternyata itu alasannya. "Enggak Arin" bantah Tina cepat "Terus?" "Iya.. ya nggak yang pokoknya" putus Tina, tiba tiba guru mata pelajaran masuk membuat pembicaraan keduanya terhenti, Arin melirik ke kursi di belakangnya. Kursi itu masih kosong padahal jam pelajaran sudah mau habis. "Kenapa dia nggak masuk" gumam Arin pelan "Lo ngomong apa Rin?" Tanya Tina yang mendengar ucapan Arin barusan "Nggak.. nggak ada Rin" Jam pelajaran pertama usai berbarengan dengan jam istirahat Arin dan Tina keduanya berjalan barengan menuju kantin sekolah, saat mereka akan masuk ke kantin mata Arin menemukan sosok yang ia cari sejak, disana ada Galih yang sedang nongkrong dengan anggota Blizz lainnya pria itu tak ikut ngobrol ia sibuk dengan game di HPnya. "Tukang bolos" gumam Arin dalam hati menatap Galih, pria yang dilihatnya itu tanpa sengaja membalas tatapan Arin. Arin yang di tatap langsung membuang muka. sial dia ketahuan. "Arin lo mau makan apa?!" tanya Tina dengan nada suara tinggi, gadis itu sudah berulang kali memanggil Arin namun Arin malah mendiamkannya karena sibuk menatap Galih. "Eh kenapa Tin?" Tina lagi lagi dibuat kesal, gadis muda itu langsung berjalan meninggalkan temannya Arin yang ditinggal langsung berlari mengikutinya, "Eh kenapa Tin? kok aku ditinggal?" Tanya Arin yang sudah berada di samping Tina lagi namun kali ini ia merangkul tangan Tina agar gadis itu tak kembali meninggalkannya. "Lo nyebelin sedari tadi gue panggil nggak nyaut nyaut!" protes Tina. "Maaf aku nggak dengar tadi kan rame" kilah Arin berbohong "Bilang aja lo lagi lihat cogan kan?" Arin mantap menggeleng, "Eh.. enggak Tin" "Iya iya, santai aja kali Rin kek habis lakuin hal langgar norma aja lo" Keduanya kembali berbaikan dan mencari tempat untuk duduk setelah memesan makan di kedai. "Rin... lihat noh" Tina menunjuk ke satu tempat dengan dagunya, Arin mengikuti arah dagu Tina dan.. Deg.. Pria itu lagi lagi sedang menatap kearahnya, Arin pun dengan cepat membuang muka dan kembali menatap kearah awal. "Dia dari tadi ngelihatin lo" adu Tina "Jangan jangan dia suka lagi" "Apasih Tin, nggak lah kamu kan tau aku gimana dimata orang orang" "Maksud lo Romeo?" "Romeo siapa Tin?" Arin menautkan alisnya bingung "Anjing penjaga rumah gue Rin, kemarin bokap baru adopt" Mereka emang dua sahabat yang kalau ngomong sering ganti topik diskusi. dan itu sudha biasa "Wah.. berarti anjingnya galak dong" "Bukan lagi, lo tau kan jenis anjing bulldog?" Arin mengangguk dengan wajah tak percaya ia kembali bertanya, "Jangan bila-- "Iya betul anjing itu" "Wah seram banget sih Tin" "Kalau nggak biasa bukan bokap gue Arin" "Iya juga ya, tapi keluarga lo seru lo Tin" "Nggak biasa aja, eh nanti ada acara nggak Rin?" "Kenapa Tin?" "Temani aku beli kado bokap yuk" ucap Tina dengan wajah melasya menatap penuh harap pada Arin. Arin mengambil napas pelan, "Hm, yaudah jam berapa?" "Pulang sekolah aja Rin" "Oke" Tina tersenyum penuh bahagia jarang jarang teman satunya itu bisa diajak keluar, biasanya Arin akan menolak dengan banyak alasan. *** To Be Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD