Langkah gadis tu terhenti kala kakak kandungnya, Ghea. memanggil namanya. Ia lantas berbalik badan dan menjawab.
"Kenapa kak?"
“Pake nanya kenapa!! yang aku suruh kemarin sudah dikerjakan apa belum!!"
“Ap—
"APA !!”
"Maaf kak, Arin lupa"
"KAPAN OTAK LU ITU DIPAKAI HA!!"
"Kenapa ini ribut-ribut" teriak Nur mama Arin dan Ghea, yang baru saja turun dari lantai atas.
"Arin nih ma, aku suruh buat nyuciin baju aku, nggak dikerjakannya. nggak tau apa aku mau kuliah!" Adu Ghea manja pada sang mama.
"Kenapa nggak minta bantu bi Inem aja Ge?"
"Bi Inem nggak ngerti cara nyuci baju Gea, yang biasa nyuci tu Arin!" Tunjuk Ghea pada sang adik yang tertunduk lesu, wajah Arin masih tampak jelas kelelahan pulang sekolah ditambah tadi ia harus piket dulu membersihkan kelas.
“Kan bisa kamu ajarin" komentar sang mama.
"Ah mama!!"
"Yaudah yaudah, Arin tolong cuci baju kakak mu ya"
"Iya ma tapi Arin ganti baju dulu, kalau sudah nanti Arin baru ke kamar kakak" Gumamnya pelan lalu berjalan ke lantai atas tanpa menunggu jawaban dari mama ataupun kakaknya.
Arin dan Ghea terpaut 3 tahun, wanita muda berkulit putih itu emang terlalu dimanjakan oleh mama dan papanya, yang seharusnya Arin karena dia anak bungsu. Tapi tidak dengan keluarga ini.
Arin dengan sabar menerima semua perintah dari kakaknya yang terkadang juga tidak masuk akal, contohnya beberapa minggu yang lalu Arin di minta sang kakak untuk membeli rujak cingur yang jaraknya dari rumah 15km, jauh banget padahal yang di dekat rumah ada tapi kakaknya maunya disana ditambah yang supir Arin waktu itu sedang mengambil cuti karena istrinya baru saja melahirkan jadinya Arin pergi dengan naik angkot hanya untuk membeli rujak sang kakak yang mana kalau nggak di beli kakaknya akan mengamuk dan lagi lagi Arin yang di salahkan karena tidak patuh. Arin terkadang juga bingung dengan status dia dirumah, sebenarnya ia anak kandung orang tuanya atau bukan.
**
Dinding-dinding bercat dengan dominan warna hitam ditambah ornamen ornamen dengan tema geng motor memenuhi dinding dinding di cafe bernama Oriental Gank, yang nama cafe itu tampat geng Blizz ngumpul tiap harinya. Geng yang sangat disegani dan memiliki pengaruh di kota ini.
Dan sekarang Galih berada, ia datang setelah beberapa menit yang lalu di telpon oleh ketua geng Blizz untuk ikut ngumpul dan sekedar berteman dengan anggota Blizz lainnya, jujur Galih sebenarnya tidak ingin bergabung dengan geng manapun lagi cukup satu dan itu hanya di kota tempat ia tinggal dulu sebelum dipaksa pindah kesini oleh orang tuanya.
Ya Galih adalah ketua geng di kota tempat ia tinggal dulu, yang mana anggotanya adalah teman teman satu sekolahnya, Geng yang Galih pimpin sangat ditakuti oleh banyak orang dan tentu membuat nama Galih menjadi terkenal, itu juga alasan utama mengapa ia diajak masuk ke Geng Blizz bahkan ia ditawarkan menjadi wakil ketua, namun ia masih enggan dengan alasannya yang tadi.
“Hei Galih!! Ketua geng Redzz datang..” Teriak Rino antusias, pria berambut hitam pekat dengan gaya rambut ala ala korea yang terkenal paling playboy di antara anggota yang lain.
Teman-teman di sekeliling Rino lantas langsung menatap lekat kearah Galih yang baru datang.
Chiko selaku ketua geng Blizz berdiri menyambut kendatangan Galih dengan mengajak salam ala pria yang tentu di balas oleh Galih walau sebenarnya ia malas cuma ia perlu menghargai ditambah kini mereka menjadi pusat perhatian, Galih tidak ingin mempermalukan Chiko sebagai ketua geng Blizz.
Chiko mengajak Galih untuk duduk di dekatnya.
“Tadi lo sudah masuk sekolah?” Tanya Bima, salah satu anggota geng Blizz. Bima terkenal paling peduli dari yang lain terkadang banyak orang yang salah ngira kalau Bima lah ketua geng Blizz yang sebenarnya adalah Chiko.
Pertanyaan dari Bima di jawab Galih dengan mengangguk pelan kepalanya tanpa berkata.
"Sorry tadi kami nggak sekolah, lo masuk kelas mana?"
"IPS 2"
"Wah sekelas dong kita" Sahut Bima antusias.
"Jangan lebai, cuma sekelas bukan sekamar" komentar Kenzi yang terkenal dengan mulut pedasnya, apapun yang keluar dari mulut pria itu terkadang menusuk hati siapapun yan mendengar namun bagi geng Blizz itu sudah biasa. Ucapan yang keluar dari Kenzi emang benar adanya ia terlalu jujur dalam mengeksperesikan namun tidak bisa mengucapkannya dengan manis.
"Yaelah Zi, tu mulut bisa di filter nggak?" Kini Rino yang berkomentar.
"Oh iya kita perlu kenalan nggak?" tambah pria itu sambil melirik ke arah Chiko dan Galih bergantian, keduanya malah diam tanpa berkomentar sampai si mulut pedas mengeluarkan lava nya kembali. "Kalau mau kenalan tinggal ucap nama, nggak perlu di diskusi lagi. Yaelah itu aja mau gue komentarin!"
"Iya Lord Kenzi maafkan daku yang terlalu 2G buat kamu yang 5G" ucapan nyeleneh dari Rino sontak menimbulkan gelak tawa bagi temannya yang lain.
Rino tidak peduli, ia sudah biasa kena sembur lava dari Kenzi yang bukan main itu.
"Gue Rino, cowok paling tampan dari yang lain" ia mengulurkan tangan ke hadapan Galih, yang tentu disambut pria itu tanpa basa basi memperkenalkan namanya karena semuanya sudah tentu tau.
"Tampan dari mana cewek aja lari ngelihat muka lo" komentar si mulut pedas tak terima.
"Mulut lo lama lama gue lem juga pakai lem iblis"'
"Lem Iblis?" Kenzi mengerutkan dahinya bingung mendengar ucapan dari temannya itu.
"Lem Setan g****k" Bima yang ada di samping Rino menonyor kepala temannya itu untung saja Rino punya refleks yang bagus kalau tidak mungkin ia akan jatuh ke lantai.
"Weh g****k lo kenapa nonyor palak gue!"
"Lo tu---
"DIAM!!" Chiko yang sedari tadi diam kini membuka suara sudah begah sepertinya dia mendengar celotehan nggak jelas dari anggota geng nya.
Kesunyian hanya bertahan lima menit setelahnya kalian tau bukan siapa yang mulai ngoceh kembali, yang awal hanya menggoda cewek berpakaian mini yang baru datang kini sudah berganti topik dengan makanan pinggir jalan yang kemarin mereka singgahi. Ya begitulah Blizz. Geng yang anggotanya orang-orang absurd namun memiliki rasa solidaritas tinggi jangan berani berani mengganggu mereka kalau tidak mau di rawat di rumah sakit satu bulan karena patah tulang atau mungkin berakhir koma.
Ponsel Galih tiba tiba berdering, pria berperawakan tinggi itu segera mengangkatnya setelah menjauh dari anggota Blizz lainnya.
"Halo pa, kenapa?"
"Kamu dimana?"
"Di cafe"
"Pulang!"
"Apaan sih pa, aku baru aja datang biasanya aku pulang subuh juga!"
"Besok kamu sekolah!"
"Galih tau jangan sok perhatian deh, biasanya juga nggak!" Ucap Galih sebelum ia mematikkan panggilan telponnya.
To Be Continue