Arin menarik tangan Galih sampai ke belakang SMA, tempat sepi favorit siswa untuk memadu kasih bersama orang tersayang, namun kali ini beda bagi dua sejoli yang sebentar lagi akan berstatus tunangan tersebut.
“Kenapa lo narik narik gue, mau semua siswa tau kalau kita punya status?” Hardik Galih setelah tangan nya di lepas oleh Arin
“Nggak!”
“Bilang aja!!”
“Nggak kamu aneh, orang aku narik kamu karena aku kesal kamu ngomong masalah tunangan di kantin! Kalau orang dengar gimana!”
“Kenapa lo malu punya tunangan kek gue? Hei cupu seharusnya yang malu itu gue bukan lo!” Hardiknya kembali
“Aku cuma nggak mau ada orang yang tau”
“Beri gue alasan yang masuk akal”
“Aku ingin hidup normal”
“Lo pikir tunangan sama gue buat hidup lo nggak normal”
“Kamu kenapa si kalau ngomong selalu berburuk sangka, aku kan nggak mikir ke situ”
“Ucapan lo yang buat orang mikir ke situ”
“Yang pokokny aku nggak mau ada yang tau”
“Nggak ada alasan buat gue nutupin”
“Aku mohon” pinta Arin dengan wajah puppy eyesnya yang malah membuat Galih menatap jijik padanya.
“Lo pikir wajah lo gitu buat gue simpatik, najis”
“JAHAT!!” Kesal Arin menghentakkan kakinya lalu pergi ninggalin Galih sendiri
Arin kembali ke kantin seorang diri, ia lantas duduk di kursi tempat ia tadi. Disana sudah ada Tina yang sibuk memakan baksonya seorang diri.
“Eh kembali ni artis dadakan” cela Tina seraya Arin duduk di depannya.
“Artis apa sih Tin?” Tanya nya bingung.
“Tadi teman-teman pada ngomongin lo! Kata mereka lo ada sesuatu dengan anak baru” ucapan dari Tina sontak saja buat Arin terbengong, hanya perkara lima menit pria itu duduk di depannya bisa membuat ia menjadi terkenal bagaimana jika satu sekolah tau jika dia akan tunangan dengan pria itu mungkin bukan jadi artis lagi si Arin.
“Lo beneran ada sesuatu dengan dia?” Tanya Tina, yang langsung dapat getukan dikepalanya.
“Awwww sakit Arin” rintihnya sambil mengelus kepalanya yang habis di getuk sama Arin pakai sendok stainless untuk menyuap nasi gorengnya.
“Kamu kalau sekali ngomong aneh loh Tin, ada-ada aja. Emang kamu percaya kalau aku ada apa-apa sama anak baru. Kamu kan tau aku gimana Tina” ujar Arin setenang mungkin, walau Tina sahabat karibnya namun Arin masih enggan memberitahu, biarlah masalah ini cukup dia dan Galih yang tau kalau nambah personil lagi bisa gila Arin sibuk menutupi mulut mereka tiap hari.
15.04
Bel pulang sekolah berbunyi, Guru mata pelajaran yang mengisi di jam terakhir di kelas Arin menutup pelajarannya dengan membaca doa bersama. Setelah doa guru permisi untuk keluar dan diikuti bersama murid lainnya.
“Kamu pulang naik bis kan Rin?” Tanya Tina sembari memasukkan bukunya ke dalam tas.
“Iya tin”
“Yaudah serempak aja yuk”
“Eh nggak bisa, aku kan hari ini piket”
“Ya ampun aku lupa, yaudah aku duluan ya Rin” ucap gadis itu seraya melambaikan tangan meninggalkan kelas, kini tinggal lah Arin bersama tiga orang lainnya sedang menyapu dan merapikan kelas seperti tugas yang sudah di bagi oleh ibu wali kelas, tentang apa saja tugas dari piket itu sendiri.
Kurang lebih 20 menit mereka mereka berberes beres, kini waktunya pulang Arin keluar paling akhir karena sibuk merapikan tasnya. Saat ia sudah berada di ujung tangga tiba-tiba saja tanganya di tarik oleh seseorang. Baru saja ia akan berteriak namun mulutnya sudah di bungkam lebih dulu.
“Gue!” Ucap pria itu dingin
Arin kembali tenang seraya tangan pria itu lepas dari bibirnya.
“Kenapa sampai di tarik sih kan aku terkejut”
“Lo kenapa lama banget!”
“Aku piket, kamu nungguin?”
“Menerut lo!”
“Kenapa nungguin aku?”
“Siapa suruh ngebangkang sama orang tua, yang kena batunya kan gue harus ngatar lo pulang!!” Cela Galih dengan emosi yang masih memuncak di dadanya setelah mendengar panggilan telpon dari Rima--mamanya, 20 menit yang lalu untuk pulang bersama Arin karena gadis itu berulah pagi-pagi tadi.
“Kalau nggak mau antar pulang juga nggak papa” gumam Arin pelan, ia juga tidak ingin membuat orang lain kesusahan karena dirinya.
“Gue juga mau gitu, tapi uang jajan gue jadi taruhannya. Lo mau tanggung jawab ngasih gue uang jajan tiap hari”
“Aku aja jarang jajan” gumam Arin sepelan mungkin
“Maksud lo?”
“Yaudah aku duluan ya” baru aja Arin melangkah, tiba tiba langkahnya terhenti kala Galih menariknya kembali.
"Jangan bebal!! cepat naik" Perintah Galih untuk naik ke motor nya, Arin terdiam bukan karena enggan mau naik namun motor Galih begitu tinggi tidak cocok untuk dia yang bertubuh di bawah 160cm.
"KENAPA MASIH DIAM !!" Bentak Galih kesal
"Motor kamu tinggi, aku susah naiknya lagian in-- belum selesai Arin bicara tubuhnya sudah melayang di udara dan seperkian detik kemudian ia sudah duduk di atas motor Galih, begitu pula Galih ia juga sudah duduk di kursinya, tanpa bicara motor itu melaju kencang membuat Arin sontak memeluk erat pinggang Galih.
"Pelan-pelan!" Pekik Arin. Galih tidak menjawab ia malah menambah kecepatan motornya. Tak lama kemudian motor yang dibawa oleh Galih sampai di depan pagar rumah Arin, gadis itu lantas mendongak setelah lama menutup matanya karena aksi gila dari pria yang memboncengnya.
"TURUN" Perintah Galih, Arin melonggarkan pelukkan nya di pinggang Galih lalu turun perlahan, sebelum masuk kedalam rumah ia sempat berucap terimakasih namun tidak di tanggapi oleh pria dingin dan kasar Galih, pria itu setelah Arin turun langsung menancap gas motornya.
"Jahat" Sarkas Arin kesal, gadis itu melangkah masuk sebelumnya ia sempat menyapa pak satpam yang duduk di depan gerbang rumahnya lalu masuk kedalam rumah.
"Ehh anak pungut pulang !!" Cibir Ghea kakak Arin, Arin sudah kebal dengan cemoohan dari kakaknya itu, ia juga bingung kenapa kakaknya begitu membenci Arin padahal Arin tidak pernah menganggu nya bahkan Arin sangat menyayanginya.
"MAU KEMANA LO !!" Teriak Ghea, Arin mengehentikkan langkahnya lalu berbalik menatap Ghea yang berdiri angkuh menatapnya.
To Be Continue