Pertemuan

1040 Words
"Tapi Arin masih terlalu muda ma, lagian aku sama dia juga masih sama sama sekolah nggak mungkin kami menikah" Ucap Arin pada ibunya yang kini mereka sedang duduk bersama di meja makan menyantap sarapan. "Yang bilang kalian akan menikah siapa? kamu dan Galih hanya tunangan" "NGGAK MAU MAMA!!" Teriak Arin "KAMU BERANI TERIAK SAMA MAMA !!" "Mama keterlaluan, atas alasan apa aku sama dia harus tunangan" "Ikuti saja kata mama dan papa apa susah nya ARIN, kapan lagi kamu membalas budi kami ha !!" Arin muak, sudah lebih dari ratusan kali mama dan papanya berkata tentang balas budi padanya, dia lahir di dunia ini bukan karena permintan nya tapi mereka lah yang meminta Arin untuk hadir tapi apa yang ia dapat malah ia yang harus membalas budi mereka, kalau benar begitu Arin lebih memilih untuk tidak dilahirkan. Dengan wajah kesal gadis delapan belas tahun itu pergi mennggalkan ruang makan, di sana mama nya masih meneriaki namanya namun gadis itu tidak peduli, ia sengaja memekak an telinga. Dengan ransel di punggungnya ia menelusuri jalan raya seorang diri, pagi ini ia berangkat dengan angkutan umum karena pak Hendro yang biasa mengantarnya dilarang oleh sang mama karena sikap membangkangnya tadi pagi. Jadinya kini ia berdiri di depan halte menunggu bus datang. Tak lama bus warna biru jurusan ke SMA Arin berhenti tepat depannya, ia pun segera masuk ke dalam sana dan duduk di kursi kosong paling belakang, jarak antara halte dan sekolah Arin tidak lah jauh hanya menempuh waktu 10 menit apalagi sekarang masih terlalu pagi perjalanan menjadi lebih singkat karena kendaraan lain belum banyak bertebaran di jalanan. Saat bus sampai di halte dekat sekolah nya, ia pun turun seorang diri karena di dalam bus hanya dia anak yang berseragam SMA Tunas bangsa, Sekolahnya masih sepi karena jam masih menunjukkan pukul 6.10 pagi. Arin sangat suka suasana sepi, ia adalah tipe Introvert, disekolah teman Arin hanya Tina gadis yang kepribadiannya 180 derajat berbeda dengannya, namun Arin sangat suka berteman dengan nya, aura postif dari Tina perlahan membuatnya menjadi terbuka tidak terlalu tertutup seperti dulu. Pukul 06.50 10 menit menjelang bel berbunyi, Tina teman sebangkunya belum juga datang sampai ketika suara cempreng itu memenuhi koridor memanggil nama Arin tentunya, yang membuatnya malu karena semua mata kini tertuju padanya. "ARIN !!! ARIN !!" Teriak Tina dari arah gerbang, Arin yang namanya dipanggil memalingkan wajahnya menuju sumber suara. "Kenapa lo gue panggil nggak yaut sih RIN" Judes Tina yang kini sudah berada di samping Arin dengan napas ngos ngosan habis berlari. "Kenapa harus teriak-teriak sih, kan aku malu Tin" "Yaelah nggak papa kali, kan lo jadinya terkenal" Ucapnya sambil merangkul Arin, dua sahabat itu berjalan bersama ke kelas mereka. Setelah bel berbunyi murid-murid masuk ke dalam kelasnya masing tak terkecual Arin dan juga Tina. Tak lama ibu Tari wali kelas mereka masuk, namun kali ini ia membawa seseorang di belakangnya yang tentu saja membuat seluruh murid pada heboh menatap pria tampan yang sedang berdiri disamping bu Tari terutama para gadis-gadis. "Anak-anak lihat kedepan dulu semuanya" Ucap bu Tari, Arin yang memutar duduk ke depan sungguh terkejut dengan pemandangan di depannya , ya disana ada pria yang sangat ia hindari namun kini malah berdiri di depan kelasnya menatap Arin dingin. "Hari ini kita kedatang murid baru dari ibu kota, coba kamu perkenalkan diri" perintah bu Tari pada murid pria di belakangnya. Pria itu maju selangkah di depan bu Tari "Gue Galih" Ucapnya singkat padat dan jelas yang malah membuat gaduh kelas. "UWAH..... " sorak sorai gadis-gadis dalam kelas memuja , terkecuali Arin yang menatap kesal padanya. "Hanya itu?" Tanya bu Tari, yang dapat anggukan singkat dari Galih. "Yaudah kamu duduk di belakang Arin, disana kosong" Tunjuk ibu Tari pada kursi di belakang Arin, yang sontak saja saja membuat Arin melirik bangku yang ada di belakangnya, ia baru ingat teman sekelasnya ada yang pindah itu lah sebabnya bangku itu kosong. 'Tapi kenapa harus pria itu yang mendudukinya' gumam Arin kesal dalam hati. "Rin, gimana ni. Gue jadi nggak fokus" Bisik tina pelan "Kan emang kamu nggak fokus kalau belajar, pas belajar pun kamu tidur" "Yaelah Rin, lo kalau ngomong ngapa pedas banget sih" "Aku kan jujur" Ucap Arin dengan wajah polosnya. "Iya lo paling jujur kalau ngehina gue" Kesal Tina lalu menutup wajahnya dengan buku, pertanda ia akan tidur. Pria itu menendang bangku Arin pelan namun membuat sang empunya tersentak dan hampir saja berteriak untung saja bisa ia tahan. dengan wajah kesal Arin menatap pria di belakangnya namun pria itu bukan nya minta maaf malah menampilkan senyum tipisnya dengan satu alis terangkat. MUAK. itu kata yang sedang tergerayang dikepala Arin kini. Jam Istirahat berbunyi semua murid pada keluar dari kelasnya masing, hal itu pun sama dengan Arin dan juga Tina, Galih? Arin tidak peduli dengan pria itu. "Gila pagi-pagi udah diisi matematika aja mau pecah palak gue tau nggak !!" Ujar Tina yang sedang berjalan menggandeng Arin menuju kantin. "Bukannya semua pelajar suka matematika?" Ucapan Arin sontak membuat Tina mengehentik kan langkahnya dan menatap kesal pada Arin "WHAT !!! Siapa yang bilang Rin!! mau gue getuk pala nya sumpah !!" "Ada aku pernah dengar" "Kalau lo tau kasih tau gue, biar gue samperin" cerocos Tina, gadis Delapan belas tahun itu kini berjalan ke arah warung nasi goreng tempat biasa ia pesan makanan, dan Arin ia tinggalkan seorang diri di kursi kantin. dan tiba-tiba pria yang tidak diundang duduk didepannya. "Lo ninggalin gue !! mau berakting seolah nggak kenal!!" Ucap Galih menatap tajam pada Arin. orang-orang di kantin kini sibuk menyoroti kegiatan keduanya, Arin emang terkenal pintar tapi cantik belum bisa di definisikan, ia adalah gadis lugu yang polos, gaya berpakaian Arin seperti murid murid kutu buku lainnya yang identik dengan baju kebesaran rok panjang dan juga kacamata bulat , dan yang lebih parah Arin adalah tipe yang introvert hanya Tina yang mengertinya. sebab itu jarang ia dekati remaja pria lainnya . Dan kini wanita kutu buku dan juga introvert itu di dekati oleh pria kota yang tampan. "Lebih baik nggak usah kenal" jawab ketus gadis muda itu lalu menyeruput es teh yang baru saja ia pesan tadi. "Ohh, gitu lo memperlakukan gue sebagai calon tun--- Belum juga Galih menyelesaikan ucapannya bibirnya langsung dibungkam oleh Arin dengan tangannya, Arin lantas menarik paksa Galih menjauh dari kantin. To be continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD