1
Tepat di hari ini di hari ahad. Hari yang seharusnya Aira bahagia berdiri di pelaminan bersanding dengan Raka, calon suaminya yang sudah melamarnya tiga bulan yang lalu.
Tapi apa? Dunia seperti merusak cerita yang sudah Aira dan Raka buat. Semesta memisahkan mereka dalam bencana alam yang dahsyat dan tidak terkendali lagi. Parahnya, bencana alam itu merenggut Raka dan keluarganya ke hadapan sang pencipta.
Aira boleh marah sekarang? Tepatnya di hari ini?
Ronce melati sudah terpasang di sisi kanan dekat telinga dan menjuntai ke bawah melalui bahu Aira. Wajahnya sudah di poles dengan make up yang sangat tone up dan membuat Aira semakin cantik serta pangling.
Aira adalah putri pertama dari pasangan Hany Sakinah dan Ridwan Hanafi. Dulu mereka tinggal di Turki dalam waktu yang lama. Dan pada akhirnay, mereka memutuskan kembali lagi ke Kampung halaman untuk kembali mengharumkan Pondok Pesantren milik Ayahnya, Kyai Abdulah.
"Aira? Yuk keluar? Akad nikahnya sudah dimulai di Masjid," ucap Hany yang masuk ke kamar pengantin sekaligus menjadi kamar rias pengantin wanita.
Jujur, Aira belum mengenal lelaki yang menikahinya hari ini. Namanya pun ia tidak tahu dan ia tidak mau tahu soal itu.
Tiga hari tiga malam, Aira hanya menangis dan memeluk foto Raka. Air matanya sampai kering sampai tidak bisa lagi mengeluarkan air mata.
Hany membantu Aira berdiri dari kursi rias. Ia sempat menatap cermin dan melihat wajahnya yang tidak nampak bahagia. Rasanya seperti terpaksa melakukan ini. Tubuhnya sudah tidak mau melangkah tapi alih-alih nama baik keluarga terancam.
Apa kata orang, jika pernikahan ini dibatalkan. Seribu undangan sudah tersebar dan mereka sudah susah payah datang untuk mendoakan serta memberikan selamat. Tetapi, Aira malah nampak sedih.
Aira memakai kebaya putih dengan kain batik cokelat bergaris emas membalut tubuhnya dengan indah. Ia teringat kata-kata Raka saat mencoba baju kebaya ini. "Kamu cantik sekali, Aira. Aku jadi gak sabar menikah dengan kamu. Dan saat itu, kita akan menjadi pasangan yang paling berbahagia karena kamu adalah jodoh dunia akhiratku."
Kalimat yang menyempurnakan dunianya saat itu. Beberapa tahu mereka bersama dan pada akhirnya mereka akan bersatu. Tapi ...
Aira menatap kosong ke arah depan dan tetap berjalan mengikuti arah langkah sang umi. Ia tidak bicara. Bibirnya tertutup rapat dan lidahnya kelu. Rasanya pita suara itu juga ikut mogok bersuara atau malah enggan bersuara lagi.
"Calon suami kamu ganteng banget ... Umi sampai gak percaya lihatnya," ucap Hany pada putrinya.
Ucapan itu hanay dianggap angin lalu. Mau ganteng kayak artis korea juga tidak akan mengalahkan gantengnya Raka. Lelaki yang selalu akan ia cintai seumur hidupnya.
Hany menatap wajah Aira dari arah samping. Hany tahu, Aira pasti masih berduka. Tapi, duka itu harus segera dihempaskan, bukan? Bukan malah dipelihara terus. Bisa-bisa Aira bakaln tidak move on dengan cinta suaminya ini.
Samar terdengar suara lantang seorang laki-laki yang mengucap iajb kabul.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aira Nafisah binti Ridwan Hanafi dengan mas kawin tersebut diatas."
Suara serempak tamu undangan yang datang pun terdengar kompak menjawab SAH.
"Maafkan Aira, Mas Raka ..." Batinnya di dalam hati.
Janji sehidup semati dengan cinta sejati untuk dunia dan akhirat sama sekali tidak bisa ditepati.
Lagi-lagi semesta sedang mengajak Aira bercanda dengan keadaannya yang masih dilanda duka lara.