Decoration of Love

1133 Words
"Selfira Kanya, lo mau gak jadi pacar gue?" Suara lantang yang dikeluarkan Langit terlihat sangat berpengaruh untuk mengubah suasana kantin yang tadinya ricuh sekarang malah sunyi. Semua mata melotot, tak menyangka. Bahkan diantara beberapa orang ada yang spontan mengeluarkan makanan yang sudah berada di mulutnya, iyuhh. Langit Bagaskara barusan menyatakan cinta pada Fira yang notabenenya anak baru di SMA Kencana? Bukan tanpa alasan, Langit memang playboy dari jaman embrio. Tapi, ini aneh. Selama ini cowok itu gak pernah pacaran sama anak murid di sekolahnya. Para betina yang pernah dekat sama Langit pasti taulah apa alasannya. Clarisa Prisila, dia gambaran dari sosok iblis di mata anak gadis di sekolahnya. Cewek itu meski terlihat cuek tetap saja dia gak bisa tinggal diam saat Langit dideketin atau deketan sama cewek lain, yang jadi masalahnya cuman satu. Langit, meski gak dapat yang satu sekolah dia lari ke sekolahan lain. Dan, Clarisa gak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah. "Langit ...," parau Fira. Gadis itu terlihat syok, kedua matanya membulat tak percaya tentang ucapan Langit barusan. Rasanya mau menangis lalu lari dari kantin dan meloncat dari lantai tiga sekarang juga, itu yang dirasakan Fira saat mendapati sorot mata tajam Maya yang berada di sudut kantin. Dia tak habis pikir. Langit, dia masih waras? "Lo mau gak jadi pacar gue?" ulang cowok itu lengkap dengan senyuman mematikan. Cewek-cewek yang ada di kantin malah memekik tak jelas. Lidah Fira terasa kelu, ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Kerongkongannya seperti dihalangi oleh batu, sakit dan sedikit terasa sesak. Aneh, dia sendiri juga berpikiran seperti itu. Langit cowok yang baik, gak ada alasan bagi cewek mana pun untuk menolak Langit. Karena Langit terlihat sudah mencapai kata sempurna. Tapi? Fira gak cocok buat dikasih pilihan seperti ini, antara menerima dan menolak. Dia gak tau. Menerima? Habis sudah dia dibantai Maya with Clarisa. Dan menolak? Dia bisa saja, tapi rasanya gak enak aja. Terlebih dia bisa mengerti perasaan Langit. Kalau ia tolak, pasti cowok itu akan merasakan malu dan tentunya Fira bakalan juga kena imbasnya. Bisa aja nanti dia malah dikatain 'sok jual mahal lah, inilah, itulah.' "Fira?" tanya cowok itu membuyarkan lamunan gadis di depannya. Kalau boleh jujur, baru kali ini jantung Langit berpacu terlalu cepat. Saking cepatnya sampai bisa mengalahkan valentino Rosi yang lagi balapan. "Langit, Clarisa suka sama kamu. Kenapa kamu malah nembak aku?" Akhirnya Fira bisa mengeluarkan suaranya juga. "Clarisa sahabat gue, Fi. Gak mungkin gue nembak dia jadi pacar. Gue sayang sama dia, tapi gak suka sama dia," ujar Langit pelan. "Dan gue sukanya sama lo. Bukan dia," lanjutnya. Plak! Penghuni kantin memekik histeris termasuk teman-teman Langit yang sedang duduk di pojokan, mereka ikut meringis saat wajah bening Langit dinodai oleh tamparan seorang perempuan sampai memerah. Fira yang berada di depannya pun menutup mulutnya tak percaya. Saking kuatnya tamparan itu, wajah Langit sampai tertoleh ke samping. Cowok itu menghadap ke depan, menatap marah pelaku tersebut. "MAKSUD LO APAAN!" teriaknya. Maya Charlotte. Pelaku penamparan si famous SMA Kencana dengan wajah tak bersalahnya meludah tepat di samping kirinya, berhadapan langsung dengan Langit. "Ternyata lo lebih b******k dari Kemal, Al." "Gue lagi yang kena, sialan!" "Jangan bikin gue main kasar sama cewek," lirih Langit. "Terus? Lo mau nampar gue balik? Silahkan! Mukulin gue juga silahkan! Itu artinya lo emang cowok b******n yang pernah ada di muka bumi ini!" teriak Maya lantang. Sebelum melanjutkan kalimatnya, Maya menghela napas kasar terlebih dahulu. Bahunya terlihat naik turun, cewek itu juga sedang berusaha menahan amarahnya. "Beruntung Clarisa gak masuk sekolah hari ini, kalau gak udah hancur banget tuh cewek b**o," kekeh Maya terdengar sangat mengiris hati. "Emang apa masalahnya kalau dia ada di sini? Toh gue juga gak ada hubungan apa pun sama dia selain sahabat," ucap Langit terdengar santai. Maya menendang meja kantin sampai mangkok bakso yang ada di atasnya jatuh pecah ke lantai. Cewek itu sudah terlihat sangat menyeramkan. Salahkan pada Langit. "Kalau lo gak suka sama dia cukup hargain dia aja, b*****t! Lo jangan ngasih harapan besar buat dia. Lo tau gak kalau gue udah berapa kali lihat tuh cewek terpuruk?" "Sejauh ini gue emang gak pernah lihat dia nangis, tapi tetap aja perasaan dia gak bisa dibohongin. Setiap lihat lo jalan sama cewek lain aja dia sakit hati, setan! Apalagi harus tau kejadian hari ini? Anjing banget lo sumpah!" Maya menangis histeris sedangkan Langit termenung di tempat, entah kenapa cowok itu merasa saat ini dia sudah tak ingat kosa kata apa pun lagi untuk menyela semua ucapan Maya. Ditatapnya dalam manik obsidian Maya yang sembab. "Gak habis pikir lagi gue sama lo. Dengan bangganya godain cewek sana-sini terus cerita sama Clarisa. Lo keterlaluan, Al. Kemaren aja ngajak jalan Clarisa, sekarang? Malah nembak cewek lain. Lo pikir gue gak tau, hah? Gue tau b*****t!" Saking sesak dadanya karena menangis dan teriak-teriak, kini Maya malah tertawa. Entah kenapa, melihat Clarisa terluka dia jauh lebih merasakan sakit. Maya sesayang itu memang sama Clarisa. Begitu pula sebaliknya. "Dari SMP, Al, dari SMP tuh cewek b**o suka sama lo! Dan lo dengan santainya bilang Clarisa cuman sahabat doang, hati nurani lo digadein di mana sih, hah? Sini gue tebusin kalau lo gak mampu buat bayar!" Kembali menghela napas, kali ini secara perlahan. Membiarkan air matanya kembali tumpah membasahi wajahnya. Maya mengelap kasar wajahnya. Jari telunjuknya menunjuk sosok Langit. "Berani lo nyakitin dia lagi, gue bunuh lo sumpah!" Setelahnya Maya pergi begitu saja dengan amarah yang sudah meletup-letup di ujung kepalanya. Saking marahnya dia sampai mendorong orang yang menghalangi langkahnya. Maya, partner Clarisa yang punya mulut pedas itu ternyata bukan berani modal bacotan doang. Gadis itu ternyata jauh lebih menyeramkan dari Clarisa saat marah. Aksinya hari ini membuat orang sekitar tercengang, bukan karena pembelaannya terhadap Clarisa melainkan dia adalah cewek satu-satunya yang pernah menampar seorang Langit Bagaskara. Langit kembali menatap Fira dalam. Cowok itu sekarang tak tau apa yang ia rasakan saat ini. Dia merasa pundung. "Fi ..." "Langit, ak—" "Heh anak baru! Kalau ada vario hitam nabrak lo nanti berarti itu gue!" "Woy Fira! Lo mau request yasinnya pake kertas apa?" "Cantik sih, tapi udah kelihatan bibit pelakornya." "Kemaren gue beli pisau baru nih, mau nyoba duluan gak?" "Mau pake kain kafan atau kain sarung?" "Dibuka open donasi sewa hekker buat lacak rumah si tuh manusia dan retas keamanan rumahnya." "Gua bantu donasi tanah buat nguburin lo!" "Kalo bosen idup ga gini caranya mbak." "Lo pake susuk di mana sih? Gue mau nyoba!" "Mba kalau adaa yg terbang atas rumah itu kuyang kiriman gue!" "Fira! Gue tunggu lo di gang sebelah!" Penggemar Langit yang tak terima cowok itu harus jadian sama cewek lain mengeluarkan berbagai kalimat yang bikin bulu kuduk Fira meremang. Cewek itu memilin ujung seragamnya, dia merasakan takut sangat takut. Bahkan Fira keringat dingin sekarang. "Terimakasih udah bikin aku sakit hati." "Diam lo pada!" teriak Langit. "Langit, aku belum bisa jawab. Maaf."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD