"Makasih ya, Kak, bantuannya. Gara-gara aku Kakak harus terlibat sama masalah begini," ujar Nisa tulus.
Fyi, kejadian malam tadi membuat Clarisa terpaksa menginap di rumah sakit untuk menemani Nisa sampai siuman. Clarisa sudah ijin sama Luna dan bundanya mengijinkan, lagipula niat Clarisa baik. Dia mau membantu orang lain, jadi, kenapa Luna harus melarangnya?
Clarisa terpaksa absen sekolah Senin ini, dia gak tega harus meninggalkan Nisa di rumah sakit sendirian. Keluarga perempuan itu belum ada yang muncul untuk menjenguk. Meski masuk di dalam kategori 'gak peduli sama orang lain' ternyata hati batu Clarisa bisa luluh juga. Buktinya dia rela menjaga orang asing seperti Nisa di rumah sakit dan mengorbankan jam sekolahnya.
"Maaf ya, Kak. Kakak jadi gak sekolah karena aku."
"Santai."
Sekarang sudah pukul sembilan pagi, Clarisa masih berada di rumah sakit tepatnya di ruang inap Nisa. Dia duduk di samping brankar Nisa, mengupas buah apel untuk gadis itu.
"Kenapa lo bisa punya urusan sama mereka?"
"Karena cowok, Kak."
"CK! Cowok lagi, cowok lagi. Asal lo tau ya, adek gue dibully juga karena cowok," dengus bule itu.
"Beneran?" beo Nisa. Clarisa mengangguk sembari memberikan potongan apel yang sudah dibersihkan pada Nisa, cewek itu memakannya pelan.
"Aku pacaran sama cowok di sekolahku. Taunya ada yang gak terima. Michale nama ceweknya, aku gak nyangka dia bisa ngelakuin hal keji semalam. Jujur, aku gak tau kalau Michale udah suka sama Saga dari dulu," jelas Nisa tanpa dipinta. "Sedangkan Rendi, dia maksa aku buat kencan sama dia. Aku gak mau, dia marah."
"Laporin polisi gih," saran Clarisa. "Kalau mereka dibiarin, hidup lo gak bakalan tenang. Btw nama lo siapa, gue gak tau."
"Annisa Claurie. Kakak sendiri?"
"Clarisa." Nisa mengangguk.
"Ehm, kalau untuk lapor polisi aku kasihan sama masa depan mereka nanti. Menurut aku setelah kejadian Kakak mukulin mereka tadi malam, bisa aja mereka jera dan gak bakalan ganggu aku lagi."
"Manusia kek mereka susah jera, Nis. Diancam doang paling takut cuman berapa hari, besoknya bisa aja mereka mulai lagi."
"Terus aku harus gimana dong?"
"Lapor polisi."
"Aku juga gak bisa egois, Kak. Gimana pun mereka juga berhak bahagia. Kalau mereka dipenjara, aku bakalan merasa bersalah banget."
"Lo terlalu baik, Nis."
"Aku cuman gak tega."
"Kita tukeran nomor telepon aja, kalau mereka ganggu lo lagi lo bisa hubungin gue." Nisa mengangguk ragu.
"Tapi nanti aku malah ngerepotin Kakak lagi."
"Gak masalah. Btw lo sekolah mana?"
"Tunas Bangsa, Kak."
"Yaelah, gak jauh sama sekolah gue. Gue di Kencana btw."
"Yang bener?"
"Yakali gue nipu."
Mereka sama-sama tertawa, entah apa yang lucu.
"Keluarga lo kapan datang?"
"Gak tau, Kak. Tapi udah aku hubungin, palingan bentar lagi."
"Oke."
***
Pukul satu siang, Clarisa baru sampai ke rumah sakit. Cewek itu menyempatkan diri untuk mandi dan berganti baju di rumahnya dulu. Dia merasakan gatal di tubuhnya makanya mau tak mau pulang dulu ke rumah. Sebelum balik lagi ke rumah sakit Nisa sempat mengabarkan kalau keluarganya belum menjenguk jadi mau tak mau Clarisa harus menemani kembali gadis itu.
Clarisa membawa satu kotak berisi pizza untuk dia makan bersama Nisa nanti. Jujur saja sedari pagi Clarisa belum makan nasi sebutir pun makanya dia butuh pengganjal. Clarisa bukan tipe cewek yang gak makan pagi bisa pingsan ya, dia paling sulit untuk pingsan malahan. Jadi, gak makan pagi bukan suatu masalah baginya.
Gadis itu berjalan santai melalui koridor rumah sakit. Mulutnya sibuk menyedot yogurt, sorot mata tajamnya fokus mengarah ke depan. Tak terasa dia sudah sampai di ruang Anggrek di lantai dua. Beberapa langkah lagi dia sudah sampai di depan pintu ruangan Nisa.
Saat sampai dia langsung masuk begitu saja, membukanya tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ditutupnya kembali pintu, saat berbalik kedua mata Clarisa membulat sempurna.
"Lo?!" beo Clarisa, cewek itu menghampiri ranjang Nisa dengan langkah terburu-buru. Tujuannya bukan pada sosok Nisa yang tengah berbaring, tapi pada sosok pria yang berada di samping Nisa.
"Ngapain lo di sini?!" tanya Clarisa tak santai. Cewek itu meletakkan kotak pizza dan dan yogurtnya di atas meja sedikit kasar.
"Lo sendiri ngapain ke ruangan adek gue?" tanya cowok itu balik.
"Adek? Nisa adek lo?"
"Yaiya."
"Nis?" tanya Clarisa pada Nisa, perempuan itu mengangguk dengan raut wajah bingung.
"Kakak kenal sama Abang aku?"
"Najis gue kenal sama manusia haram kek dia!"
"Sembarangan lo. Mau gue semen pala lo di lantai rumah sakit hah?!" Cowok itu berdiri dari duduknya.
"Gue kebiri juga lo akhirnya!"
Nisa terlihat semakin bingung. Mau bertanya tapi ia urungkan, tak mau menyela debatan dua manusia di depannya.
"Wah nanta—"
"Apa? Mau gue bikin bonyok lagi lo?"
"Untung lo cewek, b*****t! Kalau gak udah gue siram miras muka lo."
"Lo pikir gue takut?"
"Ap—"
"Kak Clarisa, Bang Leo. Kalian kenapa sih?"