"Sye, beli camilan sana gih. Gue laper," suruh Clarisa. Gadis itu duduk selonjoran di sofa single, saat ini mereka sekeluarga minus Nathan sedang kumpul di ruang tamu.
Syela meletakkan ponselnya di atas meja lalu menatap kakaknya datar. "Are you serious? Kakak yang benar aja nyuruh aku ke luar jam sepuluh malam begini. I do not want," tolak gadis itu mentah-mentah.
"Kamu aja gih sana yang pergi," suruh Luna. Clarisa membeo.
"Bunda yang benar aja. Kakak masih perawan tau," rengek Clarisa.
"Kalau adekmu yang ke luar, pas ada apa-apa di jalan gimana? You want to take responsibility?"
"Ya kalau Kakak yang keluar nanti dijalan pas kenapa-kenapa juga gimana? Masa Bunda tega."
"You can take care of yourself, Ris. Gak usah lebay."
"Bundaaaaa."
"Apaaaaaa."
Clarisa mencebik kesal. Lalu beranjak. Sudah dibilangkan dari awal? Kalau menyangkut soal perut gak bisa ditoleransi. Cewek itu terpaksa ke luar sendiri mencari camilan untuk kebutuhannya sendiri dengan langkah malas.
Lagian Luna juga salah, biasanya bundanya itu selalu menyetok berbagai macam camilan di dapur, sekarang gak ada sama sekali. Bikin kesal aja.
Remaja itu berangkat menggunakan mobil, cuaca di luar sedang dingin makanya dia make mobil. Kalau pake motor takutnya dia masuk angin nanti. Jadi jangan berpikiran kalau Clarisa sombong, ketimbang ke Indomaret di depan perempatan gang rumahnya saja harus pake mobil segala. Dia cuman gak mau masuk angin, catat itu.
Gak lama dia sampai ke tempat tujuan. Tanpa membuang banyak waktu cewek itu memasukkan beberapa snack kedalam keranjang. Clarisa masih beruntung rumahnya dekat sama sumber makanan yang buka selama dua puluh empat jam, jadi dia gak perlu jauh-jauh berkendara.
Setelah membayar belanjaannya dia langsung pergi. Yakali tidur di tempat, gila kali si Clarisa. Meski udah gak sabar buat mengunyah Clarisa tetap mengendari mobilnya dengan kecepatan normal, keselamatan orang cantik itu nomor satu. Clarisa gak mau ngebut yang pada akhirnya malah membuat dia celaka.
Clarisa menghentikan mobilnya di pinggir jalan, kedua matanya memicing ke arah depan berusaha mengetahui apa yang terjadi pada sekelompok remaja di tengah jalan malam-malam begini. Ada tiga orang perempuan dan tiga pria di depannya.
Cewek itu berdecak, kenapa juga dia mengurus orang lain. Clarisa kembali tancap gas memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya, dia tak ingin ikut campur urusan orang lain. Lagipula bukan urusan dia juga.
Gerombolan yang sempat dilihat Clarisa tadi ternyata adalah kumpulan pelajar tingkat atas yang entah kelas berapa. Terbukti dari seragam SMA yang mereka kenakan meski tampak aneh, mereka sekolah sampai malam kah? Kumpulan itu kelihatannya masih sangat muda sekali.
Perempuan berambut pirang menendang perempuan lainnya yang sudah tak berdaya terduduk di aspal. Wajahnya banyak lebam diperkirakan sudah berapa kali pukulan atau tamparan menghantam wajahnya. Gadis tergeletak itu tak membalas sama sekali, dia hanya pasrah menerima semua perlakuan buruk dari teman-temannya.
Kembali wajahnya diludahi oleh perempuan berambut pirang. Si korban hanya menangis sesenggukan sambil menunduk. Mau membalas pun percuma karena ia akan tetap kalah.
"Terserah lo, Ren, mau ngapain dia juga. Jual tuh cewek juga gak masalah." Si rambut pirang bersuara, cowok yang merasa ditunjuk pun melangkah maju.
Ren, atau Rendi tersenyum smirk. Di tangannya ada pecahan botol kaca bekas minuman alkohol, diayunkannya botol itu membuat perempuan yang sudah tak berdaya di aspal susah payah menelan ludahnya sendiri. Gadis itu takut setengah mati. Mau lari tapi kakinya terkilir karena ulah teman si rambut pirang, dia menginjak kakinya tanpa berperasaan.
"Lo gue ajak kencan baik-baik gak mau, maunya dibikin menderita dulu kek gini. Gue kasih penawaran terakhir nih. Nisa lo mau kencan sama gue?"
Gadis bernama Nisa itu tak menjawab, dia malah meraung, menjerit kesakitan saat si rambut pirang kembali menjambak rambutnya.
"Michale, jangan siksa dulu. Tunggu dia jawab pertanyaan gue," tegur Rendi. Yang dimaksud langsung melepaskan genggaman tangannya di rambut Nisa.
"GIMANA? LO TERIMA APA GAK?!"
Nisa menggeleng kuat dengan berderai air mata.
Plak!
"b*****t lo ya!"
Plak!
"Mau mati lo, hah?!"
Michale menarik kembali rambut Nisa. "Lo nolak Rendi biar bisa sama Saga, 'kan? Jangan sok kecantikan deh lo! Saga gak suka sama lo asal lo tau! Dia punya gue, sampai kapan pun Saga tetap bakalan punya gue!"
Ternyata perkelahian terjadi hanya karena perkara cinta selang-seling, dasar childish.
Rendi bak kerasukan setan, cowok itu melempar pecahan botol itu ke wajah Nisa. Tak terkena semua, hanya sekilas.
Meski begitu ujung kepala Nisa juga terluka dan mengeluarkan darah. Gadis itu menjerit kesakitan, perih sekali.
"Woylah! Parah lo bocah!"
Suara Clarisa mengundang banyak tatapan. Cewek bule itu terlihat panik, padahal dia sudah sampai di depan rumahnya tapi ia malah berbalik lagi. Entah kenapa dia gak tenang untuk masuk ke dalam rumah sendiri sebelum memastikan apa yang dilakukan oleh kumpulan remaja yang sempat dilihatnya tadi.
"Siapa lo?" tanya Clara-teman Michale.
"Manusia," jawab Clarisa. Perempuan itu mendekat pada Nisa. "Lo gak papa?"
Bodohnya Clarisa bertanya begitu, sudah tau orang terluka masih pake tanya. Clarisa meringis melihat tetesan darah dari kepala Nisa. Clarisa kembali menghadap ke arah lima remaja di depannya.
"Ini udah kriminal ya, masih bocah udah berani mukulin anak orang. Lo pada mau masuk penjara?!"
"Lo gak usah ikut campur. Pergi dari sini sebelum gue buat lo sama kek dia."
Rendi menunjuk Nisa lalu kembali melipat kedua tangannya di depan d**a. "Dan asal lo tau, gue raja jalanan. Polisi gak bisa nangkap gue."
Rasanya Clarisa mau tertawa saja. "Muka kek bayi sok-sokan jadi raja jalanan. Gak pantas tau!"
"Woiya orang gue ganteng masih baby face, tentu aja bakalan pantas buat jadi pimpinan," ucap Rendi menyombongkan diri.
"Muka lo emang kek bayi, tapi versi boros," hina Clarisa. Teman-teman Rendi di belakang terkekeh geli.
"Diam lo pada!" teriaknya dan semua temannya langsung terdiam. "Lo tau gue siapa?" lanjutnya bertanya pada Clarisa.
"Lo gak penting, ngapain gue harus tau lo siapa."
"Sialan. Untung lo cantik kalau gak udah dari tadi gue hancurin muka lo, b*****t!"
"Ouh, ya?"
"Asal lo tau gue pemegang sabuk hitam karate. Tulang lo bisa gue patahin sampe hancur lebur!" gertak Rendi. Clarisa terkekeh sarkas, cewek itu melipat kedua tangannya di depan d**a angkuh. Mode belagu on.
"Siapa nama bapak karate modern?" tanya Clarisa lengkap dengan senyum meremehkan.
"Dimas Kanjeng," sahut Rendi cepat.
"b**o lo! Orang dia menteri keuangan," sangkal Clarisa.
"Ya itu maksud gue."
"Pada b**o ya lo berdua," sela Michale. "Kebanyakan bercanda lo, Ren. Habisin aja tuh cewek!"
Dua teman Rendi maju setelah mendapatkan intruksi dari cowok itu untuk menyerang Clarisa. Salah satu dari mereka mau menonjok tapi respon Clarisa lebih cepat, cewek itu lebih dulu menendang selangkangannya membuat yang lain ikut meringis.
Satu per satu lawannya tumbang, lagian Clarisa dilawan. Hingga pada akhirnya triple tamparan mendarat di wajah Michale membuat cewek itu langsung jatuh tersungkur ke tanah.
"Gue lihat lo lebih parah mukulin tuh cewek. Tamparan gue gak seberapa."
Clarisa menghampiri Nisa, membantunya berdiri. "Gue antar rumah sakit ya? Gue takut lo mati di jalan."
Clarisa menghadap ke arah lima remaja yang sekarang sudah tumbang di aspal dengan luka masing-masing di tubuhnya, ditatapnya sinis.
"Kalau gue lihat kalian ganggu dia lagi, habis lo pada!" ancamnya lalu pergi membawa Nisa masuk ke dalam mobil. Clarisa memacu mobilnya cepat menuju rumah sakit, dia gak tega lihat Nisa menangis sesenggukan karena luka di badannya yang terlihat lumayan mengerikan.
"Sabar ya, gue gak bisa terbang. Kalau bisa udah nyampe dari tadi kita ke rumah sakitnya." Clarisa benar-benar panik saat gadis di sampingnya tak mengeluarkan suara rintihan lagi.
Dia mati?
Astaga!