Heartache

1484 Words
Pernah panik yang benar-benar panik gak? Clarisa sekarang merasakannya. Gadis berambut hitam itu panik luar biasa saat memilih pakaian yang akan dikenakannya hari ini. Bahkan isi lemarinya terbongkar semua. Kamarnya seperti kandang ayam, berantakan, bedanya gak bau. Penyebabnya? Langit Bagaskara. See? Clarisa ini memang sudah bucin akut sama Langit. Udah gak bisa diobatin lagi, semua pengobatan pun sepertinya sudah gak mempan lagi buat dia. Langit tadi tiba-tiba mampir ke rumah ngajak Clarisa jalan, sebenarnya bukan pertama kali Langit ngajak dia jalan. Sering malahan, tapi itu waktu SMP, sekarang pas sudah SMA baru kali ini. Jadi wajar Clarisa panik setengah mati. Mana Langit lagi bicara sama Nathan di ruang tamu lagi, Clarisa seolah mati kutu. Dia benar-benar tak habis pikir dengan rejeki yang Tuhan berikan secara mendadak seperti ini. “Why are you like this all of a sudden?” gerutu cewek itu. Tak ingin membuat Langit menunggu terlalu lama, Clarisa memilih pakaian simple saja. Lalu buru-buru pergi ke ruang tamu menyusul si cowok pujaan. Setelah itu mereka langsung pergi sesudah pamit pada Nathan dan Luna. Jantung Clarisa rasanya mau pindah ke lambung, iramanya udah kejar-kejaran kek orang yang lagi lomba lari marathon. Hari ini memang hari yang tak terduga, hari ini adalah harinya Clarisa. Dia bahagia dan dia juga senang. Langit bawa mobil, katanya biar Clarisa gak kepanasan. Cewek itu spontan tambah lemas, buru-buru dia menyalakan AC mobil. Langit benar-benar! Parah, parah! “Lo pasti kesel ya gara-gara gue ajak jalan mendadak gini.” Suara Langit memelan, seperti bisikan di telinga Clarisa dan itu terdengar sangat seksi. Awww. “Gak elah, santai aja.” Clarisa sekuat mungkin menahan ekspresi di wajahnya, lelah juga nahan senyum ternyata. “Gimana gue mau santai, muka lo merah begitu. Gue jadi gak enak.” Clarisa spechless. “Malah bengong lagi,” tegur Langit membuat Clarisa jadi tambah gugup. Ini gimana ceritanya sih woy! Clarisa jadi pengen loncat dari mobil sekarang. Ayolah Langit jangan seperti itu pada perempuan seperti Clarisa. Langit b******k! “Biasa aja,” kilah cewek itu. “Btw, Putra pernah lihat lo mukul preman. Beneran itu?” Mau mati ini ceritanya si Putra. Dasar lemes! “Gila temen lo, yakali gue mukul preman. Yang ada gue tewas duluan.” Langit tertawa. “Percaya gue, mana mungkin sih cewek modelan lo mukul cowok. Waktu SMP aja lo kena gepak kakak kelas aja mental ke mana-mana.” Hina gue terus, Al. Demi Alex gak ngapa-ngapa. “Ingat lo, Al? Gue aja lupa,” ujar Clarisa berusaha membuang kecanggungan yang ada. Rasanya bukan dia banget canggung-canggung begini, jadi geli. “Ingatlah, orang lo jatuhnya depan gue.” Langit terkekeh lalu melanjutkan ceritanya. “Bukan itu aja, lo juga pernah sampe dilariin ke klinik gara-gara kelahi sama adek kelas. Jambak-jambakan gak jelas sampe gue harus turun tangan buat misahin.” Clarisa lemah di depan kamu doang g****k! “Ingat banget ya lo, gak heran gue kalau lo beneran ngefans sama gue.” Langit menjitak pelan kepala Clarisa dengan tangan kirinya lalu tertawa. Berbeda dengan si gadis, dia sudah misuh-misuh gak jelas karena tatanan rambutnya jadi gak rapi lagi. Mau menonjok Langit tapi ia urungkan, kasihan wajah gantengnya nanti lecet. Tak terasa mobil Langit ternyata berhenti di sebuah Mall, mereka turun setelah Langit selesai memarkirkan mobilnya. Clarisa sempat terheran-heran, tujuan Langit membawanya ke sini apa? Tapi ia tak memikirkan itu lagi saat cowok itu menggenggam tangannya membawa masuk ke dalam bangunan elite itu. Clarisa sibuk memikirkan jantungnya, masih aman atau enggak? “Ke sini mau ngapain sih?” tanya Clarisa saat Langit memaksanya untuk memilih pakaian. “Pilih sesuai selera lo, yang bagus menurut lo pasti bagus menurut orang lain,” ujar Langit. Clarisa itu bukan tipe cewek yang pandai memilih style, meski begitu dia manut juga sama apa yang disuruh Langit. Percayalah, permintaan dari Langit itu ibarat perintah dari raja. Clarisa gak bakalan menolak, dia selalu menurut. Sebucin itu memang si Clarisa. Gadis itu akhirnya memilih dres polos selutut berwarna cream lengkap dengan outer rajut berwarna senada. Kelihatan simple namun bagi Clarisa ini sudah cukup elegan. Terserah mau bilang dia norak atau buta fashion yang penting selera dia memang sesimple itu. Clarisa tipikal cewek yang gak suka ribet. Bahkan yang ribet pun dia bikin mudah. Clarisa ke luar dari ruang ganti dan mendapati Langit yang tersenyum lebar tengah duduk di kursi dengan ponsel berada di tangannya. Cewek itu jadi kikuk saat Langit bicara tanpa suara mengatakan dirinya cantik. Baru sadar keknya ini manusia kalau gue cantik. “Aneh, 'kan? Al, gue gak bisa fashion,” rengek Clarisa. “Mbaknya cantik banget malahan menurut saya.” Suara dari mbak penjaga store di samping Clarisa memuji dan dengan polosnya Langit mengangguk-anggukan kepalanya. “Ambil ini ya, Mbak,” pinta Langit, mbaknya mengangguk. Clarisa dengan malas masuk lagi ke ruang ganti untuk mengganti bajunya. Selesai berbelanja baju mereka naik ke lantai atas untuk makan siang, meski sempat ada cekcok karena Clarisa memaksa untuk membeli sendal. Memang sejak awal cewek itu datang menggunakan sepatu hak, meski gak tinggi-tinggi banget tetap aja kakinya terasa gak enak. “Lagian lo ya sok-sokan make begitu, gak bakat juga,” hardik Langit. Clarisa cuman mempoutkan bibirnya kesal. Dia memang gak terbiasa make yang begituan, cuman kali ini mau nyoba biar kelihatan feminim di depan Langit. “Ya gue gitu 'kan biar cantik aja.” “Tanpa itu pun lo udah cantik kalik.” Clarisa blushing. Gadis itu membayangkan bagaimana bentuk wajahnya sekarang? Merah seperti tomat? Yakali, aneh banget jadinya. Masa mukanya kek tomat, ada-ada aja. Seperti kepiting rebus? Apalagi! Gak mau banget Clarisa disamain sama kepiting. “Pesen apa?” tanya Langit saat mereka sudah mendapatkan tempat duduk. “Terserah.” Langit berdecak. “Heran gue sama cewek, kalau ditawarin jawabannya terserah mulu. Gak ada makanan yang namanya terserah.” Kalau gue milih, yang ada lo bangkrut, Al. “Ya gue gak tau.” Langit gemas, cowok itu mengutis kepala Clarisa membuat si empunya meringis kesakitan. Tanpa merasa bersalah Langit beranjak begitu saja dari duduknya untuk memesan makanan. “Untung gue sayang sama lo, Al. Kalau gak udah gue lempar ke alam kubur lo,” gumam Clarisa lirih. Gadis itu memperhatikan gerak-gerik Langit yang tengah memesan makanan pada pelayan di meja depan—karena daritadi meja mereka gak disamperin sama pelayan sama sekali, sampai cowok itu kembali ke mejanya. “Bentar lagi nyampe,” ujar cowok itu seraya duduk. Clarisa mengangguk. Tak lama pesanan mereka datang. Tanpa aba-aba Langit dan Clarisa sudah menyantapnya secara perlahan, terutama Clarisa dia makan pelan sekali. Gak mungkin ‘kan dia makan kek orang kesetanan di depan calon pacar? “By the way, tiba-tiba lo ngajak gue jalan ada tujuan apa nih?” tanya Clarisa sambil menyedot lemon squash-nya. “Gak ada sih, cuman kepengen aja. Lagipula terakhir kali kita jalan berdua kek gini waktu SMP. Karena gue gabut yaudah ngajak lo jalan aja,” jawab Langit. Clarisa menganggukkan kepalanya. GABUT katanya tadi? Clarisa kira Langit kangen sama dia. Auk ah, bodoamat yang penting diajak jalan. “Ehm, Sa. Lo temenan 'kan sama Fira?” tanya Langit. Spontan sedotan yang berada di mulut gadis itu turun ke bawah, ditatapnya datar cowok di depannya. “Kenapa?” “Keknya gue tertarik sama dia deh.” “Semua cewek juga lo tertarik, Al.” “Ya gak gitu juga kalik, Sasa.” Gemas Langit. Fyi, dari SMP Langit sudah terbiasa memanggil cewek di depannya dengan nama Sasa. Kata Langit sih biar beda sendiri. Clarisa iyain aja selagi namanya gak diganti Markonah ya gak masalah. Sasa juga gak buruk-buruk banget. Mood Clarisa udah buruk aja kalau Langit udah cerita tentang cewek lain. Seharusnya dari awal Clarisa ngeh diajak Langit jalan tiba-tiba begini pasti cowok itu lagi kesemsem sama cewek lain, contohnya sekarang. Langit kapan sih bisa suka sama gue? “Ya terus apa?” “Kok lo jadi manyun gini sih, Sa. Gak cocok tau sama muka sangar lo,” ejek cowok itu masih tak sadar kalau perubahan di wajah Clarisa karena dirinya. “Lagian lo lagi jalan sama gue tapi ceritain cewek lain. Lo anggep gue apa sih, Al di sini?” sewot Clarisa. Mulutnya sudah gatal untuk berkata jujur. Langit termenung. “Emangnya kenapa sih, Sa?” “Sampe kapan sih lo pura-pura b**o, Al? Dari dulu gue udah bilang, kalau gue suka sama lo. Tapi lo? Selalu nganggap omongan gue becandaan.” “Sa ....” “Kalau lo gak suka sama gue, bilang dari sekarang. Biar gue pergi dari kehidupan lo. Tapi kalau lo diem aja kek gini? Lo sama aja nyiksa gue terus-terusan.” “Come on, sometimes understand my feelings too.” Wajah Langit tak menunjukkan eskpresi apa pun. “Lo lebih berharga dari cewek-cewek lain, Sa. Lo lebih dari mereka. Lo lebih tau kehidupan gue luar dalam, lo yang lebih kenal sama gue dibandingkan mereka. Asal lo tau, Gue sayang sama lo.” Clarisa membeku. “As the best friend,” lanjut cowok itu membuat d**a Clarisa terasa sesak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD