"If I'm just seen as a friend, then why do all of your attention feel different?"
***
Weekend, waktunya leha-leha.
Niat awal memang ingin seperti itu, tapi tak jadi ketika ibunda ratu pagi-pagi sudah berteriak menyuruh manusia yang ada di rumah beres-beres. Kali ini Luna mau membersihkan rumah tanpa ada campur tangan pembantu jadinya semua pembantu dibebastugaskan atau bahasa lainnya dipulangkan sementara untuk hari ini.
Clarisa mendengus, padahal dia mau tidur sampai siang. Tapi semuanya batal saat Luna menyeretnya paksa ke dapur untuk mencuci piring. Dilirknya Syela yang sedang mengelap meja, adiknya itu terlihat bekerja dengan sepenuh hati berbanding terbalik dengan yang saat ini sang kakak rasakan.
Malas, capek, mager, bete, lapar, pegel, haus dan masih banyak lagi keluhan lainnya.
Selesai mencuci piring dengan hati setengah ikhlas, Clarisa ternyata langsung diberi pekerjaan lain oleh Luna untuk membersihkan rumput di halaman depan. Astaga, Luna kira anaknya ini tukang kebun apa? Clarisa menggerutu tak jelas meski dia tetap melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya.
Cewek berambut hitam legam itu mulai memotongi rumput, Nathan berada tak jauh dari tempatnya duduk. Ayahnya itu sibuk menyirami tanaman, adiknya Syela sekarang tengah mengepel lantai di teras.
Luna?
Dia sibuk sama bunganya.
“Eh, lagi beres-beres rumah ya?” Suara tante Ella tetangga sebelah menyita perhatian. Perempuan berdaster itu menghampiri Luna sambil membawa piring kecil berisi kue bolu. Yang lain kembali melanjutkan kesibukannya sendiri.
“Iya nih, numpung weekend semuanya ada di rumah,” jawab Luna. “Biasanya mah boro-boro, kalau gak ayahnya yang sibuk kerja, anaknya sibuk jalan-jalan sendiri,” lanjutnya seraya terkekeh.
Tante Ella juga ikutan terkekeh. “Ini aku cuman mau nganter piring bekas bubur kemarin. Enak loh, Bu. Kamu punya bakat bikin bubur tau.”
Luna tergelak. “Aku cuman coba-coba padahal. Tapi kalau enak syukurlah.”
“Ini piringnya, makasih loh ya.”
“Kenapa harus diisi juga sih, Bu? Jadi gak enak nih.” Luna tersenyum tak enak. Padahal dia sudah terbiasa sama tetangganya yang satu ini, kalau ngembaliin piring pasti gak pernah kosong. Selalu saja diisi entah sama makanan apa aja.
“Ya gak papa lah, tadi aku bikin banyak. Semoga enak ya.”
Ella tersenyum, Luna mengambil alih piring yang ada di tangan tetangganya itu seraya membalasnya dengan senyuman juga. Luna memanggil Syela untuk menaruh piring ke dapur, si bungsu menurut seraya mencomot lalu memakan satu bolu yang ada di piring membuat dua wanita dewasa itu tergelak.
Tante Ella ijin pulang soalnya masih ada pekerjaan yang belum selesai. Luna mengangguk. Setelah tante Ella pulang Luna kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti.
“Eh, Bu Ateng, dari mana?” Luna bertanya setelah melihat tetangganya yang lain lewat di depan gerbang dengan langkah tergesa.
Oknum bernama Ateng langsung menoleh seraya tersenyum. “Habis beli bubur bayi di depan, Bu,” jawabnya. Luna mengangguk.
“Bubur ayam yang kemarin saya bikin dimakan gak, Bu, sama anaknya?” tanya Luna lagi. Fyi, Luna suka bikin bubur karena Syela suka makan bubur.
Berbanding terbalik sama Clarisa, si sulungnya itu tak menyukai bubur bahkan makan nasi yang sedikit lembek pun dia gak mau. Kek makan lumpur, katanya.
“Muntah anak aku, Bu. Gak bisa makan bubur yang kamu buat,” sahut bu Ateng santai.
Rasanya tuh nyes banget dihati pas si Ateng tanpa berperikehatian mengucapkan kalimat yang bikin niat berbagi Luna hilang untuknya. Padahal kalau anaknya muntah pas makan bubur buatannya bisa aja gitu bohong sedikit, ini? Boro-boro.
Luna mengangguk canggung seraya tersenyum, “yaudah gak papa.”
“Tante ... tante, piring aja belum dikembaliin udah ngomong asal aja,” celetuk Clarisa.
“Kak, eh, gak boleh ngomong begitu,” tegur Luna dan Clarisa malah mengedikkan bahunya acuh.
“Anak aku terbiasa makan bubur yang di depan, makanya pas dikasih bubur dari kamu dia nolak. Sampe muntah malahan,” jelas si Ateng.
“Mungkin anaknya Tante terbiasa makan yang murahan. Padahal yang dibuat Bunda lebih higenis dan tentunya mahal.”
Rasanya Luna mau melempar kepala Clarisa dengan batu sekarang. Tapi tak ia lakukan, wanita itu malah memberikan senyum membunuh pada putrinya. Lagi-lagi Clarisa acuh.
Tante Ateng itu manusia yang gak mau kalah saing sama orang lain, kecuali kalau udah adu kesombongan sama Clarisa. Siap-siap mental breakdance.
Lagian tipe tetangga begini yang Clarisa gak suka, Ateng itu bukan cuman belagu tapi mulutnya juga gak bisa ditoleransi. Tukang fitnah, iri dengki, kang ghibah, pokoknya semuanya ada di dia.
Kalau sombong sama kekayaan sendiri sih gak masalah, iya kalau ada. Ini, gak ada! Janjiin anak orang sana-sini katanya mau dikasih duit atau apa pun itu, nyatanya? Gak ada! Kalau Clarisa sendiri sih gak berharap sama barang yang niatnya mau dikasih, tapi ya kesel aja kalau Ateng lebih belagu daripada dirinya.
Sampai sekarang Clarisa sama tante Ateng sering perang dingin. Bukan karena barang yang dijanjiin tapi sama mulut Ateng yang suka fitnah orang lain. Dua tahun lalu kakak sepupu sebelah ayah yang kena. Dia nyebar gosip ke tetangga kalau Lisa—kakak sepupu, kena labrak Rt pas dia sering bawa om-om ke rumah diam-diam.
Padahal om-om yang dimaksud itu suaminya Lisa sendiri. Lisa memang lebih suka sama yang jauh lebih tua dari dia padahal sepupu Clarisa itu baru sarjana, mungkin karena itu Ateng bisa memikirkan hal seperti itu. Tapi, yang jadi masalahnya itu kabar rumah Nathan yang digrebek RT, mana ada! Fintah macam ini cuman Ateng yang kelola.
Bisa-bisanya dapat tetangga modelan begini.
“Yaudah aku pamit pulang dulu ya, Bu. Mau siap-siap ngecek tanah yang di desa laku satu milyar nih,” ujar Ateng sombong.
Clarisa mendecih. “Dari tahun kemaren bilang tanahnya laku satu milyar, sampe sekarang duitnya belum di tangan juga.”
“Kak ....” Luna memberikan tatapan melas pada putri sulungnya.
“Tapi yang sekarang beneran, tahun kemarin kami kena tipu habis-habisan,” jelas Ateng cepat.
“Iya ditunggu. Nanti aku minta bagian satu juta.” Tante Ateng tertawa.
“Iya nanti dikasih, tenang aja.”
“Ya gak bisa tenanglah, Tan. Tahun kemarin aja janjiin aku gak ada yang kebeli satu pun. Tante kang ghosting sih.”
“Ayah ....” Luna melas menatap suaminya yang sekarang malah pura-pura sibuk sama tanaman yang dia siram.
Tingkat kebelaguan seorang Clarisa murni turunan Nathan.