Keesokan paginya, aku terbangun karena suara ponselku. Aku tidak bisa membuka mata dengan mudah karena aku lelah karena menangis. Aku merasakan tubuhku berat, dan kepalaku sakit karena menangis semalaman. Aku juga pilek sekarang, dan aku benar-benar merasa seperti akan sakit. Aku meraih ponselku sambil tetap memejamkan mata. Aku hanya mengharapkan telepon dari lima orang, aku hanya memberikan nomor teleponku kepada mereka. Aku tidak perlu memeriksa siapa yang menelepon dan hanya menjawabnya dengan santai begitu aku mengangkatnya. "Halo," sapaku dengan suara pagiku. "Bu, selamat pagi!" kata si kembar serempak di ujung telepon. Aku terkejut dengan sapaan mereka. Aku duduk dan menggosok mataku. Entah bagaimana, mendengar suara mereka di telepon membuatku merasa sedikit lebih baik. Aku sanga

